Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberingasan Donio
Tak pernah sekalipun Hans membayangkan bahwa di mata Tiffany, dirinya serendah itu. Tidak ada sedikit pun kepercayaan yang tersisa. Ternyata, tiga tahun pernikahan tidak ada artinya dibandingkan seorang orang luar.
“Kamu benar. Aku memang rendah, Othan itu pahlawan. Aku memfitnah dia. Sekarang kamu puas?” ujar Hans dengan nada mengejek diri sendiri. Percuma membela diri kalau sejak awal memang tidak ada kepercayaan.
“Sikap kamu itu apa maksudnya? Kamu bilang aku menuduh kamu?” Tiffany mengerutkan kening.
“Nggak. Aku yang salah sudah menjelekkan orang baik,” jawab Hans singkat.
“Kamu keras kepala sekali!” Tiffany semakin kesal. Dia tidak pernah menyangka Hans akan bersikap seperti ini hanya karena gengsi dan menolak mengakui kesalahannya. Apa ini wajah aslinya setelah mereka bercerai?
“Sudahlah, Tiffany. Jangan terlalu emosi.” Othan kembali memasang sikap seolah bijaksana. “Hans mungkin cuma gak suka aku terlalu dekat sama kamu. Aku gak menyalahkan dia. Semua orang bisa khilaf.”
“Lihat kan betapa lapangnya hati Othan? Ini bedanya kamu dengan dia!” ujar Tiffany dengan nada jijik.
“Kalau itu yang kamu pikirkan, aku gak akan berdebat lagi,” balas Hans pendek.
“Huh, paling juga karena kamu merasa bersalah,” sindir Rachel. “Orang seperti kamu memang menyebalkan. Kenapa maksa kelihatan hebat kalau memang gak punya kemampuan?”
“Aku gak peduli apa pendapat kamu.” Hans sudah muak berdebat. Dia bangkit dan berjalan pergi.
Saat itu juga, seorang pria berambut ikal muncul di pintu masuk aula. Ia mengenakan kacamata hitam dan mengisap cerutu.
“Wah, rame banget,” gumam Donio sambil tersenyum lebar. Begitu pandangannya jatuh pada Tiffany, ia sempat terpaku. Tatapannya langsung berubah tajam dan penuh hasrat.
“Wah, ternyata hari ini aku beruntung. Ketemu cewek secantik ini,” katanya sambil menjilat bibir, lalu mendekat. “Hai, cantik. Kayaknya aku pernah lihat kamu. Kita pernah ketemu ya?”
Tiffany hanya melirik sekilas, lalu mengabaikannya.
“Pertemuan kita pasti takdir. Gimana kalau kamu minum bareng aku?” ajaknya.
“Nggak tertarik,” jawab Tiffany tegas.
“Uang bisa bikin kamu tertarik.” Donio mengelus dagunya licik. “Langsung aja deh. kamu temenin aku semalam, aku bayar berapa pun yang kamu mau.”
“Pergi,” desis Tiffany.
“Wah, galak juga. Aku suka,” Donio tertawa. Tangannya terulur hendak menyentuh Tiffany.
Plak!
Suara tamparan terdengar keras. Bekas lima jari langsung memerah di pipi Donio.
“Kamu berani nampar aku?” Donio memegang pipinya yang panas, sorot matanya menggelap.
“Terus kamu mau apa? Dasar gak tahu sopan santun,” kata Tiffany dingin.
“Perempuan sialan! Kamu cari masalah!” Darah Donio mendidih. Ia mengangkat tangan hendak membalas, tetapi tiba-tiba Othan mendorongnya menjauh.
“Berani-beraninya kamu bikin onar di acara kayak gini? Mau aku hajar?” hardik Othan. Beraninya pria itu menggoda wanita di depannya.
“Bocah, jangan ikut campur kalau gak mau celaka!” bentak Donio.
“Hah? Ngancem aku? Coba aja,” tantang Othan sambil melambaikan tangan.
“Brengsek!” Donio langsung melayangkan pukulan. Othan menghindar dengan cepat dan membalas dengan satu tinju tepat ke wajahnya.
Donio terhuyung. Darah mengalir dari hidungnya.
“Mau berantem? Salah pilih lawan,” ejek Othan.
“Pak Karimi keren banget! Preman kayak gitu memang pantas dihajar!” seru Rachel keras.
“Iya! Mantap!” Para tamu ikut bertepuk tangan. Pujian itu membuat dada Othan semakin membusung. Akhirnya, momen untuk bersinar datang juga.
“Bajingan, kamu tahu gak siapa aku? Berani-beraninya kamu mukul aku!” geram Donio dengan gigi terkatup.
“Aku gak peduli kamu siapa. Kalau mau selamat, minggat sekarang,” balas Othan galak.
“Bagus, kamu punya nyali. Jangan kabur waktu aku balik nanti!” ancam Donio sebelum pergi dengan cepat.
Othan mendengus. “Dasar bodoh. Sok jago di depan aku.”
“Pak Karimi, aku gak sangka kamu sekuat ini. Cuma satu pukulan langsung tumbang!” puji Rachel dengan mata berbinar kagum.
“Haha, sepuluh orang kayak dia juga bisa aku hadapi!” Othan tertawa puas. Latihannya selama ini tidak sia-sia.
“Untung ada kamu. Kalau gak , bisa-bisa kita dalam masalah.”
“Tenang aja. Kalau kejadian lagi, telepon aku. Aku yang lindungi kamu.” Othan menepuk dadanya percaya diri.
“Nona Rasheed, ini baru namanya pria sejati,” kata Rachel sambil melirik ke arah Hans dengan nada sinis. “Bukan yang kabur waktu ada sedikit masalah. Gak guna banget.”
Meski hanya diam, kekecewaan Tiffany semakin dalam. Tadi, saat dia berada dalam masalah, Hans hanya berdiri menonton tanpa sedikit pun niat membantu. Terlepas dari hubungan mereka di masa lalu, orang asing pun biasanya akan turun tangan dalam situasi seperti itu.
Mungkin sebelumnya dia tidak menyadarinya, tetapi sekarang ketidakbergunaan Hans terlihat jelas. Dibandingkan dengan Othan, dia benar-benar tidak ada apa-apanya.
“Tutup semua pintu keluar!”
Tiba-tiba terdengar keributan. Donio yang tadi pergi kini kembali dengan wajah penuh amarah.
“Apa? Kamu mau dihajar lagi?” Othan melangkah maju seolah pahlawan. Namun, rasa percaya dirinya perlahan menghilang ketika melihat sekelompok pengawal bertubuh besar berdiri di belakang Donio.