Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejauh doa
Hari berganti hari, minggu pun berjalan perlahan. Luka di hati Senja belum benar-benar sembuh, tapi Langit tidak berhenti berusaha.
Pagi itu, halaman pesantren terasa lebih hidup. Senja duduk di bangku taman, ditemani Langit di sampingnya. Tak lama kemudian, Fatih, Zaki, dan Zakia datang sambil membawa jajanan.
“Ayuk, Kak Senja,” kata Zakia ceria setengah dipaksa. “Kata Mas Langit, hari ini kita jalan-jalan lagi.”
Senja menoleh, senyumnya tipis.
“Ke mana lagi?” tanyanya pelan.
Langit langsung menyambar.
“Rahasia,” katanya sok misterius. “Pokoknya bukan ke tempat yang bikin kamu mikir berat. Janji.”
Zaki nyengir.
“Mas Langit katanya mau traktir bakpia dua dus.”
“Itu fitnah,” balas Langit cepat. “Satu dus aja.”
Mereka tertawa kecil. Senja ikut tersenyum, meski matanya masih menyimpan sisa duka.
Sore hari, setelah lelah berkeliling Yogyakarta, menyusuri Malioboro, makan gudeg sederhana, dan duduk diam di pinggir taman, mereka kembali ke pesantren.
Di perjalanan pulang, Senja bersandar ke bahu Langit di jok belakang mobil.
“Capek?” tanya Langit pelan.
Senja mengangguk.
“Tapi… makasih,” ucapnya lirih. “Aku ngerasa nggak sendirian.”
Langit menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Kamu memang nggak sendirian. Dari dulu juga.”
****
Beberapa hari kemudian, suasana kamar Senja kembali sunyi. Koper besar milik Langit berdiri di sudut ruangan. Senja duduk di tepi ranjang, memandanginya tanpa bicara.
Langit berdiri di depannya, tangannya mengepal pelan.
“Ja…” suaranya berat. “Besok aku berangkat.”
Senja mengangguk.
“Aku tahu.”
Diam. Lama.
“Aku benci momen ini,” lanjut Langit jujur. “Rasanya kayak ninggalin setengah hidupku di sini.”
Senja menunduk.
“Kamu harus balik kuliah, Mas. Itu masa depan kamu.”
“Iya,” Langit tersenyum pahit. “Tapi masa depanku juga kamu.”
Senja akhirnya menatap Langit. Matanya berkaca-kaca.
“Aku masih sekolah,” ucapnya pelan. “Masih setahun lagi. Aku nggak bisa ikut kamu.”
Langit mendekat, berlutut di depan Senja.
“Denger ya,” katanya serius tapi lembut. “Setahun itu sebentar. Aku nunggu. Kita nunggu bareng.”
Senja menggeleng kecil, air mata jatuh.
“Aku takut kamu capek nunggu aku.”
Langit mengusap pipinya.
“Aku capek kehilangan kamu, bukan nunggu kamu.”
Tangis Senja pecah. Ia langsung memeluk Langit erat, seolah takut dilepas.
“Jangan jauh lama-lama,” isaknya. “Aku masih sering kepikiran… masih sering sedih.”
Langit membalas pelukan itu, lebih erat.
“Aku tahu. Makanya kamu harus kuat di sini. Sekolah yang bener. Dengerin Abah sama Umi. Aku di sana doain kamu tiap hari.”
Senja mengangguk di dada Langit.
“Kamu juga… jangan lupa makan. Jangan kebanyakan bercanda sama cewek bule.”
Langit tertawa kecil di sela sesak.
“Cuma kamu yang bisa cemburu sejauh ini.”
Mereka saling tersenyum di tengah air mata.
“Pulang ya, Mas,” bisik Senja.
“Pasti,” jawab Langit mantap. “Aku selalu pulang ke kamu.”
Pelukan itu terasa lama, berat, dan penuh janji. Di antara jarak dan waktu, mereka belajar satu hal:
cinta bukan soal selalu bersama, tapi bertahan meski harus berjauhan.
****
Bandara pagi itu terasa terlalu ramai untuk sebuah perpisahan yang sunyi. Pengumuman keberangkatan bergema, tapi dunia Senja seolah mengecil hanya pada satu sosok di depannya.
Langit berdiri memandang Senja. Istrinya itu tampak sederhana dengan hijab lembut yang membingkai wajah pucat namun cantik. Mata Senja merah, tapi ia berusaha tersenyum.
“Kamu yakin nggak apa-apa?” tanya Langit pelan, seolah masih mencari alasan untuk menunda langkahnya.
Senja mengangguk.
“Aku harus yakin,” jawabnya lirih. “Kalau aku nangis terus, kamu nggak bakal berangkat.”
Langit tersenyum tipis. Tangannya terangkat, membenahi ujung hijab Senja yang sedikit miring.
“Jaga diri baik-baik ya,” ucapnya. “Kalau capek, istirahat. Kalau sedih, jangan dipendem sendirian.”
Senja menggenggam tangan Langit, lalu menunduk. Dengan penuh takzim, ia mencium punggung tangan suaminya lama, seakan ingin menyimpan hangat itu lebih lama di ingatannya.
“Iya, Mas,” suaranya bergetar. “Kamu juga… jangan lupa shalat. Jangan lupa makan. Jangan lupa… aku.”
Langit tak menjawab. Ia menarik Senja ke dalam pelukan yang sangat erat. Kepalanya menunduk, bibirnya menyentuh kening Senja lama, penuh cinta dan doa.
“Aku pergi bukan buat ninggalin kamu,” bisiknya parau. “Aku pergi supaya nanti bisa pulang dengan lebih pantas.”
Tangis Senja akhirnya pecah.
“Aku nunggu,” katanya terisak. “Aku beneran nunggu.”
Langit melepaskan pelukan itu dengan berat. Matanya berkaca-kaca.
“Aku pamit,” ucapnya lirih. “Doain aku.”
Langit melangkah pergi, perlahan, seolah setiap langkahnya mencabut bagian dari hatinya sendiri. Senja berdiri terpaku, tak sanggup bergerak.
Beberapa langkah sebelum pintu keberangkatan, Langit menoleh. Ia mengangkat tangannya, melambaikan perpisahan.
Senja membalas lambaian itu dengan senyum yang dipaksakan, senyum paling kuat yang bisa ia berikan hari itu.
Tak lama, sosok Langit menghilang di balik pintu.
Senja berdiri lama di balik kaca besar bandara. Matanya mengikuti pesawat yang perlahan bergerak, lalu mengudara, membawa suaminya menjauh, jauh ke Australia.
Pergilah, Mas…
Aku akan belajar kuat di sini.
Langit kita mungkin sama, tapi jarak kita sekarang sejauh doa.
Aku akan sekolah yang rajin, aku akan bertahan, aku akan hidup…
supaya saat kamu pulang, aku masih pantas berdiri di sampingmu.
Air mata Senja jatuh, satu-satu, tanpa suara.
Di dalam pesawat, Langit duduk memandang ke luar jendela. Kota itu makin kecil, begitu juga sosok Senja dalam pandangannya, tapi tidak di hatinya.
Tangannya mengepal di pangkuan.
Ya Allah… jaga dia.
Jaga istriku yang paling kuat tapi juga paling rapuh.
Aku pergi dengan badan, tapi hatiku tertinggal di pesantren itu… di pelukan Senja.
Setahun. Cuma setahun.
Aku janji, aku pulang.
****
Pesawat menembus awan. Langit memejamkan mata, membiarkan satu air mata jatuh, air mata yang tak sempat ia perlihatkan pada siapa pun.
Di Sekolah – Awal Semester
Bel sekolah berbunyi nyaring. Senja duduk di bangkunya, membuka buku pelajaran dengan rapi. Wajahnya lebih tenang, meski ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Nadin menoleh, menatap Senja lama.
“Kamu berubah,” katanya pelan.
Senja tersenyum tipis.
“Berubah gimana?”
“Lebih diem… tapi kelihatan lebih kuat,” jawab Nadin jujur.
Senja menunduk, jarinya merapikan ujung buku.
“Aku cuma nggak mau larut. Kalau aku berhenti, rasanya malah makin sakit.”
Lulu ikut nimbrung sambil menarik kursi.
“Yang penting kamu balik sekolah. Kita kangen, tahu.”
Kayla menepuk bahu Senja pelan.
“Kita di sini, Ja. Kalau kamu capek, bilang.”
Senja mengangguk.
“Makasih… doain aja aku bisa nyelesain tahun terakhir ini dengan baik.”
****
Malam Peringatan Maulid Nabi – Pesantren Mambaul Ulum
Halaman pesantren terang oleh lampu dan shalawat. Para santri duduk rapi. Di barisan tamu kehormatan, KH. Raden Mas Danardi Kusumo (Abah Danardi) duduk berdampingan dengan Ummi Siti.
Seorang pria bersorban putih, wajahnya teduh dan matang, melangkah masuk. Bisik-bisik pelan terdengar.
“Gus Azka…” “Katanya baru pulang dari Kairo.”
Gus Azka menghampiri Abah Danardi, menunduk penuh takzim.
“Assalamu’alaikum, Abah.”
“Wa’alaikumussalam, Azka,” jawab Abah Danardi hangat. “Alhamdulillah sudah kembali.”
Gus Azka mencium tangan Abah Danardi, lalu Ummi Siti.
“Terima kasih sudah mengundang saya. Saya datang sebagai tamu, dan sebagai santri yang menghormati guru.”
Ummi Siti tersenyum lembut.
“Silakan, Nak. Semoga ilmunya membawa berkah.”
Di sudut ruangan, Senja duduk bersama teman-temannya. Matanya terangkat saat melihat sosok itu. Dadanya bergetar pelan.
Nadin berbisik, “Ja… itu…”
Senja mengangguk pelan.
“Iya. Aku tahu.”
Acara selesai. Jamaah mulai bubar. Senja berdiri hendak kembali ke kamarnya ketika suara itu memanggil pelan.
“Senja.”
Senja berhenti. Menarik napas, lalu menoleh.
“Assalamu’alaikum, Gus.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Gus Azka tenang. “Apa kabar?”
“Alhamdulillah,” jawab Senja singkat, sopan.
Gus Azka mengangguk, menjaga jarak.
“Aku dengar kamu sudah kembali sekolah. Semoga dimudahkan.”
“Terima kasih,” Senja tersenyum kecil. “Gus juga… selamat sudah menyelesaikan kuliah.”
“Alhamdulillah,” ucapnya. “Aku datang malam ini bukan untuk apa-apa. Aku memenuhi undangan Abah dan Ummi. Itu saja.”
Senja menatap lantai sejenak.
“Aku menghargai itu.”
Gus Azka terdiam sesaat, lalu berkata pelan,
“Aku mendoakanmu, Senja. Dari jauh… dan sekarang dari dekat. Sebagai orang yang pernah kenal kamu, dan sekarang memilih menghormati jalan hidupmu.”
Senja menahan napas.
“Terima kasih, Gus. Doa itu… berarti.”
Gus Azka tersenyum tipis.
“Jaga diri. Semoga Allah selalu memeluk hatimu.”
Senja mengangguk.
“Aamiin.”
Mereka berpisah tanpa sentuhan, tanpa janji, hanya adab, kenangan, dan doa yang disimpan rapi.