21+ sesuai rate!
Menjadi partner di atas ranjang untuk Alberto selama setahun.
Membuat Nessa, wanita cantik yang sejak awal hanya membutuhkan imbalan setelah melayaninya.
Kini memiliki perasaan lebih dari hanya sekedar pemuas untuk Alberto, sang cassanova yang tidak mengenal cinta.
Apalagi Alberto adalah pria yang sudah memberikan tempat tinggal, dan menolongnya dari kekerasan yang di alaminya setahun lalu, saat Nessa masih menjadi kupu-kupu malam.
Akankah Nessa bisa mendapatkan cinta Alberto? Atau sebaliknya, mengingat lagi siapa Alberto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaruMini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Takdir
Nessa yang sudah puas menangis, kini menghapus sisa sisa air matanya, kemudian mengelus perutnya yang masih rata.
Niat yang tadi sempat terbesit di kepala untuk menyerah memperjuangkan cintanya, kini bangkit kembali, mengingat lagi bayi yang ada di dalam kandungannya adalah darah daging Al.
Dan Nessa akan terus memperjuangkan cintanya, dengan mengatakan yang sejujurnya pada Al, tentang perasaan cintanya dan juga tentang bayi yang ada di kandungannya. Dan tak peduli apa nanti reaksi Al padanya.
"Sayang sebentar lagi, kita akan bertemu dengan papa, kamu jangan cemas, mama akan memperjuangkan hingga kamu di akui oleh papa," ucap Nessa sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka.
"Nak," panggil ibu Sumi yang baru masuk ke dalam kamar sang putri lalu berjalan mendekati sang putri yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Iya Bu," sahut Nessa sambil mengukir senyum, dan untung saja dirinya sudah berhenti menangis.
Setelah mendekati sang putri, ibu Sumi menatap intens wajah sang putri.
"Bu, kenapa ibu menatap ku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Nessa penasaran.
"Apa kamu baru menangis nak?" tanya ibu Sumi balik tanpa menjawab pertanyaan sang putri, lalu tangan kanannya membelai dengan lembut wajah putri yang sangat di sayangi nya.
"Tidak, aku tidak menangis Bu,"
"Jangan berbohong nak, ibu tahu kamu baru saja menangis," ujar ibu Sumi yang mendapati mata sang putri bengkak, dan hidupnya bagaikan tomat merah. "Ibu tahu, pasti kamu masih mengingat mendingan ayah kamu bukan? Boleh kamu mengingatkan, tapi jangan kamu tangisi, dan kamu juga jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri, ayah kamu meninggal karena sudah takdir yang maha kuasa,"
Mendengar apa yang di katakan oleh sang ibu, yang mengira Nessa baru menangisi kepergian ayahnya beberapa tahun lalu.
Membuat Nessa yang tadi tidak mengingat kenapa ayahnya meninggal, kini mengingat kejadian beberapa tahun lalu, yang membuat ayahnya meninggal, kemudian Nessa langsung memeluk sang ibu.
"Jika bukan karena aku, tentu saja ayah masih berada bersama kita sekarang Bu,"
Mendengar apa yang di katakan oleh sang putri, ibu Sumi melepas pelukan Nessa lalu meraup wajahnya.
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri nak, ini sudah takdir dari Tuhan," ujar ibu Sumi sambil mengukir senyum. "Lebih baik kamu temui Ado, sedari tadi dia menunggu kamu di depan,"
"Ado? Untuk apa dia datang ke mari?"
"Mungkin untuk bersilaturahmi, temui lah nak, tidak ada salahnya kamu menemui dia, meskipun kamu tidak menerima pinangan nya, berhubungan baiklah dengan siapa pun yang baik kepadamu, termasuk dengan Ado. Dan ibu rasa Ado ingin berteman baik dengan kamu nak," ucap panjang ibu Sumi di akhiri dengan mengukir senyum. "Ibu keluar dulu,"
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Nessa, setelah kepergian ibu Sumi dari kamarnya.
Kemudian Nessa beranjak dari duduknya, untuk menemui Ado mengikuti saran dari sang ibu.
Ado yang sedang duduk di ruang tamu, langsung beranjak dari duduknya, kala melihat Nessa keluar dari kamar dan berjalan mendekat ke arahnya.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibir Ado, senyum kebahagian, karena bisa melihat lagi wanita yang sangat di cintai nya, meskipun Nessa sudah jelas jelas menolak dirinya.
Tapi Ado tidak masalah, dirinya ikut senang melihat wanita di cintai nya bahagia, meskipun bukan dengan dirinya.
"Sore Nes," sapa Ado dengan ramah saat Nessa sudah berdiri di hadapannya.
"Sore," sapa Nessa balik, lalu duduk di kursi tepat di hadapan Ado.
"Terima kasih Nes, kamu sudah mau menemui aku lagi,"
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Nessa tanpa menanggapi perkataan Ado.
Ado tersenyum, dan satu tangannya menggeser bungkusan katong yang berada di atas meja yang ada di hadapannya.
"Ini semua makanan kesukaan kamu dulu Nes, aku bawakan untuk kamu,"
"Tapi aku sudah tidak menyukai makanan ini lagi," sambung Nessa sambil menatap katong berisi macam macam makanan yang di sodorkan oleh Ado.
"Oh ya, tidak apa lah, ini buat ibu saja," ujar Ado dan terus mengukir senyum. "Harusnya tadi aku menghubungi kamu terlebih dahulu ya Nessa, untuk menanyakan makanan kesukaan kamu Apa sekarang, oh iya lupa, aku kan tidak punya nomor ponsel kamu,"
"Ado, jangan bergurau. Hanya ini tujuan kamu ke sini bukan?" tanya Nessa dan lagi lagi tidak ingin menanggapi perkataan Ado. "Dan sekarang pulang lah, aku tidak ingin tetangga berpikir buruk dengan kita,"
"Baiklah Nes, tapi ada satu lagi yang akan aku sampaikan padamu," ucap Ado.
"Katakan saja aku akan mendengar,"
"Bagaimana jika kita keluar untuk makan bersama,"
"Ado, aku–"
"Aku mohon Nes, anggap saja ini ajakan dari teman kamu," sambung Ado memotong perkataan Nessa. "Beberapa hari lagi aku akan berlayar, dan aku ingin makan bersama dengan kamu sebelum pergi, aku mohon Nes, kamu jangan menolak,"
Bersambung............................