Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 1: BANGUN DI NERAKA
Jam alarm yang udah retak layarnya bunyi kayak orang kesetrum. Tiga pagi. Gelap. Dingin nusuk tulang.
Dyon buka mata—langsung nyeri di rusuk kiri. Lebam. Merah keunguan. Hasil tendangan Arman kemarin sore di belakang kantin. Dia ingat sepatu kulit mahal itu nabrak tulangnya berkali-kali, suara ketawa Edward yang kayak setan, dan—
Jangan. Jangan dipikir lagi.
Bangun aja. Kerja.
Gubuk kontrakan ini—bukan, lebih tepatnya kolong rumah orang—bau tanah lembab campur kencing tikus. Kasur tipis yang dia tiduri udah kempes di sana-sini, isinya udah jadi bubuk kayaknya. Dinginnya merayap dari bawah, bikin punggungnya kaku. Dinding seng berkarat, ada lubang di pojok yang tiap hujan bocor. Dia udah taruh ember plastik di situ. Ember bekas cat. Masih ada noda biru di dalamnya.
Dia duduk. Pusing. Perutnya kosong dari kemarin siang—cuma dikasih nasi aking sama Bu Minah, tetangga sebelah yang kadang kasihan. Kadang doang. Kalau lagi ada rejeki.
Kaki ke lantai. Dingin. Sendal jepit udah bolong sebelah, tapi ya udahlah.
Dia ambil handuk kusam yang digantung di paku, sikat gigi yang bulunya udah ngembang, dan keluar. Kamar mandi umum. Gelap. Bau pesing nyengat. Ada kecoa gede merayap di tembok—Dyon udah kebal, dia sikat gigi sambil pandangannya kosong ngeliatin tembok retak di depannya.
Air dingin dari keran yang mau copot itu ngalir pelan. Dia cuci muka. Ngaca—kalau bisa dibilang ngaca—di pecahan kaca yang nempel di tembok pakai isolasi. Matanya bengkak. Pipi kanan masih ada bekas tamparan kemarin. Bibir pecah.
"Gue... gue masih hidup," gumamnya pelan. Entah ke siapa. Mungkin ke diri sendiri. Mungkin ke Tuhan. Dia nggak yakin Tuhan masih dengerin dia.
Kembali ke gubuk. Pakai seragam SMA yang udah lusuh, kerah udah kuning keringetan, lengan kanan ada sobek kecil yang dia jahit sendiri pakai benang hitam—padahal harusnya putih tapi ya udahlah, nggak ada yang peduli juga. Celana udah pendek, kaki keliatan mata kaki. Dia udah nggak tumbuh sih kayaknya. Atau seragamnya yang menyusut. Entahlah.
Sepatu? Udah lama dijual. Sekarang sandal jepit doang.
Motor? Mimpi.
Dia jalan kaki. Ke tempat cuci motor Pak Soleh, lima belas menit dari sini kalau jalan cepat. Jalanan gelap, cuma ada lampu jalan yang nyala satu-satu, itu pun redup kayak nyawa dia. Udara pagi bikin napas keluar jadi uap putih. Perutnya bunyi. Keroncongan.
"Sabar... sabar dikit," dia bisik ke perutnya sendiri. Kayak perutnya bakal jawab.
Sampai di tempat cuci motor. Pak Soleh udah di sana, ngopi di pinggir jalan, rokok kretek ngebul.
"Pagi, Nak," sapa Pak Soleh. Suaranya serak.
"Pagi, Pak."
"Hari ini ada sepuluh motor. Lima udah ditinggal dari kemarin malem. Kau kerjain semua ya, nanti siang baru yang lain datang."
Dyon angguk. Sepuluh motor. Kalau satu motor Rp 5.000, berarti Rp 50.000. Tapi dia cuma dapet setengahnya. Rp 25.000. Cukup buat... buat apa ya? Makan siang? Atau bayar listrik gubuk yang udah nunggak dua bulan?
Dia mulai nyemprot motor pertama. Matic pink. Masih kinclong. Ada gantungan hello kitty di spion. Punya orang kaya. Pasti anaknya dimanjain, pulang sekolah langsung ada makanan panas di meja, ada ibu yang nanya "capek nggak sayang?", ada bapak yang beliin motor karena ranking naik.
Tangannya nyikat velg pelan. Kotor. Lumpur kering nempel. Dia kerok pakai ujung kuku—kukunya udah item sih, jadi ya sama aja kotornya.
Ibu. Bapak.
Udah lima tahun mereka pergi. Kecelakaan. Truk nyerempet motor bapak pas lagi hujan, jalanan licin. Ibu di boncengan. Bapak nyoba nyelamatin ibu—katanya gitu dari kesaksian orang-orang. Tapi... mereka berdua tetep pergi. Bersama.
Ninggalin Dyon. Umur dua belas tahun waktu itu. Sendirian.
Rumah dijual buat bayar utang bapak. Saudara? Ngilang. Nggak ada yang mau ngurus anak orang. Beban. Tanggung jawab yang repot.
Dia ngerti kok. Dia udah gede—pikir mereka.
Gede apanya. Masih kelas satu SMP waktu itu.
"Dyon! Jangan melamun! Cepetan!" Pak Soleh teriak dari kejauhan.
Dia kejut. Tangannya nyikat lebih kencang. Motor kedua. Ketiga. Keempat. Tangannya udah pegel. Sabun cuci masuk ke luka di jari—perih. Tapi dia diem aja. Udah biasa.
Jam enam lewat. Selesai. Sepuluh motor kinclong semua. Pak Soleh liatin, angguk puas.
"Ini," Pak Soleh sodorkan dua lembar dua puluh ribuan dan selembar lima ribuan. "Sisanya buat kau makan."
"Makasih, Pak."
Uang dilipet, dimasukin saku celana. Dalam banget masukinnya, takut jatuh.
Jalan lagi. Ke sekolah. Masih pagi—belum jam tujuh, tapi dia udah capek. Bayangin orang lain baru bangun, masih ngantuk, masih dimanjain emaknya, masih sarapan roti bakar sambil nonton TV.
Sementara dia? Udah kerja dua tiga jam. Udah capek. Udah laper.
Tapi sekolah harus tetap jalan. Pendidikan satu-satunya jalan keluar—kata guru BK waktu dia hampir DO gara-gara nggak bayar uang komite. Syukurlah ada keringanan. Syukurlah masih boleh sekolah.
Gerbang SMA Negeri 7 udah keliatan dari jauh. Gerbang besi tinggi, ada tulisan nama sekolah yang mengilat kena matahari pagi. Gedung sekolah bagus. Cat putih bersih. Lapangan luas. Anak-anak pada turun dari mobil, dari motor gede, pada ketawa, pada ngobrol santai.
Dia jalan masuk pelan. Sandal jepitnya bunyi cit-cit di aspal.
Terus dia lihat.
Arman.
Berdiri di deket gerbang. Tangan dilipet di dada. Senyum miring. Di sebelahnya ada Edward—tinggi, kurus, matanya tajam kayak elang. Ada dua anak lagi, anak buah mereka. Semuanya tatap Dyon.
Jantung Dyon langsung deg-degan.
Jangan. Jangan pagi-pagi.
Tapi kaki tetep jalan. Mau gimana lagi? Mau balik? Nanti dikejar. Mau lawan? Dihajar.
"Eee, lihat siapa yang datang," suara Arman keras, sengaja. Beberapa siswa yang lagi lewat nengok. Ada yang langsung nunduk, pura-pura nggak lihat. "Sampah pagi-pagi udah berani masuk sekolah orang."
Dyon diem. Jalan terus. Matanya lurus ke depan.
"Eh, gue ngomong sama lu!" Arman ngeblok jalan. Badannya gede. Wangi parfum mahal nyengat. "Mana duitnya? Gue tau lu kerja pagi-pagi kan? Cuci motor? Nguli? Pasti ada duit."
"Arman, aku—"
"Aku apa?" Edward udah di samping. Tangannya nyengkeram kerah seragam Dyon, narik keras. Napasnya bau rokok. "Lu pikir lu siapa bisa manggil nama dia seenaknya? Panggil 'Mas' atau 'Kakak', tau!"
"Ma—Mas Arman, aku... aku butuh duit ini buat—"
"Buat apaan? Buat makan? Buat bayar listrik gubuk busuk lu?" Arman ketawa. Edward ikutan. Yang lain juga. "Dasar kasian! Orang tua lu mati, ninggalin lu jadi pengemis!"
Jangan sebut orang tua gue.
"Jangan... jangan sebut orang tua gue," Dyon merem. Napasnya putus-putus. "Kumohon."
Tamparan keras di pipi kanan. Kepala Dyon miring. Telinga berdenging. Matanya berair—bukan karena nangis, tapi karena sakit.
"Gue sebut siapa aja terserah gue!" Arman ngeludah, kena sepatu Dyon. "Bapak lu bangke! Emak lu bangke! Lu juga bangke! Ngerti nggak?!"
Tangannya masuk saku celana Dyon. Kasar. Ngambil duit—semuanya. Rp 25.000 yang tadi dikasih Pak Soleh. Rp 20.000 untuk beli nasi bungkus. Rp 5.000 buat... buat apa ya? Dyon udah lupa.
"Lumayan buat jajan," Arman masukin duit ke saku celananya yang mahal, merk luar negeri. "Makasih ya, Sampah."
Edward nyengir. "Eh, tapi lu masih berdiri? Harusnya kan bersyukur. Sujud dong. Sujud sama tanah."
"A—aku nggak—"
Tendangan keras di belakang lutut. Dyon jatuh. Dengkul kena aspal. Sakit. Tangannya nahan badan biar nggak jatuh sepenuhnya.
"Sujud, gue bilang!" Edward injak punggung Dyon, tekan keras. Dyon meringis. "Cium tanah. Kayak gitu baru bener. Lu emang harusnya di bawah. Bukan di sekolah ini."
Siswa-siswa pada ngeliatin. Ada yang ketawa. Ada yang diem aja. Ada yang—ada yang ngerekam pakai hape.
Tak ada yang nolong.
Punggung Dyon diinjakin terus sampai dahinya nyentuh aspal. Panas. Kasar. Ada pasir kecil nusuk kulit.
"Bagus. Gitu dong," Arman ketawa lagi. Dia nendang pinggul Dyon pelan, kayak nendang bola. "Sampah seperti lu nggak pantas sekolah di sini. Ngerti?"
Dyon nggak jawab. Nggak bisa. Tenggorokannya kering.
Mereka pergi. Ketawa-ketawa. Ninggalin Dyon di tanah.
Pelan-pelan dia bangun. Berdiri. Bersihin seragam yang berdebu. Lutut berdarah dikit—lecet. Tapi nggak apa-apa. Nggak akan mati.
Dia lihat sekeliling. Semua udah bubar. Pura-pura nggak terjadi apa-apa.
Masuk kelas. Duduk di bangku paling belakang—pojok. Bangkunya udah dicoret-coret. "DYON SAMPAH" pakai spidol permanen. Dia usap pakai tangan—nggak ilang. Udahlah.
Guru masuk. Pelajaran dimulai. Dyon ngeliatin papan tulis kosong. Guru nulis sesuatu. Tapi matanya nggak fokus. Pikiran melayang.
Ke gubuk. Ke orang tua. Ke uang yang diambil. Ke tamparan. Ke tendangan.
Ke sujud di tanah.
*Ini hari pertamaku di neraka*, pikir Dyon. Matanya merem pelan. Napasnya pelan.
*Tapi aku belum tahu...*
Pintu kelas kebuka tiba-tiba. Kepala sekolah masuk. Di belakangnya ada... seorang siswi baru. Cantik. Jilbab putih rapi. Seragam bersih. Wajahnya... lembut.
"Anak-anak, ini siswi pindahan. Namanya Ismi Nur Anisah. Keluarga Anisah baru pindah ke kota ini. Kalian sambut baik-baik ya."
Ismi senyum. Manis. Sopan.
Mata Dyon ketemu mata Ismi. Sedetik. Dua detik.
Ismi lihat Dyon—dahinya masih ada debu, pipi merah bekas tamparan, seragam kusut. Dia nggak nyengir kayak yang lain. Dia nggak tatap rendah kayak yang lain.
Dia... tersenyum. Sedikit. Lembut. Penuh... simpati?
Terus dia lihat yang lain lagi. Duduk di bangku depan—kosong—yang paling bagus, bersih.
Tapi Dyon masih merasakan tatapan itu.
*Nereka yang sebenarnya baru akan dimulai.*
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Siapa sangka, senyum lembut seorang gadis dari keluarga terkaya di kota ini akan jadi awal dari semua kehancuran—atau keajaiban—dalam hidup Dyon?*