Sanas gadis manis yang baru menginjak usia 16 tahun. Nekat ke kota untuk mengubah perekonomian keluarga. Tapi sayang takdir berkata lain, Sanas harus menerima kenyataan pahit. Bagaimana tidak di katakan pahit, ia harus menikah dengan laki-laki dewasa yang sama sekali tidak ia kenal.
ikuti terus kisah Sanas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhy Warni15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke kota
Gunung tinggi di atas tanah, berkabut putih dan cerah. Udara segar di pagi hari, sawah hijau nan luas. Aku membawa tuan Devan ke sawah di mana tempat ayah ku mencari nafkah untuk ku bersama keluarga. Aku tidak menyangka jika Tuan Devan begitu antusias melihat pemandangan di sawah. Banyak pohon-pohonan yang rimbun nan hijau. Di tambah dengan rumput ilalang-ilalang yang bergoyang mengikuti arus angin.
"Sayang sini" aku pun menghampiri tuan Devan yang tengah memegang kamera.
"Iya bang"
"Sayang berdiri di sana. Biar abang fotokan" ucap tuan Devan sambil memberi arahan dengan ku. Aku pun mengikuti arahan yang di berikan oleh tuan Devan.
"Pas, jangan bergerak sayang. Abang hitung daru satu sampai tiga 1 2 3"
"Ceklek" bunyi kamera
"Sayang pindah posisi lagi" ucap tuan Devan. Aku hanya mengikuti perintah tuan Devan, hingga aku merasa lelah. Sudah tidak tahu berapa gaya yang aku lakukan selama bepose(foto).
"Abang udah ah, Capek"ucap ku
"Iya sayang" ucap tuan Devan menghampiri ku, yang tengah duduk di pinggir sawah.
"Apa abang suka di sini?" tanya ku
"Iya, abang sangat suka di sini. Udaranya masih segar di tambah dengan pohon-pohonan yang rimbun. Membuat hati damai dan pikiran tenang, rasanya semua beban yang di pikul selama ini hilang seketika" ucap tuan Devan sambil menghirup udara segar.
"Kalau gitu kita tinggal di sini saja bang. Supaya abang tidak punya beban pikiran"
"Sayang mana ada di dunia ini yang tidak mempunyai beban pikirin selagi dia masih bisa bernafas."
"Hehehe. Iya bang. Tapi kan setidaknya beban abng berkurang"
"Iya berkurang. Tapi, bagaimana dengan perekonomian kita? Apa sayang mau melihat ayah dan ibu selamanya bertani dengan usianya yang bisa si katakan tua" ucal tuan Devan
"Tidak bang, Adek sudah tidak sanggup melihat ayah yang sudah tua masih berjemur di bawah terik matahari demi menyambungkan hidup"
"Maka dari itu, abang tidak mau tinggal di sini selama-lamanya. Apa sayang mau anak sayang sama dengan sayang nantinya?"
"Tidak bang..." ucap ku
"Ya sudah kalau tidak mau, nanti sore kita pulang ke kota lagi"
"Kok cepat sekali bang?"
"Tadi waktu abang mengecek email, abang dapat pesan dari seketaris Revan. Katanya ada perusahaan luar mengajak perusahan abang kerja sama. Mereka ingin langsung bertemu abang tidak bisa di wakili dengan seketaris Revan." jelas tuan Devan
"Baik la bang, kalau gitu mari kita pulang untuk menyiapkan semua peralatan kita" ucap ku
"Sayang marah?" tanya tuan Devan
"Gak la bang, adek ngerti ko" ucap ku bohong, padahal dalam hati kecil ku belum rela meninggalkan tanah kelahiran ku ini. Tapi, mau bagaimana lagi, kita sebagai istri harus mengikuti suami selagi itu yang baik-baik. Tidak memakan waktu lama aku bersama tuan Devan pun tiba di kediaman orang tua ku. Baru tiba di halaman rumah, bau masakan ibu sudah membangunkan ternak-ternak ku di dalam perut.
"Assalammualaikum" ucap ku bersama tuan Devan
"Waalaikumslam" jawab ibu
"Sudah pulang? Mana ayah?" tanya ibu
"Ayah belum pulang bu, katanya mau bertemu dengan juragan ahok"
"Oh...."
"Ada keperluan apa bu? Ayah bersama juragaan ahok. Biasanya ayah paling anti berurusan dengan gaek bangka itu"
"Ibu tidak tahu yuk" bohong ibu. Ibu sengaja membohongi Sanas, karena ia tidak mau melihat Sanas sedih. Waktu sebelum pernikahan Sanas, ibu dan ayah tidak mempunyai uang sedikitpun untuk pergi ke kota melihat sang putri yang akan menikah. Jika, tidak menghadiri alangkah sedih hati sanas di hari bahagianya tidak di hadiri oleh keluarga. Walapun di ongkosi oleh calon mertua Sanas setidaknya ayah dan ibu juga harus mempunyai pegangan. Maka dari itu ayah menggadai tanah sawah dengan juragan ahok.
"Ibu tidak menyembunyi apapun dari ayukkan?"
"Tidak yuk"
"Oh ya buk, ayuk bersama bang Devan pulang hari ini"
"Cepat sekali yuk?" tanya ibu
"Iya bu sedikit mendadak. Karena abang ada urusan bu? ucap ku.
"Tapi, kalian harus sering-sering main ke sini" ucap ibu.
"Iya bu" ucap tuan Devan
"Oh ya bu ayuk berangkat dulu, salam sama bapak bu maaf kami tidak bisa nunggu. Soalnya nanti malam bang Devan ada pertemuan" jelas ku
"Iya nak. Hati-hati" ucap ibu
"Assalammualaikum" ucap ku meninggalkan ibu
Bersambung...