Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Kembali
Syuting di Berlin akhirnya resmi selesai tepat sebulan sejak hari pertama kamera dinyalakan. Kota itu meninggalkan banyak kenangan, dingin yang menggigit, malam-malam panjang di lokasi, tawa kru, dan perasaan-perasaan yang tumbuh tanpa izin. Pagi itu, rombongan kru film memenuhi bandara dengan koper besar, jaket tebal, dan wajah lelah bercampur lega.
Nabila melangkah pelan sambil menarik kopernya. Ia mengenakan topi dan kacamata hitam, berusaha tampil biasa saja. Dalam kepalanya, dia hanya ingin cepat sampai rumah, tidur panjang, dan menata ulang pikirannya yang berantakan. Berlin telah selesai, tapi hatinya justru semakin tidak tenang.
Nathan berjalan beberapa langkah di belakangnya. Sejak malam-malam terakhir syuting, jarak di antara mereka terasa aneh, mereka resmi punya hubungan tapi masih memiliki pasangan satu sama lain. Ada hal-hal yang tak terucap, menggantung di udara. Nathan tampak tenang di luar, tapi matanya berkali-kali mencari sosok Nabila di tengah keramaian.
Begitu mereka keluar ke area kedatangan internasional, suara kamera dan teriakan kecil langsung menyambut.
“Mas Lukman! Mbak Nabila di sini!”
Langkah Nabila mendadak terhenti. Jantungnya seperti dijatuhkan dari ketinggian.
Di balik barisan pembatas, berdiri Lukman. Suaminya. Rapi, tersenyum lebar, dan yang paling membuat Nabila panik, dikelilingi beberapa wartawan dan fotografer. Entah sejak kapan mereka tahu jadwal kepulangannya.
“Nabila!" ucap Lukman sambil melangkah maju, wajahnya penuh antusias. “Akhirnya pulang.”
Refleks Nabila menoleh cepat ke kanan dan kiri. Kilatan kamera mulai menyala. Tak ada jalan mundur. Ia menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum yang selama ini sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.
“Mas Lukman,” katanya lembut, seolah tak ada jarak apa pun di antara mereka.
Lukman langsung merangkul pundaknya. Hangat dan akrab. Terlalu sempurna untuk konsumsi publik. Ia bahkan mengecup kening Nabila, lalu tanpa ragu mencium pipinya cukup lama. Tepuk tangan kecil dan bisik-bisik wartawan mengiringi momen itu.
“Selamat datang kembali, pasangan harmonis!” seru seseorang.
Nabila tertawa kecil, tawa yang terdengar manis namun terasa hampa di dadanya. Tangannya menepuk lengan Lukman, seakan menegaskan kedekatan yang seharusnya memang ada. Dalam hatinya, ada perasaan bersalah yang menusuk, bukan pada Lukman, tapi pada dirinya sendiri.
Dari kejauhan, Nathan menyaksikan semuanya. Langkahnya melambat, lalu berhenti. Ada sesuatu yang mengeras di dadanya, perasaan yang tidak dia siapkan dan tidak dirinya punya hak untuk rasakan. Melihat Lukman memeluk Nabila dengan begitu wajar, begitu sah, membuat dadanya sesak. Cemburu, kata itu terlintas jelas, dan Nathan membencinya.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia ingin berpaling, tapi matanya seperti terkunci pada pemandangan itu. Senyum Nabila. Tatapan matanya ke Lukman. Sentuhan yang tak bisa ia sangkal adalah milik orang lain.
“Romantis banget ya," ucap salah satu kru di samping Nathan pelan.
Nathan hanya mengangguk singkat. Tentu saja suaminya. Apa yang sebenarnya ia harapkan?
Beberapa wartawan mulai mengarahkan mikrofon.
“Mbak Nabila, kangen nggak sama suami setelah sebulan syuting di luar negeri?”
“Kangen banget,” jawab Nabila cepat, suaranya ringan. “Mas Lukman selalu support aku.”
Lukman tersenyum bangga, lalu merangkul Nabila lebih erat. “Aku percaya sama istriku.”
Kata-kata itu terdengar tulus dan justru itulah yang membuat Nathan merasa kalah telak, tanpa pernah benar-benar bertarung. Ia tahu posisinya.
Nathan menunduk, lalu mengambil langkah pergi bersama beberapa kru lain. Dia tidak ingin terlihat terlalu lama di sana, takut ekspresinya mengkhianati perasaannya sendiri.
Sementara itu, Nabila menangkap sosok Nathan dari sudut matanya. Hanya sekilas. Tapi cukup. Ada sesuatu di cara Nathan berbalik, di bahunya yang tegang, yang membuat dada Nabila ikut terasa nyeri.nIa tetap tersenyum. Tetap berpose. Tetap menjadi Nabila yang diharapkan semua orang.
Namun di dalam hati, dirinya sadar, kepulangan ini bukan akhir dari apa pun. Justru mungkin awal dari konflik yang lebih rumit.
Nathan yang berjalan menjauh dengan langkah tertahan, akhirnya mengakui satu hal pada dirinya sendiri, selama sebulan di Berlin, dia bukan hanya kehilangan kendali atas perannya sebagai aktor, tapi juga atas hatinya. Sayangnya, hati itu jatuh pada perempuan yang sudah menjadi istri orang lain.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti