AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 10: chrysanthemum: flower of november [3]
PELAYAN mulai menata menu makan siang di meja. Menu utama adalah daging rusa yang dipanggang dengan bumbu tertentu. Lalu ada sup berbahan utama jagung manis dengan kacang-kacangan, kentang, dan potongan daging sebagai pelengkap isian sup yang dimakan dengan roti.
Tak lupa makanan khas Petunia juga terhidang: sup ikan air tawar. Meski namanya sup ikan, makanan ini sama sekali tidak berair karena dicampur dengan kentang yang sudah dihaluskan dan bahan-bahan lain sehingga bertekstur lembut. Walaupun menggunakan bahan-bahan yang sederhana, tampilan makanan yang tersaji di meja tetap terlihat mewah. Kemampuan memasak ksatria keluarga Duke memang menakjubkan seperti yang dirumorkan.
Namun, ketika pelayan telah beranjak dan menyisakan kami berdua, anak itu belum juga menyentuh makanannya. Sejak masuk ke dalam tenda dan mendapati dia telah duduk di depan meja, aku mengira bahwa dia telah menyelesaikan makan siangnya tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Maka, aku meletakkan sendok garpu dan pisau makan di piring, menoleh, lalu bertanya, “Kenapa tidak makan? Biasanya makanmu banyak seperti babi.”
Dia tersentak. Sedetik kemudian, mengangkat kepala dan tersenyum memandangku dengan senyuman paling manis yang dia punya. “El akan makan, hehe.”
“Tetapi, daging di piringmu tidak tersentuh sejak tadi.” Aku memicing, curiga. “Katanya kau sudah daging.”
“El memang suka daging.”
“Lalu, kenapa tidak dimakan?”
“Em, … El akan makan sekarang dagingnya.”
Dia bersusah payah menusuk daging yang telah dipotong pelayan menjadi bagian kecil-kecil, mengarahkannya ke dalam mulut dengan gerakan terpaksa. Maka, aku menggerakkan ujung telunjuk ke arahnya dan seketika piring makan Elora melayang di udara sebelum perlahan mendarat di bagian sisi lain meja yang kosong.
“Papa?”
“Kalau tidak suka, tidak usah dipaksa.”
“El suka!”
Dia melotot, setengah kaget dan tidak nyaman. Menumpu kedua tangan di meja dengan tubuh yang sedikit maju, aku mengembuskan napas lalu kembali fokus pada makananku. Ketika suapan pertama masuk, dia menggumam tidak jeas. Entah apa yang dia ingin katakan, tetapi aku tidak menaruh atensi lagi.
“Sebenalnya, El dalitadi lapal.” Aku melirik, dia melanjutkan dengan pandangan yang menunduk. “Tapii, El mau makan sama Papa makanya El tunggu.”
Setelah beberapa saat terdiam, aku akhirnya merespons. “Apa perutmu masih sakit?” Melihat dia berubah kikuk, dengan cepat aku memotong, “Makan sup dulu.” Lalu aku mengarahkan sup jagung dan sup ikan air tawar ke hadapannya. “Jangan makan daging, makan yang hangat dan ringan dulu.”
Dia mengangguk setelah cukup lama menatapku dengan pandangan bingung.
“Minum kuahnya dulu.” Melihat dia menyendok kuah lalu pelan-pelan mengarahkannya ke dalam mulut, aku malah mengembuskan napas, sedikit khawatir. “Kalau lapar, makan saja. Tidak usah menunggguku. Kalau kau sakit di sini, itu akan sangat merepotkan.”
“El minta maaf.”
Dia menunduk setelah suapan tadi. Salah satu tangannya yang berada di bawah membuatku berpikir bahwa dia mungkin sedang memegangi perutnya, entah sakitnya sudah berkurang atau tidak. Dia tak mengatakan apapun dan aku juga tidak ingin bertanya. Mungkin lebih tepatnya tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Perhatian yang kuberikan tadi rasanya sudah lebih dari cukup karena yang terpenting adalah dia aman dan bernyawa sebab kehadirannya masih menjadi misteri yang harus kupecahkan.
***
Malam Petunia mirip dengan awal musim dingin. Meski cuacanya mengharuskan untuk memakai dua lapis mantel tebal, udara di sini sangat segar. Bunyi jangkrik, katak, berbagai hewan malam lain, bunyi air yang bergoyang, lalu desiran angin yang berhembus menjadi musik alam yang benar-benar alami. Sedikit memberikan penghiburan karena istana selalu hening saat malam tiba.
Semua pekerjaanku di Petunia telah selesai. Itu memang tidak banyak dan sebenarnya bisa diselesaikan dalam beberapa jam saja lalu kembali ke istana. Namun, karena Elora ikut, rencana tersebut harus diundur besok pagi. Sebab punya waktu l uang, perasaanku malah menjadi tidak nyaman. Maka dari itu, aku memutuskan untuk keluar dari tenda.
Langkahku terhenti ketika menyadari telah sampai di jalan setapak yang tidak asing. Di depan sana adalah hutan tempatku dan Elora pertamakali bertemu. Setelah laporan terakhir yang kuterima tidak menghasilkan apapun, penyelidikan tetap berlanjut. Namun, hingga hampir dua bulan penyelidikan, aku tetap tidak mendapat informasi penting. Tak ada catatan kelahiran, penculikan, tempat tinggal sebelumnya, dan bahkan keterangan wali.
Aku juga tidak bisa sembarangan membunuhnya meski sangat ingin karena dia mengetahuiku dengan sangat baik. Alsan dia mengikuti dan menempel, alasan dia mengobatiku, aku harus mencari tahu semuanya. Motif dan tujuan anak itu yang latar belakangnya saja tidak bisa kudapatkan. Sebab memikirkannya, aku jadi tidak sadar telah masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi. Maka, aku berhenti dan segera berbalik. Namun, setelah beberapa langkah, kepalaku mulai terasa pusing. Objek yang ada di depan perlahan mulai mengabur, napasku memendek, dan jantungku berdetak cepat.
Aku mempercepat langkah walaupun dengan keseimbangan yang mulai goyah. Melewati pepohonan dan semak-semak, sinar rembulan membantuku melihat arah di tengah objek yang seolah bergoyang. Ketika berhasil keluar dengan susah payah, satu-satunya tempat yang bisa menghilangkan sakit kepala sialan ini hanyalah tenda perawatan. Aku menuju ke sana dengan langkah lebar. Memanggil pedang naga, mengabaikan tiap ksatria yang bertanya khawatir. Aku terus melangkah tanpa memedulikan apapun, seolah gelap mata.
Aku menendang pintu dan segera masuk. Mengabaikan semua tatapan orang-orang yang terbangun, ksatria yang menjaga, dan gonggongan anjing dari luar. Di tengah kedinginan musim gugur Petunia, aku membantai 20 orang penduduk Petunia yang sedang dirawat. Darah memenuhi ruang perawatan, mayat-mayat terbaring tidak beraturan di lantai; lalu teriakan dari para penduduk yang terbangun di tengah malam karena melihat pembantaian yang dilakukan oleh kaisar secara langsung.
Setelah kegelapan selesai menghirup saripati darah dari orang yang terakhir kubunuh, pedang naga menghilang begitu saja setelah aku menengadahkan tangan ke atas. Wajah yang terciprat darah, pakaian yang basah oleh keringat dan carian kental berwarna merah, lalu ruangan tempatku berpijak mendadak berubah menjadi sebuah seni yang mengerikan. Bau amis yang menguar ke mana-mana membuatku bisa menghirup napas dengan lega.
“Yang Mulia.” Suara Hamon yang pelan terdengar jelas di antara isakan tangis dari luar. “Saya akan segera membereskan hal ini.”
Tanpa mengatakan apapun aku berbalik. Pandanganku yang sudah kembali normal kini dipenuhi oleh orang-orang yang berdiri ketakutan. Menatap lurus ke depan, aku melangkah mengabaikan semuanya. Count of Cantaloupe nampak mengatur penduduk yang diliputi kemarahan, rasa tidak terima, dan kesedihan, sementara Duke of Astello mengatur ksatrianya untuk menyelamatkan para wanita dan anak-anak yang pingsan. Kehangatan yang tadi pagi kulihat lenyap begitu saja seolah ditelan kematian yang tragis.
Pandangan orang-orang yang melihatku memang sejak awal adalah pandangan ketakutan. Begitulah aku dikenal sebagai kaisar pembunuh yang memimpin Adenium. Bukan berarti aku melakukan pekerjaan dengan baik lantas menguburkan sisi gelap diriku yang sebenarnya dan mengabaikan tangan yang memang telah berlumuran darah sejak lama. Namun, orang-orang sepertinya telah mulai melupakan kenyataan itu, maka malam ini aku membuatnya mengingat kembali.
“Papa!”
Tarikan pelan di jubah membuatku berhenti. Meski telah mendengar derap kaki kecilnya sejak tadi, aku sengaja mengabaikan dan terus berjalan, berharap dengan begitu dia akan menyerah dan meninggalkanku sendirian. Namun, yang terjadi malah dia terus mengejarku seperti ini seolah tidak mengetahui kejadian apa yang baru saja aku perbuat dengan tangan kotor ini.
“Pergilah.”
“El tidak mau.”
Aku mengembuskan napas kasar dan berbalik. “Jangan membantah.” Lalu, aku melirik ksatria Duke yang berdiri tidak jauh dari kami. “Antar dia kembali.”
“Baik, Yang Mulia.”
“El tidak mau.”
Pandangan kami bertemu begitu aku beralih. Dia menatapku dengan netra biru cerahnya yang besar, mengeratkan pegangannya di jubah, lalu tiba-tiba mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dia menatapku dengan penuh harap.
“Gendong.”
“Ada banyak darah.”
Meski telah melihat kondisiku yang dipenuhi dengan cairan kental berwarna merah ini, tatapan anak itu tetap tidak berubah. Tidak ada ketakutan atau rasa jijik dalam mata itu, sebaliknya terlihat murni dan tulus.
“Gendong.”
Aku tidak berkomentar dan kami hanya saling bertatapan. Ketika mendapati aku tidak juga memberi respons, dia memohon dengan wajah manis yang dibuat-buat. “Papa, gendong ….”
Maka, mengembuskan napas pelan, aku menunduk, memegang kedua ketiaknya sebelum mengangkat tubuh Elora dan menempatkannya di sisi kanan tubuhku. Kakinya sertamerta melingkar di pinggang sementara tangannya melilit leherku. Meski tubuhnya jadi terkena darah, anak itu tetap menarik sudut bibir ke atas dan menyandarkan dagunya di pundakku, seolah tak masalah dengan kondisiku sekarang.
“Hehe.”
Aku melirik ketika mendengar dia tertawa kecil. Maka, memegang punggungnya yang tipis, aku berbalik dan melangkah maju menuju tenda. Sepanjang jalan, Elora tidak mengatakan apapun sedangkan aku larut dalam pikiranku sendiri, bertanya-tanya dalam hati mengapa anak ini tidak takut dan malah mendekatiku seolah tidak ada yang terjadi.
Hal itu justru membuatku tidak bisa mengerti dengan pola pikirnya yang jauh dari anak pada umumnya. Tidak saat itu maupun sekarang, Elora, yang terus mendekat bahkan ketika telah melihatku berlumuran darah pada akhirnya membuatku sedikit luluh. Dia unik untuk sebuah alasan yang tidak kuketahui.[]
Putri Puding Coklat kenapa nangis sayang? 🤗🍮
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak