Jihan Kharisma gadis SMA yang tergila-gila dengan seorang pria berseragam. Lebih tepatnya dengan tentara, dia begitu mengidolakan seorang tentara untuk menjadi suaminya karena ia ingin seperti kakaknya yang perempuan yang menikah dengan tentara. Apalagi kakaknya yang laki-laki adalah seorang tentara sehingga menambah keinginannya yang begitu dalam untuk memiliki suami tentara.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria yang tanpa sengaja membantu Jihan saat gadis itu jatuh dari sepeda, pertemuan itu membuat jihan terpesona setengah mati berharap ingin bertemu kembali dan mentakdirkan mereka.
Apakah nanti Jihan akan bertemu kembali dengan pria itu, baca disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ansifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 21
"Lah itu anaknya," ucap Pandu saat pandangannya teralihkan dengan suara motor yang saat ini sudah berhenti didepannya.
Bara langsung melihat Jihan yang baru saja turun dari motor sambil tersenyum kepada pengendara itu. Bara mengernyit heran melihat itu semua.
"Hai om," sapa Ardan pada Pandu dari atas motor. Ia membuka kaca helmnya sambil mengangkat tangan.
"Oh kamu Dan, Om kira siapa?Kalau bukan kamu udah om paksa turun dari motor buat om introgasi" canda Pandu sambil tersenyum pada Ardan.
"Ayah nih,.." Protes Jihan dan ia belum menyadari kalau ada Bara juga disitu. Karena saat melihat Jihan tadi Bara langsung mengalihkan pandangannya sehingga membelakangi Jihan.
"Apa aku harus turun om, om bisa kok introgasi aku. " Ardan membalas candaan Pandu. Pandu memang telah mengenal siapa Ardan dulu ia sempat sensi dengan Ardan saat baru berteman dengan putrinya tetapi setelah ia mengetahui bahwa Ardan anak dari teman istrinya dan anak itu baik tidak aneh-aneh makan ia biasa-biasa saja saat anaknya berteman dengan Ardan.
"Om, aku pulang dulu ya. Sudah mau magrib" pamit Ardan masih di atas motornya.
"Loh nggak mampir Dan?" Tanya Pandu.
"Nggaklah Om kapan-kapan aja, pulang ya om" ucap Ardan lalu segera menyalakan motornya.
"Dada BF gue" ucap Ardan melambaikan tangan pada Jihan sebelum motornya berjalan.
Jihan juga membalas lambaian itu, lalu ia segera berjalan kearah Ayahnya. Dia disitu sedikit heran dengan Pria yang sedang mengobrol dengan ayahnya itu.
Dia belum menyadari kalau itu Bara, karena sedari tadi pria itu hanya membelakanginya saja tanpa menoleh sedikitpun sehingga membuat Jihan penasaran.
Langkah Jihan semakin dekat semakin dekat, dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa orang itu.
"Mas Ganteng" ucapnya histeris. Jihan langsung saja segera duduk di kursi kosong sebelah Bara.
Bara tadi hanya melihatnya sekilas sambil tersenyum yang seperti dipaksakan.
"Jihan ganti baju dulu baru bergabung" perintah Pandu pada Jihan yang tidak mengindahkannya, gadis itu justru malah senyum-senyum melihat Bara.
"Mas Bara, kok mas Bara bisa di rumah Jihan? Mas Bara kangen ya sama Jihan? Apa mas Bara ngerasa nyesel karena ngomong yang nyakitin Jihan kemarin?" beribu-ribu pertanyaan diberikan Jihan untuk Bara, diwajahnya tidak ada rasa takut atau marah atas apa yang Bara lakukan kemarin. Malah saat ini ia tampak ceria memperhatikan Bara yang hanya diam melihatnya biasa saja.
"Jihan, nggak sopan" tegur Pandu sambil menarik kursi Jihan agar bergeser dari Bara. Karena gadis itu terus menggeser kursinya agar berdempetan dengan Bara.
"Apa sih Ayah, Jihan kan cuma ingin tahu" bantah Jihan.
"Sana ganti baju, kamu mau ayah hukum" ancam Pandu sambil mengangkat jari telunjuknya mengarah masuk ke rumah agar Jihan pergi.
Jihan langsung cemberut mendengar ucapan ayahnya. Ia tidak berani melawan jika seperti ini, Ayahnya itu sepertinya sudah naik emosi.
Dengan terpaksa Jihan berdiri dari duduknya
"Iya aku masuk," ucapnya Pada sang Ayah.
"Mas Bara aku masuk kedalam dulu ya, Jangan kangen ya mas" goda Jihan sambil melangkah pergi.
Saat dia belum melangkah terlalu jauh tiba-tiba saja ia berbalik arah melihat kearah Bara yang kembali berbincang dengan Pandu.
"Mas Bara.." panggil Jihan sambil melihat kearah Bara yang sekarang memperhatikannya.
"Iya,.." akhirnya setelah dari tadi Bara diam dengan semua ucapan Jihan kini dia mau menjawabnya juga.
"Mas Bara nggak usah khawatir kalau aku marah soal waktu itu. Aku nggak marah kok mas, malah aku jadi bersemangat buat dapetin Mas Bara" ucap Jihan dengan lantang.
Bara terdiam, tak berucap sama sekali. Tatapannya Pun mulai beralih kearah lain tidak memperhatikan Jihan lagi.
Pandu semakin menatap tajam anaknya,
"Jihan.." bentaknya seketika saja Jihan yang mendengar bentakan itu langsung berlari cepat masuk kedalam sebelum banteng mengamuk.
°°°°°
Jam makan malam telah tiba, dan baru saja Bara pamit pulang, pemuda itu tidak mau diajak makan malam bersama alasannya ia harus segera berangkat ke Kodim.
Dimeja makan Jihan memegang-megang Hpnya ia tampak sibuk dengan Hpnya itu sehingga tidak menyadari bahwa ayahnya sudah kembali dari toilet dan saat sedang memperhatikannya galak.
"Jihan taruh Hpnya, Kamu mau Hpnya ayah sita" ucap Pandu dengan tegas.
Jihan tentu saja kaget mendengar suara ayahnya yang ternyata sudah ada di meja makan. Karena terkejut tak sengaja Hpnya tercemplung masuk ke mangkuk yang berisi kobokan yang kebetulan ada di depan Jihan.
"Ya, Ya Hpku" syok Jihan melihat Hpnya yang terendam di air kobokan.
Maya dan Pandu tertawa melihat begitu mengenaskan nya Hp Jihan saat ini.
"Makanya dek, kalau di meja makan jangan main Hp" Maya berusaha untuk tidak tertawa lagi karena wajah anaknya yang sudah cemberut kesal.
"Itulah kalau ngelanggar aturan dari ayah kena karmanya kan" ucap Pandu diiringi tawa renyahnya.
Sementara Jihan hanya merengut saja menatap Hpnya yang saat ini sudah ada ditangannya. Ia mengelap-elap Hp itu agar tidak basah.
………………
Bara saat ini harus piket malam berjaga di post depan. Dia tidak sendiri tetapi bersama rekan barunya di situ bernama Norman. Norman memiliki pangkat Serma, dan umurnya juga lebih tua dari Bara. Bisa dibilang Norman ini sudah Bapak-bapak.
Sehingga Bara memanggilnya Bang, walaupun pangkatnya masih tinggian Bara. Tetapi kalau umur tidak bisa disangkal, ia harus menghormati orang yang lebih tua.
Jabatan itu bukan segalanya, tetapi sebuah penghormatan bagi yang lebih tua tentu itulah segalanya menjalin sebuah persaudaraan.
"Selamat bergabung di Kodim ini ya Bara" ucap Norman sambil mengulurkan tangannya.
"Iya bang terimakasih sambutannya" balas Bara membalas jabat tangan Norman.
"Semoga kamu betah ya membawahi kita semua" harap Norman yang sekarang mengambil duduk disebelah Bara.
"Aamiin bang, kenapa kok saya gak betah?" Bara mengamininya. Lalu ia bertanya karena merasa heran dengan perkataan Norman barusan.
"Ya karena tentara-tentara disini gila semua" ucap Norman sambil mengeluarkan seulas senyum.
"Maksudnya bang?" Bara tak mengerti
"Ya gila kerja, gila bercanda, ya intinya gila dalam semua hal" tawa Norman karena melihat wajah serius Bara.
"Waah, kamu percaya aja Bara" lagi tawa norman pecah melihat ekspresi Bara yang percaya-percaya saja apa yang dikatakan dirinya.
"Saya kira gila begitu" ucap Bara pada akhirnya setelah ia mengerti Bahwa seniornya itu hanya bercanda saja.
"Kamu kayaknya tegas deh cocok memang buat jadi komandan unit intel" puji Norman
"Biasa aja bang, saya mah orangnya biasa aja. Kalau dibilang tegas, semua tentara pasti tegas. Gak mungkin kan ada tentara yang nggak tegas"
"Mungkin dong Bar, Tentara kan juga manusia"
"Hehehe iya juga ya bang" Tawa Bara sambil memperhatikan Norman yang juga ikut tertawa.
°°°
T.B.C
muncul