Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Sampah Pembawa Sial
Oe … oe … oe
Tangis bayi terdengar di salah-satu ruangan. Anehnya, tak seorang pun yang tersenyum bahagia. Sebaliknya, orang-orang yang mendengar tangisan itu menunjukkan wajah kesal dan marah.
"Tuan, pasukan kita dikalahkan. Jika klan tidak membuat pajak, klan Liu akan menyerang!" ucap seorang pemuda.
"Arkhh, kurang ajar!" Pria itu memukul dinding karena kesal. Ini kesekian kalinya klan Erlang kalah. Karena kalah, klan hampir saja menghilang dari peta.
"Berapa lama kita harus membayar pajak?" tanya Patriark Erlang Xiao.
"Tujuh belas tahun, Patriark! Klan Liu juga mengajukan satu syarat. Katanya, salah satu Tuan Muda klan harus menikah dengan putrinya. Jika syarat itu tidak dipenuhi, klan Liu akan menyerang!" Pemuda itu menjelaskan.
Erlang Xiao benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dahulu, klan Erlang mendominasi alam langit, tapi sekarang keadaan berbalik. Sekarang, klan Erlang hanya klan tingkat tiga. Selama 100 tahun terakhir, tak ada lagi yang berhasil menerobos ranah dewa.
"Arghh, dasar anak pembawa sial!" Patriark Erlang Xiao masuk ke ruangan tempat istrinya melahirkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung menghancurkan dantian anaknya yang memang sudah cacat.
Ngoe… ngoe … Ngoe …
Bayi kecil itu menangis karena kesakitan, tapi Erlang Xiao tidak peduli. Meski anak itu baru saja dilahirkan, tetap saja ia menjadikan anak itu sebagai pelampiasan.
"Diam, dasar pembawa sial!" Anak itu ia lempar. Untung saja anak tersebut jatuh di tempat tidur, bukan dilantai.
"Aku tidak mau tahu! Rawat anak itu sendiri atau dia aku bunuh!" Erlang Xiao mengancam istrinya.
"Setidaknya, beri dia nama!" pinta wanita itu, tapi yang didapatnya adalah tamparan keras.
"Anak pembawa sial tidak sepantasnya memiliki nama!" Erlang Xiao menampar istrinya lalu pergi.
"Erlang Xuan, namanya adalah Erlang Xuan!" ucap seorang pria paruh baya.
"Bagaimana pun juga, dia keturunan klan Erlang," lanjutnya.
"Terima kasih, Ka—" Belum sempat ia berterima kasih, kakek itu sudah menghilang. Pria tua itu meninggalkan sebuah liontin perak.
"Berikan liontin itu kepada anakmu!" Suara pria itu terdengar, tapi orangnya tidak ada di sana.
"Erlang Xuan!" Wanita itu memeluk putranya dengan tangis yang tertahan. Anaknya dilahirkan bertepatan dengan terjadinya badai. Bukan hanya itu, kekalahan klan juga bertepatan dengan lahirnya Erlang Xuan. Karena itulah, orang-orang menyebut anaknya pembawa sial.
...****************...
"Bangun, dasar sampah pemalas!" Seseorang menyiramnya dengan air. Sebelum ia membuka matanya, dua orang mengangkatnya dan melemparnya ke kolam petir.
"Huahahaha! Sampah Pembawa Sial!" Tiga orang tertawa. Mereka berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, karena kolam itu petir yang bercampur dengan air, Erlang Xuan berusaha menahan sakit. Karena kelelahan, ia tak sadarkan diri. Meski begitu, semua orang menertawakannya, tidak ada yang menolongnya.
"Gawat, dia pingsan!" Seorang pemuda berteriak.
"Biarkan saja! Kalau mati, kita bakar saja mayatnya. Kalau tidak dibakar, mayatnya kita buang ke hutan kabut," jelas Erlang Han, jenius klan sekaligus saudara Erlang Xuan.
"Sebentar lagi orang-orang klan Liu akan datang!" Erlang Han bersama teman-temannya meninggalkan tempat itu. Mereka ke aula dan menyambut kedatangan klan Liu. Tentu saja tidak ada yang menanyakan Erlang Xuan.
"Tuan Xiao, sesuai perjanjian!" Patriark Liu menyerahkan perjanjian nikah. Di perjanjian itu, tertulis dua nama, Erlang Han dan Liu Yu.
"Setelah keduanya menikah, Klan Erlang akan kubebaskan," jelas Patriark Liu.
"Terima kasih, Tuan Liu!" Patriark Erlang Xiao membungkuk. Meski begitu, tatapannya dipenuhi dendam dan amarah.
"Jadi, kapan pernikahan itu dilangsungkan?" tanya Patriark Liu.
"Hari ini!" jawaban Patriark Erlang Xiao membuat Erlang Han kaget. Untungnya, Liu Yu seorang jenius. Jadi, dia tidak keberatan dengan pernikahan itu.
Di saat semua orang merayakan pernikahan itu dengan penuh suka cita, Erlang Xuan justru sebaliknya. Saat ini, jiwanya ditarik ke ruangan yang seluruhnya berwarna putih. Ia terus berjalan, tapi tak pernah menemukan ujung dari ruangan itu.
"Di mana ini?" tanyanya.
Wuuuussss
Cahaya menyilaukan menabraknya. Di saat yang sama, ruangan itu bergetar lalu meledak. Ia tersadar dan mendapati dirinya masih berada di kolam petir.
"Sakit sekali!" Erlang Xuan duduk di tepi kolam. Luka di tubuhnya menghilang, meskipun dia tetaplah sampah yang tak punya dantian.
"Kenapa aku selalu sial?" tanyanya.
"Kurang ajar!" Erlang Xiao berteriak. Ia mengarahkan cambuknya ke punggung Erlang Xuan.
"Selama seminggu ini kamu kemana saja? Karenamu, anakku harus menikah!" teriaknya sembari menghantamkan cambuk itu ke punggung Erlang Xuan.
"Aku—"
Baaammm
Sebuah tapak menghantam dadanya. Akibatnya, ia kembali tercebur ke kolam petir. Bukannya berhenti, ayahnya semakin menjadi-jadi. Lelaki itu menuangkan racun ke kolam.
"Ini hukumanmu!" Erlang Xiao berjongkok dan menusuk putranya menggunakan belati beracun. Tusukan itu menyebabkan racun menyebar dengan cepat.
"Hoeeekk!"
Erlang Xuan memuntahkan seteguk darah, tapi ayahnya belum puas. Lelaki itu kembali menyangka racun bulan biru ke kolam. Dua racun yang bertolak belakang membuatnya sangat kesakitan.
"Selamat tinggal, pembawa sial!" Erlang Xiao tersenyum sinis. Sebelum pergi, ia membekukan kolam petir, sehingga Erlang Xuan tidak bisa kemana-mana.
"Apakah ini akhir dari hidupku?" tanya Erlang Xuan sembari menahan sakit. Saat ini, tubuhnya sudah mati rasa. Di saat ia mengira hidupnya akan berakhir, liontin giok yang dipakainya bersinar.
Saat sinar itu menghilang, kolam petir sudah rata dengan tanah. Bukan hanya itu, beberapa tumbuh di bekas kolam petir. Selain herbal, di tempat yang sama juga tumbuh tanaman beracun.
"Ukkhuuukk!" Erlang Xuan batuk darah. Untuk kedua kalinya, ia selamat dari kematian.
"Siapapun yang menolongku, aku sangat berterima kasih," katanya sebelum kesadarannya menghilang.
Wuuuussss
Liontin gioknya kembali bersinar. Sinar yang dikeluarkan liontin itu masuk ke tubuhnya dan membentuk dantian yang baru. Di dalam dantian itu hanya ada satu elemen saja, yaitu petir, dan juga racun yang bentuknya mirip akar elemen.
"Hanya ini bisa kulakukan. Sisanya tergantung padamu!" Pria paruh baya muncul di samping Erlang Xuan. Pria itu menjentikkan jarinya, lalu ribuan huruf emas memasuki kepala pemuda yang masih pingsan.
"Sampai jumpa di lain waktu!" Pria itu menghilang lagi.
Udara dingin membangunkannya. Luka bekas tusukan belati ayahnya menghilang secara misterius. Saat merasakan aliran energi di dalam tubuhnya, ia sangat bahagia.
"Akhirnya aku bisa berlatih!" Erlang Xuan duduk bersila. Belum juga memulai kultivasinya, cambuk api sudah mengenainya lebih dulu.
Ctasssss
Cambuk itu kembali menghantam punggungnya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sakit akibat cambuk itu tak dipedulikannya, yang ia pikirkan adalah alasan mengapa cambuk api mengenainya.
"Apa lagi yang kulakukan? Aku baru saja bangun, tapi kau sudah menghukumku lagi!" protes Erlang Xuan.
Bukannya mendapat penjelasan, ayahnya justru menyerangnya dengan puluhan tampak. Ia tidak peduli dan tidak mau tahu pembelaaan Erlang Xuan.
"Benar-benar sampah!" Erlang Xiao menyalurkan api teratai biru ke cambuknya. Tanpa pikir panjang, cambuk itu langsung diarahkan ke Erlang Xuan yang sudah tak berdaya.