Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Ketika Pintu Tak Lagi Terbuka
Raska kembali ke rumah sederhana itu. Namun suasananya kontras dengan kemarin.
Sepi.
Warung tutup. Tidak ada bangku plastik. Tidak ada gelas di meja. Tak ada aroma kopi atau gorengan. Bahkan pintu dan jendela rumah itu tertutup rapat.
Entah kenapa, dada Raska mencelos.
"Vara.." gumamnya tanpa sadar.
Pemuda yang biasanya tenang dan terkontrol itu mendadak panik.
“Eh, kamu yang kemarin, 'kan?”
Suara itu membuat Raska menoleh. Seorang ibu berdiri di seberang jalan, menatapnya penuh selidik.
“Iya, Bu,” jawab Raska cepat. “Apa ibu tahu Bu Elda sama Elvara ke mana?”
Nada sopannya berusaha menutupi kepanikan yang mulai sulit ia kendalikan.
Ibu itu menghela napas. “Kemarin warung Bu Elda tutup lebih awal. Katanya mau beres-beres barang.”
Raska menelan ludah. “Beres-beres?” ulangnya, memastikan ia tak salah dengar.
Ibu itu mengangguk. “Terus pagi ini,” lanjutnya pelan, “Bu Elda pergi sama Elvara. Bawa koper.”
Deg.
“Pergi?” suara Raska tercekat. “Bawa koper?”
Ia menarik napas pendek. “Apa Ibu tahu… mereka ke mana?”
Ibu itu menggeleng. “Cuma bilang mau liburan. Nggak tahu ke mana.”
Raska tertunduk. Tangannya terkepal. Jelas sekarang. Elvara sengaja menghindarinya.
Suara ibu itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan, hati-hati. “Ibu dengar… kemarin kamu jadiin Elvara objek taruhan, ya?”
Raska mengangkat wajahnya. “Saya benar-benar mencintai Elvara.”
Ibu itu menatap penampilannya, rapi, mahal, lalu menghela napas panjang. “Kamu sebaiknya mundur. Ini bukan perang yang bisa kamu menangkan.”
Raska terdiam.
“Bu Elda itu alergi sama orang kaya,” lanjut sang ibu. “Dulu keluarganya hancur gara-gara pacaran sama orang kaya.”
Ibu itu berhenti sejenak, seolah menimbang kata. “Setelah itu, Bu Elda nikah sama tentara. Katanya beliau sangat mencintainya. Sampai suaminya meninggal pun, Bu Elda nggak pernah menikah lagi.”
Raska diam, mendengar dengan seksama.
“Katanya,” ibu itu menutup, “Bu Elda pengennya punya menantu tentara.”
Sunyi kembali turun di depan rumah itu.
Dan untuk pertama kalinya, Raska benar-benar sadar, pertarungannya bukan cuma dengan Elvara. Tapi dengan masa lalu yang sudah lebih dulu membenci dirinya.
***
Raska pulang dengan wajah lesu.
Elvara pergi. Entah ke mana. Sebelum masalah mereka selesai.
Begitu pintu apartemen terbuka, tiga sahabatnya sudah menunggu di ruang tengah.
“Gimana?” tanya Asep cepat.
Raska meletakkan kunci di meja. “Warungnya tutup. Rumahnya juga. Elvara sama ibunya pergi bawa koper.”
“Pergi?” Vicky menegakkan punggung.
Gayus menghela napas pelan. “Lo kehilangan mereka.”
Raska tertawa pendek. Hambar. “Gue kehilangan istri gue.”
Hening.
“Istri? Sejak kapan?” Asep bertanya, suaranya turun.
“Pulang dari resort. Kami nikah diam-diam.”
Tiga pasang mata membeku.
Gayus menatap Raska lama. “Lo sadar apa yang lo lakuin?”
“Sadar,” jawab Raska pelan. “Dan gue siap nanggung konsekuensinya.”
Asep, Vicky, dan Gayus saling pandang.
Tatapan Gayus kembali ke Raska, lekat. “Lo… tiba-tiba nikah, di usia segini. Lo sama Vara…”
Kalimatnya menggantung.
Raska menarik napas panjang.
“Malam itu… kami nggak sepenuhnya sadar,” ucapnya akhirnya.
Tangannya mengepal. “Ada obat di minuman kami.”
Tak ada yang menyela.
“Paginya,” lanjut Raska lirih, “kami bangun dengan rasa takut. Bukan karena dosa. Tapi karena kemungkinan.”
Ia mengangkat wajahnya. “Dan karena itu… kami menikah.”
Tak ada yang langsung bicara. Syok jelas terpampang di wajah ketiganya.
Gayus akhirnya menghela napas lagi. Kali ini lebih dalam. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Raska lama, seolah sedang mengamati objek penelitian.
“Secara logika,” katanya akhirnya, tenang dan terukur, “kami paham lo lagi nggak baik-baik saja.”
Asep mengangguk cepat. “Banget.”
“Tapi,” lanjut Gayus, “nikah diam-diam, konflik keluarga, lalu kehilangan istri dalam waktu sesingkat ini, itu bukan reaksi impulsif orang stres.”
Raska menatap lantai. Rahangnya mengeras.
“Itu keputusan sadar,” lanjut Gayus. “Dan keputusan sadar selalu punya konsekuensi.”
Vicky berdehem. “Terus taruhan itu?”
Rahang Raska mengeras. “Kesalahan terbesar gue.”
Suaranya turun, nyaris tak terdengar. “Karena dari situlah Vara percaya… gue nggak pernah serius.”
Kalimat itu pecah.
Raska menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air bening jatuh tanpa bisa dibendung. “Gue nggak bisa kehilangan dia.”
Asep membekap mulut. “Anjir…”
“Dia satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa nyaman,” lanjut Raska, suaranya rendah tapi jelas. “Satu-satunya tempat yang bikin gue ngerasa punya rumah. Cuma dia.”
“Stadium akhir,” gumam Asep, ekspresinya seperti dengar vonis dokter.
“Tak tertolong,” timpal Vicky, nada suaranya setengah berkabung.
Gayus menatap Raska lebih tajam. “Itu yang bikin situasinya kompleks,” katanya pelan. “Karena cinta yang lahir dari kesalahan biasanya harus ditebus lebih mahal.”
Ruangan kembali sunyi.
Raska berdiri, berjalan ke dinding kaca. Kota terlihat terang, hidup, bertolak belakang dengan dadanya yang kosong.
“Gue nggak nyari pembenaran,” ucapnya tanpa menoleh. “Gue cuma mau nemuin istri gue. Minta maaf. Dan benerin semuanya.”
Asep mengangguk mantap. “Kalau gitu, kita cari.”
Vicky menyeringai tipis. “Taruhan boleh salah. Tapi ngejar istri sendiri, itu baru laki.”
Gayus menatap Raska sekali lagi. “Pastikan kali ini, lo datang bukan sebagai orang kaya.”
Raska mengepalkan tangan. “Gue bakal datang sebagai suami.”
***
Ruang praktik itu masih sama.
Jam dinding berdetak pelan, kursi kulit yang sama, aroma antiseptik yang tak pernah berubah.
Raska duduk di sana, tubuhnya kini besar, bahunya lebar. Tapi ada sesuatu yang tetap tak berubah, ketegangan di matanya.
Dokter Wira menutup map. “Kamu kelihatan lelah,” katanya lembut.
Raska tersenyum tipis. “Saya capek bertahan, Dok.”
Dokter Wira menatapnya lama. “Kamu jarang bicara soal capek. Biasanya kamu bicara soal kontrol.”
Raska menghela napas. “Saya hidup dengan disiplin ketat. Rutinitas padat. Tapi kepala saya tetap ribut.”
Ia menunduk. “Saya masih lihat ibu saya. Terbaring di lantai. Dingin.”
Dokter Wira tak menyela.
“Tubuh saya selalu siap lari atau menyerang,” lanjut Raska pelan. “Saya nggak pernah benar-benar tenang.”
Hening sejenak.
“Disiplin membantu kamu bertahan,” ujar Dokter Wira akhirnya. “Tapi luka kamu bukan soal kurang sibuk. Kamu kehilangan rasa aman sejak kecil.”
Raska mengangkat wajahnya. Tatapannya mantap, tapi rapuh.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “orang seperti saya… bisa jadi tentara, nggak, Dok?”
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang keputusan dan arah hidup diambil bukan dari mimpi, tapi dari situasi dan orang-orang yang kita sayangi.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
akhirnya Happy Ending
Alfatihah.
terimakasih. ditunggu novel novel berikutnya👍
cara menulis selalu keren bahasanya juga jelas 👍👍👍
semangat berkarya kak
menyampaikan fakta dan realita bagaimana kehidupan para prajurit yg menjaga negara... bagaimana cara hidup mereka dalam memperjuangkan kedamaian serta rasa aman bagi kita...
tetap semangat authornya💪💪
ditunggu karya³ lainnya
dari cerita ini aku tau gimana rasanya menjadi seorang prajurit...
gimana rasanya konflik bercampur dengan urusan kerjaan...
tapi Raska punya jiwa yang kuat di bangun dari dasar trauma yang mendalam...
semoga kk othor Nana selalu sehat dan semangat untuk menghadirkan cerita cerita seru lain nya...
makasih kk Thor Nana 🙏🌹♥️