sinopsis :
Mendadak Nisa harus Menikah menggantikan posisi kakak'Nya yang membatalkan pernikahannya seminggu sebelum hari pernikahan,
Akankah pernikahan Nisa berjalan lancar"..?
akankah kakak'Nya menyesali keputusannya"..?
ikuti Terus Novel "Menikahi Calon Suami kakak'ku" untuk mengetahui cerita selengkapnya 🤗❤️
🖋️ Noor Hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran Bayi Kakak'ku
Sekitar kurang lebih satu bulan kak Suraya tinggal bersama kami, tidak ada masalah yang timbul seperti yang ku khawatirkan, ya.. mungkin karena Mas Rudi sibuk bekerja pergi pagi pulang malam, jadi mereka jarang bertemu, kalau Sabtu Minggu pun Mas Rudi memanfaatkan waktu untuk mengajaku keluar, jadi tidak ada kesempatan untuk mereka bicara berdua.
Malam ini setelah pulang dari makan malam, aku mengajak Mas Rudi mampir ke toko bayi,
Karena perkiraan kak Suraya melahirkan satu Minggu lagi, sebelumnya aku dan kak Suraya sudah membeli perlengkapan bayi tapi masih ada beberapa yang kurang jadi mumpung sekalian jalan aku ajak Mas Rudi mampir ke toko.
"Liat ini Mas... lucu banget.." ucapku melihat baju bayi yang sangat menggemaskan.
Ya.. tidak bisa di pungkiri aku juga sudah begitu mendambakan memiliki buah hati.
Mas Rudi hanya tersenyum mengusap kepalaku.
"Apa sudah semua?" tanya Mas Rudi pelan.
Aku mengangguk dengan sedikit menyunggingkan senyum.
"Kalau begitu kita bayar dan cepat pulang, ntah kenapa perasaan Mas gak enak,"
"Baiklah aku akan segera bayar Sekarang,"
Setelah selesai membayar kamipun langsung bergegas pulang.
Aku yang melihat Mas Rudi gelisah membuat perasaanku ikut resah.
"Apa terjadi sesuatu pada kak Suraya?" batinku.
Beberapa saat kemudian kamipun sampai dirumah.
Baru saja kami turun dari mobil, kami dikejutkan oleh jeritan kak Suraya.
Kami pun langsung berlari kedalam.
"Kak Suraya..." Aku langsung berlari ke kamarnya.
"Sakiiiiiittttttt....." Jerit Kak Suraya
Terlihat Mbak Inah di samping Kak Suraya sedang mengelus - elus perut Kak Suraya.
"Kenapa gak dibawa kerumah sakit Mbak?" tanyaku.
"Maaf Bu.. saya pikir Bu Suraya akan melahirkan dengan mudah, jadi saya hanya panggil Bidan dekat rumah,"
"Lalu sekarang dimana Bidannya?" tanya Mas Rudi.
"Tadi sedang menangani pasien lain jadi Bu Suraya suruh bersabar," jelas Mbak inah
"Ya gak bisa dong Mbak, Kak Suraya sudah kesakitan begitu kok disuruh sabar?" Aku jadi sedikit jengkel
"Sabar Dek, kita tunggu sebentar lagi, kalau memang masih lama kita bawa Mbak Suraya ke rumah sakit,"
Aku pun setuju dengan ucapan Mas Rudi.
"Tolong ambilkan air putih segelas Mbak," perintah Mas Rudi.
Mbak inah pun keluar mengambil segelas Air putih.
Mas Rudi duduk di tepi ranjang di samping Kak Suraya yang sedang kesakitan.
"Mbak.. ikuti saya," tutur Mas Rudi.
"Haanah Waladat Maryam, Wa Maryam Waladat Iisaa, Ukhruj Ayyuhal Mawluud, Biqudratil Malikil Ma'buud"
Dengan terbata-bata kak Suraya mengikuti Mas Rudi.
"Haanah Melahirkan Maryam, Maryam melahirkan Iisaa, wahai anak yang akan dilahirkan, lahirlah dengan kekuasaan Allah yang Maha menguasai yang disembah.
Mas Rudi pun meniupkan Doa itu ke air putih yang tadi Mbak Inah Ambil.
"Minum separuhnya aja Mbak," ucap Mas Rudi.
Kak Suraya pun menuruti.
"Dek separuhnya kamu olesin ke perut Mbak Suraya, aku akan menjemput ibu, barang kali dengan adanya ibu, Mbak Suraya lebih cepat melahirkan,"
Aku mengangguk dan mengolesi perut kak Suraya dengan Air Do'a yang Mas Rudi berikan.
"Sambil terus baca Doa Maryam kak, biar melahirkannya gampang," ucapku
Kak Suraya masih meruntih kesakitan, aku mengusap-usap punggung kak Suraya sambil membaca shalawat Nabi.
Beberapa menit kemudian Bidan pun datang.
Bidan pun langsung memeriksa kak Suraya.
"Ini baru pembukaan lima," ujar Bidan.
"Tapi ini sudah sakit banget Bu... Sakiiiiiittttttt..." jerit Kak Suraya.
"Yang sabar Mbak..." ucap Bidan menenangkan.
"Tapi ini sakiiiiiittttttt banget aku gak tahan lagi," triak kak Suraya.
"Banyakin baca Do'a dan sholawat," ucap Bidan
Selang beberapa menit Mas Rudi pun datang bersama ibu dan Rani.
"Ibuuuu.... Sakiiiiiittttttt banget..." Kak Suraya mengulurkan tangannya ke arah ibu yang baru sampai.
Ibupun langsung duduk di tepi ranjang kak Suraya.
"Istighfar Suraya, istighfar yang banyak," ucap ibu sembari memegang tangan kak Suraya.
"Maaf Mbak bukan saya ingin menggurui, tapi sebaiknya Mbak Suraya meminta maaf kepada ibu dan yang lain barang kali ada kesalahan yang membuat Mbak sulit melahirkan" jelas Mas Rudi.
"Ibu... Maafin Suraya.. Maafin Suraya karena selama ini Suraya tidak berbakti pada ibu dan Suraya malah membuat malu ibu," ucap kak Suraya dalam tangisnya.
"Ibu maafin nak, yang sudah ya sudah kedepannya jangan diulangi lagi," ucap ibu.
"Nisa... Rudi... Aku juga minta maaf pada kalian, terutama padamu Rudi, maafkan aku atas kesalahanku padamu,"
"Aku sudah memaafkan mbak Suraya, sebelum Mbak Suraya meminta maaf," ucap Mas Rudi.
"Aku juga sudah memaafkanmu kak," ucap ku sedih.
"Sekarang dibaca lagi Do'anya.." ucap ku
Terlihat kak Suraya membaca Do'a sambil menahan sakitnya,
Sementara Bidan memeriksa kembali dan mengatakan sudah pembukaan tujuh.
"Ayo keluar Dek.. pinter.. anak nurut denger kata Mbah Uti kan?" bisik ibu sembari mengelus - elus perut kak Suraya.
Kak Suraya kembali menjerit kesakitan.
"Aku ingin buang Air.." triak Suraya.
Bidan pun kembali memeriksa.
"Ini sudah pembukaan sembilan dan kepala bayi sudah kelihatan," ucap Bidan.
Beberapa menit kemudian pembukaan pun bertambah dan kak Suraya siap mengeluarkan bayinya.
Bidan menginstruksikan agar kak Suraya mendorong dengan kuat, kak Suraya terus mendorong dengan sekuat tenaga, dengan terus diiringi shalawat dari bibir ibu yang tak henti suara tangis bayi pun memecahkan ketegangan kami semua.
"Alhamdulillah...." Ucapan syukur keluar dari bibir kami semua.
"Perempuan atau laki-laki Bu?" tanya kak Suraya yang memang selama kehamilan tidak mau USG.
"Perempuan Mbak," jawab bidan.
Bidan pun menempelkan sang bayi kedada ibunya untuk sesat.
"Ini siapa yang mau Adzanin?" tanya Bidan.
Aku pun langsung bergegas keluar untuk memanggil Mas Rudi yang dari tadi menunggu di luar.
"Mas.. Adzanin bayinya,"
Mas Rudi mengangguk dan langsung masuk kedalam.
Mas Rudi pun menggendong sang bayi lalu mengumandangkan Adzan di telinga kanan sang bayi, dilanjutkan dengan iqamah di telinga kiri sang bayi.
Kemudian Mas Rudi melanjutkan membaca surah surat QS. Al Qadr di telinga kanan sang bayi sebanyak tiga kali,
Sebab bayi yang di bacakan ini ketika Ia baru lahir, Allah tidak akan menakdirkan Dia zina sepanjang hidupnya.
Setelah selesai Bidan pun mengambil sang bayi untuk di bersihkan.
"Selamat kak" Aku memeluk kak Suraya sesaat.
"Terimakasih," wajah kak Suraya terlihat sangat sedih.
Ya aku tau pasti kak Suraya sedih dengan keadaannya, wanita mana yang tidak sedih mengandung melahirkan seorang diri, tanpa suami disisinya.
Bersambung...
*****
maaf baru sempet up lagi, Author sibuk lebaran 😄🙏
itu adus apa namah?