NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Paman Suamiku

Terjerat Cinta Paman Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Saling selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Penyesalan Suami
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

"Ketika cinta datang disituasi yang salah"

Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.

Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.

"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.

Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?

Ikuti kisah mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Kemampuan Nyata

"Kamu tidak perlu mengantarku, aku sudah memesan taksi."

Kalimat itu Rieta ucapkan dengan begitu datar. Wanita itu bahkan tak lagi menoleh meski Evan memanggil namanya. Sikap yang Rieta perlihatkan seolah tengah mengatakan kepada Evan bahwa seperti itulah sikap Evan pada Rieta selama ini. Manis di depan kedua orang tua, dan berubah dingin ketika berada di belakang kedua orang tuanya.

Dan kali ini Evan merasakannya sendiri. Ia menatap taksi yang membawa pergi istrinya dengan tatapan nanar, hatinya terus gelisah sejak ia bangun tidur pagi ini. Perubahan sikap istrinya sejak malam ia bertengkar dengan Rieta yang ia pikir sudah berakhir ternyata hanyalah sebuah ancang-ancang untuk perubahan sikap lebih besar.

Sementara Rieta, wanita yang kini tengah duduk di jok penumpang itu kini menatap kartu hitam di tangannya. Bertanya-tanya siapa pemilik kartu itu.

Pagi ini, ia ingin mengembalikan kartu itu pada suaminya, tetapi Evan mengaku kartu itu bukan miliknya. Sedangkan ayah mertuanya mengatakan jika kartu itu dari Evan. Jika ia mengembalikan kartu itu pada ayah mertua, sama saja ia memperlihatkan keadaan rumah tangga yang tidak baik-baik saja pada ayah mertuanya.

"Aku pikirkan ini nanti saja," gumam Rieta seraya memasukkan kartu hitam itu ke dompet, menghembuskan napas cepat, lalu mengarahkan pandangan ke luar jendela.

Tak butuh waktu lama bagi Rieta untuk tiba di kantor. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai menggema seiring setiap langkah yang ia ambil menuju ruang kerjanya.

Namun, begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya, ia justru dikejutkan dengan sosok Liam yang sudah berada di sana.

"Nona." Liam menyapa sambil membungkukkan badan.

"Kenapa kamu di sini? Bagaimana jika orang-orang kantor tahu," desis Rieta dengan suara pelan.

"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Tidak ada yang melihat saya masuk ke dalam ruangan Anda," jawab Liam tenang.

"Saya datang hanya untuk mengingatkan jadwal rapat yang harus Anda hadiri satu jam lagi bersama Tuan."

"Aku mengingatnya," jawab Rieta segera melangkah ke meja kerjanya.

"Bukankah seharusnya aku yang datang ke ruang kerja paman untuk mengatakan itu?" balasnya bertanya.

Liam tersenyum sambil mengangguk pelan, lalu meletakkan tumbler yang ia bawa sejak awal ke meja Rieta.

"Sebenarnya saya datang untuk memberikan ini. Kalau begitu, saya undur diri," pamit Liam kemudian.

Rieta tidak sempat mengucapkan terima kasih. Netranya sudah terpaku pada tumbler yang Liam letakkan dan ia bisa menebak apa isinya. Kopi. Ia yakin pamannya-lah yang memerintahkan Liam untuk mengantarkan tumbler itu ke ruangannya, sama seperti hari sebelumnya lantaran ia protes tumbler miliknya dibuang begitu saja.

Rieta duduk di kursi kerjanya, memandang tumbler di meja sambil menopang dagu, kemudian tersenyum. Ia tidak ingat kapan terakhir kali berinteraksi santai dengan pamannya, tetapi sejak ia mengucapkan kalimat itu, Arlan berhenti menggodanya.

Terlepas dari sikap profesional dalam bekerja, Arlan benar-benar tidak pernah menyentuhnya lagi. Arlan kini bersikap berbeda meski mereka masih tetap tinggal di bawah atap yang sama. Sikap diam tapi perhatian, dingin tapi peduli, cuek tapi melindungi, dan hanya mendekat ketika ia membutuhkan.

Jauh berbeda jika dibandingkan dengan suaminya.

"Apa yang aku pikirkan?" Rieta tersentak merutuki dirinya sendiri.

Rieta mengusap wajahnya pelan, menepuk pipinya sendiri dan segera menyalakan komputer untuk memulai bekerja. Akan tetapi, kedua matanya membulat sempurna kala ia mencari file presentasi yang akan ia gunakan sebentar lagi hilang dari komputernya.

"Kemana? Bagaimana bisa?"

Rieta terus mencari, membuka setiap file yang ada, tetapi tetap saja apa yang ia cari tidak ia temukan.

"Bagaimana ini..."

Rasa panik perlahan mulai menguasai hatinya. Pekerjaan yang sudah ia kerjakan dalam beberapa hari, bahkan sampai lembur kini menghilang. Kepanikan itu meningkat saat hampir tiba waktunya bagi Rieta untuk pergi ke ruang rapat

Tanpa Rieta sadari, seseorang berdiri di samping pintu ruang kerjanya dengan kedua tangan terlipat, tersenyum seolah kesulitan yang sedang Rieta hadapi saat ini adalah kesenangan baginya, dan berlalu pergi.

.

.

.

"Kamu yakin sudah mengerjakannya? Atau justru kamu sengaja tidak mengerjakan apapun?" tanya Arlan sesaat setelah Rieta mengatakan jika laporan kerjanya hilang.

"Saya sudah menyelesaikannya, tapi-"

"Tapi hasil kerjamu tidak ada, apa artinya itu?" potong Arlan cepat.

Rieta memejamkan mata, perlahan menundukkan kepala tanpa bisa memberikan kalimat sanggahan. Ia sadar ia telah lalai.

"Tuan, rapat akan segera dimulai," Liam menyela, menarik atensi Rieta untuk menoleh pada Liam.

Arlan mengangguk, beranjak dari duduknya tanpa memutus pandangan dari Rieta.

"Ikut aku ke ruang rapat, selesaikan masalahmu di sana," ucap Arlan dengan nada tegas.

"Baik," Rieta mengangguk patuh.

Setiap langkah yang Rieta ambil terasa berat, otaknya masih memikirkan jalan keluar. Jika rapat kali ini gagal karena ia tidak bisa melakukan presentasi, bisa ia hitung berapa nominal kerugian yang akan Arlan tanggung, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Pintu ruang rapat dibuka. Arlan melangkah masuk dengan wibawa yang tak pudar diikuti Rieta di belakangnya. Sementara Liam, pria itu hanya duduk di salah satu kursi yang mana para dewan direksi sudah duduk di barisan kursi yang tersedia. Di salah satu kursi, Rihana beserta tiga karyawan lain dari departemen berbeda di AVA Corp turut andil dalam rapat.

Rieta berdiri di depan dengan layar besar yang siap menampilkan apa yang akan Rieta presentasikan. Laptop di atas meja sudah Rieta nyalakan, sementara satu tangannya merogoh saku blazernya dan mengeluarkan flashdisk miliknya.

Detik seakan berjalan begitu lambat saat Rieta memasukkan flashdisk ke laptop, menggeser layar dan menampilkan halaman kosong. Semua anggota dewan direksi saling pandang dengan tatapan kecewa dan rasa tidak puas. Bahkan salah satu dari mereka menggebrak meja karena merasa dipermainkan.

Dan saat itulah Rieta tersenyum pada semua orang yang hadir dalam rapat dengan mempresentasikan hasil kerjanya dari file mentah yang selalu ia jadikan cadangan.

Penjelasan Rieta mengalir, semua orang termasuk Arlan memberikan tatapan takjub. Hingga, saat presentasi Rieta berakhir, anggota dewan direksi bangun dari duduk mereka untuk memberikan tepuk tangan. Termasuk tiga karyawan dari departemen berbeda yang ada di sana. Mereka mengakui kemampuan nyata Rieta.

Namun, hal itu tak berlaku bagi Rihana. Wanita itu memang turut bertepuk tangan, tersenyum untuk menutupi keterkejutannya, dan kilat kebencian mulai terlihat di matanya.

"Apakah Nona ini sekretaris baru Anda, Tuan Avalon?" salah satu dewan direksi bertanya.

"Benar," jawab Arlan tersenyum bangga.

Dalam benaknya ia sempat ingin meminta maaf pada dewan direksi dan bersedia membayar ganti rugi. Tetapi siapa sangka, Rieta justru menyelesaikan masalah di detik terakhir. Wanita yang senantiasa mengganggu pikirannya baru saja menyelamatkannya dari kerugian besar.

"Anda sangat pandai memilih sekretaris, Tuan," salah satu dewan direksi memuji.

Arlan hanya tersenyum, menjabat tangan mereka secara bergantian diikuti Rieta yang melakukan hal serupa dan mengakhiri pertemuan.

Rieta menutup laptop setelah semua orang meninggalkan ruang rapat yang hanya menyisakan dirinya bersama Arlan, menghembuskan napas lega dan bersiap untuk keluar dari ruang rapat. Sayangnya, Rieta terpaksa mengurungkan niatnya saat tangan Arlan mendorong pintu yang akan Rieta buka.

Rieta berbalik, menatap Arlan yang kini berdiri dalam jarak dekat dengannya. "Apakah Anda membutuhkan sesuatu, Tuan?"

Arlan menatap Rieta dengan tatapan yang sulit diartikan, satu tangannya yang masih bebas terangkat, mengurung Rieta di antara kedua tangannya.

"Aku berusaha menahan diri, tapi ini sangat sulit, Rie," lirih Arlan.

"Aku tak peduli kamu akan menyebutku apa setelah ini."

"Apa yang sedang Tuan bicarakan?" tanya Rieta tetap dengan sikap profesional.

Arlan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

"Aku mencintaimu, Rieta Ervina."

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Reni Anjarwani
lanjut doubel up
Patrick Khan
untung saja rie gk di sentuh paman..mw ngereg q..klo sampek terjadi🔥🔥😑
Dewi Payang
Si paman gak may kalah sama Wvan di sebelah🙈
Dewi Payang: Ya ampun typo ku untung kaak Zira faham🤣
total 2 replies
Dewi Payang
Jedag jedug nih si Re dengar🤭
Dewi Payang: Nah. iya, jadi si Re lebih mantap mutusin langkah selanjutnya😁
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ini juga ngapain nyosor duluan🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
astaga🙄🙄🙄 gak tau tempat banget ya🤣🤣🤣 astagfirullaaaah
〈⎳ FT. Zira: /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ayo mau ngapain ke hotel
〈⎳ FT. Zira: mau nina ninu🤣🤣🤣
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ketahuan kan🙄🙄
Zhu Yun💫
Aku ngarepnya adegan panas mereka bukan karena obat malah, biar lebih alami perselingkuhannya, bukan karena salah satu melakukannya karena paksaan 🤭🤣🤣🤣✌️
〈⎳ FT. Zira: oiiik/Curse//Curse//Curse//Curse/
total 9 replies
Zhu Yun💫
Bilang saja kamu yang ingin dimakan 😅😅😅
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zhu Yun💫
Obat nganu 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Masukkan aja kedalam troli dan dorong, Rie 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: ide bagus
total 1 replies
Zenun
malah memberi keuntungan Buat si paman😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo, mlh si paman dapat apem legit, si evan gigit jari, salah sendiri milih kue bolong🤭🤭🤭, kaboooorrrr
total 2 replies
j4v4n3s w0m3n
lalalal kelicikan yg udah biasa di lakukan sama ulat.bulu yg suka menaruh seauatu di minuman orang...ya biarunlah rieta tidur sama.arlan bagus malahan jd gak sama evan udah terlalu sakit rieta sama evan
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat , semoga tfk kejadian arlan dan reta , takut kalau dividio orang tak bertanggung jwb itu
〈⎳ FT. Zira: anuu pokoknya kak🤭🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Udah Re, tueuti aja si bos, biar kamu tampil beda nanti, Eihana mah lewat, dah tuir, ups🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
Ini modus ya kan paman.....🙈
Dewi Payang
Sepeduli itu si Paman....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
gk usah sungkan rie, ambil aja. si paman itu punya lumbung duit kok🤭
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
yes, that's a good idea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!