hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: pudarnya Kebencian
Malam itu, setelah Vian secara mengejutkan membela Safira di meja makan, suasana di kediaman Maheswara tidak pernah benar-benar pulih. Raga masuk ke ruang kerjanya dengan amarah yang tertahan, membanting pintu hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah. Ratih sibuk menenangkan Maya yang menangis histeris di kamar karena merasa posisinya sebagai "putri kesayangan" mulai terancam. Namun, di tengah kekacauan itu, Raka—si anak sulung yang biasanya paling tenang dan logis—hanya bisa duduk terdiam di ruang tengah yang luas.
Raka menatap tangga kayu mahoni yang menuju ke kamar adik-adiknya. Pikirannya melayang pada ucapan Vian yang tajam. “Gue cuma pakai mata gue sendiri buat liat kenyataan!” Kalimat itu terus terngiang, menghujam kesadaran Raka. Kenyataan apa yang dilihat Vian? Mengapa adiknya yang paling manja dan penurut itu tiba-tiba berubah haluan secara drastis?
Raka menyadari satu hal yang menyakitkan: ia adalah orang yang paling sering mengabaikan Safira. Ia selalu menganggap Safira sebagai beban yang harus diatur agar tidak mempermalukan nama keluarga. Namun sekarang, ia merasa ada sesuatu yang besar yang telah ia lewatkan. Dengan langkah berat, Raka berdiri dan berjalan menuju kamar Vian. Ia mengetuk pintu pelan.
"Vian, ini Abang. Boleh masuk?"
Setelah beberapa saat, pintu terbuka. Vian tampak sedang duduk di tepi tempat tidur, matanya masih merah karena emosi. Di meja belajarnya, ada sebuah kotak susu cokelat yang sama dengan yang ia berikan pada Safira tadi sore.
"Ada apa, Bang? Kalau mau ceramah soal sopan santun ke Papa, mending Abang keluar," tanya Vian malas.
Raka masuk dan duduk di kursi belajar, menatap adiknya dengan serius. "Abang nggak mau ceramah. Abang cuma mau kamu jujur. Apa yang terjadi tadi sore? Nggak mungkin kamu bela Safira cuma karena pengen cari gara-gara sama Maya."
Vian terdiam cukup lama. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakannya. Ia ingat pesan Safira untuk tidak bicara pada Papa, tapi ia merasa Raka perlu tahu betapa butanya mereka selama ini.
"Bang... kalau seandainya gue dikeroyok preman di gang belakang sekolah, menurut lo siapa yang bakal dateng?" tanya Vian tiba-tiba.
Raka mengerutkan kening. "Ya Abang, atau Bima. Atau mungkin kita panggil pengawal Papa kalau situasinya bahaya."
"Gue tadi sore diadang tiga preman, Bang. Mereka bawa pisau, mereka mau ngerampok gue," ucap Vian dengan suara yang mulai bergetar karena trauma yang baru benar-benar terasa. "Dan bukan lo, bukan Bang Bima, bukan Papa yang ada di sana. Tapi Kak Fira."
Raka membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. "Safira? Dia... dia lari cari bantuan buat kamu?"
Vian menggeleng kuat-kuat, air mata mulai menggenang. "Enggak. Dia sendirian. Dia hajar mereka semua, Bang. Cuma pake tangan kosong. Gerakannya... gue nggak pernah liat orang berantem sekeren itu. Dia berdiri di depan gue, lindungin gue tanpa takut sedikit pun meskipun lawannya bawa senjata."
Raka menyandarkan punggungnya, merasa kepalanya mendadak pening. Bayangan Safira—gadis mungil yang selalu mereka kucilkan—berkelahi melawan tiga preman bersenjata demi melindungi Vian, benar-benar merusak seluruh logika yang selama ini ia bangun.
"Dia bilang jangan kasih tahu Papa," lanjut Vian lirih. "Katanya Papa nggak bakal percaya dan malah bakal nuduh dia yang cari masalah atau main-main. Dan bener kan? Tadi di meja makan, Papa langsung nuduh dia macem-macem. Gue ngerasa jahat banget selama ini, Bang. Kita semua jahat sama dia."
Penyesalan itu datang seperti ombak besar yang menghantam karang di dada Raka. Ia teringat betapa seringnya ia membiarkan Maya memfitnah Safira, betapa seringnya ia menatap Safira dengan tatapan menghakimi. Ternyata, selama ini mereka telah membuang pelindung yang paling tulus demi memuja kepalsuan.
"Abang harus bicara sama dia," gumam Raka pelan, suaranya penuh beban penyesalan.
Pertemuan di Tengah Malam
Raka keluar dari kamar Vian dan berjalan perlahan menuju kamar Safira di ujung lorong yang remang. Kamar itu selalu tertutup rapat, seolah-olah Safira sedang membangun bentengnya sendiri yang tak tertembus di dalam rumah ini. Raka mengetuk pintu dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Safira? Ini Kak Raka. Bisa kita bicara?"
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Raka mencoba memutar knop pintu, dan ternyata tidak dikunci. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang minim cahaya itu. Kamar Safira sangat rapi, hampir terlalu bersih untuk seorang remaja. Tidak ada poster idola atau barang mewah, hanya ada deretan buku dan sebuah meja kecil. Safira sedang duduk di balkon, menatap kegelapan langit malam.
Safira tidak menoleh, namun ia tahu siapa yang masuk dari suara langkah kakinya. "Belum puas memojokkanku di meja makan tadi, Kak Raka? Atau ada perintah baru dari Papa?"
Raka berjalan menuju balkon dan berdiri di belakangnya, menjaga jarak. "Vian cerita semuanya, Fir. Soal kejadian di gang itu."
Safira terdiam sejenak, lalu terdengar kekehan hambar yang menyayat hati. "Anak itu memang sulit menjaga rahasia. Harusnya aku membiarkannya saja tadi sore."
"Kenapa kamu nggak bilang, Fir? Kalau kamu bilang kamu nolong Vian, Papa nggak akan marah," ucap Raka dengan nada memohon.
Safira akhirnya berbalik, menatap Raka dengan mata yang dingin dan jernih di bawah cahaya bulan. "Papa tidak akan marah? Kak Raka, jangan naif. Papa hanya akan bilang kalau itu memang tugasku, atau lebih buruk lagi, dia akan menuduhku membayar preman-preman itu agar aku terlihat seperti pahlawan. Aku sudah tidak butuh pengakuan dari pria itu. Aku sudah selesai dengan kalian."
"Aku minta maaf, Safira," suara Raka terdengar serak. "Maaf karena selama ini aku buta. Maaf karena aku membiarkanmu sendirian di rumah ini."
"Maaf?" Safira berdiri, berjalan melewati Raka masuk ke dalam kamar. "Maaf itu terlalu mudah untuk diucapkan sekarang, Kak. Maaf tidak bisa menghapus tahun-tahun di mana aku menangis sendirian di kamar ini, berharap salah satu dari kalian mengetuk pintu hanya untuk mengajakku makan siang. Maaf tidak bisa mengembalikan harga diriku yang kalian injak-injak demi menyenangkan Maya."
Raka berbalik, menatap punggung adiknya yang tampak begitu kuat namun menyimpan luka yang teramat dalam. "Aku akan memperbaikinya. Aku janji, Safira."
"Jangan berjanji pada sesuatu yang tidak bisa kamu tepati," jawab Safira tanpa emosi. "Sekarang keluarlah. Aku ingin istirahat."
Raka keluar dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: Safira bukan lagi membenci mereka. Dia sudah sampai pada tahap yang lebih parah, yaitu masa bodoh. Dan bagi seorang kakak, diabaikan oleh adiknya sendiri adalah hukuman yang paling berat.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas