Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Stabil Dipermukaan,Retak Dikedalaman
Pertanyaan tentang anak datang tanpa jeda, seperti hujan rintik yang awalnya terasa biasa, lalu pelan-pelan membuat dingin. Naya mulai hafal urutannya. Senyum kecil dulu, lalu jawaban yang sama, dengan nada setenang mungkin.
“Belum waktunya.”
Kalimat itu sudah seperti hafalan. Ia mengucapkannya di teras rumah dinas, di warung dekat kompleks, bahkan saat bertemu orang baru yang sama sekali tidak punya hak untuk bertanya sejauh itu. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada nada tinggi. Semuanya terdengar wajar, seolah-olah hatinya benar-benar baik-baik saja.
Padahal setiap kali kalimat itu keluar, ada sesuatu di dadanya yang mengeras. Bukan sakit yang menusuk, melainkan rasa lelah yang menumpuk. Lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami. Lelah menghadapi tatapan iba yang sering datang setelahnya, seakan ia adalah perempuan yang kurang lengkap.
Naya tidak pernah membawa cerita itu ke rumah. Ia memilih menyimpannya rapat-rapat. Bukan karena tidak percaya pada Adit, melainkan karena ia tahu suaminya sedang berdiri di fase hidup yang menentukan. Adit sedang membangun pijakan, dan Naya tidak ingin menjadi beban tambahan.
Di kantor, Adit berada di titik yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari-harinya dipenuhi rapat, laporan, dan keputusan-keputusan yang menuntut ketelitian. Ia datang lebih pagi dari kebanyakan orang, dan sering pulang ketika langit sudah gelap. Namun wajahnya jarang menunjukkan keluhan.
Sagara Pramudya, atasannya, bukan sosok yang mudah didekati. Pria itu jarang tersenyum, jarang berbasa-basi, dan hampir tidak pernah memberi pujian kosong. Ia lebih suka mengamati dari jauh, memperhatikan detail, lalu menyimpulkan sendiri.
Adit menyadari itu sejak awal. Ia tidak mencoba menarik perhatian. Ia hanya bekerja.
Menyelesaikan tugas satu per satu dengan rapi, tanpa banyak bicara. Ia tahu, di tempat seperti itu, suara paling keras bukan yang paling dihargai—hasil lah yang berbicara.
Suatu sore, setelah rapat panjang yang menguras tenaga, Sagara memanggilnya kembali ke ruangannya. Tidak ada ekspresi khusus di wajah pria itu, seperti biasa.
“Adit,” ucap Sagara singkat.
“Iya, Pak,” jawab Adit, berdiri tegak.
“Kamu pekerja keras,” kata Sagara tanpa intonasi berlebihan.
Kalimat itu sederhana, nyaris datar. Namun Adit terdiam sejenak. Ia tidak terbiasa menerima pengakuan seperti itu. “Terima kasih, Pak.”
“Kamu tidak banyak bicara,” lanjut Sagara, “tapi hasil kerjamu rapi. Itu yang saya butuhkan.”
Sejak hari itu, tanggung jawab Adit bertambah. Ia mulai dilibatkan dalam proyek-proyek yang lebih besar, keputusan-keputusan penting yang dulu hanya ia lihat dari jauh. Bebannya meningkat, begitu pula kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Di rumah, Naya melihat perubahan itu dengan mata yang jeli. Cara Adit berbicara tentang pekerjaannya berbeda. Lebih mantap, lebih terarah. Ia tidak berubah menjadi orang lain, tetapi jelas sedang naik satu tingkat dalam hidupnya.
Naya mendengarkan semua cerita itu dengan penuh perhatian. Ia tersenyum di saat yang tepat, bertanya seperlunya, dan menyiapkan segala hal agar Adit bisa pulang ke rumah dengan kepala lebih ringan. Ia tidak pernah mengatakan bahwa di luar sana, di balik senyum dan jawaban sopannya, ada rasa lelah yang juga ia bawa pulang setiap hari.
Di permukaan, hidup mereka terlihat stabil. Karier Adit menanjak. Rumah tangga berjalan tenang. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kekurangan yang mencolok.
Namun di kedalaman, Naya tahu, ada retakan kecil yang mulai terbentuk. Retakan yang belum terlihat, belum bersuara, tetapi perlahan menunggu waktu untuk melebar.
Kenaikan jabatan Adit datang tanpa perayaan besar. Tidak ada pesta, tidak ada ucapan selamat yang berlebihan. Ia hanya membawa kabar itu pulang ke rumah, disampaikan dengan nada tenang seolah itu hal biasa.
“Aku dapat tanggung jawab baru,” katanya suatu malam.
Naya menoleh, menunggu kelanjutan cerita.
“Sekaligus naik posisi,” lanjut Adit. “Ada fasilitas rumah dinas.”
Kalimat itu membuat Naya terdiam beberapa detik. Bukan karena tidak senang, melainkan karena ia perlu waktu untuk mencerna perubahan yang datang terlalu cepat. Ia tersenyum kecil, lalu berkata pelan, “Alhamdulillah.”
Beberapa hari kemudian, mereka pindah ke rumah dinas itu. Bangunannya luas, rapi, dan terasa asing bagi Naya. Langit-langitnya tinggi, ruangannya banyak, dan setiap sudutnya seolah meminta diisi dengan kehidupan yang lebih besar dari yang selama ini ia jalani.
Naya berjalan pelan menyusuri rumah itu. Tangannya menyentuh dinding, jendela, dan lantai yang bersih mengilap. Ia kagum, tetapi juga canggung. Ada perasaan seolah ia sedang berdiri di tempat yang bukan berasal dari langkah-langkah hidupnya sendiri.
“Mas,” ucapnya pelan, “rumah ini terlalu besar.”
Adit tersenyum, menatap istrinya dengan lembut. “Kita pakai seperlunya saja. Tidak perlu diisi semua.”
Naya mengangguk. Ia tidak membantah. Ia tahu, Adit hanya ingin memberikan yang terbaik. Dan ia bersyukur atas itu. Namun di dalam hatinya, ia merasa perlu tetap berpijak di tanah yang ia kenal.
Hari-hari di rumah dinas berjalan tenang. Adit semakin sibuk, tetapi lebih teratur. Tidak ada lagi perjalanan panjang yang menguras tenaga. Setiap malam, ia pulang ke rumah yang sama, dengan wajah lelah namun lebih stabil.
Naya mengisi waktunya dengan cara yang ia pahami. Ia mulai mengatur keuangan dengan lebih rapi. Setiap pemasukan dicatat, setiap pengeluaran dipertimbangkan. Dari kebiasaan itulah, sebuah rencana tumbuh pelan-pelan di kepalanya.
Ia membeli sebidang tanah. Tidak besar, tetapi strategis. Letaknya tidak jauh dari jalan utama. Dengan tabungan yang ia kelola sejak awal pernikahan, Naya membangun rumah kos. Sederhana, tetapi bersih dan tertib.
Adit sempat terkejut saat Naya menceritakan rencananya.
“Kamu yakin?” tanya Adit.
Naya mengangguk. “Aku tidak mau hanya bergantung. Bukan karena tidak percaya, Mas. Tapi aku ingin kita punya pegangan.”
Adit terdiam, lalu tersenyum bangga. Ia tahu, istrinya tidak pernah berpikir pendek. “Kalau itu yang kamu yakini, aku dukung.”
Kos-kosan itu mulai terisi. Pelan-pelan, hasilnya terasa. Tidak besar, tetapi cukup memberi rasa aman. Naya mengelolanya sendiri, memastikan semuanya berjalan tertib. Ia tidak ingin sekadar memiliki, ia ingin bertanggung jawab.
Kemandirian itu memberi Naya ketenangan baru. Setidaknya dalam satu hal, ia merasa tidak kosong. Ia merasa berguna, merasa mampu berdiri di samping Adit, bukan di belakangnya.
Namun di tengah semua kestabilan itu, ada perasaan asing yang sulit ia jelaskan. Hidup mereka terlihat semakin mapan, semakin rapi, semakin diakui.
Memasuki tahun ketiga pernikahan, kehidupan Naya dan Adit tampak semakin tertata. Rumah dinas menjadi tempat pulang yang nyaman, kos-kosan berjalan baik, dan penghasilan mereka stabil. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada krisis yang terlihat.
Namun pertanyaan tentang anak tidak pernah benar-benar berhenti.
Awalnya hanya dari tetangga sekitar. Lalu dari rekan Adit. Bahkan dari orang-orang yang baru dikenal saat acara tertentu.
“Sudah lama menikah ya?”
“Belum dikaruniai juga?”
“Sudah periksa belum?”
Naya selalu menjawab dengan senyum yang sama.
“Belum waktunya.”
Kalimat itu sudah ia hafal di luar kepala. Ia mengucapkannya tanpa suara bergetar, tanpa ekspresi berubah. Namun setiap kali, ada sesuatu yang mengeras di dadanya. Bukan marah. Bukan sedih berlebihan. Hanya lelah yang mengendap.
Di rumah, Naya tetap menjadi istri yang sama. Ia menyambut Adit dengan hangat, menyiapkan makan malam, mendengarkan cerita pekerjaannya. Tidak ada keluhan. Tidak ada tangisan.
Adit tidak pernah tahu bahwa setiap pertanyaan dari luar selalu menyisakan luka kecil yang harus Naya tutup sendiri.
Ia memilih diam.
Bukan karena lemah.
Tetapi karena ia tidak ingin kebahagiaan mereka retak hanya karena hal yang belum bisa ia ubah.
Sementara itu, Ratna masih berada di pinggir kehidupan mereka. Sesekali muncul lewat pesan atau kabar tak langsung. Nada bicaranya masih tajam, masih menyimpan ancaman, tetapi tidak lagi memiliki kuasa nyata.
Naya memperhatikan satu hal penting: Ratna hanya bisa bicara.
Tidak ada langkah nyata. Tidak ada serangan langsung. Dan dari situ, rasa takut Naya perlahan memudar. Ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang perempuan itu. Ia memilih fokus pada hidup yang sedang ia bangun.
Namun jauh dari rumah besar dan hidup yang rapi itu, di sebuah tempat yang berbeda, kehidupan berjalan dalam garis yang jauh lebih sempit.
...----------------...
Seorang perempuan duduk di lantai rumah sederhana. Dindingnya kusam, ruangannya sempit. Di hadapannya, seorang anak laki-laki bermain dengan mobil-mobilan plastik yang warnanya sudah pudar.
Anak itu tertawa kecil, polos, tidak tahu apa-apa.
Perempuan itu menatap wajah anak tersebut lama. Semakin hari, semakin jelas kemiripan yang tak bisa ia sangkal. Garis wajah, bentuk mata, bahkan senyum kecilnya—semuanya membawa ingatan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia menunduk, menghitung uang di tangannya.
Jumlahnya sedikit. Tidak cukup untuk kebutuhan bulan depan, apalagi untuk masa depan.
“Bagaimana nanti?” gumamnya lirih.
Pikirannya melayang ke masa lalu.
Ke kantor lama tempat ia dulu bekerja sebagai office girl.
Ke ruangan tertutup itu.
Ke hari yang ingin ia hapus dari ingatan, tetapi terus hidup di kepalanya.
Kalimat itu kembali terngiang, jelas, dingin, dan kejam.
Aku tidak sengaja melakukannya.
Anggap saja ini kesalahan kamu.
Sebaiknya kamu pergi.
Aku akan kasih uang.
Kalau hamil, jangan datang lagi.
Kalau bisa, gugurkan saja.
Air matanya jatuh satu per satu. Tanpa suara. Tanpa isak. Ia tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun. Ia memilih pergi, membawa rahasia dan luka itu sendirian.
Anak di hadapannya adalah satu-satunya alasan ia bertahan. Namun wajah polos itu juga menjadi pengingat dari masa lalu yang tidak pernah ia pilih.
Ia memeluk anak itu erat.
Takut kehilangan.
Takut masa depan.
Takut jika suatu hari rahasia ini tidak lagi bisa disembunyikan.
Ia tahu satu hal: hidup tidak akan berhenti menagih.
Selamat sore readers selamat membaca
Jangan lupa like komennya ya
Terimakasih