"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: BAYANGAN YANG TERTINGGAL
Malam itu tidak benar-benar selesai.
Aira sudah berada di apartemennya. Sudah mandi. Sudah mengganti pakaian. Sudah mencoba menenangkan napas.
Namun suara mesin itu tetap ada.
Setiap kali lift di lorong berbunyi, tubuhnya menegang.
Setiap kali kendaraan melintas di jalan depan gedung, jantungnya melonjak sepersekian detik.
Ia berdiri di depan jendela, memandangi pantulan wajahnya sendiri di kaca.
Tenang.
Terlalu tenang.
“Ini cuma shock,” bisiknya pada diri sendiri.
Tapi ia tahu itu bukan sekadar kaget.
Itu rasa tidak aman.
Dan yang paling mengganggu bukan motor itu.
Melainkan fakta bahwa Arlan datang.
Tepat waktu.
Seolah ia sudah tahu.
Seolah ia mengawasi.
Dan itu membuat perasaannya rumit.
Karena di satu sisi—
ia merasa dilindungi.
Di sisi lain—
ia sadar selama ia berada di dekatnya, risiko itu akan selalu ada.
Pagi di kantor terasa berbeda.
Tidak ada yang tahu detail kejadian semalam, tapi berita tentang “insiden kecil di basement” sudah menyebar.
Tatapan-tatapan singkat mulai muncul.
“Katanya hampir ditabrak?”
“Serius? Di kantor sendiri?”
Aira menjawab dengan senyum tipis.
“Hanya salah paham.”
Ia tidak ingin jadi pusat perhatian.
Tidak lagi.
Ketika pintu ruang CEO terbuka dan Arlan keluar, suasana berubah lebih cepat.
Ia berjalan seperti biasa.
Tegak. Terukur. Dingin.
Namun matanya berhenti sepersekian detik pada pergelangan tangan Aira yang diperban tipis.
Hanya sepersekian detik.
Tapi Aira menangkapnya.
Dan itu cukup membuat udara di antara mereka terasa berbeda.
“Rapat jam sepuluh dipindah ke sebelas,” ucap Aira profesional.
Arlan mengangguk.
“Pastikan laporan audit ada di mejaku sebelum itu.”
Nada netral.
Tidak ada pembicaraan tentang semalam.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Seolah kejadian itu tidak pernah terjadi.
Dan justru itu yang membuat Aira merasa… kecil.
Ia tidak tahu mengapa ia mengharapkan sesuatu.
Mungkin penjelasan. Mungkin kemarahan. Mungkin kekhawatiran.
Apa pun.
Tapi yang ia dapatkan hanya profesionalisme sempurna.
Dan itu menyakitkan lebih dari yang seharusnya.
Siang hari, Aira pergi ke ruang arsip untuk mengambil dokumen lama.
Saat kembali, ia tanpa sengaja mendengar dua staf berbisik di sudut pantry.
“Makanya jangan terlalu dekat sama atasan.”
“Bahaya kan jadinya…”
Langkahnya terhenti sebentar.
Ia tidak masuk.
Ia berbalik arah.
Kalimat itu sederhana.
Namun tepat mengenai titik yang selama ini ia coba abaikan.
Selama ia berada di posisi ini, ia akan selalu terlihat sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar sekretaris.
Dan dalam dunia bisnis yang kotor—
itu bisa jadi alasan untuk menyerang.
Bukan Arlan.
Tapi dirinya.
Sore menjelang.
Langit mendung lagi.
Aira berdiri di depan meja Arlan, menyerahkan laporan audit.
Jarak mereka hanya selebar meja kayu besar itu.
“Terima kasih,” kata Arlan tanpa melihatnya.
Aira tidak langsung pergi.
“Pak.”
Arlan akhirnya mengangkat wajahnya.
Ada sesuatu yang berbeda di mata Aira.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Tapi lelah.
“Kejadian semalam… apakah akan terus seperti itu?”
Pertanyaan itu tidak menuduh.
Hanya realistis.
Arlan menatapnya lama.
“Aku sedang menangani.”
“Itu bukan jawaban.”
Hening.
Udara di ruangan terasa lebih berat.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi.”
Kalimat itu terdengar kuat.
Tegas.
Tapi Aira justru menggeleng pelan.
“Masalahnya bukan apakah Anda bisa atau tidak.”
Ia berhenti sejenak, menimbang kata-katanya.
“Masalahnya… kenapa saya harus jadi bagian dari ini?”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tanpa nada tinggi.
Namun dampaknya dalam.
Untuk pertama kalinya—
Arlan tidak langsung membalas.
Karena ia tahu jawaban jujurnya tidak sederhana.
Karena pada awalnya—
memang ia yang menarik Aira masuk.
Dengan kontrak. Dengan dendam. Dengan ego.
Dan sekarang konsekuensinya mulai terasa nyata.
“Aira—”
Namun ia sudah mundur selangkah.
“Saya akan selesaikan semua pekerjaan saya seperti biasa, Pak.”
Formal lagi.
Jarak kembali dipasang.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia menandatangani kontrak itu—
Arlan merasakan sesuatu yang asing.
Bukan kemarahan.
Bukan dendam.
Tapi ketakutan tipis.
Bahwa mungkin kali ini—
yang akan pergi bukan karena ia mengusir.
Tapi karena ia tidak lagi punya alasan untuk tinggal.
Malam itu, Aira duduk di kamar ibunya di rumah sakit.
Ia memandangi wajah yang mulai terlihat lebih tenang.
Mesin monitor berbunyi stabil.
“Aku capek, Bu,” bisiknya pelan.
Bukan capek bekerja.
Bukan capek lembur.
Tapi capek berada di tengah sesuatu yang bukan miliknya.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Membuka draft email kosong.
Subjek: Pengunduran Diri.
Jarum jam berdetak pelan.
Tangannya menggantung di atas layar.
Belum mengetik.
Belum mengirim.
Namun untuk pertama kalinya—
pilihan itu terasa nyata.
Dan mungkin… tak terhindarkan.
sangat seru