Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Berita Kehamilan Rena
Setelah pertemuan keluarga itu, Zahra tidak langsung tidur.
Ia duduk di kamar lamanya, kamar yang masih menyimpan poster-poster lama dan aroma kayu yang akrab...
Lampu sengaja ia matikan, hanya cahaya bulan yang menyelinap melalui jendela..
Detak jam dinding berdentang pelan, seolah menghitung waktu dengan kejam, satu detik demi satu detik..
Ada rasa lega yang belum pernah ia rasakan sebelumnya..
Tapi bersamaan dengan itu, ketakutan merambat perlahan..
Aku tahu satu hal yang sering luput disadari orang-orang baik!
Kebenaran memang membebaskan, tetapi juga membuat mereka yang bersalah menjadi lebih nekat.
Ia memeluk lututnya, menatap kosong ke arah langit-langit..
Bayangan wajah Genta, saat bukti itu dibuka kembali terlintas jelas..
Wajah pucat, tatapan kosong, tak ada pembelaan, tak ada bantahan.
"Dia tahu aku benar, dan itu justru yang membuatnya berbahaya" gumam batin Zahra
Subuh datang dengan udara dingin, Zahra bangun lebih awal, berwudhu, lalu salat dengan hati yang masih bergetar..
Doanya tak lagi panjang seperti biasanya, hanya satu permintaan sederhana..
"Ya Allah, kuatkan aku hari ini.”
Tak lama setelah matahari naik, suara mobil berhenti di depan rumah.
Ibu Wati yang sedang menyapu halaman terkejut saat melihat siapa yang turun dari mobil itu...
Wajah Genta kusut, rambutnya acak-acakan, matanya merah seperti belum tidur semalaman..
"Zahra,” Teriak Genta, begitu melihat Zahra keluar...
“Kita harus bicara, sekarang.” ucap nya dengan nada memaksa
Zahra menatapnya lama, untuk sesaat, ada sisa cinta yang berusaha muncul, tapi cepat padam, ia menarik napas dalam-dalam.
"Masuklah, kita bicara baik-baik.” ucap nya tenang
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu, sedangkan ibu Wati duduk tidak jauh dari mereka, pura-pura menyusun majalah lama..
Tidak ikut campur, tapi cukup hadir sebagai saksi.
“Kamu puas sekarang? Semua orang lihat aku seolah aku ini penjahat!” suara Genta meninggi, nyaris meledak
Zahra menyilang kan tangan di pangkuannya.
“Aku tidak membuat kamu terlihat seperti apa pun, Mas. Kamu melakukannya sendiri.” ucap nya
"Kamu buka aibku di depan keluarga besar ku!” Genta menekan kata-katanya, matanya merah menyala..
"Aib itu muncul karena kamu menutupinya terlalu lama, dan salah keluarga mu sendri yang sudah fitnah aku sedangkan kamu hanya diam menikmati semua orang menyalahkan diriku, tetapi setelah aku buka mulut kenapa kamu dan keluarga mu yang merasa terdzolimi mas ” balas Zahra pelan, tapi setiap katanya menghantam tepat sasaran.
Mas Genta berdiri, mondar-mandir seperti singa terkurung.
"Emak sangat malu dan Dini menangis. Rena..”
Aku ikut berdiri juga, tatapan ku tajam.
“Jangan sebut nama perempuan itu di rumah orang tuaku.”
Genta terdiam, rahangnya mengeras, napasnya memburu..
"Aku masih suamimu,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah tapi penuh tekanan.
Aku mengangguk pelan..
“Dan aku masih istrimu tapi status itu tidak memberi kita hak untuk saling menyakiti.”
“Kembali, kita selesaikan di rumah jangan libatkan orang luar.” desak Genta
Zahra menggeleng..
“Rumah... itu kamu sebut rumah, rumah yang isinya setiap hari bagai neraka bagi ku dan rumah itu sudah tidak aman untukku Mas"
Kalimat itu menghantam Genta lebih keras dari tuduhan mana pun, untuk sesaat, rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya..
Bahunya merosot, tangannya mengepal, lalu mengendur.
Namun ego segera mengambil alih.
“Kamu keras kepala, kamu berubah.” gumamnya
Zahra tersenyum pahit.
“Aku hanya berhenti pura-pura kuat.”
Tak ada lagi yang bisa dikatakan, Genta pergi dengan wajah marah, kecewa, dan kalah.
Begitu pintu tertutup, Zahra menghembuskan napas panjang, tangannya gemetar hebat.
Namun ia tidak menangis.
Belum saatnya Zahra, Bu Wati langsung menghampiri putri nya..
"Kamu hebat nak, kamu harus berani melawan mereka nak" Bu Wati mengelus rambut putrinya
"Jika kamu ingin menangis, nangis lah dipangkuan ibu mu ini Ra" ucap Bu Wati lagi
"Air mata Zahra sudah kering Bu dan mereka sudah tak pantas untuk Zahra tangisi" ucap Zahra pelan
"Ya sudah kalau begitu, ibu mau masak dulu" ucap Bu Wati
"Zahra bantu ya Bu" usul Zahra sambil tersenyum lega
Saat Zahra sedang membantu ibunya di dapur, ponselnya bergetar, pesan masuk dari nomor yang sudah sangat ia kenal..
**Rena.**
Zahra mengusap tangannya, lalu membuka pesan itu tanpa emosi.
("Kamu keterlaluan ya jadi perempuan Zahra, kamu bikin mas Genta terpojok")
Zahra membaca pesan itu perlahan, lalu membalas singkat.
("Dia terpojok oleh pilihannya sendiri")
Balasan datang hampir seketika..!
("Aku hamil")
Dunia Zahra seakan berhenti berputar, suara di sekelilingnya mendadak menghilang..
Tangan Zahra melemas, ponsel hampir terjatuh...
Bu Wati yang melihat, langsung bertanya kepada Zahra
"Ada apa nak" ucap Bu Wati khawatir
"Gak apa-apa Bu, Zahra mau ke kamar dulu" jawab nya lirih
Zahra langsung ke kamar nya
Napasnya tercekat, jantungnya berdegup tak beraturan.
("Aku hamil") kalimat itu berulang-ulang ia baca..
Sebuah ironi paling kejam bagi perempuan yang selama bertahun-tahun dituduh mandul.
Ia duduk perlahan di ranjang matanya kosong, ada nyeri yang tak bisa dijelaskan, nyeri sebagai istri, sebagai perempuan, sebagai manusia yang telah diinjak harga dirinya berkali-kali..
Dengan jari gemetar, Zahra membalas.
("Kamu yakin itu anak Mas Genta?")
Beberapa menit berlalu tanpa balasan, detik terasa seperti jam, lalu pesan masuk.
("Mas Genta tahu dan dia bertanggung jawab")
Zahra menjatuhkan ponsel ke kasur, tangannya menutup wajahnya, dan di situlah air mata akhirnya jatuh..
Bukan tangis histeris, bukan teriakan tapi tangis itu sunyi, tertahan, seperti hujan kecil yang jatuh di tanah retak..
Ibunya masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa...
Ia memeluk Zahra erat, dan Zahra menangis di bahunya, seolah seluruh kekuatannya runtuh di sana..
“Ya Allah… Ini sakit sekali.” lirih Zahra
Ibunya mengusap punggungnya dengan lembut..
“Menangis lah tapi jangan tinggal di luka terlalu lama, Nak.”
Zahra mengangguk mengerti maksud dari ucapan sang ibu..
Malam itu, Zahra salat dengan tubuh gemetar, sujud nya lama, doanya pecah..
"Ya Allah, kalau ini takdir mu, aku terima, tapi jangan biarkan aku kehilangan diriku sendiri.”
Di sisi lain kota, Genta duduk di apartemen Rena..
Lampu temaram, udara pengap, wajahnya tegang, tangannya mengusap rambut berkali-kali..
“Kamu kenapa bilang ke Zahra sekarang? Kamu bikin semuanya makin kacau!” bentak Genta pelan
Rena menatapnya dengan mata berkaca-kaca..
“Aku capek sembunyi, aku hamil anakmu, aku butuh kepastian.”
Genta memejamkan mata, kepalanya terasa mau pecah..
Semua rencana yang ia kira rapi kini berantakan..
"Aku butuh waktu,” katanya lemah.
“Waktu? Aku sudah cukup lama jadi rahasia mu.” Rena tertawa getir
"Seharusnya kamu bersabar sebentar lagi Rena
, tidak sekarang" ucap Genta kacau
"Sampai kapan Mas? Apa aku harus menunggu sampai perut ku membesar?" Balas Rena dengan tatapan tajam yang meminta kepastian
Genta terdiam dan pergi begitu saja dari apartemen Rena..
***
Keesokan harinya, kabar kehamilan itu sampai ke telinga Bu Ratna karena Rena yang memberitahu kan hal itu ke calon ibu mertua nya itu
"Inilah jawabannya, tanda dari tuhan, Zahra harus legowo.” katanya penuh keyakinan
Dini tersenyum puas..
“Sekarang dia nggak punya alasan lagi.”
Namun mereka tidak tahu, di balik air mata dan sujud panjangnya, Zahra sedang mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya..
Ia berdiri di depan cermin, wajahnya pucat, matanya sembab, namun sorot di matanya menyala tajam, sadar, dan tidak lagi ragu.
“Bismillah,” ucapnya mantap.
“Kalau ini ujian imanku, aku akan menjalaninya, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak harga diriku.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Zahra benar-benar tahu:
Jalan di depannya mungkin lebih sunyi, lebih berat, lebih menyakitkan tapi ia akan melaluinya dengan kepala tegak bukan sebagai korban, melainkan sebagai perempuan yang akhirnya memilih dirinya sendiri..!!