NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

JEJAK YANG TIDAK INGIN DI LIHAT

Setelah pertemuan di kafe itu, Aira merasa lega. Tidak merasa hancur seperti biasanya, tapi agak sedikit canggung dan merasa bersalah.

Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban lama, tapi belum tahu harus berjalan ke mana setelahnya.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang.

Raka tetap hadir, tapi dengan jarak baru yang disepakati.

Tidak lagi menunggu terlalu dekat, tidak juga menjauh. Ia hadir sebagai seorang abang, seperti yang ia janjikan, cerewet seperlunya, peduli tanpa tuntutan.

“Jangan lupa makan,” pesan Raka hampir tiap siang. “Atau nanti aku datengin ke rumah kamu,” tambahnya, setengah bercanda.

Aira hanya membalas dengan emoji kesal, tapi hatinya hangat.

Dengan Naya, hubungan mereka masih canggung, tapi stabil. Tidak ada pelukan, tidak ada tawa panjang. Tapi ada kerja sama yang pelan-pelan pulih. Aira belajar satu hal, memperbaiki tidak selalu berarti kembali seperti semula dengan cepat, sesuatu yang tergesa-gesa kadang tak sepenuhnya baik.

Dan di sela semua itu… Langit tetap ada.

Bukan dengan cara mencolok.

Bukan dengan usaha berlebihan.

Ia muncul seperti biasa, di waktu yang pas, di tempat yang tidak ramai, dengan kalimat yang tidak memaksa.

Sore itu, Aira duduk di perpustakaan kampus, mencoba membaca tapi pikirannya ke mana-mana. Langit datang dan duduk di seberang meja tanpa suara.

“Aku tebak Kamu pasti capek,” katanya pelan.

“Kamu selalu pandai, membacanya pikiran orang?” Aira menghela napas.

“Iya,” Langit tersenyum kecil. “Tapi capek yang beda.”

“Beda gimana?”

“Capek setelah memilih hubungan yang tepat,” jawabnya singkat.

Aira terdiam. Ia tidak bertanya dari mana Langit tahu. Kadang, ia merasa Langit terlalu peka.

Tapi ia tidak ingin curiga. Karena curiga juga melelahkan.

“Kamu abis ngobrol sama Raka?” tanya Langit tiba-tiba, nadanya biasa.

Aira mendongak. “Kok kamu tahu?”

Langit mengangkat bahu. “Tebakan.”

Aira menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Iya.”

“Berat?”

“Iya,” jawab Aira jujur. “Tapi akhir nya lega.”

Langit mengangguk pelan. “Raka orang baik.”

“Iya,” kata Aira cepat. “Dia terlalu baik.”

Langit tersenyum. Senyumnya tipis, sulit ditebak. “Ada orang-orang baik yang lahir untuk menjaga,” katanya. “Ada juga yang lahir untuk bertahan.”

Aira tidak langsung mengerti maksudnya. Tapi kata-kata itu tertinggal.

...#####...

Malamnya, Aira pulang lebih larut. Ayah sudah tidur. Rumah sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang katanya tempat pulang.

Ia duduk di ruang tengah, membuka album lama yang jarang disentuh. Foto-foto masa kecilnya. Ibu yang tersenyum. Ayah yang berdiri agak jauh dari kamera, selalu rapi, selalu serius.

Aira berhenti di satu foto. Ia kecil sekali di sana. Ayah berdiri di belakangnya, tangan di bahunya.Entah kenapa, wajah ayah di foto itu terasa asing.

Ponselnya bergetar.

Langit:

Kamu sudah di rumah?

Aira:

Sudah.

Langit:

Kalau capek, jangan lupa istirahat.

Aira tersenyum kecil. Orang-orang selalu bilang hal yang sama. Tapi entah kenapa, dari Langit, kalimat itu terdengar… berbeda.

...####...

Di tempat lain, Langit berdiri di depan jendela kamar sempitnya. Lampu kota memantul di kaca. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya kosong.

Di tangannya, sebuah map cokelat tua.

Isinya berkas-berkas lama. Nama ayah Aira tercetak jelas di salah satu halaman. Langit menutup map itu pelan.

“Tenang,” gumamnya pada diri sendiri. “Belum sekarang.”

Ia membuka ponsel, membaca ulang pesan Aira.

Ia tersenyum kecil.

Bukan senyum puas.

Lebih seperti senyum seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang, meski jalannya memutar.

“Aku nggak akan nyakitin kamu,” bisiknya.

“Atau setidaknya… Bukan kamu.”

Ia mematikan lampu.

Gelap menyelimuti ruangan, tapi wajah Langit tetap tenang.

Seolah masa lalu yang berat itu hanya bayangan kecil di belakangnya.

Padahal, bayangan itu belum pergi.

Ia hanya… menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

...####...

Keesokan harinya, Raka dan Aira bertemu di kampus. Tidak canggung. Tidak juga terlalu dekat.

“Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Raka sambil menyerahkan botol minum.

“Karena kamu berhenti narik aku,” jawab Aira bercanda

Raka tertawa kecil. “Iya juga.”

Ia melirik ke arah lain. Langit berdiri agak jauh, berbincang dengan seseorang dari fakultas lain.

Raka mengernyit tipis.

Bukan cemburu.

Lebih seperti… naluri.

“Ai,” katanya pelan. “Kalau suatu hari kamu ngerasa ada yang nggak beres… cerita ya. Jangan dipendem.”

Aira menatapnya. “Kenapa?”

Raka mengangkat bahu. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma… firasat abang aja.”

Aira tersenyum. “Siap, Bang.”

Raka tersenyum balik, meski dadanya terasa sedikit berat.

Karena ia tahu, ia sudah memilih mundur dengan ikhlas.

Tapi naluri menjaga… tidak pernah benar-benar pergi.

...####...

Aira selalu percaya bahwa masa lalu adalah sesuatu yang bisa ditinggalkan.

Ia seperti rumah lama yang pintunya ditutup rapat, debu tetap ada di dalam, tapi tak perlu dibersihkan jika tak dibuka.

Namun pagi itu, saat rapat proyek dimulai, Aira menyadari satu hal

ada masa lalu yang tahu cara membuka pintunya sendiri.

Ruang diskusi dipenuhi suara laptop dibuka, kertas disusun, dan obrolan kecil yang belum serius. Proyek penelitian lapangan mereka sudah memasuki tahap krusial, pengumpulan data sejarah sosial di wilayah pinggiran kota, terkait konflik lama antara penggusuran dan kebijakan pembangunan.

“Aira,” ujar dosen pembimbing, Pak Rahman, “kelompokmu akan menangani arsip dan wawancara tokoh lama.”

Aira mengangguk. “Siap, Pak.”

“Dan satu hal,” lanjut beliau sambil membuka map cokelat tua, “kita akan menggunakan referensi kasus lama yang cukup sensitif. Tapi ini penting untuk kelengkapan analisis.”

Pak Rahman mengeluarkan selembar dokumen fotokopi.

Kertasnya menguning, sudutnya rapuh.

Aira menerima salinan itu.

Matanya langsung menangkap satu nama.

Bukan judul.

Bukan tanggal.

Nama.

Tangannya refleks mengencang.

Pak Rahman melanjutkan, “Kasus ini pernah diteliti oleh seorang akademisi lokal sekitar dua puluh tahun lalu. Hasil penelitiannya kontroversial, tapi cukup berpengaruh.”

Aira menelan ludah.

Nama itu…

adalah nama ayahnya.

Ia tidak mengangkat kepala. Tidak berkata apa-apa.

“Pak,” salah satu anggota tim bertanya, “kenapa hasil penelitiannya dianggap kontroversial?”

Pak Rahman menarik napas. “Karena setelah publikasi itu, beberapa kebijakan berubah. Ada pihak yang merasa dirugikan.”

Aira menunduk.

Ia tahu ayahnya pernah meneliti banyak hal.

Ia tahu ayahnya akademisi.

Tapi ia tidak pernah tahu bahwa penelitian itu… meninggalkan luka.

Siang hari, Aira duduk sendiri di perpustakaan.

Dokumen itu terbuka di hadapannya.

Tulisan ayahnya rapi, tegas, penuh data.

Tidak emosional. Tidak menyerang.

Namun justru itu yang membuatnya terasa dingin.

“Data menunjukkan bahwa kebijakan ini menyebabkan kehilangan ruang hidup dan trauma sosial berkepanjangan.”

Aira membaca ulang kalimat itu berkali-kali.

Ia mengingat ayahnya sebagai lelaki pendiam, jarang bicara tentang pekerjaannya. Ia tak pernah menyebut musuh. Tak pernah mengeluh.

Aira menutup map itu.

Dadanya terasa berat.

Teleponnya bergetar.

Langit.

Lagi di kampus?

Aira ragu sebentar sebelum membalas.

Iya. Perpus.

Langit

Boleh aku ke sana?

Aira menatap layar lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin sendirian. Ada bagian lain yang… ingin ditemani.

Aira

Aku di lantai dua.

Langit datang tanpa suara berlebihan.

Ia duduk di seberang Aira, tidak langsung bicara.

“Kamu kelihatan capek,” katanya akhirnya.

Aira tersenyum tipis. “Biasa.”

Langit menatap map di hadapannya. Tidak terlalu lama. Tidak mencolok.

“Tugas?” tanyanya ringan.

Aira mengangguk. “Penelitian lama.”

Langit mencondongkan tubuh sedikit. “Topik berat?”

“Lumayan.”

Langit mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Itu… aneh.

Biasanya orang akan menggali.

Langit justru berhenti.

Aira memperhatikannya.

Ia tenang.

Terlalu tenang.

“Aira,” kata Langit tiba-tiba, “kalau kamu menemukan sesuatu yang nggak kamu siap hadapi… kamu nggak harus langsung mengerti.”

Aira menatapnya.

“Kadang,” lanjutnya, “cukup tahu bahwa itu ada.”

Aira diam.

“Kenapa kamu bilang begitu?” tanyanya.

Langit tersenyum samar. “Nggak tahu. Cuma kepikiran.”

Aira mengangguk pelan.

Namun di dalam dirinya, sebuah pertanyaan kecil muncul:

kenapa kalimat itu terasa seperti sudah disiapkan?

...####...

Sore hari, Raka melihat Aira dari jauh.

Di perpustakaan.

Bersama Langit.

Mereka tidak dekat secara fisik.

Tidak tertawa.

Tidak terlihat romantis.

Namun ada sesuatu yang membuat Raka merasa… terlambat.

Ia tidak mendekat.

Ia berbalik.

...####...

Malam itu, Aira kembali membuka dokumen ayahnya.

Ia membaca bagian akhir.

Ada catatan kaki.

“Wawancara dilakukan dengan beberapa warga terdampak, termasuk keluarga L.”

Huruf itu membuat dadanya mengeras.

L.

Ia menutup dokumen. Teleponnya bergetar lagi.

Langit.

Hati-hati sama masa lalu, Aira.

Aira mengernyit.

Kenapa?

Balasan Langit datang agak lama.

Karena kadang, orang yang terluka nggak pernah benar-benar pergi.

Aira menatap layar.

Kalimat itu…

tidak salah.

Tapi terasa… terlalu spesifik.

...####...

Keesokan harinya, konflik proyek memuncak.

Salah satu anggota tim menolak menggunakan referensi penelitian lama itu.

“Ini sensitif,” kata mereka. “Ada keluarga yang terdampak buruk. Kita bisa diserang balik.”

Pak Rahman mengangguk. “Saya paham. Tapi justru karena itu kita harus objektif.”

Aira akhirnya bicara.

“Pak,” katanya pelan tapi tegas, “kalau penelitian ini… menyakiti orang, apa kita tetap harus menggunakannya?”

Semua mata tertuju padanya.

Pak Rahman menatap Aira lama.

“Aira,” katanya, “penelitian bukan tentang menyenangkan semua orang. Tapi tentang kebenaran yang tidak selalu nyaman.”

Aira mengangguk.

Namun di dadanya, sesuatu bergetar.

...####...

Sore itu, Aira berjalan pulang sendiri.

Langkahnya pelan.

Langit menyusul.

“Kamu kelihatan lagi memikirkan semua masalah yang di hadapi negara ini ,” katanya.

Aira berhenti. “Langit… kamu pernah dengar nama ayahku?”

Langit terdiam sepersekian detik.

Hanya sepersekian.

Namun Aira melihatnya.

“Pernah,” jawab Langit akhirnya, datar. “Sedikit.”

Aira menatapnya. “Dari mana?”

Langit tersenyum tipis. “Dunia akademik kecil, Aira. Nama orang-orang berpengaruh sering muncul.”

Itu jawaban yang masuk akal.

Namun hati Aira tidak sepenuhnya tenang.

“Kalau ayahku bikin orang lain terluka…” Aira berbisik, “apa itu salahnya?”

Langit menatap jalan. Lama.

“Kadang,” katanya pelan, “kebenaran itu adil. Tapi dampaknya… tidak.”

Aira menelan ludah.

Ia menunggu kalimat lanjutan.

Langit tidak melanjutkan.

Dan untuk pertama kalinya, Aira menyadari

Langit selalu tahu kapan harus berhenti bicara.

...####...

Malam itu, Aira menulis di catatan pribadinya:

Ada orang yang datang seperti jawaban.

Tapi aku takut… ia juga membawa pertanyaan yang belum siap kuterima.

...####...

Di tempat lain, Langit berdiri di depan jendela kamarnya.

Dokumen lama terbuka di layar laptop.

Nama ayah Aira terpampang jelas.

Matanya tidak marah.

Tidak juga sedih.

Hanya… penuh perhitungan.

“Sebentar lagi,” gumamnya.

Dan jauh di sudut kota, masa lalu yang selama ini diam…

perlahan mulai bergerak.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!