Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Jiwa yang Terikat
Suasana di kawah reruntuhan Hutan Kuno itu terasa seperti akhir dari segalanya. Suara rintihan Ling’er yang kini merayap di tanah seperti serangga hanyalah latar belakang dari tragedi yang lebih besar. Tubuh Xiao Yuan terus mengeluarkan retakan cahaya emas yang menyilaukan; ia adalah bom waktu hidup yang siap meluluhlantakkan apa pun dalam radius puluhan mil.
"Yuan! Jangan tinggalkan aku!" Yun’er berteriak, mengabaikan panas yang membakar udara di sekitar Xiao Yuan.
Sang Permaisuri Phoenix Es berdiri dengan wajah yang sangat serius. Di sisi lain, peti perak yang jatuh dari langit yang berisi ibu Xiao Yuan teronggok di atas tumpukan batu yang membara. Peti itu mengeluarkan asap hitam yang pekat, seolah-olah kutukan langit masih terus menyiksa penghuninya meskipun sudah terjatuh ke dunia rendah.
"Pilihan ini hanya bisa dilakukan sekali, Yun’er!" Sang Permaisuri memperingatkan. "Gunakan esensi Phoenix-mu untuk meredam ledakan di tubuh Xiao Yuan, atau gunakan untuk memadamkan api hitam yang membakar peti ibunya. Aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan keduanya!"
Xiao Yuan, yang sudah berada di ambang kehilangan kesadaran, meraih tangan Yun’er dengan sisa kekuatannya yang gemetar. "S-selamatkan... ibuku... Yun’er... kumohon..."
"Tidak!" Yun’er menggeleng keras. Air matanya menguap sebelum sempat menyentuh pipinya karena suhu udara yang ekstrem. "Jika aku menyelamatkannya dan membiarkanmu meledak, dia akan bangun hanya untuk melihat putranya menjadi abu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Yun’er menoleh ke arah Sang Permaisuri dengan tatapan yang sangat teguh. "Ibu... ajarkan aku Teknik Penyatuan Jiwa Abadi. Aku akan mengikat jiwaku dengan jiwanya. Jika dia harus menanggung beban esensi naga ini, maka aku akan membaginya di dalam tubuhku sendiri!"
"Kau gila!" Kakek Gu berteriak dari kejauhan. "Penyatuan Jiwa berarti kau akan merasakan setiap luka yang dia rasakan! Jika dia mati, kau mati! Jika dia menderita, kau tidak akan pernah tenang!"
"Aku sudah mati sejak lama jika bukan karena dia," jawab Yun’er pendek.
Sang Permaisuri menghela napas panjang, matanya menyiratkan rasa bangga sekaligus duka. "Baiklah. Bersiaplah. Ini akan menjadi rasa sakit yang tidak akan pernah kau lupakan."
Permaisuri mulai merapal mantra kuno yang bahasanya tidak lagi dikenal oleh manusia zaman sekarang. Udara di sekitar mereka mulai berputar, membentuk pusaran berwarna biru es dan emas hitam. Yun’er memeluk Xiao Yuan, membenamkan wajahnya di dada pria itu yang sedang retak.
"Aku bersamamu, Yuan. Sekarang dan selamanya," bisik Yun’er.
DUAARRR!
Sebuah ledakan cahaya yang tidak menghasilkan suara namun menggetarkan fondasi dunia terjadi di titik mereka berada. Seluruh energi berlebih dari Sumsum Esensi Leluhur yang tadinya hendak meledakkan tubuh Xiao Yuan, kini ditarik paksa menuju tubuh Yun’er.
Xiao Yuan menjerit, namun jeritannya kini diikuti oleh jeritan Yun’er. Kulit mereka berdua mulai memancarkan tanda-tanda yang sama sebuah tato naga yang melilit phoenix di punggung mereka masing-masing. Energi hitam-emas itu mulai mereda, dijinakkan oleh hawa dingin Phoenix Es yang mengalir dari jiwa Yun’er.
Perlahan, cahaya itu memudar. Xiao Yuan jatuh pingsan, namun retakan di tubuhnya telah menutup. Di sampingnya, Yun’er juga jatuh tak sadarkan diri, namun rambutnya yang hitam kini memiliki helai-helai warna emas, persis seperti milik Xiao Yuan. Mereka kini terikat oleh takdir yang tak terpatahkan.
Namun, drama belum berakhir.
Peti perak ibu Xiao Yuan masih terbakar oleh api hitam. Tanpa kekuatan Yun’er, peti itu perlahan-lahan mulai meleleh.
"Ibu..." gumam Xiao Yuan dalam mimpinya.
Tiba-tiba, sesosok bayangan merah mendarat di samping peti tersebut. Hong Yue, sang Ratu Bayangan, muncul kembali. Kali ini, ia tidak lagi tersenyum misterius. Ia mengeluarkan sebuah botol berisi cairan biru laut Air Mata Dewa Laut yang ia dapatkan dari pelelangan rahasia sebelumnya.
Hong Yue menyiramkan cairan itu ke atas peti. Api hitam itu mendesis dan padam, namun peti itu sudah rusak parah. Sosok wanita di dalamnya, Ye Ling, mulai terlihat. Wajahnya sangat pucat, dengan sebuah tanda segel di dahinya yang bertuliskan "Tahanan Langit".
"Aku sudah melakukan bagianku, Tuan Muda Xiao," gumam Hong Yue sambil menatap Xiao Yuan yang pingsan. "Hutang nyawaku saat di makam tadi sudah lunas."
Hong Yue menoleh ke arah Kakek Gu dan Sang Permaisuri. "Sekte Awan Langit mungkin sudah hancur, tapi Aliansi Dewa di Alam Atas tidak akan tinggal diam setelah gerbang mereka dirusak. Kalian harus segera pergi. Aku punya kapal terbang tersembunyi di dermaga rahasia dekat sini."
Kakek Gu segera menggendong Xiao Yuan dan Yun’er, sementara Sang Permaisuri membawa tubuh Ye Ling yang masih dalam kondisi koma. Mereka meninggalkan Ling’er yang masih meratap di tengah kawah, sendirian, cacat, dan dihantui oleh bayang-bayang kegelapan yang mulai mendekatinya dari kedalaman hutan.
Tiga Hari Kemudian - Di Atas Kapal Terbang Paviliun Merah
Xiao Yuan terbangun dengan perasaan seolah-olah seluruh tubuhnya telah dibongkar dan dipasang kembali. Saat ia mencoba bergerak, ia merasakan sensasi aneh ia bisa merasakan detak jantung orang lain di dalam kepalanya.
Ia menoleh ke samping dan melihat Yun’er yang sedang duduk menjaga ibunya. Xiao Yuan menyadari bahwa setiap kali Yun’er menarik napas, ia merasakannya. Setiap kali Yun’er merasa cemas, ada rasa dingin di dadanya.
"Kau sudah bangun?" Yun’er tersenyum, namun ada raut kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
"Yun'er... apa yang kau lakukan?" tanya Xiao Yuan, suaranya kembali normal namun lebih berat.
"Aku menyelamatkan kita berdua, Yuan," jawab Yun’er pendek.
Xiao Yuan melihat tangannya. Kultivasinya tidak hilang; sebaliknya, ia kini berada di puncak Ranah Jiwa Baru Nascent Soul . Namun, ia merasa kekuatannya kini jauh lebih stabil dan tenang.
Ia bangkit dan menghampiri ibunya yang terbaring di ranjang seberang. Ye Ling masih menutup mata, namun napasnya sudah teratur. Kakek Gu berdiri di sampingnya.
"Ibumu akan bangun, Xiao Yuan. Tapi segel di dahinya hanya bisa dilepaskan oleh darah Kaisar Langit yang asli," ucap Kakek Gu. "Perjalananmu belum berakhir. Balas dendammu di dunia rendah mungkin sudah selesai dengan kehancuran Sekte Awan Langit, tapi perang yang sebenarnya baru saja dimulai."
Xiao Yuan menatap ke arah luar jendela kapal terbang. Di bawah sana, Benua Langit Sembilan terlihat kecil. Ia melihat ke arah cakrawala, di mana langit tampak lebih biru dan lebih tajam Alam Atas.
"Mereka mengambil ibuku, mereka mencuri masa mudaku, dan mereka mencoba menghancurkan satu-satunya orang yang kucintai," desis Xiao Yuan. Matanya berkilat dengan kombinasi emas dan biru. "Jika dunia rendah ini tidak cukup untuk memuaskan dendamku, maka aku akan membawa api ini ke istana langit mereka."
Tiba-tiba, kapal terbang itu berguncang hebat.
Seorang pelayan Hong Yue berlari masuk dengan wajah ketakutan. "Nyonya! Tuan Muda! Di depan kita... ada penghalang ruang angkasa! Seseorang telah mengunci koordinat kita!"
Xiao Yuan melangkah ke dek kapal. Di depan mereka, langit terbelah. Bukan oleh cahaya suci, melainkan oleh pedang raksasa yang panjangnya mencapai ribuan meter, yang tertancap di awan seolah-olah memaku ruang itu sendiri.
Di atas pegangan pedang itu, berdiri seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Xiao Yuan, namun mengenakan pakaian pangeran Alam Atas yang sangat megah.
"Adikku yang malang," ucap pemuda itu, suaranya menggelegar di udara. "Kau telah membuat kekacauan yang cukup besar. Ayahanda Kaisar sangat tidak senang. Serahkan ibu dan gadis Phoenix itu, maka aku akan memberimu kematian yang terhormat."
Xiao Yuan mengepalkan tinjunya. Ia merasakan amarah Yun’er mengalir di nadinya melalui ikatan jiwa mereka.
"Adik?" Xiao Yuan tertawa dingin. "Aku tidak punya saudara. Yang kupunya hanyalah musuh yang belum kubunuh."
Pemuda itu adalah Xiao Tian, putra mahkota Alam Atas yang lahir dari selir Kaisar Langit setelah Ye Ling dibuang. Ia memiliki 'Sumsum Naga Ilahi' yang sempurna, jauh lebih kuat dari apa yang pernah dimiliki Xiao Yuan dulu. Saat Xiao Tian mengangkat tangannya, pedang raksasa itu mulai bercahaya, siap untuk membelah kapal terbang beserta isinya menjadi debu. Namun, di saat kritis itu, mata Ye Ling tiba-tiba terbuka. Bukan warna perak, melainkan hitam pekat. Ia membisikkan satu kata yang membuat Xiao Tian gemetar: "Lari..."
Bersambung....
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍