Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama persembunyian
Cup
Bibir kanaya dan Gavin akhirnya kembali bertemu, dan Kanaya yang merasa ciumannya salah sasaran, langsung menarik kepalanya kembali, namun bukan Gavin namanya, kalau membiarkan kesempatan emas hilang begitu saja.
Gavin malah menarik tengkuk Kanaya dan memperdalam ciumannya. Kanaya yang sudah hafal dengan kemesuman pria di hadapannya ini, akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan Gavin mencium lembut bibirnya.
Pada akhirnya Kanaya memejamkan mata dan menikmati sentuhan lembut dari bibir Gavin. Mungkin Kanaya memang harua mengakui, di antara tiga pria yang pernah berciuman dengannya, Gavin yang selalu berhasil membuat Kanaya seakan lupa segalanya.
Ciuman Gavin pun semakin dalam, dan Kanaya bahkan tak bisa membuka matanya, tangannya meremas kemeja Gavin, tanpa dapat menghentikan kegiatan mereka sampai bel apartemen Gavin berbunyi, dan menyadarkan kedua nya. Gavin akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, setelah itu berdiri kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah... Siapa sih anjir ganggu aja, lagi enak-enak juga."Rutuk Gavin dalam hati.
"Mmm, gue... Mau liat dulu siapa yang dateng."ucap Gavin gugup, Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban, gadis itu tampak gugup sama seperti Gavin.
Gavin beranjak meninggalkan Kanaya, sementara Kanaya menarik nafas dalam dan melangkah ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di ranjang Gavin.
Sedangkan Gavin, kini menatap malas pada orang yang baru saja memasuki apartemennya, orang yang sudah mengganggu aktivitas nikmat Gavin bersama Kanaya.
"Ngapain lo kesini?"Tanya Gavin malas, sungguh saat ini ia tak ingin bertemu siapapun, selain Kanaya tentunya.
"Wew ....Santai nyet! Gue kesini sebagai sahabat yang baik, karna khawatir sama lo yang gak ke kampus hari ini. Lagian lo kenapa gak ngabarin gue deh, tumben?"Tanya Alex, ternyata Alex yang datang dan membuat gangguan untuk Gavin hari ini.
"Gue pengen istirahat, gak mau di ganggu, makanya gak ngabarin lo."jawab Gavin, sambil melirik ke arah kamarnya sedikit gugup.
"Tumben-tumbenan deh lo. Oya bro, tadi gue liat si Raihan sama si Nay udah deket lagi, gue rasa lo udah gak ada harapan deh kayaknya."ucap Alex, Gavin menatap Alex sebentar kemudian memalingkan wajahnya kembali.
"Bentar lagi juga putus."ucap Gavin terdengar asal, yang membuat Alex yang tadinya duduk sambil merebahkan tubuhnya, kini langsung kembali menegakan tubuhnya.
"Eh bro, maksud lo apa? Jangan gitu lah Gav, masa temen lo sendiri lo sumpahin gitu!"
"Kasian si Ray, baru juga ngerasain pacaran, beda sama lo yang udah celap celup sana sini, harusnya lo doain dia ,biar langgeng sama si Nay, biar cepet nyelup juga...hehe."ucap Alex di akhiri tawa mesum yang terlihat menggelikan di mata Gavin.
"Ngga! Kanaya cuma bakal kaya gitu sama gue, bukan siapa pun termasuk Raihan !"ucap Gavin yang langsung mendapatkan pelototan dari Alex. Alex bahkan melemparkan bantal yang di pegangnya ke wajah Gavin.
Bugh
"Anjing."umpat Gavin ketika bantal yang di lempar Alex tepat mengenai wajahnya.
"Lagian lo nyet, apa-apaan dah, masa lo mau nyelup pacar sahabat lo sendiri, gila aja lo!"ucap Alex lalu kembali melempar kan satu bantal pada Gavin, namum kali ini, Gavin menghindar dan hanya mengenai bagian sofa di sampingnya.
Gavin tak lagi menjawab ucapan Alex, dia malah pergi ke belakang menuju dapur dan mengambil segelas ai, lalu di minumnya hingga tandas.
Jujur saja mendengar ucapan Alex tadi ia merasakan panas di dadanya, membayangkan Kanaya di sentuh pria lain sungguh membuat Gavin tidak rela, walaupun saat ini Kanaya bukanlah kekasihnya, namun Gavin rasanya tak sudi bila harus membiarkan Kanaya di sentuh orang lain selain dirinya.
"Ngapain?"tanya Alex yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Gavin, rupanya pria itu mengikutinya sampai ke belakang.
Gavin menghela napas." Apasih lo, ngikutin gue segala."jawab Gavin ketus.
"Sensi amat lo."jawab Alex sambil mengambil sebotol minuman soda yang ada di kulkas Gavin.
Alex yang masih di sekitar dapur Gavin tampak melihat ke sekeliling, sampai dia melihat dua buah piring yang ada di meja makan, membuatnya mengerutkan kening.
"Ada orang yang kesini, Gav?"tanya Alex, Gavin yang menyadari kemana arah pandang Alex langsung menggeleng, berusaha meyakinkan Alex bahwa tak ada orang lain di apartemennya.
"Gak ada, itu tadi gue makan, trus gue bikin dua piring makanannya."jawab Gavin setenang mungkin agar Alex tak semakin mencurigainya.
Alex memicingkan mata, Alex jelas tau betul keseharian Gavin selama ini. Gavin tak pernah membawa orang lain ke apartemennya, selain para sahabatnya.
Gavin memang pernah beberapa kali membawa wanita, termasuk Hera, namun biasanya itu terjadi hanya untuk menuntaskan hasrat Gavin, setelah selesai wanita itu akan Gavin suruh pergi begitu saja, tanpa membiarkan mereka melakukan hal lain di apartemennya.
"Lo yakin ga ada orang lain disini, lo gak bisa bohongin gue, nyet?"tanya Alex curiga.
Gavin yang melihat kecurigaan sahabatnya menggelengkan kepalanya,"Gak ada Lex, siapa sih yang mau kesini selain lo, lagian sekarang gue udah gak suka bawa cewek lagi."Jawab Gavin.
Alex menarik napasnya, kemudian beranjak dan melangkah pelan diikuti Gavin.
"Oke deh, oya... Gue nginep disini ya, Gav."ucap Alex pada Gavin, Gavin refleks menggelengkan kepalanya.
"Jangan Lex, g-gue kayaknya mo pulang ke mansion nanti."ucap Gavin, panik.
Alex yang melihat kepanikan Gavin semakin curiga, Alex menatap Gavin tajam kemudian kembali mendekati pemuda itu.
"Lo, gak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue kan, Gav?"tanya Alex,membuat Gavin semakin panik ,namun berusaha untuk tetap tenang agar Alex tak semakin curiga.
"Apaan sih lo, gue emang mau pulang nanti malam."jawab Gavin, yang membuat Alex kembali menarik mafas dalam.
"Gav, lo sadar gak sih, sikap lo itu bikin gue curiga. Gini deh, kita kan udah sahabatan dari kecil, gue... Paling tau lo, bahkan lebih dari Raihan. Lo kalo tiap mau pulang ke mansion terus di apartemen ada gue,lo gak pernah tuh peduli, lo bakal pergi gitu aja ,trus ninggalin gue disini.Jadi... Sekarang jujur sama gue, apa yang sebenarnya lo sembunyiin?"tanya Alex setelah penjelasan panjang darinya.
Gavin terpaku, ia diam tak tau harus berkata apa, dia tak ingin membohongi Alex, tapi dia juga tak bisa jujur sekarang ,Gavin dan Kanaya masih butuh waktu, dan dia juga tak ingin ada kesalahpahaman nantinya dengan Raihan. Pasalnya hubungan Kanaya dan Raihan saat ini masih abu-abu.
Gavin kesekian kali nya menghela napas, sepertinya dia memang harus membiarkan Alex melakukan keinginannya untuk menginap di apartemennya, yang harus di lakukannya sekarang hanya membuat Kanaya jangan sampai bertemu dengan sahabatnya itu.
"Oke, lo boleh nginep disini, sebenarnya tadinya gue cuma mau menenangkan pikiran aja, makanya butuh waktu sendiri."Ujar Gavin tenang.
Alex masih menatap lekat Gavin sepertinya rasa curiganya masih ada namun, tak lama ia mengangguk. "Ya udah, gue percaya sama lo."tegas Alex, lalu berjalan menuju sofa.
Alex tampak menidurkan dirinya di sofa, yang menghadap ke arah televisi, kemudian menyala kannya, Alex memang sudah menganggap apartemen Gavin layaknya apartemennya sendiri.
"Gue ke kamar dulu."ucap Gavin, setelah itu ia meninggal kan Alex sendiri menuju kamarnya, dimana disana ada Kanaya.
---
Gavin memasuki kamarnya dengan hati-hati, melihat sekelilingnya mencari keberadaan Kanaya, tampak gadis itu tengah terlelap di ranjangnya.
Gavin memperhatikan wajah damai Kanaya yang terlihat semakin cantik saat tertidur membuatnya berharap, agar wajah cantik itu yang akan selalu ia lihat di setiap malam suatu saat nanti.
Di elusnya pipi mulus gadis itu, yang kini tertutupi helaian rambut yang berantakan, namun sama sekali tak mengurangi kecantikannya.
"Nay, percayakah lo... Kalo gue cinta sama lo, dan bisakah lo memiliki perasaan yang sama ke gue?"
"Gue tau, hidup gue gak sebersih hidup Raihan, tapi gue akan berubah buat lo Nay, sama seperti saat ini, gue mulai berubah karna lo."
"Gue sayang sama lo Nay, gue akan berusaha membahagiakan lo, andai lo ijinin gue untuk masuk ke kehidupan lo."Dan semua kalimat ini hanya mampu Gavin ucapkan dalam hati.
Gavin mendekatkan wajahnya, kemudian mencium lama kening Kanaya. Setelah kembali ke arah pintu kamar dan menguncinya.
Gavin akan tidur bersama Kanaya kembali malam ini,ndan menjaga Kanaya agar tidak dapat keluar dari kamarnya setidaknya nya sampai Akex pergi.
Sebenarnya andai sesuai rencananya,nwalaupun dalam apartemen yang sama, Gavin masih bisa menyembunyikan Kanaya dari Alex. Karna setiap menginap di apartemennya,bAlex tak pernah tidur di kamarnya, atau masuk ke dalam kamarnya.
Biasanya ia dan Alex hanya berkumpul di ruang televisi untuk bermimpi game,nsampai mereka sama-sama tertidur disana.
"Gav,"tiba-tiba Kanaya membuka matanya, dan menatap Gavin yang akan tidur di sampingnya.
"Di luar siapa?"tanya Kanaya.
-Bersambung