Tania yang sudah memiliki kekasih jatuh cinta pada seorang siswanya di saat dia tengah menjalani masa-masa PPL.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Tania yang Amburadul
Reyhan tersenyum melihat Tania yang tampil amburadul di hadapannya. Baru kali ini, Reyhan melihat Tania berpenampilan amburadul dan sanggar kotor.
Tania menutupi wajahnya karena malu. Dia kaget tak menyangka Reyhan yang datang pagi-pagi sekali. Awalnya dia berpikir tamu yang datang pagi-pagi ke rumahnya adalah tetangga.
"Kamu ke sini kenapa nggak bilang-bilang, sih?" gerutu Tania kesal bercampur malu.
"Aku boleh masuk?" tanya Reyhan sambil menahan tawa melihat sikap Tania.
"Ya udah, masuk! Aku mandi dulu, ya!" ujar Tania lalu berlari masuk kamar.
Reyhan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tingkah Tania membuat dirinya tak sanggup menahan tawanya.
"Ya ampun! Baru kali ini deh, Bang Rey liat aku acak adul gini! Mau ditaruh di mana wajahku!" gumam Tania sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya setelah berada di dalam kamar.
"Siapa, Tan?" tanya mama Tania yang baru saja keluar dari dapur.
Mama Tania tidak melihat sang putri berada di ruang tamu.
"Reyhan!" ujar mama Tania saat mendapati kekasih putrinya tengah duduk di ruang tamu.
"Pagi, Ma!" sapa Reyhan dengan santun lalu menyalami tangan mama Tania.
"Lho, Tania mana?" tanya mama Tania heran melihat Reyhan duduk sendiri di ruang tamu.
"He, Tania ke kamarnya, Ma. Dia bilang mau mandi dulu," ujar Reyhan tersenyum lucu mengingat ekspresi Tania saat membuka pintu untuknya tadi.
"Dasar anak itu," geram mama Tania ikut menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Ma. Dia bilang, mau mandi dulu," ujar Reyhan.
"Owh, ya udah kamu tunggu sebentar, ya! Mama bikin minuman dulu," ujar mama Tania.
"Nggak usah repot-repot, Ma!" ucap Reyhan basa-basi.
"Nggak, kok." Mama Tania pun melangkah kembali menuju dapur.
Di dapur mama Tania mulai membuatkan teh untuk pria yang saat ini berstatus sebagai kekasih putrinya.
Mama Tania sangat menyukai Reyhan, dia berharap Reyhan bisa menjadi jodoh pria tampan yang kini mulai berhasil dalam merintis usahanya.
Mama Tania kagum pada Reyhan sejak awal putrinya membawa Reyhan datang ke rumah.
"Ma, kenalkan ini teman aku," ucap Tania memperkenalkan sang kekasih pada mamanya.
Mama Tania menatap Reyhan penuh selidik. Ini pertama kalinya sang putri membawa teman lawan jenis ke rumah.
"Siapa, Ma?" tanya papa Tania saat mendapati putrinya pulang dengan membawa seorang pria.
"Teman Tania, Pa," jawab Tania gugup sambil melirik ke arah sang kekasih yang melebarkan senyum pamungkasnya.
"Oh, ya udah! Kamu bikinkan teh buat dia!" perintah papa Tania pada putrinya.
"Baik, Pa!" ucap Tania.
Tania pun masuk ke dapur untuk melakukan perintah sang papa.
"Silakan duduk!" ujar papa Tania pada Reyhan dengan suara tegasnya.
"Terima kasih, Pak!" ujar Reyhan, lalu dia pun duduk di atas sofa sederhana yang terdapat di ruang tamu itu.
Reyhan masih tetap santai berhadapan langsung dengan calon mertua.
"Katakan! Apakah kamu benar teman Tania? atau?" papa Tania langsung menginterogasi Reyhan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu..
"Saat ini saya pacar Tania, Pak! tapi saya berjanji akan menjadikan Tania wanita spesial dalam hidup saya," ujar Reyhan tegas dan penuh keberanian.
Dia tidak ragu dalam menjawab pertanyaan calon mertuanya.
"Apakah kamu akan menjadikan Tania sebagai istri?" tanya papa Tania penuh selidik.
"Iya, Pak!" jawab Reyhan penuh keyakinan.
"Apa yang kamu punya sehingga kamu berani berkata seperti itu?" Interogasi papa Tania masih berlanjut.
"Saat ini saya belum punya apa-apa, Pak. Tapi, setelah saya wisuda sambil menunggu Tania menyelesaikan kuliahnya saya akan berjuang mempersiapkan segalanya sehingga saya pantas menjadi suami untuk putri Bapak," ujar Reyhan dengan sungguh-sungguh.
Sejak hari itu, papa dan mama Tania memberi kepercayaan pada Reyhan untuk menepati janjinya.
Mama dan papa Tania pun meminta Reyhan untuk memanggil mereka dengan panggilan yang sama dengan putri mereka.
Mereka yakin Reyhan akan menjaga putrinya dengan baik.
Mama Tania keluar dari dapur dengan membawakan secangkir teh dan cemilan yang tadi pagi dimasaknya.
"Silakan!" ucap mama Tania pada Reyhan yang masih duduk sendiri di ruang tamu.
"Tania belum turun?" tanya mama Tania saat melihat Reyhan masih sendirian di ruang tamu sambil mengotak-atik ponselnya.
"Belum, Ma," jawab Reyhan.
"Mama panggilin dia dulu, ya!" ujar mama Tania lalu melangkah menuju kamar putrinya.
Baru saja mama Tania menginjak tangga pertama, Tania sudah muncul dan melangkah menuruni anak tangga.
Reyhan menatap kagum pada kekasihnya yang kini berpenampilan santai dengan kaos biru dipadupadankan dengan celana batik 3/8.
Rambut panjangnya diikat ke belakang. Penampilannya membuat Reyhan semakin jatuh hati, Tania memang lebih suka berdandan simple didepan Reyhan. Penampilan Tania yang sederhana itulah yang menarik bagi Reyhan.
"Lama banget, sih! Kasihan Reyhan nungguin," omel mama Tania sambil berkacak pinggang.
Dia merasa tidak enak hati, sang putri mengabaikan pemuda tampan yang baik hati itu.
"Maaf, Ma," lirih Tania setelah berada di samping sang mama.
Mama Tania pun melangkah menuju kamarnya, dia membiarkan Tania dan Reyhan mengobrol di ruang tamu.
"Sayang, tumben kamu datang sepagi ini?" ujar Tania heran pada sang kekasih.
"Kangen," bisik Reyhan dengan senyuman genitnya.
"Gombal," balas Tania melemparkan bantal sofa pada Reyhan.
"Aku mau bawa kamu jalan, hari ini kamu libur, kan?" tanya Reyhan terus terang menyatakan tujuan kedatangan dirinya.
"Kemana?" tanya Tania tanpa menjawab pertanyaan Reyhan.
"Rahasia," jawab Reyhan santai.
"Kamu udah bilang sama mama?" tanya Tania.
"Udah, mama sudah izinkan aku untuk membawa putrinya satu hari ini," jawab Reyhan penuh kemenangan.
"Serius?" Tania tidak percaya.
"Iya, kalau nggak percaya kamu tanya aja mama kamu." Reyhan meyakinkan Tania.
"Kenapa nggak hilang dari tadi? jadinya aku nggak harus ganti baju lagi," gerutu Tania.
"Lagian siapa suruh kamu kabur gitu aja?" bantah Reyhan.
Wajah Tania berubah memerah karena malu, mengingat kejadian tadi.
"Aku kan malu ketemu kamu amburadul seperti tadi." Tania memasang wajah cemberut.
"Nanti, kalau kamu udah jadi istri aku, lebih amburadul dari itu akan tetap aku liat," ujar Reyhan membuat Tania geli mendengarnya.
Selama ini, dia belum pernah memikirkan pernikahan dan menjadi istri sang kekasih.
"Apaan, sih?" Tania bergidik geli.
"Ya udah, sana siap-siap! Atau kamu mau pake baju itu aja?" perintah Reyhan.
"Iya, iya!" gerutu Tania.
Tania pun langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah yang Tania yang natural dan tidak dibuat-buat saat bersama dengannya.
"Tania, aku harap apa yang aku lakukan hari ini dapat membuatmu melupakan bocah itu, dan kamu akan menjadi milikku untuk selamanya." gumam Reyhan di dalam hati.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
Udh Ry favorite, like dan Komen
3 Cogan dan Ry mampir