Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINI, BIAR MAS BANTU.
🌼🌼🌼🌼🌼
Langkah Harvey yang kaku perlahan menjauh dari ruang ICU, namun bayangannya masih tertahan di sana. Di sisi lain rumah sakit, Melisa baru saja tiba. Ia tidak langsung menuju ruang perawatan suaminya; ia berhenti di kapel kecil rumah sakit, mencari kekuatan yang kian menipis.
Melisa akhirnya diizinkan masuk untuk menyeka tubuh Narendra. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia membasahi waslap dengan air hangat. Setiap sentuhan tangannya pada kulit pucat Narendra adalah bentuk doa yang tidak terucap.
Sambil merawat suaminya, ingatan Melisa melayang jauh ke masa lalu, ke masa di mana beban hidupnya terasa lebih ringan karena kehadiran pria ini.
Melisa teringat pertama kali ia bertemu Narendra. Saat itu, ia hanyalah gadis remaja yang membantu ibunya mengantarkan keranjang-keranjang cucian bersih ke rumah-rumah tetangga. Salah satunya adalah rumah megah yang letaknya tak jauh dari kos-kosan sempit mereka.
Narendra saat itu adalah seorang pemuda yang baru memulai kariernya di sebuah perusahaan logistik dekat sana. Ia sedang mencuci motor di halaman saat Melisa datang dengan nafas tersenggal membawa keranjang yang terlalu berat untuk tubuh kecilnya.
"Sini, biar Mas bantu," suara bariton itu pertama kali menyapa rungu Melisa.
Narendra tidak hanya membantu mengangkat keranjang, tapi juga memberikan botol air mineral dingin. Sejak hari itu, Narendra selalu ada. Saat Melisa lulus sekolah dan kebingungan mencari arah, Narendra yang sibuk mencetak lamaran kerja untuknya, mengantarnya wawancara dengan motor tua, hingga Melisa mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai staf administrasi.
Bahkan, saat beban paling berat menimpa keluarganya—hutang ayahnya pada keluarga Harvey yang membengkak karena bunga—Narendra tidak pergi. Dengan tabungan yang ia kumpulkan susah payah untuk membeli rumah, Narendra justru menggunakannya untuk melunasi hutang tersebut, membebaskan Melisa dari jeratan yang hampir menghancurkan masa depannya.
"Mel, aku tidak ingin kamu berutang budi pada orang-orang yang hanya ingin memilikimu sebagai pajangan," ucap Narendra saat itu sebelum ia memberanikan diri melamar Melisa langsung di depan ibunya, tanpa kemewahan, hanya dengan janji perlindungan yang tulus.
*
"Mas..." bisik Melisa di samping telinga Narendra, membuyarkan lamunannya sendiri. Setitik air mata jatuh mengenai punggung tangan Narendra yang terpasang infus. "Bangunlah. Aku butuh Mas untuk mengingatkanku bahwa aku bukan sekadar 'transaksi' seperti yang dikatakan Harvey."
Tanpa Melisa sadari, Harvey berdiri di balik kaca pintu yang sedikit terbuka. Ia menyaksikan bagaimana Melisa mencium kening Narendra dengan penuh pengabdian—sebuah jenis cinta yang tidak pernah bisa Harvey beli dengan seluruh kekayaan keluarganya.
Harvey mengepalkan tangannya di saku jubah putihnya. Rasa panas menjalar di dadanya, bukan lagi karena alkohol, melainkan karena rasa cemburu yang bercampur dengan rasa rendah diri yang amat dalam. Ia menyadari satu hal: ia mungkin memiliki tubuh Melisa di apartemennya, tapi Narendra memiliki jiwa wanita itu sepenuhnya.
Tiba-tiba, mata Harvey menyipit tajam. Ia melihat jempol tangan Narendra bergerak sangat tipis, hampir tak terlihat.
Melisa belum menyadarinya. Ia masih terisak pelan sambil memijat kaki suaminya yang kaku.
Harvey berada di persimpangan jalan. Sebagai dokter, ia tahu itu adalah tanda-tanda pasien mulai merespons. Sebagai pria yang terobsesi, ia tahu bahwa kesadaran Narendra adalah lonceng kematian bagi hubungannya dengan Melisa.
"Dokter Harvey?" Suster menghampirinya lagi, membawakan hasil lab terbaru.
Harvey menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berpacu. "Siapkan CT Scan ulang untuk pasien di kamar ini. Segera."
Ia masuk ke dalam ruangan, membuat Melisa tersentak kaget dan segera menghapus air matanya. Harvey menatap Melisa dengan pandangan yang sulit diartikan—ada sisa kekejaman dari ucapan tadi pagi, namun ada secercah keraguan yang mulai mengikis dinding esnya.
"Keluar sekarang, Melisa," perintah Harvey dingin. "Aku harus melakukan pemeriksaan medis. Dan ingat... simpan air matamu untuk makan malam besok. Kau butuh wajah yang cantik untuk menghadapi ibuku."
Melisa menatap Harvey dengan kebencian yang murni, namun ia mengangguk patuh. Saat melewati Harvey, aroma parfum pria itu kembali mengusik indranya—arama yang kini ia benci sekaligus ia takuti.
Harvey berdiri di sisi tempat tidur, tepat di tempat Melisa tadi berdiri. Ia menatap wajah saingannya itu dengan intens.
"Kau beruntung dia sangat mencintaimu, Narendra," desis Harvey sangat pelan. "Tapi mari kita lihat, apakah cintanya cukup kuat untuk menyelamatkanmu dari apa yang akan dilakukan ibuku besok malam."
Terlepas dari segala kata-kata tajam dan sikap dingin yang ia tunjukkan pada Melisa, Harvey terjebak dalam paradoks moral yang menyiksa. Sebagai seorang pria, ia ingin melenyapkan Narendra, tetapi sebagai seorang dokter, sumpah medisnya adalah satu-satunya hal yang masih membuatnya merasa seperti manusia, bukan monster.
setelah Melisa pulang untuk beristirahat, Harvey kembali ke ruang ICU. Ia memastikan tidak ada staf lain yang melihatnya. Ia tidak lagi datang sebagai sosok pembalas dendam, melainkan sebagai dokter bedah saraf terbaik yang dimiliki rumah sakit itu.
Ia duduk di kursi di samping tempat tidur Narendra, tempat yang beberapa jam lalu diduduki Melisa. Harvey membuka catatan medis Narendra dengan sangat teliti, memeriksa setiap detail kecil: tekanan intrakranial, keseimbangan elektrolit, hingga respon terkecil dari sistem saraf pusat.
"Kau harus bangun," bisik Harvey, suaranya parau. "Jangan biarkan aku menang dengan cara yang pengecut seperti ini. Jika kau mati, Melisa akan membenciku selamanya. Dan aku... aku tidak akan pernah bisa membuktikan bahwa aku lebih baik darimu."
Tangan Harvey, yang biasanya hanya menyentuh instrumen bedah dengan presisi dingin, kini menyentuh pergelangan tangan Narendra untuk memeriksa denyut nadinya secara manual. Ia memastikan posisi bantal Narendra berada pada kemiringan yang tepat untuk mengurangi tekanan di otak, sebuah detail kecil yang seringkali dilewatkan oleh perawat jaga.
Bahkan, Harvey diam-diam mengganti regimen obat penunjang saraf Narendra dengan merk impor terbaik yang ia beli dengan uang pribadinya, bukan dari stok asuransi rumah sakit. Ia ingin Narendra mendapatkan peluang hidup seratus persen.
Kekhawatiran Harvey bukan tanpa alasan. Ia tahu betapa hancurnya Melisa jika pria ini pergi. Dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Harvey menyadari bahwa merawat Narendra dengan sangat baik adalah satu-satunya cara baginya untuk menebus dosa-dosa masa lalu keluarganya, meski ia belum sanggup mengakuinya secara terbuka.
***
Esok malamnya, acara makan malam tahunan keluarga Andreas tiba.
Melisa berdiri di depan cermin, mengenakan gaun hitam elegan yang dipilihkan Harvey. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang baru. Ia tahu, malam ini bukan hanya tentang menghadapi Harvey, tapi tentang menghadapi wanita yang menjadi dalang di balik penderitaannya: Larasati Andreas.
Harvey masuk ke kamar, mengenakan tuksedo yang sangat pas di tubuh tegapnya. Ia terpaku sejenak melihat kecantikan Melisa yang melankolis.
"Ingat rencana kita," ucap Harvey sambil memakaikan kalung berlian di leher Melisa. Tangannya yang dingin bersentuhan dengan kulit Melisa, membuat wanita itu bergidik. "Tetap di sampingku. Jangan bicara kecuali ditanya. Dan yang paling penting... jangan tunjukkan ketakutanmu di depan ibuku."
"Kenapa kau begitu peduli, Harvey?" tanya Melisa lirih, menatap pantulan pria itu di cermin. "Kenapa kau merawat Narendra dengan sangat baik di rumah sakit, tapi memperlakukanku seperti tawanan di sini?"
Tangan Harvey berhenti bergerak di pengait kalung. Ia menatap mata Melisa melalui cermin, rahangnya mengeras. "Karena di rumah sakit, aku adalah dokter yang ingin menyelamatkan nyawa. Tapi di sini, aku hanyalah pria yang ingin memiliki apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak dulu."
Ia memutar tubuh Melisa agar menghadapnya. "Ayo pergi. Sandiwara ini harus dimulai."
***
Bersambung...