Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya?
Sudah satu minggu sejak aku diizinkan bangun dari tempat tidur.
Satu minggu sejak dokter mengatakan tubuhku akhirnya cukup kuat untuk kembali beraktivitas normal.
Dan satu minggu juga sejak Ashar berubah menjadi manusia paling protektif yang pernah kutemui.
Aku berdiri di dapur sambil menuangkan teh hangat ke dalam dua gelas.
Dari ruang makan, aku bisa melihat Ashar duduk di kursinya dengan laptop terbuka. Seperti biasa. Seolah-olah dunia di luar layar itu tidak terlalu penting baginya.
Padahal aku tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Sejak aku sakit, dia yang paling panik.
Yang paling sering memastikan aku makan.
Yang selalu menanyakan apakah aku sudah minum obat.
Yang beberapa kali bahkan memeriksa dahiku hanya untuk memastikan aku tidak demam.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga.
Pria yang dulu terlihat begitu kaku saat pertama kali kami menikah, sekarang justru terlihat seperti seseorang yang takut aku pecah jika disentuh terlalu keras.
Aku membawa dua gelas teh ke meja makan.
"Ashar."
Dia langsung menoleh.
"Iya?"
Aku menaruh gelas di depannya.
Lalu duduk.
Aku menyilangkan tangan di dada dan menatapnya cukup lama sampai dia terlihat sedikit bingung.
"Ada apa?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya saja."
Aku menarik napas pelan.
"Kamu sadar nggak kalau kamu memperlakukanku seperti pasien rumah sakit?"
Dia mengernyit.
"Kamu masih pemulihan."
Aku hampir menghela napas.
"Aku cuma anemia."
"Itu tetap serius."
"Sudah seminggu."
"Kondisi tubuh bisa drop lagi kalau kamu terlalu capek."
Aku menatapnya beberapa detik.
Kadang aku benar-benar tidak tahu apakah pria ini terlalu perhatian… atau terlalu takut.
"Ashar."
"Iya?"
"Kalau kamu terus seperti ini…"
Aku berhenti sebentar.
"...kita nggak akan pernah benar-benar mulai hidup sebagai pasangan."
Dia langsung diam.
Tangannya berhenti di atas keyboard laptop.
Aku bisa melihat bahunya menegang sedikit.
Perlahan dia menutup laptop itu.
Ruangan terasa lebih sunyi setelah layar itu mati.
"Aku tahu," katanya pelan.
Aku menatapnya.
"Tapi?"
Dia tidak langsung menjawab.
Aku bisa melihat jari-jarinya saling menggenggam di atas meja.
Seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu terlalu dalam.
"Aku cuma…"
Dia berhenti.
Aku menunggu.
"Aku takut."
Aku berkedip.
"Takut?"
Dia mengangguk kecil.
"Aku nggak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya."
Aku tersenyum tipis.
"Aku juga."
Dia mengangkat kepala dan menatapku.
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Entah kenapa, suasana di antara kami berubah.
Bukan canggung.
Lebih seperti sesuatu yang selama ini tertahan akhirnya mulai dibicarakan.
Aku berdiri dari kursiku.
Kemudian berjalan ke sampingnya.
"Ashar."
"Iya?"
"Kalau kita terus menunggu sampai semuanya sempurna…"
Aku menatapnya.
"...kita bakal menunggu selamanya."
Dia mengangkat wajahnya.
Mata kami bertemu.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di dalam tatapannya.
Keraguan.
Bukan keraguan terhadapku.
Tapi keraguan terhadap dirinya sendiri.
"Aku tidak takut," kataku pelan.
Dia masih diam.
"Aku percaya kamu."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan aku tidak menariknya kembali.
Aku benar-benar percaya padanya.
Dia mungkin kaku.
Canggung.
Terlalu hati-hati.
Tapi satu hal yang aku tahu…
Dia tidak akan pernah sengaja menyakitiku.
Ashar berdiri perlahan.
Sekarang kami berdiri sangat dekat.
Aku bisa merasakan napasnya.
Dan anehnya…
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
Tangannya bergerak ragu ke arah wajahku.
Lalu berhenti di udara.
"Aku boleh?"
Aku hampir tertawa.
"Kamu ini suamiku."
Dia menghela napas pelan.