AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25: behind her smile
AKU seketika tersentak ketika melihat Elora membuka mata dan tersenyum kepadaku keesokan harinya. Dia tidak berubah dan sorot matanya masih sama seperti dulu ketika memandangku dengan ketulusan yang dia punya.
“Selamat ulang tahun, Papa.”
Untuk sejenak aku mematung. Tak tahu harus bereaksi bagaimana ketika melihat makhluk kecil di depanku ini baru saja bangun dari kematian dan mengucapkan selamat ulang tahun begitu dia bangun. Aku tanpa sadar ikut tersenyum dan membelai kepalanya..
“Terima kasih, dan maaf.”
Elora menggeleng dan langsung menghambur ke pelukanku. “Papa tidak pelnah melakukan kesalahan. Itu semua hanya pengaluh olang jahat ke Papa di masa lalu sehingga Papa melakukan hal yang tidak baik.” Dia menepuk-nepuk punggungku dengan pelan. “Sekalang, semuanya akan baik-baik saja, Papa.”
Aku mengangguk dan hanyut dalam perkataan manis yang diberikan Elora. Seperti terkena sihir, untuk pertama kali aku merasa kedamaian akhirnya hadir di hidupku. Itu semua berkat tangan mungil yang tidak pernah melepaskanku ini, meski aku sudah berulang kali membuatnya pergi dengan sangat kejam.
“Kau sudah merasa baikan?”
“Ya.”
“Tidak ada yang sakit?”
“Tidak ada,” katanya sambil menggeleng kuat.
“Syukurlah, sekarang mari kita keluar. Semua orang sudah menunggumu bangun.”
“Ya!”
Aku mendekatkan kepalanya di dadaku. Menggendongnya dan membawa Elora keluar kamar. Semua pelayan yang melihat seketika terkejut dan menitikkan air mata, sebagian lainnya membuka mulut tak percaya, sementara lainnya menjatuhkan sapu dan pel karena syok. Aku mengabaikan semua pasang mata dan melangkah menuju istana utama.
“Papa?”
“Hm.”
“Kita mau ke mana?”
“Pulang.”
Leocadio sertamerta menyambut begitu melihatku datang bersama Elora. Pria itu heboh setengah mati dan menyuruh pelayan menyiapkan segala keperluan untuk menyambut Elora. Namun, aku terus melangkah dan menolak semua ocehannya. Prioritasku saat ini adalah Elora dan kenyamanan anak itu. Kami berhenti di depan pintu kamarku, menarik knop pintu ke bawah, menutupnya, dan segera mendudukkan Elora di tempat tidur besar milikku.
“Untuk sementara, makan dan tidurlah di sini dulu.”
Dia terlihat bingung, tetapi akhirnya mengangguk dengan ceria. Melihat senyuman itu yang kembali hadir di hidupku lagi, tanganku otomatis membelai kepalanya dengan lembuh dan penuh cinta. Aku masih merasa semua ini asing dan pertama kalinya bagiku, tetapi aku menikmatinya. Sebelumnya, tak pernah terpikir bahwa masa seperti ini akan datang di hidupku, merasakan perasaan hangat yang mewah seperti ini adalah sebuah kemahalan. Dia yang datang entah dari mana membuatku merasa diterima dan dicintai dengan tulus adalah hal terindah yang belum pernah aku rasakan.
Dulu, memang benar aku menganggapnya sebagai kutukan dan hukuman karena eksistensinya seharusnya dihilangkan demi mencegah kehancuranku. Namun, di hari aku terlahir ke dunia tanpa bisa merasakan kasih sayang, Elora memberikan hal itu secara cuma-cuma meski aku mencoba mendorongnya pergi.
Kini, hukuman yang dikirimkan dewa untukku adalah sebuah hadiah istimewa yang tak pernah akan kulupakan. Meski suatu saat, aku akan menemui akhir kehidupan, itu semua tak masalah asalkan anak yang terus tersenyum di depanku ini hidup dengan baik tanpa kekurangan apapun. Ya, benar, asalkan dia hidup, aku merasa baik-baik saja meski harus mati di tangannya.
***
Duke of Astello sertamerta berkunjung ke istana utama begitu mendengar kabar Elora yang hidup kembali. Sembari membawa aneka hadiah, makanan yang disukainya dan boneka, Duke memenuhi kamar tidurku dengan hadiahnya. Aku memakluminya dan membiarkan dia bertingkah kurang ajar hanya sekali ini saja mengingat keadaan Elora yang baru saja siuman. Namun, ke depannya, aku berniat tidak ingin membiarkan Elora menerima hadiah semua orang kecuali hadiah dariku seorang.
Selain Duke of Astello, para pekerja istana juga mengirimkan berbagai hadiah dan ucapan selamat. Mereka menangis terharu mengetahui bahwa satu-satunya Putri mereka kembali hidup. Marquess of Matheo yang beberapa waktu lalu kuusir juga menampakkan diri tanpa tangan kosong. Ketika mendengar kalau Elora menyukai boneka kelinci yang dia berikan, pria gendut itu lantas membawa berbagai macam boneka kelinci, mulai dari yang sekecil kelinci sungguhan hingga sebesar beruang madu.
“Saya memberi hormat kepada Bintang Adenium.” Dia menunduk memberi salam. “Saya turut berbagaia mendengar Putri telah kembali dan baik-baik saja,” katanya sambil tersenyum penuh arti. “Semoga berkat selalu terlimpah kepada Yang Mulia dan Putri Adenium.”
“Ya.”
Dari semua tipe bangsawan, tipe yang seperti Marquess adalah yang paling kubenci sehingga aku sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengannya. Sebab tujuan yang dia miliki terlihat jelas di mataku dan aku tak menyukainya memanfaatkan Elora demi kekuasaan yang ingin dia miliki.
“Dan juga, selamat ulang tahun, Yang Mulia. Anda sungguh mendapatkan hadiah yang istimewa di hari kelahiran Anda dengan kembalinya Putri.”
Namun, perkataan Marquess of Matheo kali ini membuatku tersenyum dan membenarkan perkataannya. “Ya, dia adalah hadiah yang sangat berharga bagiku.”
“Kedepannya, saya berharap Putri selalu sehat sehingga saya dapat mengenalkan cucu saya yang umurnya tidak jauh berbeda dari Putri. Kalau begitu–” Dia membungkuk, memberi hormat, dan berkata, “Semoga Anda selalu dalam perlindungan bintang-bintang Adenium.”
Setelah Marquess pergi, aku menyuruh semua orang meninggalkan ruangan agar putriku dapat beristirahat. Aku sengaja menempatkan ksatria di depan kamar untuk mencegah anak itu keluar dan berjalan-jalan saat aku kembali ke ruang kerja. Ngomong-ngomong, atmosfer istana kini terasa hidup kembali.
***
“Kau belum tidur?”
Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, berjalan ke meja kecil yang berada di tempat tidur dan mengambil segelas anggur dengan tangan kiri. Dengan handuk yang kuletakkan di leher, aku bersandar di dinding dan menatap putriku yang berada di tempat tidur. Dia memperhatikanku dengan wajah polos yang tidak kumengerti.
“Tidurlah sekarang. Ini sudah larut malam.”
“El tidak bisa tidul.”
Aku mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Kalena El melasa sangat bahagia hali ini, jadi El belum mengantuk, hehe.”
Aku menggak habis anggur dan meletakkan gelas di meja sebelum berjalan mendekat ke sisi tempat tidur. Menatapnya sembari bersedekap, berkata, “Anak kecil sepertimu harus tidur sekarang.”
“Tapi, El tidak bisa tidul.”
“Pura-pura tidur saja.”
Dia memiringkan kepala, meletakkan telunjuk di dagu sebelum berbaring dan menarik selimut menutupi dada. Dia mulai memejamkan mata dan mencoba untuk tidur sedangkan aku tidak beranjak sebelum memastikan mata yang terpejam itu tidak bergetar. Namun, setelah beberapa menit, akhirnya aku menyerah dan menghela napas panjang karena matanya masih bergetar. Aku berjalan keluar kamar, membuka pintu, dan menemukan pelayan yang lewat. Maka aku memanggilnya setelah dia memberi salam dengan kaget.
“Salam kepada Bintang Adenium. Apa ada yang Anda butuhkan, Yang Mulia?”
“Buatkan segelas susu dan antarkan kemari.”
“Baik, Yang Mulia.”
Baru saja hendak berbalik, aku tiba-tiba teringat sesuatu dan buru-buru menambahkan, “Apakah tidak masalah jika menambahkan fermentasi anggur ke dalam susu?”
Wajah pelayan itu mendadak kebingungan. “Maksud Anda alkohol? Bukankah itu akan menjadi susu yang beralkohol?”
Aku membenarkan. “Lagipula, rasanya akan menjadi sedikit manis. Dia menyukai makanan manis, jadi sepertinya tak masalah jika dia meminum susu yang beralkohol. Kupikir anak-anak menyukai sesuatu yang manis?”
“Yang Mulia.” Pelayan itu seperti menahan sesuatu untuk dikatakan, tetapi dia tetap tersenyum dan membalas, “Segelas susu hangat saja sudah cukup untuk membuat seorang anak kecil merasa mengantuk.”
“Benarkah?”
“Benar, Yang Mulia. Saya berani bersumpah dengan nyawa saya.”
“Baiklah.”
Seperti yang dikatakan pelayan, secara ajaib Elora langsung merasa mengantuk setelah dia menghabiskan susu. Tanpa melakukan drama, percobaan melarikan diri, mengalihkan pembicaraa, atau bahkan sengaja bermain-main, dia meminum susu itu dengan tenang. Sementara itu, aku masih belum beranjak. Kepalan tangan mungil ini menarik minatku. Maka mengarahkan tangan menyentuhnya, aku mengusapnya pelan sebelum membuka kepalan tangan Elora dan menggenggamnya. Bertanya-tanya dalam hati, apakah tangan anak-anak memang sekecil ini atau hanya dia yang begitu? Yang jelas, semakin lama tangan mungil ini menenangkan perasaanku seperti alkohol.
“Eungh–”
Apakah aku membangunkan dia? Namun, Elora malah membalik posisi dari terlentang menjadi ke arahku. Di detik selanjutnya kepalan tangan yang kupegang itu balik menggenggam tanganku dengan erat. Aku terkejut karena gerakannya, tetapi perkataan setelahnya lebih mengejutkanku.
“El sangat sayang Papa. Meski El mau dibunuh Papa, El tidak apa-apa kalena El cuma punya Papa di dunia ini. Yang penting Papa hidup bahagia.”
Kalimat terakhir yang dia ucapkan membuatku menunduk dan mencium dahinya. Meski merasa sakit ketika mendengar perkataannya, itulah kebenaran yang terjadi di masa lalu. Aku tidak ingin menyangkal dan tak punya hak untuk itu. Namun, setelah semua yang terjadi, aku telah mengambil keputusan besar untuk membiarkan dia di sisiku sampai tangan mungil yang menggenggamku ini yang melepaskannya sendiri. Maka dari itu, bolehkah aku berharap agar tangan ini tidak melepas genggaman tangannya padaku? Sebab dia adalah putriku dan aku ingin melindunginya seperti nyawaku sendiri.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak