{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambisi besar ~(21+)
Dio tak bisa berbuat apa-apa, dengan sifat keras kepalanya dan dia mulai mengalah dengan apa yang akan wanita lakukan.
Malia mulai sibuk mengerjakan pekerjaan di dapur, dia mengambil ayam dan beberapa bahan lainnya untuk dia masak.
Beberapa menit kemudian
Akhirnya Malia selesai dengan masakannya,aroma masakannya hingga memenuhi ruang dapur dengan aroma masakan yang begitu gurih.
Terlihat Dio berjalan menuju dapur, yang di mana makanan sudah tertata rapi di piring. Mereka berdua pun makan siang bersama, reaksi Dio sangat terkejut dengan masakan Malia yang begitu enak.Dio begitu menikmati makan siangnya dengan calon istrinya itu.
"Ternyata dia jago masak juga."batin Dio yang mengakui masakan Malia begitu pas di lidahnya,bahkan masakan Malia begitu menarik.
Setelah selesai makan siang Dio menarik tangan Malia,"Mau apa Bapak."spontan Malia yang kaget tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh pria itu.
"Ini untukmu."Malia tiba-tiba saja diberikan sebuah card berwarna hitam di tangannya.
"Ini apa lagi?"tanya Malia yang nampak kebingungan.
"Kartu itu bisa kamu pakai untuk kebutuhan pribadimu, apapun yang kamu beli terserah."Malia makin kebingungan dengan apa yang pria itu ucapkan.
"Sebentar, Apa maksudnya memberikan kartu ini?"pertanyaan itu masih dilontarkan oleh Malia pada pria itu.
Akhirnya Dio menjelaskan Apa maksud dirinya memberikan benda itu kepada dirinya.Malia langsung mengembalikannya kepada pria itu.
"Saya tidak butuh uang bapak."ucap Malia yang tidak menginginkan uang dari pria itu tapi dia hanya menginginkan kebebasan.
"Kamu itu adalah calon istriku, jangan sekali-kali menolak apapun yang aku berikan." Dio tak ingin ada penolakan.
"Calon istri dari mana?"
Dio langsung mendekati Malia hingga posisi keduanya saling berdekatan,"Apa kamu lupa dengan apa yang pernah kita lakukan, di malam itu dirimu pun menikmati bukan."Dio membisikkan sesuatu di telinga Malia yang langsung direspon Malia dengan ekspresi wajah memerah.
"Apa yang terjadi malam itu karena ada seseorang yang mencoba menjebak ku bukan karena inginku melakukan itu dengan bapak."Malia dengan beraninya menjawab pertanyaan itu.
"Apa kamu tidak takut jika nantinya Kamu hamil."pertanyaan itu seketika membuat Malia terdiam.
"Pasti kamu bingung dengan pertanyaanku, aku hanya melakukan semestinya untuk bertanggung jawab kepadamu. Jangan pernah lari atau menghindar dariku, karena aku akan selalu mengejarmu dan akan secepatnya menikahimu."Malia makin frustrasi dengan keinginan pria itu.
"Apa tidak ada wanita lain selain saya, saya ini tidak cantik seperti wanita luar di sana."
"Aku tidak butuh cantik, yang hanya aku butuhkan kamu bisa menaklukkan dia itu pun aku sudah merasa cukup."Malia makin bertambah bingung apa yang dimaksudkan oleh pria itu hanya dirinyalah yang hanya bisa menaklukkan.
"Maksudnya menaklukkan apa?"
"Apa kita melakukan sekali lagi, nantinya kamu akan tahu apa yang aku maksudkan."Malia langsung melotot tak percaya pria itu dengan beraninya mengucapkan hal itu.
Dio langsung memeluk pinggangnya dan mencium pipi kanannya sembari mengucapkan sesuatu di telinganya,"Jika kamu mau, aku bisa memuaskan lebih dari kita lakukan dari awal."Malia langsung mendorong pria itu.
"Saya tidak mau."Malia langsung lari, tapi dia terlambat setelah tangannya ditarik oleh pria itu.
"Jangan pergi Sayang."ucap Dio yang langsung mencium bibir manis Malia dan menggendongnya menuju tempat sofa.
Dio terus melakukan itu hingga Malia tak bisa untuk melawannya karena kekuatan pria itu lebih kuat. Tangan kanannya meraba bagian kancing Atas pakaian Malia yang sengaja dia buka.
Dio tak henti-hentinya melepaskan ciumannya bahkan tangannya meraba bagian depan tubuh Malia.
"Tubuh ini hanya milikku, tidak ada seseorang pun yang berhak untuk menyentuhnya."bisik Dio yang mulai dengan ambisinya untuk memiliki Malia.
"Lepas."Malia memohon kepada pria itu tapi pria itu tak akan melepaskan dirinya.
Dio mulai berpindah tempat yang di mana dia mengecup bagian dada Malia yang nampak putih bersih.
Malia benar-benar tak bisa mengontrol setelah pria itu berani melumat sesuatu yang terasa tegang hingga membuat mengeluarkan sedikit suara desahan.
"Hemmm, ini sangat nikmat Sayang."Dio terus melakukannya hingga rasa gairah mulai mengelilingi tubuhnya.Rasa gairah itu perlahan -lahan semakin membelenggu dirinya untuk segera melakukannya.
"Sayang,aku tak tahan lagi."Bisik Dio yang merasakan tubuhnya tak bisa menahan rasa itu.
Dio mengangkat tubuh Malia yang sudah dalam keadaan berantakan,dan Malia mencoba melarikan diri.Tetapi tetap saja pria itu menahannya hingga Malia tak bisa berbuat apa-apa setelah pintu kamar pria itu terkunci.
"Lepaskan!" Teriak Malia yang benar-benar emosi dengan apa yang pria itu lakukan padanya.
"Jangan marah sayang." Dio melepaskan baju dan langsung menyerang Malia.
Kejadian itu terulang kembali, dengan posisi Dio melakukannya dengan Malia.Hingga keduanya merasakan sensasi yang luar biasa yang begitu Dio nikmati.
Dio pun merasa puas akhirnya sakit yang dia derita perlahan-lahan mulai menunjukkan perubahan bahkan hanya dengan wanita itu yang mampu membangkitkan rasa gairah yang memancing gelombang rasa itu.
"Sangat luar biasa sayang." Ucap Dio yang tak henti-hentinya mencium bibir manis Malia.
"Secepatnya kamu harus menjadi istriku." Sifat obsesi pria itu kembali dia tunjukkan pada Malia.
Malia pun tak menyangka jika hidupnya akan berubah dengan hadirnya pria itu disisinya.
"Kalau saya tidak mau?" Tanya Malia dengan ekspresi kesalnya.
"Aku akan tetap memaksamu ,aku tak ingin ada penolakan.Karena hanya kamu yang aku cintai." Malia makin meragukan pengungkapan kata cinta dari pria itu.
"Apa yang bapak bilang, cinta?"tanya Malia yang tak begitu percaya dengan apa yang pria itu katakan.
Dio langsung memeluk erat Malia,"Pasti kamu meragukan apa yang aku katakan, Aku benar-benar serius denganmu. Karena hanya kamu yang mampu memberikan aku harapan."Dio mencium kening Malia dengan hangat, walaupun sedari awal dia melakukan kesalahan tapi dari kesalahan itu membuka dirinya untuk mempertahankan wanita yang mampu menyembuhkan dirinya.
"Akan aku buktikan kepada keluargamu."Dio benar-benar akan membuktikan itu semuanya.
Malia hanya terdiam mendengar penjelasan itu dan masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa pria ini sedang ingin bersandiwara,tidak mungkin dia tertarik denganku.Apalagi aku baru beberapa kali menemuinya." Malia tak begitu percaya dengan apa yang pria itu katakan.
Tiba-tiba saja handphone milik Dio berdering, kejadian itu langsung membuat Dio begitu kesal.
"Siapa lagi orang yang berani menggangguku."Batin Dio yang terpaksa mengangkat panggilan itu.
Setelah dia angkat ternyata telepon dari asistennya yang sengaja menghubungi membicarakan mengenai kampus.