Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Keberadaan Rose
"Hahhh." Terdengar suara helaan nafas panjang seorang pria yang akrab disapa Marcus.
Entah sudah berapa kali dia menghela nafas di ruang kerjanya. Semuanya karena Rose.
"Apa dia serius dengan ucapannya?" gumamnya masih memikirkan kalimat terakhir wanita itu sebelum keluar dari rumahnya. Apa dia sudah keterlaluan?.
Pake nanya lagi!
Drt....
Ponselnya bergetar, dia segera meraih dan mengangkat panggilan dari orang suruhannya.
"Apa sudah ketemu?" tanyanya tanpa basa-basi lagi.
"Maaf tuan, kami belum menemukan nyonya, kami sudah memeriksa seluruh hotel yang ada di daerah ini." ucap orang suruhan itu.
Marcus memijat pelipisnya yang terasa berat. kemana perginya wanita itu?.
"Cari di penginapan biasa atau di manapun." perintahnya lagi lalu segera menutup panggilan itu.
Moodnya seketika hancur. Dia hanya memikirkan bagaimana jika Sophia pulang lalu anak itu tidak menemukan mama nya. Selama ini hanya Rose yang bisa menghandle tingkah Sophia yang luar biasa itu.
Kalimat cerai yang diucapkan Rose membuatnya tidak fokus melakukan apapun, seharusnya dia senang kan karena sejak lama dia ingin menceraikan wanita itu tapi selalu di tolak oleh Rose sendiri, sekarang wanita itu duluan yang meminta cerai. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang salah.
Dia seperti tidak rela wanita itu pergi darinya.
....
Mia berjalan ke sana kemari di ruang tamu, sudah dua hari Rose tidak pulang, perasaannya jadi tidak karuan karena dia berpikir jika dirinya lah penyebab wanita itu pergi.
"Kak, mataku sakit melihatmu mondar-mandir tidak jelas didepan ku." komen Emma yang merasa terganggu dengan tindakan aneh kakaknya.
"Dek, kakak merasa bersalah karena Rose pergi dari sini?" ucap Mia yang langsung duduk di samping Emma yang rebahan di atas sofa.
"Biarkan saja kak, mungkin dia sedang cari perhatian kak Marcus, kan selama ini dia selalu diabaikan oleh suaminya sendiri karena kehadiran mu, anggap saja itu karma nya karena dia sudah merebut kak Marcus darimu." ucap Emma santai, sedangkan Mia merasa dirinya lah yang bersalah disini, iya dia tahu jika Rose pernah menyakitinya karena merebut Marcus dengan cara licik.
Tapi disini dia sadar jika selama ini Rose tidak pernah hidup bahagia, maksudnya, wanita itu tidak pernah diterima baik oleh keluarga Marcus dan fakta yang dia baru ketahui adalah Rose yang dibuang keluarganya sendiri karena dianggap sebagai aib keluarga.
Bahkan beberapa kenalan mereka sudah tahu bagaimana liciknya wanita itu untuk mendapatkan Marcus.
Tapi dia sendiri sudah lapang dada, mau bagaimanapun Marcus sudah menikah dan dirinya sendiri sudah memiliki kekasih, ah maksudnya tunangan di China.
....
"AKU SUDAH MEMBAYAR MAHAL KALIAN, TAPI MENCARI SATU ORANG SAJA TIDAK BISA." teriak Marcus cukup kencang hingga Catherine yang sudah ada didepan pintu kerja sang anak tersentak kaget.
Klek..
"Kenapa berteriak keras Marcus?" tanyanya yang langsung masuk dan dia terkejut saat melihat kondisi anaknya yang sangat berantakan.
Marcus terlihat seperti orang yang tidak terurus, kemejanya kusut, wajahnya terlihat kelelahan dengan mata sayu dan mata panda yang sangat kentara.
"Kenapa bisa seperti ini?" Catherine langsung menghampiri sang anak memeriksa wajah yang biasanya tegas itu.
grep....
Marcus memeluk ibunya dengan erat. "Bu, kenapa Rose tidak pulang, apa dia sudah lelah hidup dengan ku?" gumam pria itu yang membuat Catherine terdiam.
"Bukannya kamu senang jika dia pergi?"
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku merasa kehilangan Rose Bu, ternyata selama ini aku tidak menyadari perasaan ku sendiri, aku terlalu berpikir jika aku membencinya hingga tidak sadar bahwa selama ini aku terbiasa dengan kehadirannya." kehilangan Rose membuatnya hampa. Dia tidak semangat lagi bekerja, dia tidak senang saat pulang karena tidak melihat keberadaan wanita yang biasa menyambutnya dengan senyuman manis.
Dia baru sadar saat sudah kehilangan istrinya.
Catherine menatap sendu Marcus yang sudah menangis dipeluknya. Jujur, sangat sulit menerima kehadiran Rose di hidupnya, awalnya dia berpikir jika wanita itu hanya akan menghancurkan hidup anaknya dan juga menghancurkan keluarganya.
"Ibu, aku mau Rose Bu." rancau pria itu seperti anak kecil yang menginginkan mainan.
Catherine mengangguk. "Nanti ibu bantu cari." dia harus memberitahu suaminya. dan juga dia merasa kepergian wanita itu ada sangkut-pautnya dengan dirinya.
Tuhan, dia jadi merasa bersalah.
.....
Daniel menyandarkan tubuhnya pada sang istri. Mereka kembali ke rumah saat hari sudah sore. Mereka kelelahan mencari keberadaan sang anak.
"Yah, ibu pikir Rose sedang ada masalah dengan keluarganya?, apa tidak sebaiknya kita tanya Marcus?" Usul Isabella yang diangguki Nathan.
"Mungkin selama Iki Rose tidak bahagia yah hidup dengan Marcus?" ucap pria itu.
Daniel masih diam. Dia terus memikirkan kemungkinan yang sudah terjadi. Apa benar Rose di perlakukan buruk oleh keluarga Vale.
"Yah, ibu tidak tega melihat Rose yang naik bis lalu makan makanan sembarangan di pinggir jalan, kita selama ini membesarkannya dengan baik, bahkan kita selalu memberikan fasilitas yang cukup untuk Rose, apa selama ini dia disiksa oleh Marcus?, jika iya, kita harus mengambil Rose dari keluarga Vale." pinta Isabella yang kembali terisak, sebagai ibu dia tidak terima jika anaknya di perlakukan buruk oleh siapapun.
Seumur hidup, Rose tidak pernah dia ijinkan menyentuh pekerjaan, ataupun memasak, bahkan anak itu memiliki pencernaan yang sensitif, Rose tidak terbiasa hidup susah, dan saat melihat anaknya naik bis sendiri lalu makan sembarangan di pinggir jalan membuat dirinya hancur.
Meskipun Rose memang bersalah, tapi tidak seharusnya keluarga Vale mengusirnya. Mereka bisa mengembalikan Rose kepada keluarganya.
"Sabar Bu, besok ayah akan bertanya pada Marcus." putus Daniel yang langsung memeluk istrinya.
Nathan menggenggam tangan istrinya erat. Meskipun sang adik sering berbuat jahat pada mereka, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap menyayangi nya.
"Kita salah karena sudah memusuhinya." ucap Isabella yang membuat semua orang terdiam, mereka merasa ikut bersalah karena malah memutuskan hubungan keluarga dengan Rose saat mengetahui perbuatan licik Wanita itu.
.....
Mia tidak bisa terus-terusan di sini. Jadi saat malam dia sengaja keluar dari rumah Marcus, meninggalkan sang adik yang tengah tertidur pulas di atas ranjang.
"Mau kemana?" sebuah suara menghentikan langkahnya. Mia menoleh kebelakang dan dia bisa melihat sosok Marcus yang menatapnya tajam.
"Mencari Rose." jawabnya jujur. pria itu masih diam dan Mia berpikir jika Marcus mengijinkannya pergi.
Jadi dengan cepat dia kembali pada niat awalnya, keluar dari rumah itu menaiki mobilnya dan segera pergi.
....
"Loh Noah sudah pulang?" tanya Vira yang sudah pulang dari jualan. Gadis itu meletakan sisa jualannya di atas meja juga foto yang diberikan om om tadi.
Mata Noah membola saat melihat foto itu.
"Itu kan...."