NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 CINTA YANG MENGANTARKAN

Empat bulan setelah resepsi pernikahan Sultan dan Alya, Malang memasuki musim kemarau yang hangat. Udara pagi masih segar ketika Arga membuka pintu kantor barunya – sebuah ruang kerja kecil namun nyaman di lantai tiga gedung perkantoran di kawasan Jalan Ijen. Plang di pintu tertulis dengan jelas: “Arga Pratama – Konsultan Bisnis & Pengembangan Kreatif.”

Ia memasang secangkir kopi di mesin pembuat yang berdiri di sudut ruangan, lalu berjalan ke jendela untuk melihat pemandangan kota yang mulai sibuk. Dari sini, ia bisa melihat puncak Gunung Kawi yang seringkali tertutup kabut pada pagi hari – tempat di mana beberapa bulan yang lalu, ia melihat Alya dan Sultan berdiri sebagai pasangan suami istri yang bahagia. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah dengan cara yang tidak pernah ia duga.

Setelah pulang dari resepsi, Arga menghabiskan tiga minggu untuk merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan konsultasi besar yang telah menjadi tempatnya bekerja selama lima tahun. Banyak rekan kerjanya yang heran – mengapa seseorang yang sedang naik daun dalam karirnya memilih untuk keluar dan memulai dari awal? Tapi Arga tahu bahwa langkah itu perlu dilakukan. Ia tidak bisa lagi bekerja di lingkungan yang hanya melihat dunia dari angka dan strategi semata. Pengalaman dengan Alya dan Sultan telah mengajarkannya bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dengan keuntungan finansial, tapi juga dengan seberapa jauh kita bisa membantu orang lain untuk berkembang dan menyampaikan cerita mereka.

Kantor barunya bukan hanya tempat untuk memberikan konsultasi bisnis seperti biasa. Arga juga bekerja sama dengan beberapa komunitas kreatif di Malang, termasuk komunitas yang dipimpin oleh Sultan sebelum ia menikah dan lebih fokus pada pengembangan bisnis start-up-nya. Arga membantu mereka mengatur keuangan, merencanakan strategi pemasaran, dan menghubungkan mereka dengan pihak-pihak yang bisa mendukung perkembangan karya kreatif mereka. Di sudut kanan ruangan kantornya, terdapat sebuah dinding yang dipajang dengan foto-foto karya anak-anak muda dari komunitas tersebut – ada foto pemandangan alam Jawa Timur, dokumentasi kehidupan masyarakat lokal, hingga karya seni kontemporer yang penuh makna.

“Sangat berbeda dengan kantor lama kamu ya, Mas Arga?”

Suara lembut membuat Arga menoleh. Berdiri di pintu adalah Maya, seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun yang bekerja sebagai asistennya dan juga anggota komunitas fotografi yang pernah diajak bekerja sama oleh Sultan. Wanita itu mengenakan baju batik dengan rok jeans, rambut panjangnya diikat rapi dengan jepit rambut berbentuk bunga. Di tangannya ada tumpukan berkas dokumen dan secangkir kopi tambahan.

“Ya, Maya,” jawab Arga dengan senyum, menerima kopi yang diberikan. “Sangat berbeda. Dan aku senang dengan perubahan ini.”

Maya meletakkan berkas di atas meja kerja Arga. “Ini adalah proposal kerja sama dengan sekolah seni lokal di Kota Batu. Mereka ingin kita bantu mengembangkan program pelatihan kewirausahaan bagi siswa yang ingin menjadikan kreativitas mereka sebagai sumber penghidupan. Sudah aku telaah dulu, dan menurutku sangat layak untuk didukung.”

Arga membuka berkas dan mulai membacanya dengan cermat. Saat membaca bagian tentang visi program, ia tidak bisa tidak teringat pada Alya – bagaimana wanita itu selalu berusaha untuk memberikan wadah bagi orang-orang muda yang memiliki bakat di bidang fotografi. Ia juga teringat pada kata-kata Sultan tentang pentingnya melihat karya seseorang dengan hati, bukan hanya dengan mata.

“Kita akan terima proposal ini, Maya,” ucap Arga setelah selesai membaca. “Kita tidak hanya akan membantu mereka dalam hal bisnis, tapi juga akan mengajak beberapa fotografer dan seniman berpengalaman untuk memberikan pelatihan langsung. Kamu bisa hubungi pihak sekolah dan atur pertemuan minggu depan. Aku juga ingin mengajak seseorang untuk bergabung dalam tim kita untuk program ini.”

“Siapa ya, Mas Arga?” tanya Maya dengan rasa penasaran.

“Kamu akan tahu nanti,” jawab Arga dengan senyum misterius.

Setelah Maya keluar dari ruangan, Arga mengambil telepon genggamnya dan mencari nomor kontak yang sudah lama tidak ia hubungi. Jari-jarinya berhenti pada nama yang tertulis dengan jelas: “Sultan Wicaksono.” Ia menekan tombol panggilan dan hanya perlu beberapa detik sebelum telepon di ujung lain dijawab.

“Arga! Kabar baik, kan?” Suara Sultan terdengar ceria dari sisi lain, bahkan bisa Arga dengar suara kecil Alya yang sedang berbicara di latar belakang.

“Kabar baik, Sultan,” jawab Arga dengan nada hangat. “Aku mau bilang terima kasih. Proposal kerja sama dengan komunitas kreatif yang kamu rekomendasikan berjalan sangat lancar. Bahkan sekarang aku sedang mempertimbangkan kerja sama baru dengan sekolah seni di Batu.”

“Betul sekali! Aku tahu kamu akan cocok dengan dunia ini,” ucap Sultan dengan kegembiraan yang jelas. “Alya dengar suaramu lho. Dia mau menyapa kamu.”

Beberapa detik kemudian, suara Alya terdengar lembut namun penuh semangat: “Halo, Arga. Kabarmu baik kan? Sultan sering cerita tentang perkembangan kantor barumu.”

“Ya, Alya. Kabarku baik sekali,” jawab Arga, merasa hati menjadi hangat. “Aku mau mengucapkan selamat juga untuk kabarmu yang baru. Sultan bilang kamu sedang mempersiapkan pameran fotografi perdanamu setelah menikah?”

“Betul,” jawab Alya dengan suara yang penuh bangga. “Pameran akan diadakan di galeri seni lokal bulan depan. Aku mengambil tema ‘Kehidupan di Balik Angin dan Awan’ – dokumentasi tentang kehidupan masyarakat di daerah pegunungan Jawa Timur. Aku bahkan mengambil beberapa foto di sekitar Gunung Kawi juga lho, tempat kita dulu… tempat kita mengadakan resepsi.”

Arga bisa merasakan kebahagiaan dalam suara Alya, dan itu membuatnya merasa lega. “Aku pasti akan datang ke pameranmu. Aku bahkan punya sesuatu yang mungkin bisa membantu untuk promosi dan pendataan kunjungan. Kamu tahu kan sekarang aku juga menangani hal-hal seperti itu untuk komunitas kreatif.”

“Itu sangat bagus sekali, Arga,” ucap Alya. “Aku sangat senang melihat kamu menemukan jalan yang benar untuk dirimu sendiri. Seperti yang tertulis di bingkai kayu yang kamu berikan padaku dan Sultan – kamu akhirnya belajar mendengarkan perasaanmu sendiri.”

Setelah berbicara beberapa menit lagi dan menyepakati untuk bertemu di akhir pekan, Arga menutup telepon. Ia kembali ke meja kerja dan melihat foto-foto karya anak-anak muda yang terpajang di dinding. Di antara foto-foto itu, ada sebuah foto kecil yang ditempel di sudut meja – foto pemandangan kota Malang saat senja, sebuah karya yang pernah Alya berikan padanya sebelum mereka putus. Ia tidak melepaskannya bukan karena masih merindukan masa lalunya, tapi sebagai pengingat akan kesalahan yang ia lakukan dan pelajaran berharga yang ia dapatkan.

Pada hari pertemuan dengan pihak sekolah seni di Kota Batu, Arga datang bersama seseorang yang membuat Maya dan pihak sekolah terkejut namun senang. Sultan datang untuk bergabung dalam tim kerja sama tersebut, membawa dengan dirinya beberapa ide inovatif tentang dan teknologi bisa berjalan berdampingan,” ucap Sultan saat memberikan paparan di depan peserta pertemuan. “Banyak orang berpikir bahwa dunia seni dan bisnis adalah dua hal yang saling bertentangan, tapi seperti yang telah buktikan oleh teman saya di sini – Arga – kita bisa menggabungkan kedua dunia tersebut untuk menciptakan dampak yang positif bagi banyak orang.”

Arga melihat Sultan yang sedang berbicara dengan penuh semangat, dan kembali teringat pada pertemuan pertama mereka tiga tahun yang lalu. Saat itu ia hanya melihat Sultan sebagai mitra bisnis yang cerdas, tapi sekarang ia melihatnya sebagai teman yang memiliki visi yang sama tentang bagaimana dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik melalui kolaborasi antara logika dan kreativitas.

Setelah pertemuan berakhir dan kesepakatan kerja sama berhasil ditandatangani, Sultan mengajak Arga untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan sekolah seni yang terletak di lereng Gunung Batu. Udara di sana lebih sejuk dari di kota, dan pepohonan rindang memberikan naungan yang menyegarkan.

“Kamu tahu tidak, Arga,” ucap Sultan sambil berjalan berdampingan dengan Arga. “Sebelum aku dan Alya menikah, dia pernah bilang sesuatu yang membuatku berpikir banyak. Dia bilang bahwa cinta sejati bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tapi juga tentang membantu orang yang kita cintai untuk menemukan jalannya sendiri – bahkan jika itu berarti kita harus melepaskan mereka.”

Arga mengangguk perlahan. “Aku mengerti sekarang. Saat aku melepaskan Alya, aku pikir itu adalah akhir dari segalanya. Tapi ternyata itu adalah awal dari babak baru dalam hidupku – babak di mana aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan membantu orang lain untuk mencapai potensi mereka.”

Mereka berhenti di sudut taman kecil yang terletak di belakang sekolah seni. Di sana, beberapa siswa sedang melukis pemandangan pegunungan dengan teknik yang berbeda-beda. Arga melihat salah seorang siswa yang sedang kesulitan untuk menangkap warna yang tepat pada langit sore, dan tanpa berpikir dua kali, ia mendekati siswa tersebut dan memberikan beberapa saran tentang komposisi dan penggunaan warna. Saat itu, Sultan melihatnya dengan senyum bangga – melihat bagaimana pria yang dulu hanya fokus pada angka dan strategi kini bisa dengan mudah berkomunikasi tentang seni dan kreativitas.

“Aku pernah membaca sebuah kutipan yang bilang bahwa cinta bukanlah tentang menyimpan seseorang di dalam hati kita dengan cara yang menyakitkan, tapi tentang melepaskannya dengan cara yang penuh kasih sehingga mereka bisa terbang tinggi,” ucap Sultan. “Kamu telah melakukan hal itu untuk Alya, Arga. Dan karena itu, kamu juga bisa terbang tinggi sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!