NovelToon NovelToon
Istri Yang Tertindas

Istri Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH

Suasana di pemakaman itu mendadak berubah menjadi panggung teater berdarah. Stevanus, dengan wajah hancur dan pakaian penjara yang robek, tampak seperti mayat hidup yang merangkak keluar dari neraka. Todongan pistolnya ke arah Lidya ibunya sendiri adalah bentuk pengkhianatan yang paling murni. Di tahun 2026 yang serba canggih ini, ternyata naluri purba manusia untuk saling menghancurkan tetap tidak berubah.

"Stevanus! Letakkan senjatamu! Kau sudah gila?!" teriak Lidya, suaranya yang tadinya tenang kini melengking ketakutan. Untuk pertama kalinya, aku melihat topeng kedinginan wanita itu retak.

"Aku gila karena kau, Ibu!" raung Stevanus. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya. "Kau yang mengajariku bahwa cinta adalah kelemahan! Kau yang menyuruhku meremukkan Yati agar kita bisa kaya! Tapi sekarang kau ingin meninggalkanku membusuk di penjara sementara kau membawa lari wasiat itu?!"

Aku memeluk Ibuku di kursi roda, mencoba menutupi tubuh ringkihnya dengan tubuhku sendiri. Aris berada dalam posisi siaga, senjatanya bergantian membidik Stevanus dan anak buah Lidya.

"Yati..." bisik Ibu, suaranya sangat lemah. "Lari, Nak... jangan pedulikan Ibu. Di bawah kursi ini ada bom... Lidya tidak akan membiarkan kita hidup."

"Tidak, Bu! Aku baru saja menemukanmu, aku tidak akan kehilanganmu lagi!" aku berteriak, air mataku tumpah membasahi kemeja putih Ibu yang kusam.

Stevanus berpaling padaku, matanya yang merah berkilat penuh obsesi gelap. "Yati... kemari. Ikut denganku. Kita akan lari dari wanita tua iblis ini. Kita akan mulai dari awal dengan anak kita!"

"Anak kita?" Aku tertawa di tengah tangis, sebuah tawa yang penuh dengan kebencian. "Anak yang kau tendang sampai mati di tangga itu, Stev? Kau pikir aku akan sudi memberikan kesempatan kedua pada pembunuh sepertimu?"

Wajah Stevanus mengeras. "Jika kau tidak mau ikut denganku secara sukarela, maka kau akan ikut denganku ke liang lahat!"

"TIDAK!" Lidya berteriak, namun bukan untuk melindungiku. "Jangan tembak dia sebelum dia menyerahkan wasiat itu, Stevanus! Kau anak bodoh!"

Lidya menekan tombol pada remotnya bukan untuk meledakkan bom, tapi untuk mengaktifkan sistem pertahanan pada jaket taktis anak buahnya yang mengeluarkan gas pelumpuh saraf.

Psshhttt!

Asap putih pekat menyebar dengan cepat di area makam Ayah. Aku terbatuk-batuk, mataku terasa sangat perih. Dalam kekacauan pandangan yang kabur, aku mendengar suara tembakan beruntun.

DOR! DOR! DOR!

"ARIS!" aku berteriak saat melihat Aris terjatuh demi melindungiku dari terjangan peluru anak buah Lidya.

Aku merangkak menuju Ibu, berusaha mendorong kursi rodanya menjauh dari pusat asap. Namun, sebuah tangan kasar menjambak rambutku dari belakang. Stevanus. Dia menyeretku menjauh dari Ibu.

"Lepaskan aku, Iblis!" aku mencakar tangannya, kakiku menendang-nendang dengan sisa tenaga.

"Kau milikku, Yati! Selamanya!" Stevanus menempelkan moncong pistolnya yang panas ke leherku.

Namun, di saat kritis itu, Lidya melangkah maju dari balik kabut asap. Dia memegang sebuah pisau kecil yang berkilau. Tanpa ragu, dia menusukkannya ke punggung Stevanus anaknya sendiri demi meraih map wasiat yang terjatuh di dekat kakiku.

"Harta ini milikku, bukan milikmu, Stevanus!" desis Lidya.

Stevanus mengerang, dia berbalik dan melepaskan tembakan acak. Peluru itu mengenai bahu Lidya, membuatnya tersungkur. Di atas tanah makam yang suci, ibu dan anak itu saling menyerang seperti binatang buas yang memperebutkan tulang.

Aku berhasil lepas dan segera kembali ke kursi roda Ibu. "Ibu, kita harus pergi! Aris, bangun!"

Aris yang terluka di lengan bangkit dengan susah payah. Dia membantuku mendorong Ibu menuju gerbang. Namun, langkah kami terhenti.

Sebuah cahaya merah kecil berkedip-kedip di bawah kursi roda Ibu. Frekuensinya semakin cepat.

Pip... pip... pip... pip-pip-pip!

Lidya, sambil memegangi bahunya yang berdarah, mengangkat remotnya tinggi-tinggi dengan sisa kekuatannya. "Jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang boleh! Matilah kalian bersama kenangan Ayahmu!"

Lidya menekan tombol merah itu dengan tawa kemenangan yang pecah di tengah batuk darahnya. Namun, bukan kursi roda Ibu yang meledak.

Suara ledakan dashyat justru terdengar dari arah mobil mewah milik Lidya yang terparkir di depan gerbang. Ternyata, Aris diam-diam telah menukar pemancar bom itu saat kabut asap tadi.

Di tengah keterkejutan semua orang, Ibu tiba-tiba berdiri dari kursi rodanya sesuatu yang seharusnya mustahil bagi orang lumpuh. Beliau menarik sebuah pistol kecil dari balik gaun putihnya dan mengarahkannya tepat ke arahku.

"Maafkan Ibu, Yati," bisik Ibu dengan nada suara yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan berwibawa, persis seperti Lidya. "Tapi wasiat itu memang seharusnya jatuh ke tangan organisasi kami. Kau pikir kenapa aku bertahan hidup selama dua puluh tahun di ruang bawah tanah itu? Aku bukan tawanan, aku adalah pemimpin mereka yang sebenarnya."

Moncong pistol Ibu kini menempel tepat di perutku yang sedang hamil.

1
Abang imbran
gak bertele" 👍
Abang imbran
kurang ngajer banget ni stevanus/Right Bah!/
grandi
up lagi thor/Kiss/
Chici👑👑
Kak kamu keren bisa up banyak, aku nulis 1 bab aja kelar nya 2 sampe 3 hari baru selesai🤧
christian Defit Karamoy
TRIMAKASIH SUDAH MAMPIR🙏
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰

Like Setiap Bab Kalau selesai 👍

Rate Bintang 5 🌟

Vote setiap hari Senin 🙏

Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹

Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️

Makaseh banya samua 🙇🙏😇
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
christian Defit Karamoy: okey siap trimakasih🙏
total 1 replies
Bela Viona
wow lumayan cepat juga ya thor,dlm 3 bln op kelar,blm lagi merubah karakter seseorang. sebenar nya gak mudah. minimal setahun lh.
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
christian Defit Karamoy: iya kak🙏
total 1 replies
Bela Viona
Iblis berbadan manusia.
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
Bela Viona
sesekali klo bikin kopi,di kasih 3 tetes racun tikus kn gak masalah thor...
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
Bela Viona
baru baca bab awal udh di suguh kn dgn sebuah pengkhianatan,kdrt,penipuan dan manipulatif.
sakit jiwa nih lakik...
Bela Viona
Mampir thor...
Bela Viona: siapppp
total 3 replies
grandi
ngeri
grandi
apakah aman Thor
grandi
kata kata yang terpaksa/Scowl/
Chici👑👑
Thor kamu kuat banget apdet nya bisa banyak...kalo aku udah kriting jempol nya /Hammer/
Chici👑👑
Semangat thor💞
Chici👑👑
Lanjut lagi semangat thor apdet nya
christian Defit Karamoy: siap kak ku🙏
total 1 replies
Chici👑👑
Lanjutkan thor
christian Defit Karamoy: siap kak🙏
total 1 replies
Chici👑👑
Kak aku mampir
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!