"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22. Besuk Lyvia
Setelah mengantarkan Mamanya pulang, Adrian pamit untuk ke Rumah Sakit dimana Lyvia dirawat. Prima yang tadi pulang belakangan sudah terlebih dahulu menuju Rumah Sakit. Dia menunggu Adrian di area parkir khusus tamu.
"Kamu tidak masuk duluan...?" tanya Adrian.
"Enggak lah....aku menunggumu.."
Mereka berjalan menuju ruang rawat inap Lyvia. Disana masih banyak berkerumun tetangga dan saudara yang juga menjenguk Lyvia.
"Assalamu'alaikum....." sapa Adrian ramah.
"Wa'alaikumsalam...." jawab mereka yang hampir bersamaan.
Setengah merunduk, Adrian meminta izin untuk masuk melihat keadaan Lyvia. Di dalam ada teman kantor Lyvia yang sedang besuk. Melihat ada tamu lain ingin berkunjung, teman-teman Lyvia segera undur diri.
"Mb Via...kami pamit dulu ya, lekas sembuh biar bisa ngumpul lagi..." kata salah seorang rekan kerjanya.
"Makasih atas do'a nya..."
Kania dan Ibu keluar ruangan mengantarkan kepulangan teman-teman kantor Lyvia.
"Nak Adrian.... silahkan Nak" sapa Ibu mempersilahkan Adrian dan temannya ketika masih berdiri di ambang pintu. Kemudian mereka membaur dengan orang-orang yang besuk di ruang tunggu.
Dari dalam terdengar bisik-bisik yang membicarakan tentang kedatangan tamunya barusan.
"Bu...barusan calon menantunya ya...?" tanya salah satu tetangga yang besuk.
"Insha Allah begitu Bu... do'akan saja..."
"Aamiin....gagah ya, ganteng lagi..." komentarnya.
"Ya jelas gagah dong...kan polisi..." celetuk yang lainnya.
Sedangkan di dalam kamar, Lyvia masih terbaring lemas. Matanya terpejam, entah tidur apa cuma memejamkan mata melepas lelah. Adrian mendekat, dielusnya rambut Lyvia.
"Via... bagaimana keadaanmu...?" bisiknya. Lyvia membuka matanya dan melihat siapa yang datang.
"Mas....Pak Prima, silahkan duduk Pak..." sapanya ketika melihat Adrian tidak sendirian.
"Istirahatlah...jangan banyak bicara..." jawab Prima.
"Kalian dari mana...?" tanya Lyvia
"Tadi ada acara sedikit di kantor." jawab Adrian sekenanya saja.
Tidak banyak yang mereka obrolkan, karena Lyvia harus banyak istirahat. Prima sudah mulai menguap, kode untuk mengajaknya pulang.
"Sayang...aku pulang dulu ya, sudah larut. Kamu segera istirahat...lekas sembuh, jangan berlama-lama..." bisik Adrian sembari mencium kening Lyvia.
"Eehhhheeemmmm....." bahkan sampai lupa kalau ada orang ketiga disana.
Adrian berpamitan kepada ibu dan keluarga yang menemani Ibunya menunggu Lyvia.
"Dari tadi menguap terus, kamu ini ngantuk apa bosen....?" tanya Adrian ketika berjalan menuju area parkir.
"Dua-duanya....! selesai jadi detektif, habis itu jadi moderator, eeeeee.... ujung-ujungnya jadi obat nyamuk...hhheeeehhh...." gerutunya.
Adrian tertawa mendengar omongan Prima.
"Tenang saja....ada tambahan bonus untukmu." lanjut Adrian.
"Becanda ahh....Aku senang bisa membantumu, karena kamu juga banyak membantuku..." dirangkulnya sahabatnya itu.
Mereka sama-sama tertawa, dan menuju ke mobil masing-masing.
"Oya....ada tugas 1 lagi untukmu, ini lebih berat dibanding menjadi detektif, moderator atau obat nyamuk sekalipun..." kata Adrian sebelum mereka berpisah.
"Apa.....?" tanya Prima penasaran.
"Besok aja...PR untukmu..."
"Hhhhuuuuuuuu.....pulang aaahhh, sampe rumah minta jatah..." ejek nya pada Adrian, sambil melajukan kendaraannya.
Adrian tertawa melihat tingkah aneh Prima.
"Hhhuuuu....dasar otak mesum..." komentar Adrian.
"Gakpapa....yang di mesum juga punya sendiri, bukan pinjam tetangga..." jawabnya membuat riuh keadaan rumah sakit yang hening.
***
"Pagi Ma...." sapanya pada Mama yang keluar di taman depan, ketika melihat pintu depan terbuka.
"Kamu pagi-pagi sudah diluar.... bikin kaget Mama saja..."
Adrian tersenyum mendengar pernyataan Mamanya.
Memang pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, Adrian keluar rumah untuk joging di lingkungan kompleks. Dia selalu berusaha menjaga stamina demi kesehatan tubuhnya.
"Bagaimana keadaan Lyvia Nak....?" tanya Mama, ketika melihat Adrian masuk ke ruang makan untuk mengambil air mineral.
"Masih lemas Ma.... semoga hari ini sudah ada perubahan." jawabnya.
"Aamiin....antar Mama untuk besuk Nak."
"Iya Ma...nanti kita kesana."
Adrian mandi setelah mengeringkan badannya dari keringat.
"Ma....Adrian berangkat dulu ya..."
"Gak sarapan dulu Nak...?"
"Nanti aja Ma...di kantor, Adrian buru-buru ada kunjungan hari ini." katanya sambil meneguk segelas susu.
Hari ini adrian begitu sibuk, hingga dia belum sempat menghubungi kekasihnya.
Lewat tengah hari acaranya baru selesai. Adrian masuk ke ruangannya. Dia duduk di sofa yang ada untuk melemaskan kakinya.
*Tok tok tok...
"Masuk...."
"Kenapa loo...lemas gitu kayak pengantin baru...?" canda Prima ketika mendapati temannya yang lunglai.
"Sialan loo...." maki Adrian "ada apa...?" tanyanya lagi.
"Hei... bukannya kamu semalam yang menyuruhku menemuimu...?"
"Hahahahahhahahah...." Adrian tertawa.
"Kan aku bilang PR, gak sabar amat...nanti malem aja kamu kerumahku, ada yang mau aku bicarakan." sambungnya lagi.
Adrian bangkit dari duduknya. Dia sedikit menggeliat.
"Aku pulang dulu, mau antar Mama besuk calon menantunya."
"Terus gue ngapain....?"
"Pulang sana...besuk istrimu, bikin jalan buat anakmu...biar tau jalan keluarnya lewat mana...!" ledek Adrian.
"Hhhhhuuuuu...daripada kamu kelamaan keburu expired..." balas Prima, sambil melemparkan kotak tisu kosong kearahnya. Namun yang dilempar sudah berlalu keluar ruangan.
Ditengah perjalanan, Adrian menghubungi Mama melalui sambungan telepon seluler.
("Hallo Ma...ini Adrian arah pulang. Mama siap-siap ya...Adrian jemput langsung ke Rumah Sakit.")
Sesampainya di rumah, sudah terlihat Mama menunggu di teras depan. Adrian langsung memutar mobilnya.
"Mama bawa apa...?" tanya Adrian.
"Ini tadi Mama bikin puding buat Via..."
Selang beberapa menit, mereka sampai. Mama berjalan mengikuti langkah Adrian. Hingga mereka sampai di depan pintu sebuah kamar VIP.
"Assalamu'alaikum..." sapa Mama Adrian.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Ibu Lyvia yang bangkit dari duduknya. Mereka bersalaman dan saling memperkenalkan diri satu sama lain. Seperti halnya Lyvia, Ibunya juga seorang yang ramah dan mudah bergaul. Jadi bisa langsung akrab dengan Mama Adrian.
Lyvia yang dari tadi duduk di atas ranjang perawatan, sedang memperhatikan dua wanita yang ia sayangi itu. Mama mendekat ke arahnya.
"Mama...."
"Bagaimana keadaanmu Nak...?"
"Alhamdulillah...sudah baikan Ma..."
"Maaf... Mama baru sempat kesini..."
"Gakpapa Ma...Via sudah bosen disini, Insha Allah besok sudah boleh pulang." kata Lyvia.
"Alhamdulillah....oya, Mama buatkan puding untukmu, mau Mama suapin...?"
Ibu mengambilkan lepek dan sendok. Lyvia menikmati suapan dari Mama Adrian.
Memang dari kemaren, lidah Lyvia seakan mati rasa. semua makanan hambar baginya. Tapi berbeda dengan puding Mama kali ini.
Selain terasa manis juga dingin di perut.
Melihat kedekatan mereka membuat adrian yakin bahwa inilah jodoh yang Allah kirimkan untuknya. Mama memang seorang wanita yang selalu sayang kepada siapa saja, namun kedekatannya dengan Lyvia begitu tulus.
"Makan yang banyak Mbak Via, untuk pemulihan tenaga, tapi ingat jangan yang pedas-pedas dulu." kata suster jaga yang masuk untuk mengganti infusnya.
Karena keadaan Lyvia sudah membaik, besok sudah boleh pulang. Tapi dokter mengingatkan untuk tetap badrest terlebih dahulu selama masa penyembuhan.
~ -------------------------
~ -------------------------
~ -------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗