Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dia berbaring di tempat tidur dengan boneka Sisi dipeluk erat. Bi Sari tidur di samping tempat tidurnya—di kasur kecil yang sengaja diletakkan di sana.
"Bi..." bisik Anindita di kegelapan.
"Ya, Nona?" Bi Sari langsung terbangun—instinctnya sebagai pengasuh selama 6 tahun membuatnya selalu siaga.
"Kapan Dita bisa main sama Vyan lagi?"
Bi Sari terdiam. Hatinya sakit mendengar pertanyaan itu—pertanyaan yang sudah Anindita tanyakan setiap malam selama sebulan ini.
"Sebentar lagi, Non. Kakek Darma bilang sebentar lagi."
"Bi Sari bohong," kata Anindita dengan suara kecil. "Bi Sari selalu bilang 'sebentar lagi' tapi tidak pernah 'sebentar lagi'."
Bi Sari tidak bisa menjawab. Karena Anindita benar.
"Tidur ya, Non. Besok kan masih harus belajar."
Anindita mengangguk, menutup matanya.
Bi Sari membelai rambut Anindita dengan lembut sampai nafas gadis kecil itu menjadi teratur—pertanda dia sudah tidur.
Bi Sari sendiri akhirnya tertidur sekitar pukul 23.00, kelelahan setelah seharian menjaga Anindita.
...****************...
Pukul 02.30 Dini Hari
Pintu kamar Anindita terbuka perlahan—sangat perlahan—tanpa suara.
Kelima bodyguard di luar tidak bergerak. Tidak karena mereka lengah, tapi karena... mereka tidak menganggap orang yang masuk sebagai ancaman.
Karena orang itu adalah Hendrik Sutanto. Kepala Keamanan. Orang yang mereka hormati. Orang yang mereka percaya.
"Pak Hendrik?" salah satu bodyguard berbisik. "Ada apa, Pak? Ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Hendrik dengan senyum ramah—senyum yang sudah dia perfeksikan selama 25 tahun. "Aku hanya mau cek apakah Nona Dita baik-baik saja. Inspection rutin."
"Oh, silakan, Pak. Bi Sari dan Nona Dita sudah tidur."
Hendrik mengangguk dan masuk ke kamar.
Tiga bodyguard di dalam juga tidak curiga. Mereka bahkan membungkuk hormat saat Hendrik masuk.
Di kegelapan kamar yang hanya diterangi nightlight berbentuk bintang, Hendrik melangkah pelan menuju tempat tidur Anindita.
Gadis kecil itu tidur nyenyak, memeluk boneka putihnya, wajahnya damai—tidak tahu bahwa kematian sedang mendekat.
Hendrik mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah pil kecil. Bening. Hampir tidak terlihat di cahaya normal. Tapi di kegelapan total, dengan nightlight yang tepat, pil itu berkilau dengan cahaya biru samar.
Pil bunuh diri. Tidak terdeteksi dalam autopsi normal. Menyebabkan serangan jantung dalam 5 menit. Kematian terlihat natural.
Sama seperti Aditya Paramitha.
Hendrik tersenyum—senyum yang kejam, senyum yang menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Tangannya terangkat, pil di antara jari telunjuk dan ibu jari, bersiap memasukkannya ke mulut Anindita yang sedikit terbuka.
Tapi—
"JANGAN!"
Teriakan itu datang dari Bi Sari yang ternyata tidak sepenuhnya tidur.
Instingnya sebagai ibu—walau Anindita bukan anak kandungnya—membuatnya selalu siaga, bahkan dalam tidur.
Dan malam ini, instingnya menyelamatkan nyawa Anindita.
Bi Sari melompat dari kasurnya, kaki telanjangnya menendang tangan Hendrik dengan kekuatan penuh.
WHAM!
Hendrik terpental, pil jatuh dari tangannya, menggelinding di lantai.
"BODYGUARD! BODYGUARD!" Bi Sari berteriak sambil memeluk Anindita yang terbangun dengan bingung dan ketakutan.
Ketiga bodyguard di dalam kamar langsung bereaksi—tapi mereka bingung. Pak Hendrik? Kepala keamanan mereka?
"APA YANG ANDA LAKUKAN?!" salah satu bodyguard berteriak.
Tapi Hendrik sudah tidak berpura-pura lagi. Topengnya jatuh. Wajahnya berubah—dari ramah menjadi dingin seperti es.
Tangannya bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk pria seusianya, mengeluarkan pisau lipat yang sudah di lumuri racun mematikan dari balik jaket.
SYUT!
Pisau itu melayang ke arah Anindita.
"TIDAK!" Bi Sari memutar tubuhnya, membelakangi pisau, melindungi Anindita dengan tubuhnya sendiri.
SRAK!
Pisau menancap di punggung Bi Sari. Darah langsung membasahi pakaiannya.
Tapi dia tidak berteriak. Dia hanya memeluk Anindita lebih erat.
"Lari..." bisiknya pada bodyguard. "Bawa Nona... lari..."
Salah satu bodyguard langsung mengaktifkan alarm darurat.
WIIING! WIIING! WIIING!
Suara sirine memekakkan telinga menggema di seluruh mansion.
Lampu emergency menyala—merah terang yang berkedip-kedip.
Pintu-pintu otomatis tertutup—lockdown protocol.
Hendrik tahu dia tidak punya banyak waktu. Dia harus kabur. Sekarang.
Dia berlari ke jendela, memecahkan kaca dengan sikunya, bersiap melompat—
BANG!
Tembakan dari luar.
Peluru mengenai bahu Hendrik, membuatnya terpental ke belakang.
"ARGH!" Dia jatuh, darah mengalir dari lukanya.
Di luar, di atas atap mansion seberang, tim sniper Syailendra yang diam-diam ditempatkan Arman sejak sebulan lalu—mengantisipasi serangan—membidik dengan senapan laras panjang mereka.
"Target hit. Suspect down. I repeat, suspect down," lapor sniper lewat radio.
Hendrik mencoba bangkit, tapi lima bodyguard sudah mengerubunginya, senjata teracung ke kepalanya.
"JANGAN BERGERAK!" teriak salah satu bodyguard.
Hendrik tersenyum—senyum yang aneh, senyum yang menakutkan.
"Terlambat," bisiknya. "Semuanya sudah terlambat. Rencana sudah berjalan. Kalian semua akan mati..."
Matanya melirik ke arah Anindita yang menangis di pelukan Bi Sari yang sekarat.
"Terutama kau, Anindita Paramitha. Kau akan mati. Sama seperti ibuku mati karena keluargamu."
"IBUMU?!" Salah satu bodyguard berteriak. "SIAPA IBUMU?!"
Tapi Hendrik tidak menjawab. Tangannya bergerak cepat ke saku lainnya, mengeluarkan pil yang sama—pil bunuh diri.
"TIDAK! HENTIKAN DIA!"
Tapi terlambat.
Hendrik menelan pil itu.
Lima menit kemudian, dia mati—mata terbuka, senyum mengerikan masih terukir di wajahnya.
Membawa rahasia ke dalam kubur.
5 Menit Kemudian
Darma Paramitha berlari—BERLARI—dengan kecepatan yang tidak seharusnya bisa dilakukan pria seusianya. Jantungnya hampir meledak, nafasnya tersengal, tapi dia tidak peduli.
Cucunya. Cucunya dalam bahaya.
Dia masuk ke kamar Anindita dan—
Pemandangan yang dia lihat membuat kakinya lemas.
Bi Sari tergeletak di lantai, darah menggenang di sekelilingnya. Medis darurat yang ada di Kediaman Paramitha berusaha menghentikan pendarahan, tapi darahnya terlalu banyak.
Anindita duduk di pojok ruangan, memeluk Sisi, tubuhnya gemetar hebat, mata terbuka lebar dengan shock—trauma yang akan menghantuinya selamanya.
Dan Hendrik—pengkhianat yang dia percaya selama 25 tahun—tergeletak mati dengan mata terbuka, menatap kosong ke langit-langit.
"Dita..." Darma berlutut di hadapan cucunya, tangannya gemetar meraih gadis kecil itu.
Anindita menatap kakeknya, kemudian mulai menangis—menangis histeris yang memilukan.
"KAKEK! BI SARI! BI SARI BERDARAH! TOLONG BI SARI!" Dia berteriak, menunjuk ke arah Bi Sari yang sekarat.
Darma memeluk cucunya erat, air matanya jatuh.
"Bi Sari akan baik-baik saja, cucuku. Kakek janji. Bi Sari akan baik-baik saja..."
Tapi di matanya, dia melihat dokter menggeleng perlahan.
Terlalu banyak darah yang hilang. Pisau yang sudah di lumuri racun itu sudah menjalar keseluruh tubuhnya.
Bi Sari tidak akan selamat.
Dan di luar jendela yang pecah, di kegelapan malam, seseorang berdiri mengamati—mengamati chaos yang baru saja terjadi.
Orang itu tersenyum.
Hendrik gagal. Tapi tidak masalah. Ini baru permulaan.
Phase 1: Plant the fear. Complete.
Next: Phase 2.
Orang itu berbalik dan menghilang di kegelapan, meninggalkan mansion yang penuh dengan jeritan, darah dan trauma yang baru saja dimulai.