Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antusias 13
"Masak masak sendiri, nyuci baju sendiri. Eleeeh kenapa malah jadi nyanyi lagunya Bang Caca Handika sih. Oh soalnya relate hahaha. Hadeeeeh."
Rohan tengah mencuci baju di belakang rumah karena dia meletakkan mesin cucinya di sana. Terasa lebih menyenangkan dan lega katanya. Tapi tetap, aliran air sabunnya dia arahkan ke kamar mandi agar tidak merusak tanah di sekitarnya.
Bagi Rohan, melakukan pekerjaan rumah seperti ini bukan sesuatu yang menyulitkan. Dia sudah terbiasa hidup mandiri setelah ibunya pergi dari dunia ini sedangkan ayahnya sudah memiliki keluarga lain dan entah sekarang berada dimana rimbanya.
Ya bagi Rohan hidup tanpa orang tua lengkap adalah sesuatu yang biasa. Dan sebenarnya dia sangat berharap bahwa anak-anaknya tidak mengalami hal tersebut. Maka dari itu dia memperlakukan Ista dengan sangat baik.
Akan tetapi, takdir tidak ada yang tahu. Sebaik dia meratukan Ista, nyatanya wanita itu tetap tidak puas dan malah memilih pria lain, meninggalkan dirinya dan anak-anaknya begitu saja.
"Ughh sial, aroma itu lagi. Aroma kopi. Siapa yang nyeduh kopi? Bestari? Apa dia kesini lagi sambil membawa kopi?"
Ketika Rohan tengah sibuk dengan kenangan masa lalunya, tiba-tiba hidungnya mencium aroma kopi. Dan itu sungguh kuat. Tapi anehnya dia langsung mengingat Bestari.
Rohan pun bergegas mengambil cuciannya dari mesin cuci dan membawanya ke depan untuk di jemur. Sekalian dia ingin melihat, apa benar Bestari ada di rumahnya atau tidak.
Rohan tidak lewat dalam rumah tapi lewat belakang dan memutar dari samping rumah. Dan saat sudah sampai di depan rumah, dia bisa mendengar suara Bestari.
"Gadis itu. Ada apa dia pagi-pagi dateng ke sini,"gumamnya lirih.
"Oh Om Dud udah selesai yang nyuci. Mau dibantu nggak jemur bajunya. Atau mau dibantu hal lainnya?" ucap Bestari sambil menaikkan alisnya saat melihat Rohan mulai menjemur baju.
"Terimakasih Bestari, saya bisa sendiri kok.Oh iya, apa yang membawamu pagi-pagi kemari?" Dari pada penasaran, Rohan langsung bertanya kepada gadis itu tentang kedatangannya di pagi hari seperti ini. Ini baru jam enam lebih sedikit, dan gadis itu sudah duduk nyaman di lantai rumahnya.
"Oh ini, bawain anak-anak kukis. Tapi aman kok Om Dud, aku bikinnya dari bahan yang gluten free, dan juga aku pake stevia buat pengganti gulanya. Sebenernya sama mau ngajakin Om Dud ngopi bareng, tapi Om Dud nya nggak suka kopi. Ya udah aku bawa sendiri terus aku minum sendiri bareng anak-anak,"jawab gadis itu dengan santai. Tak hanya itu, Bestari juga kembali menikmati kopinya tersebut.
Aroma kopi yang menguar sungguh membuat Rohan menahan nafasnya. Tapi dia juga menelan saliva nya sendiri setiap suara tegukan Bestari yang terdengar jelas di telinganya.
"Sialan, bener-bene godaan yang nyata,"umpat Rohan dalam hatinya. Ia lalu menfokuskan kembali matanya dengan cucian yang siap untuk dijemur.
Memang benar, cara itu berhasil. Setidaknya Rohan tidak lagi melihat Bestari meminum kopi, meski aroma itu tetap lah tidak bisa dihilangkan dari indra penciumannya.
"Om Dud, beneran nggak suka kopi. Gimana kalau nyoba dulu aja. Enak deh Om, sekali nyoba pasti nanti mau lagi. Besok aku bawain dua jenis kopi yang udah diseduh. Aku punya Arabica Aceh Gayo sama Robusta Temanggung. Nah icip deh Om, sekali aja ya?" ucap Bestari tiba-tiba menawari Rohan kopi lagi.
Pria berstatus Duda itu seketika tercengang. Dia lalu menghentikan kegiatan menjemurnya.
Rohan pikir Bestari hanya sekedar suka dengan kopi. Tidak disangka gadis itu benar-benar menyukai dan menikmatinya. Terbukti dia memiliki beberapa jenis kopi, dan Rohan menduga bahwa Bestari pasti memiliki banyak juga yang lainnya.
Namun, Rohan tak ingin lagi terjebak dengan minuman satu itu. Sudah cukup bagi dirinya berusaha untuk meninggalkannya dan melupakannya. Rohan tidak ingin kembali.
"Nggak usah Bestari, saya beneran nggak suka kopi,"ucapnya bohong. Ya tentu saja Rohan bohong. Alasannya berkata demikian karena tidak ingin lagi mengingat kenangan bersama istrinya.
"Oh gitu. Ya udah deh kalau nggak suka. Padahal aku pengen ngenalin sama Om Dud nikmatnya kopi di pagi hari dalam suasana dingin begini. Tapi kalau emang nggak suka, ya udah nggak apa. Maaf kalau sedikit memaksa. Tapiiiii, kalau Om Dud tertarik bilang aja ya. Aku bakalan bikinin buat Om Dud,"jawab Bestari dengan wajah cerianya. Dia tidak terlihat kecewa kali ini atas penolakan dari Rohan.
"Oke, makasih buat tawarannya ya, Bestari,"sahut Rohan. Sebenarnya dia tidak enak karena sudah dua kali menolak tawaran kopi dari Bestari, namun Rohan melakukan itu karena dia masih berusaha untuk melupakan kenangan dalam kopi itu.
Suasana yang sangat damai dan juga menyenangkan. Rohan bisa dengan tenang menjemur pakaian berkat Bestari. Tidak bisa dia pungkiri, kedatangan Bestari ke rumah lalu makan bersama dan bermain dengan anak-anaknya membuat pekerjaan rumah lebih cepat dikerjakan.
Rohan bahkan bisa langsung memasak sarapan. Dan kali ini dia berkesempatan untuk membalas kebaikan Bestari dengan mengajak gadis itu sarapan bersama.
"Woaah ini Om Dud yang masak sendri? Luar biasa sekali bisa masak macam-macam makanan. Jujur , aku nggak bisa, Om Dud. hahaha." Bestari tertawa renyah. Dia mentertawakan dirinya sendiri yang tidak pandai dalam satu hal itu.
"Setiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Nggak masalah. Nah sekarang mari kita sarapan lebih dulu,"ucap Rohan.
Bestari tersenyum simpul, dia lalu mengambil piring lalu menyendok nasi dan menyerahkannya di depan Rohan. Dia melakukan hal yang sama kepada Rishi dan Riesha, barulah dia yang terakhir.
Rohan sama sekali tidak menyangka Bestari akan melakukan hal tersebut. Ia tidak berpikir sampai sejauh itu karena selama ini di rumah, dia lah yang melakukannya.
Ya itu memang benar, selama menikah dengan ista, Rohan benar-benar memperlakukan istrinya bak seorang ratu. Akan tetapi dia lupa bahwasannya dia juga raja yang juga butuh diperlakukan bak raja oleh ratunya.
"Terimakasih, Bestari,"ucap Rohan lirih. Hatinya berdenyut nyeri mengingat hal sederhana seperti ini pun tak pernah dia dapatkan.
"Sama-sama Om Dud, ini bukan apa-apa. Om Dud kan udah masak nih,kayaknya nggak enak aja kalau tinggal makan juga heheheh,"sahut Bestari. Dia yang sedari kecil selalu berusaha dalam mendapatkan sesuatu, tidak nyaman jika mendapat sesuatu dari orang lain tanpa melakukan apa-apa.
"Ibun, aku mau udan dolennya. Bisa ambilkan,"ucap Riesha yang duduk di sebelah Bestari persis.
"Tentu saja sayang, boleh. Sini Ibun ambilkan. Apa Riesha bisa makan sendiri?" jawab Bestari sambil mengambilkan udang goreng untuk anak itu.
"Bisa don, aku uda besal. Bisa makan sendili,"sahut Riesha dengan wajah bangganya.
Bestari sungguh merasa gemas dengan putri kedua Rohan tersebut. hari ini, dia benar-benar mendapatkan sesuatu yang sangat menyenangkan setelah waktu itu dibuat kesal dengan sang mantan kekasih.
"Kakak, aku juga mau diambilkan,"sahut Rishi.
"Eeeh tentu saja sayang, sini kakak ambilkan. Rishi mau apa hmmm?" sahut Bestari dengan senyumannya yang lebar.
Rohan sedari tadi hanya menyaksikan pemandangan di depannya sambil terdiam. Satu hal yang bisa dia lihat dan ketahui, anak-anaknya merasa sangat senang dengan keberadaan Bestari.
"Kenapa ya mereka lebih antusias saat ada gadis ini?"
TBC
Manteman, masih ada yang ngikutin Rohan dan Bestari kan? Aku harap masih ada ya. Dan aku ucapin terimakasih karena masih ada yang ngikutin. Semoga temen-temen selalu sehat dan bahagia, dilancarkan segala urusannya. Aamiin