"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
"sial tuh om,om. Dikata dia seganteng itu apa sampai aku jatuh cinta ama dia"
Mahiya menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lebar itu.
"heummmm" gumamnya sembari memejamkan mata.
"nyamannyaaa"
Mahiya membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar. Semua ucapan kael tadi seperti terekam dalam kepalanya, sedikit mendongkol sebenarnya.
Dari awal yang ngajak nikah pria itu, yang ngebet nikah dia juga, trus kenapa rasanya kek mahiya yang kecintaan banget.
Kalau bukan karena kuliahnya dan biayanya yang emang luar biasa, mahiya nggak bakalan mau diajak nikah pria itu.
Pernikahan ini paling tidak meringankan keuangan abinya, mahiya bertekad begitu dia selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan, mahiya akan minta cerai dari kael.
"bersabar mahiya.."
Tepuknya ke bahunya sendiri.
"2 tahun itu nggak lama"
Mahiya mengingat tadi, saat sepupu kael masuk menggandeng wanita berwajah sendu itu. Wajah kael seperti menyimpan duka, tapi mata pria itu terlihat sangat bercahaya.
Mahiya heran, kalau memang kael punya pacar secantik itu, dan juga jika masih cinta, mengapa tidak menikah dengan wanita itu.
Mahiya menggeleng heran, memiringkan tubuhnya, menyambar bantal guling.
"emang cara pikirnya orang kaya agak aneh"
Mata mahiya semakin meredup, walau jelas dia masih sedang berpikir. Otaknya kalah dengan matanya, mahiya jatuh tertidur.
Sementara, kael di kamarnya juga tak bisa terpejam. Pria itu memandangi langit-langit kamarnya, otaknya sedang memutar semua kejadian yang serba cepat dalam hidupnya itu.
Rasanya baru kemarin dia dipusingkan tuntutan omanya, nggak terasa sekarang dia sudah menjadi pria yang menikah.
Wajah kael tersenyum, tipis memang. Tapi cukup membuat wajah datarnya jadi indah dipandang.
Benaknya melayang ke kamar sebelah, mahiya, gadis yang dinikahinya hanya karena tuntutan sang nenek. Benar sih dia memang sedang nggak punya pilihan, tapi nggak seperti yang rifki bilang juga.
Kael nggak asal comot, walaupun hanya rumah tangga bohongan, dia juga punya selera, kali.
Kael yakin diluaran sana, banyak yang akan antri menjadi istri dari seorang kael saka laksana. Tapi dia juga mempertimbangkan rumah tangga yang akan dijalankannya, walau memang dia nggak akan semudah itu jatuh cinta, tapi paling tidak perempuan yang jadi istrinya harus layak di bawa ke tempat umum.
Dan semua kriteria itu ada pada mahiya, gadis itu cantik. Sejujurnya sangat cantik, jika saja mahiya lahir di keluarga konglomerat, dengan kehidupan mewah, kael yakin, irene ataupun clarissa sekalipun akan kalah cantiknya dari mahiya.
Kael tersenyum lagi, yang dia suka dari mahiya, gadis itu sangat apa adanya, dan yah walau sifatnya sedikit aneh, tapi malah membuat gadis itu terlihat unik.
Kael masih juga tak bisa tertidur, matanya nggak mau terpejam. Perlahan dia turun dan duduk di sofa, mengisap sebatang rokok yang baru dinyalakan.
Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah notifikasi pesan masuk. Kael membuka pesan itu, dengan keningnya yang berkerut.
[kael, aku akan menikahi martin, apapun akan kulakukan agar aku nggak kehilangan kamu]
Rahang kael mengeras, pesan clarissa membuat hatinya kesal.
[aku tahu sayang, kamu menikahi perempuan itu, hanya ingin menghukumku kan?]
Kael mendengkus kasar, nggak ada niatan membalas pesan itu. Otaknya sedang sibuk memutar masa lalunya bersama clarissa.
Clarissa adalah adik letingnya ketika sekolah, usia mereka terpaut 4 tahun, dia gadis yang cantik dengan kelembutannya yang luar biasa, memiliki karier yang bagus sebagai ballerina.
Kembali terdengar dengusan kesal dari hidung mancung kael, sebenarnya dia malas mengingat apapun tentang perempuan itu, kael sedang berusaha melupakan clarissa, cinta 12 tahunnya.
[aku sudah menerima lamaran martin kael]
Kael melirik ponselnya lagi, kali ini gemeretak suara gerahamnya terdengar. Rahang pria itu juga menegang sempurna, seperti ada kilatan tajam di ujung mata kael.
*********
Mahiya bangun setelah azan subuh diponsel, membangunkannya. Gadis itu sudah menunaikan kewajibannya, tadi saat melewati kamar kael, tangan mahiya sudah terulur ingin mengetuk. Dia pengen membangunkan kael dan mengajaknya salat, tapi akhirnya tetap nggak jadi.
Mahiya tahu keluarga besar laksana sepertinya tidak melaksanakan salat, rumah sebesar itu, tidak menyediakan mushalla di dalam rumahnya.
Mahiya meraih jedai, menjepit rambutnya. Tadi malam ia sempat berganti pakaian, mahiya memakai piyama bermotif hello kitty.
Mahiya menuju dapur, kebiasaan sarapan di keluarganya, membuat cacing-cacing di perutnya sedang sibuk konser.
Mahiya meringis membuka kulkas besar itu, nggak ada isinya. Cuman telur 3 buah, yang mahiya keluarkan.
Mata besar mahiya mengamati dapur kael yang terlihat lengang dan kosong, membuka beberapa laci kabinet, mencari mana tahu pria itu menyimpan mie instant.
Tapi kemudian mahiya tertawa, yah kali orang kaya makan mie instant, apalagi kael seorang direktur rumah sakit.
Mata mahiya menubruk dispenser beras di ujung dapur, dengan mata yang berbinar mahiya mencari rice cooker, semuanya terlihat seperti tak pernah digunakan.
Mahiya menyalakan rice cooker, rencananya dia kepengen buat nasi goreng, dengan bahan dan bumbu seadanya.
Sembari menanti nasinya matang, mahiya membuat kopi pahit kesukaannya. kepala mahiya sibuk menimbang, apakah kael perlu dibuatin kopi atau nggak, secara mahiya juga belum tahu kebiasaan pria itu.
Mahiya meletakkan 2 piring nasi goreng seadanya dengan toping telur dadar, di atas meja makan. Mahiya sudah melangkah, dia hendak ke kamar kael, pria itu keluar dari kamarnya dengan wajah bantal dan rambutnya yang mengembang. Hidung pria itu mengendus-endus ke udara, mahiya pengen ketawa ngelihatnya, kek ngelihat anak anjing.
"kamu masak apa?" tanyanya penasaran
"harumnya enak"
Mahiya senyum, takjub matanya melihat kael terlihat manusiawi banget, sambil melangkah kembali ke dapur, mahiya mengajak kael sarapan.
"aku buat nasi goreng kak, tapi alakadarnya, karena bahan di kulkas nggak lengkap"
Kael mengangguk, ia melangkah menuju meja makan, duduk di depan mahiya dengan matanya yang berbinar, menatap nasi goreng di meja itu.
"nanti kita belanja keperluan dapur untuk seminggu, hari ini kan libur, kita bisa belanja berdua, setelah sarapan kita pergi"
Mahiya mengangguk, tangannya menyodorkan sendok ke tangan kael, dan meletakkan air putih di samping piring nasi goreng cowok itu.
"kalau nggak enak dimaklumi yah kak"
Kael tak lagi menjawab, mulutnya sudah penuh dengan nasi goreng yang sedang dikunyah.
Mata kael membola, pupil mata itu membesar, lidahnya sesaat berhenti mengecap. Dia menatap takjub mahiya yang mengunyah dengan santainya.
Bagaimana bisa masakan gadis ini enak, padahal minim bumbu, saat mata mahiya menatapnya penuh tanya, kael hanya menunjukkan jempolnya.
Mahiya, jelas hidungnya mengembang bangga. Dia tahu masakannya enak, senyumnya yang riang dengan tawa renyahnya, nggak bisa menutupi kalau mahiya bangga, masakannya bisa masuk di selera 'suaminya' itu.
Bersambung..