Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Aku tersadar saat pak penghulu memegang erat tanganku. Saat yang mendebarkan buat aku, aku harus mengucapkan ijab khobul sebagai tanda serah terima antara aku dan Nia.
Aku melihat mama dan papaku yang sedang tersenyum manis. Penghulu itu mengatakan ijab khobul yang disaksikan oleh beberapa para saksi. Setelah penghulu nengucapkan, aku pula yang menyambut apa yang pak penghuku katakan.
Dengan lancar aku ucapkan ijab khobulnya. Tanpa ada salah sepatah kata pun. Aku juga kaget sama apa yang aku katakan. Aku seakab begitu hafal nama lengkap gadis yang aku nikahai.
Selesai aku ucapkan kata suci itu, gemuruh kata sah pun menggema dirumah ini. Dengan kata sah itu saksi ucapkan. Maka detik ini juga, aku dan Nia adalah sepasang suami istri yang sah dimata agama dan dimana hukum.
Aku berusaha menerima kenyataan yang pahit ini. Pahit menurut hati dan perasaanku, tapu tidak tahu apa yang gadis di samping aku ini rasakan. Mungkin ia bahagia, karna selama ini yang aku tahu ia selalu ingin dekat dan menjadi bagian dalam hidupku.
POV Rania
Aku tidak berani melihat mata pak Rama saat melihat aku. Tapi bagaimana pun, ada rasa bahagia dihatiku malam ini. Apa lagi saat pak Rama mengucapkan ijab khobul didepan penghulu dan disaksikan oleh berberapa pasanga mata saksi.
Hatiku semakin bahagia saat kata sah itu saksi ucapkan. Mama dan papaku tersenyum bahagia. Dan yang paling bahagia adalah aku saat ini. Aku bahagia bisa menjadi istri dari orang yang aku cintai. Walaupun orang yang aku cintai mungkin tidak bahagia menikah dengan aku.
Tapi untuk saat ini, aku ingin melupakan kalau pak Rama tidak cinta aku. Yang penting bagiku saat ini, aku sudah mengikat pak Rama dengan tali sakral.
Pak Rama lalu memasangkan cincin di jari manisku. Cincin mas kawin yang sangat indah sekarang melingkar di jari manisku. Lalu gantian aku yang nemasangkan cincin mas kawin dijari manis pak Rama. Kemudian, dengan malas pak Rama mencium keningku.
Aku bahagia, mungkin ini adalah mimpi indah yang sangat aku tunggu selama ini. Walaupun pernikahan aku ini sangat sederhana, tidak ada acara resepsinya. Namun aku merasa bahagia, karna dengan begitu, aku bisa lebih banyak waktu dekat dengan pak Rama. Akan aku kejar cintanya pak Rama sampai kapan pun.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu bukan anak gadis mama lagi. Melainkan sudah menjadi istri orang," kata mama padaku saat kami bersalaman.
"Selamat sayang, jangan kecewakan papa yah. Jadilah anak istri yang baik, dan tidak pernah melawan pada suamimu," kata papa padaku.
Aku hanya menangis sama apa yang papa katakan. Air mata itu jatuh begitu saja, tanpa bisa aku cegah.
Kami bersalaman bergiliran, tadi aku duluan bersalam pada orang tuaku dan pak Rama bersalaman dengan orang tuanya. Sekarang, aku yang bersalaman pada orang tuanya dan pak Rama dengan orang tuaku.
"Cantik, sekarang tugas mama sebagai ibu yang mengurus semua kebutuhan Rama sudah berpindah ketangan mu. Kamu yang menggantikan tugas mama sekarang, mama yakin kamu bisa jadi pendamping yang terbaij buat anak mama," kata mama pak Rama saat aku bersalaman dengannya.
"Iya Nia, kami percaya kamu bisa jadi gadis yang terbaik. Dan kami juga yakin, Rama akan berubah hangat saat bersama denganmu," kata papanya pula.
Aku hanya senyum dibalik sela-sela air mata yang turun dipipiku. Kedua orang tuanya berharap padaku. Hal itu membuat aku sangat bersemangat menbuat pak Rama jatuh cinta padaku.
Selesai bersalaman, sebagai adat yang masih kental dikeluarga kami. Aku harus ikut pulang bersama pengantin pria yang tak lain adalah suamiku saat ini.
Mobil sudah terparkir didepan rumah. Sudah siap sejak aku belum keluar dari kamar tadi. Semua barangku sudah dimasukkan kedalam mobil dari tadi. Aku hanya membawa sedikit saja barang yang penting bagiku. Karna disana, katanya sudah disiapkan semuanya.
Jadi, aku tidak perlu membawa banyak barang lagi dati rumahku.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif