NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Yang Harus Dilaksanakan

Malam telah menjelma di atas kota Bandung, dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala dengan terang menerangi lorong-lorong kota yang ramai. Di dalam rumah besar keluarga Wijaya yang terletak di kawasan Dago Atas, Siti Wijaya duduk di meja kerja yang penuh dengan dokumen dan surat-surat tentang PT. Dewi Santoso—perusahaan yang didirikan oleh kakaknya yang telah lama tiada. Cahaya dari lampu meja yang lembut menerangi wajahnya yang penuh dengan ketegangan dan tekad, rambut hitamnya yang diikat rapi di belakang kepala tidak menyembunyikan kerut di dahinya akibat membaca dokumen-dokumen yang penuh dengan kejanggalan.

Ia telah menghabiskan beberapa jam terakhir untuk membaca laporan keuangan perusahaan selama beberapa tahun terakhir, membandingkannya dengan laporan yang dibuat ketika kakaknya masih hidup dan mengelola perusahaan secara langsung. Perbedaannya sangat mencolok—selama masa kepemimpinan Budi Santoso dan Ratna, pendapatan perusahaan yang seharusnya stabil justru mengalami fluktuasi yang tidak wajar, sementara banyak aset perusahaan dialihkan ke nama pribadi mereka atau ke perusahaan-perusahaan kecil yang tidak dikenal.

“Saya tidak bisa percaya bahwa mereka berani melakukan hal seperti ini,” bisik Siti dengan suara yang penuh dengan kemarahan, menutup salah satu berkas dokumen dengan sedikit kasar. Dia melihat ke arah foto kakaknya yang ditempelkan di sudut meja kerja—Dewi sedang tersenyum dengan lembut, mengenakan baju batik berwarna biru tua yang sama dengan yang dikenakannya di foto yang selalu dibawa Ridwan. “Kakak tidak akan pernah mengizinkan perusahaan yang telah dibangun dengan kerja kerasnya diambil alih oleh orang-orang yang hanya menginginkan kekayaan dan kekuasaan.”

Tiba-tiba, pintu kamar kerja terbuka perlahan dan Pak Wijaya masuk dengan langkah yang lembut. Ia membawa secangkir teh hangat yang mengeluarkan aroma harum daun teh hijau, memberikannya kepada Siti sebelum duduk di kursi di hadapannya.

“Kamu sudah bekerja terlalu keras malam ini, Sayang,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan kasih sayang, melihat wajah putrinya yang lelah namun tetap penuh dengan tekad. “Kita bisa melanjutkannya besok pagi jika kamu mau.”

Siti menggeleng-geleng kepala dengan perlahan, mengambil tegukan teh hangat sebelum menaruh cangkirnya kembali di atas meja. “Saya tidak bisa menunggu lagi, Ayah,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Semakin lama kita menunggu, semakin banyak bukti yang bisa mereka hilangkan dan semakin sulit kita menemukan Ridwan. Saya harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.”

Pak Wijaya mengangguk dengan pengertian, menepuk paha Siti dengan lembut. “Saya tahu perasaanmu, Sayang,” katanya dengan suara yang pelan namun penuh dengan makna. “Kamu sangat mencintai kakakmu, dan kamu ingin memberikan keadilan baginya dan untuk Ridwan. Tapi kamu harus memahami bahwa apa yang akan kamu lakukan adalah sangat berbahaya—Budi dan Ratna tidak akan ragu melakukan apa saja untuk melindungi diri mereka dan kekuasaan yang telah mereka dapatkan.”

Siti melihat ke arah ayahnya dengan mata yang penuh dengan keyakinan. “Saya sudah siap menghadapi risiko apa pun, Ayah,” katanya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Saya telah memutuskan untuk pergi ke kantor pusat PT. Dewi Santoso besok pagi dan menyelidiki perusahaan tersebut secara langsung. Saya akan menyamar sebagai calon karyawan yang melamar pekerjaan di departemen keuangan—sehingga saya bisa mengakses dokumen-dokumen penting dan mengumpulkan bukti-bukti yang kita butuhkan.”

Pak Wijaya merasa hati nya terasa berat mendengar kata-kata putrinya. Ia tahu bahwa Siti adalah orang yang kuat dan cerdas, bahwa dia mampu menghadapi segala tantangan yang akan datang. Tapi ia juga tidak bisa tidak merasa khawatir tentang keselamatan putrinya—dia sudah kehilangan satu anak perempuan, dan dia tidak ingin kehilangan anak perempuan yang lain.

“Apakah kamu sudah merencanakan semuanya dengan matang?” tanya Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Kamu harus sangat berhati-hati, Sayang. Jangan biarkan mereka mencurigai kamu atau mengetahui tentang tujuan sebenarnya kamu di sana.”

Siti mengangguk dengan tegas, mengambil selembar kertas dari tumpukan dokumen di depannya dan memberikannya kepada ayahnya. “Saya telah menyusun rencana yang sangat rinci, Ayah,” katanya dengan suara yang jelas dan terorganisir. “Saya akan menggunakan nama samaran ‘Siti Kusuma’ dan membuat riwayat hidup palsu yang menunjukkan bahwa saya baru saja lulus dari universitas dengan gelar di bidang akuntansi. Saya telah melakukan riset tentang perusahaan tersebut dan mengetahui bahwa departemen keuangan mereka sedang mencari karyawan baru untuk menangani laporan keuangan bulanan.”

Dia kemudian menunjukkan bagian tertentu dari dokumen tersebut kepada ayahnya. “Saya juga telah mengumpulkan informasi tentang beberapa karyawan di departemen tersebut—terutama mereka yang bekerja di sana sejak masa kakak masih hidup. Mereka mungkin bisa memberikan informasi berharga tentang apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan setelah kakak tiada.”

Pak Wijaya membaca dokumen tersebut dengan sangat cermat, wajahnya mulai menunjukkan ekspresi yang penuh dengan kagum terhadap kecerdasan dan ketelitian putrinya. Ia tahu bahwa rencana ini telah direncanakan dengan sangat matang, bahwa Siti telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi segala yang akan dia temui di sana.

“Baiklah, Sayang,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan penghargaan setelah selesai membaca dokumen tersebut. “Saya akan mendukung keputusanmu dan akan memberikan segala bantuan yang kamu butuhkan. Saya akan menyediakan tim keamanan yang akan mengawasimu dari kejauhan dan akan membantu kamu jika ada sesuatu yang salah.”

Ia kemudian mengambil selembar kartu kecil dari dompetnya, memberikannya kepada Siti. “Ini adalah nomor telepon rahasia yang bisa kamu hubungi kapan saja jika kamu membutuhkan bantuan,” katanya dengan suara yang serius. “Jangan pernah menggunakan nomor teleponmu yang biasa karena mereka mungkin telah memantau semua komunikasi yang masuk dan keluar dari perusahaan.”

Siti menerima kartu tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam dompetnya. Ia merasa rasa syukur yang mendalam terhadap ayahnya yang selalu mendukungnya dalam setiap keputusan yang dia buat. Ia tahu bahwa tanpa dukungan ayahnya dan keluarga besar Wijaya, dia tidak akan mampu melakukan apa yang harus dia lakukan untuk menemukan kebenaran dan memberikan keadilan bagi kakaknya dan Ridwan.

“Kamu juga harus berhati-hati, Ayah,” ujar Siti dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran, melihat wajah ayahnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. “Jangan terlalu bekerja keras dan jangan biarkan khawatir tentang saya dan Ridwan membuatmu sakit. Kita semua perlu tetap sehat dan kuat jika kita ingin berhasil dalam misi ini.”

Pak Wijaya hanya tersenyum perlahan, menepuk bahu Siti dengan lembut. “Jangan khawatir tentang saya, Sayang,” katanya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Saya akan tetap kuat dan sehat untukmu dan untuk keluarga kita. Kita akan melalui semua ini bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan.”

Mereka kemudian berdiri dari kursi mereka, berpelukan erat dengan rasa cinta dan kekhawatiran yang mendalam. Di luar jendela kamar kerja, bulan purnama mulai muncul dari balik awan, menerangi kota Bandung dengan cahaya yang lembut dan misterius. Siti tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh besok pagi tidak akan mudah, bahwa dia akan menghadapi banyak bahaya dan rintangan di jalan. Tapi dengan dukungan ayahnya dan keluarga besar Wijaya, serta dengan tekad yang kuat untuk menemukan kebenaran dan memberikan keadilan bagi kakaknya dan Ridwan, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu.

Di dalam hatinya, Siti berjanji kepada kakaknya yang telah lama tiada bahwa dia akan melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk menemukan Ridwan dan untuk mengembalikan kejayaan perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak akan pernah menyerah sampai kebenaran terungkap dan orang-orang yang telah menyakitinya dan menyakitkan cucunya mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!