Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kitab pusaka 'Napas Naga Langit part 4
Para prajurit yang babak belur itu berjalan gontai meninggalkan pasar menuju gerbang megah Kerajaan Chandravatya. Zirah perunggu mereka yang biasanya mengilap kini penuh noda tanah dan sari buah mangga. Sang pemimpin ksatria, Vira, mengusap pipinya yang lebam sambil sesekali menoleh ke belakang dengan sisa-sisa rasa tidak percaya.
"Siapa sebenarnya orang asing itu?" bisik salah satu prajurit yang berjalan pincang. "Pakaiannya kumal, tidak memakai alas kaki, bicaranya pun seperti orang linglung. Tapi kekuatannya... aku bahkan tidak sempat melihat tangannya bergerak."
"Benar," timpal yang lain dengan nada getir. "Sepertinya dia tidak benar-benar bertarung. Dia hanya... bermain-main dengan kita. Dia memperlakukan pedang Talwar kita seperti ranting pohon kering. Bagaimana mungkin kasta serendah itu memiliki kesaktian yang melampaui latihan ksatria bertahun-tahun?"
Vira terdiam, hatinya mendidih antara amarah dan kekaguman yang tersembunyi. "Dia bukan manusia biasa. Namun, tetap saja, dia telah melanggar tatanan suci dengan menyentuh senjata tanpa hak kasta."
Langkah mereka terhenti saat memasuki pelataran istana yang dikelilingi pilar-pilar marmer. Di sana, di bawah naungan kanopi sutra, berdiri Putri Amritavani bersama kelima pangeran Chandravatya yang dikenal sebagai Panca Taraka (Lima Bintang).
Melihat kondisi para ksatria yang berantakan, sang putri mengerutkan kening. "Vira? Mengapa kalian kembali dalam keadaan seperti pecundang yang kalah perang? Siapa yang berani mengacau di pusat kota?"
Kelima pangeran maju, masing-masing memancarkan aura yang berbeda namun memiliki satu kesamaan: tatapan mata yang tajam dan penuh kebanggaan kasta.
Pangeran Dharmasara (Si Kebenaran Mutlak): Sulung yang selalu kaku pada aturan. Baginya, hukum adalah hitam dan putih.
Pangeran Balavikra (Si Kekuatan Jujur): Tubuhnya raksasa, memanggul Gada emas yang mampu menghancurkan karang. Ia hanya percaya pada kekuatan fisik.
Pangeran Indrajit (Si Pencari Makna): Memegang Busur perak, ia selalu mencari alasan filosofis di balik setiap peristiwa.
Pangeran Rajendra (Si Kesetiaan Halus): Pendiam dan sangat patuh, ia adalah bayangan yang akan melakukan apa pun demi kehormatan keluarga.
Pangeran Mahendra (Si Kebijaksanaan Diam): Si bungsu yang jarang bicara, namun tatapannya seolah bisa menembus sukma.
"Seorang pengembara asing, tuan Putri," lapor Vira sambil berlutut. "Dia menolak tunduk. Dia menggunakan tongkat emas untuk menghina kami. Yang paling mustahil... dia mengalahkan kami semua tanpa mengeluarkan setetes darah pun, seolah kami hanyalah anak kecil yang sedang belajar berjalan."
Pangeran Dharmasara mendengus dingin. "Seorang kasta rendah menyandang senjata di depan kuil dan berani melawan ksatria? Itu adalah pelanggaran terhadap hukum ilahi. Alam semesta akan kacau jika orang kecil mulai merasa memiliki kekuatan dewa."
"Tapi Kakak," potong Pangeran Indrajit sambil mengelus tali busurnya, "Vira bilang dia 'bermain-main'. Tidak ada kasta rendah yang memiliki ketenangan seperti itu saat dikepung tombak. Apakah mungkin ada rahasia di balik darahnya?"
Meskipun mereka dikenal bijak dan kuat, kelima pangeran ini terbelenggu oleh doktrin kuno. Mereka menjunjung tinggi Kshatriya Dharma secara ekstrem; mereka percaya bahwa hanya mereka yang terlahir di garis darah tertentu yang pantas memimpin dan berperang. Baginya, ketidakadilan kasta bukanlah kejahatan, melainkan kehendak langit yang tidak boleh digugat.
"Aku akan mencarinya," ujar Pangeran Balavikra sambil menghentakkan Gadanya ke lantai hingga bergetar. "Aku ingin melihat apakah 'permainannya' bisa bertahan di hadapan berat Gadaku. Kasta rendah harus tahu tempatnya di bawah kaki hukum."
Di saat yang sama, berita tentang pemuda asing yang sakti itu telah sampai ke telinga seorang penguasa dari kerajaan tetangga yang sedang berkunjung secara rahasia, Raja Samudragupta dari Kerajaan Mahameghavahana.
Berbeda dengan para pangeran Chandravatya, Raja Samudra adalah pria tua dengan tatapan mata yang sangat dalam. Ia dikenal sebagai raja yang memiliki kebijaksanaan melampaui aturan. Ia sering menyamar menjadi rakyat jelata untuk melihat kebenaran yang sering ditutupi oleh tirai kasta.
"Tongkat emas dan gerakan yang mengalir seperti air?" gumam Raja Samudra di balik jubah penyamarannya. "Itu bukan ilmu dari tanah ini. Jika dia benar-benar mengalahkan ksatria dengan canda tawa, maka dia bukan sedang mencari musuh. Dia sedang mencari sesuatu yang lain."
Raja Samudra tersenyum tipis. Ia merasa takdir sedang menenun benang baru di tanah India yang kaku ini.
"Biarkan para pangeran itu mengejarnya," bisik sang Raja pada pengawalnya. "Mereka akan belajar bahwa singa tetaplah singa, meskipun ia terbungkus kain rongsokan."