NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Kunci dari Masa Lalu

​Della berdiri gemetar di pelataran Rumah Kaca Pak Hendra yang kini sudah hancur. 

Di tangannya, ia menggenggam sebuah benda yang tertinggal di jok belakang motornya: sebuah kunci motor kuno yang gagangnya dibungkus oleh potongan tulang jari manusia yang sudah menguning.

​Begitu Della menyentuh kunci itu, kepalanya mendadak pusing. Sebuah penglihatan kilat muncul ia melihat Buyut Tan sedang menanam sesuatu di bawah pohon kamboja besar sambil merapal doa-doa yang terdengar menyakitkan.

​"Del, buang benda itu! Baunya anyir banget!" seru Geri sambil menutup hidungnya.

​Della tidak bisa membuangnya. Tangannya seolah terkunci pada benda itu. "Ger, ini bukan kunci biasa. Ini jimat yang dipakai buat ngunci sesuatu di dalam motor gue. Kita harus ke rumah lama Buyut di Sukaraja sekarang."

🍃🍃🍃

​Malam semakin larut saat mereka memacu motor melewati pusat kota Sukabumi. 

Jalanan yang biasanya ramai kini terasa sangat sunyi dan berkabut. Della memimpin di depan dengan Scoopy-nya.

​Tiba-tiba, saat melewati RSUD Syamsudin (Bunut), stang motor Della mendadak berat. 

Spion kirinya bergetar hebat. 

Di dalam kaca spion, Della melihat sosok wanita berbaju putih yang tadi di Rumah Kaca kini kembali duduk di jok belakangnya, tapi wajahnya tidak lagi tertutup kawat wajahnya kini rata tanpa mata.

​"Lihat ke depan, Del... jangan liat spion..." bisik Della pada dirinya sendiri.

​Namun, lampu depan Scoopy-nya mendadak redup-terang secara tidak beraturan. 

Zat... zat... zat... Setiap kali lampu itu redup, di pinggir jalan muncul sosok-sosok hitam yang berdiri kaku, menatap ke arah mereka dengan mata merah yang menyala.

​"Ger! Ada yang ngikutin kita dari atas pohon!" teriak Sasha dari boncengan motor Geri.

​Geri mendongak dan melihat bayangan putih berambut panjang sedang bergelantungan di dahan pohon peneduh jalan, bergerak melompat dari satu pohon ke pohon lain mengikuti laju motor mereka.

​Della mencoba mempercepat motornya, tapi kunci tulang di lubang kontak mendadak berputar sendiri ke posisi OFF.

​Klik

​Mesin motor Della mati total di tengah jalan yang gelap, tepat di depan gerbang tua rumah sakit yang sudah tertutup.

​"Nggak sekarang, Bi... tolong jangan sekarang!" Della mencoba menstarter motornya berkali-kali, tapi nihil.

​Tiba-tiba, dari balik gerbang rumah sakit, muncul suara tawa cekikikan anak kecil. 

Sebuah bola plastik tua menggelinding keluar dari kegelapan dan berhenti tepat di bawah ban depan motor Della. 

Saat Della melihat ke depan, di atas kap sebuah ambulans tua yang terparkir, berdiri sosok anak kecil pucat tanpa tangan yang menatapnya sambil tersenyum lebar.

​Della merasakan panas di punggung tangannya merambat ke mata kirinya. 

Tiba-tiba, pandangannya berubah, Ia tidak lagi melihat jalanan yang gelap, tapi ia bisa melihat "garis-garis energi" berwarna merah yang mengikat motornya ke arah gerbang rumah sakit.

​"Mereka mau kuncinya, Ger! Kunci ini magnet buat mereka!" Della berteriak.

​Tanpa pikir panjang, Della menggoreskan ujung kunci tulang itu ke telapak tangannya sendiri hingga sedikit berdarah, lalu menempelkannya ke stang motor sambil membacakan potongan doa yang muncul di kepalanya secara naluriah.

​Wsssssssh 

Sebuah gelombang dingin terpancar dari motor Della, membuat sosok anak kecil dan bayangan di pohon tadi menghilang dalam sekejap. Mesin motor Della kembali menderu, tapi suaranya kini terdengar seperti suara orang yang sedang menangis.

​"Ayo pergi! Sebelum Penjaganya keluar!" Della segera memacu motornya.

​Mereka tidak berhenti sampai melewati batas kota. 

Della menyadari, kemampuan mata batinnya yang selama ini terpendam mulai bangkit karena "pancingan" dari benda-benda mistis yang ia temukan. 

Warisan Buyut Tan bukan hanya motor, tapi sebuah kutukan dan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dua dunia di Sukabumi.

​"Kita ke Sukaraja, rumah lama Buyut. Cuma di sana kita bisa tahu gimana cara ngelepas kunci tulang ini dari motor gue," ucap Della saat mereka berhenti sejenak di pom bensin untuk mengatur napas.

​Geri melihat ke tangan Della yang masih memegang kunci tulang itu. "Del... kunci itu... kok sekarang jadi warna hitam?"

​Della melihat ke tangannya. 

Benar saja, kunci tulang itu kini menghitam seolah-olah baru saja menyerap sisa-sisa arwah dari rumah sakit tadi.

​Perjalanan menuju Sukaraja terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Jalur lingkar selatan yang biasanya hanya dilewati dalam waktu lima belas menit, kini terasa seperti jalanan tanpa ujung yang dikepung hutan bambu rapat.

​"Del, pelanin! Sasha pingsan!" teriak Geri dari belakang.

​Della langsung menginjak rem, Ban Scoopy-nya berdecit di atas aspal yang basah. 

Di belakang, Geri tampak kewalahan memegangi Sasha yang kepalanya terkulai lemas di bahunya. 

Wajah Sasha pucat pasi, matanya putih semua hanya menyisakan sedikit urat merah yang berdenyut.

​"Sasha! Sha! Hudang, Sha! (Bangun, Sha!)" Geri menepuk-nepuk pipi Sasha, tapi gadis itu malah mengeluarkan suara geraman rendah dari tenggorokannya.

​Della turun dari motor, hendak menolong Sasha. 

Namun, langkahnya terhenti saat matanya melirik ke arah kaca spion kiri.

​Di atas helm yang dikenakan Sasha, duduk sesosok makhluk kecil berkulit hitam legam dengan perut buncit dan mata yang melotot keluar. 

Makhluk itu seorang Tuyul yang wajahnya hancur sedang menjilat-jilat ubun-ubun Sasha dengan lidahnya yang panjang dan bercabang.

​"Ger, jangan sentuh kepalanya!" teriak Della.

​Tapi terlambat. Saat Geri hendak membetulkan posisi helm Sasha, makhluk itu tiba-tiba menoleh ke arah Della dan...

​"HIHIHIHI! HALIK! IEU ANU AING! (Minggir! Ini punya gue!)"

​Makhluk itu melompat dari kepala Sasha langsung ke arah wajah Della! Della reflek menangkis menggunakan tangan yang masih menggenggam Kunci Tulang.

​Bzzzttt!

​Begitu tangan makhluk itu menyentuh Kunci Tulang, terdengar suara kulit yang terbakar. 

Makhluk itu melengking kesakitan dan menghilang ke dalam rimbunnya pohon bambu di pinggir jalan.

​Sasha mendadak sadar, dia terengah-engah seperti orang yang habis tenggelam. "Del... Ger... tadi ada yang bisikin gue... dia nanya, Manawi bade tumut? (Mau ikut nggak?)"

​"Sstt, jangan dijawab, Sha. Istighfar," bisik Geri sambil mengusap keringat dingin di dahinya.

​Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar suara sayup-sayup alunan kecapi dan sinden yang menyanyi. 

Suaranya sangat merdu tapi bikin bulu kuduk berdiri tegak. 

Kabut di depan mereka mendadak menebal, menutupi aspal hingga mereka tidak bisa melihat jalan.

​Dari balik kabut, muncul sesosok wanita cantik mengenakan kebaya hijau lumut. 

Dia menari di tengah jalan, namun gerakannya patah-patah seperti boneka kayu yang talinya ditarik paksa. Saat motor mereka mendekat, wanita itu berhenti menari.

​Dia menoleh perlahan, Wajahnya cantik, tapi saat dia tersenyum, mulutnya robek sampai ke telinga, menampilkan deretan gigi hitam yang runcing.

​"Wilujeng sumping, turunan Tan... ditunggu ku Buyut di jero... (Selamat datang, keturunan Tan... ditunggu Buyut di dalam...)" ucap wanita itu dengan suara yang bergema seperti dari dalam sumur.

​Della menyadari bahwa Kunci Tulang di tangannya mulai berdenyut kencang. "Geri, Sasha, pegangan! Jangan liat ke belakang!"

​Della memasukkan Kunci Tulang itu ke lubang kontak dan memutarnya. Kali ini, mesin Scoopy menderu sangat kencang, suaranya seperti teriakan laki-laki yang sedang marah. Della menarik gas sedalam-dalamnya, menerjang kabut dan sosok penari tadi.

​Saat mereka melewati sosok itu, Sasha memberanikan diri melirik ke belakang. 

Dia melihat penari itu berubah menjadi sosok raksasa berbulu hitam yang tinggi besarnya menyamai pohon kelapa, sedang berusaha menggapai motor mereka dengan tangan-tangannya yang panjang.

​"Jangan nengok, Sha! Terus liat depan!" teriak Geri.

​Setelah memacu motor selama hampir sepuluh menit dalam tekanan gaib, akhirnya mereka melihat gapura kayu tua yang sudah lapuk. Di sana tertulis: SUKARAJA.

​Suasana disana sangat sunyi. 

Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara angin. Hanya ada suara langkah kaki yang seolah mengikuti mereka dari balik bayangan pohon-pohon tua.

​Della berhenti di depan sebuah rumah panggung tua yang sudah miring. "Ini rumahnya. Rumah tempat Buyut nyimpen sesuatu yang harus kita urus."

​Di teras rumah itu, sebuah kursi goyang kayu tampak bergerak-gerak sendiri. Krieeet... krieeet... Seolah ada orang tak kasat mata yang sedang menunggu kedatangan mereka.

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!