Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meet Nael again
Pagi itu, suasana di mansion mewah milik Kakek Alan terasa lebih sunyi dari biasanya. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi hanya mempertegas kesan dingin dan kaku di dalam mansion besar tersebut.
Di salah satu sudut balkon, Freya berdiri menatap taman labirin yang membentang luas. Pikirannya tidak tenang. Sejak kepulangannya ke kediaman keluarga besarnya, ia merasa seperti burung dalam sangkar emas.
Deru mesin mobil yang berat dan bertenaga memecah keheningan. Sebuah SUV hitam mengkilat berhenti tepat di depan tangga utama. Pintu terbuka, dan sosok pria dengan postur tegap keluar dari sana. Pablo.
Melihat pria itu, jantung Freya berdegup kencang. Pablo tidak hanya datang untuk berkunjung; ia datang dengan janji yang pernah ia ucapkan semalam melalui telepon. Pria itu menaiki anak tangga dengan langkah penuh percaya diri, seolah tidak gentar sedikit pun dengan aura mengintimidasi dari kediaman Alan.
Penjemputan di Mansion
Di ruang tamu utama, Kakek Alan sudah duduk menanti dengan tongkat kayu jati di genggamannya. Tatapannya tajam, menyelidiki setiap gerak-gerik Pablo.
"Kau datang lebih cepat dari yang kukira," suara Kakek Alan parau namun berwibawa.
"Aku tidak suka membuang waktu, terutama jika menyangkut Freya," jawab Pablo tenang. Ia sedikit membungkuk sebagai tanda hormat, namun matanya tetap menunjukkan ketegasan yang setara dengan sang tetua.
Freya turun dari lantai atas, mengenakan gaun sederhana namun elegan. Saat matanya bertemu dengan mata Pablo, ada rasa lega yang tak terbendung. Pablo berjalan mendekat, meraih tangan Freya, dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Sudah siap?" tanya Pablo.
Freya mengangguk pelan. "Kakek, aku pergi dulu."
Kakek Alan hanya mendengus pelan, sebuah tanda restu yang enggan namun pasti. "Bawa dia kembali sebelum matahari terbenam jika kau belum ingin masalah besar, Pablo."
Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih hangat. Pablo menggenggam tangan Freya selama perjalanan. "Nael sudah menunggu di restoran. Dia sangat merindukanmu," ujar Pablo memecah keheningan.
Freya tersenyum, meski ada sedikit kegugupan di wajahnya. "Aku juga merindukannya. Tapi, Pablo... apakah menurutmu ini waktu yang tepat untuk memberi tahu dia tentang rencana kita?"
Pablo menepi sejenak di lampu merah, menatap Freya dengan dalam. "Nael bukan anak kecil biasa. Dia cerdas dan dia sangat menyayangimu. Dia berhak tahu bahwa kita ingin menjadi keluarga yang utuh."
Tujuan mereka adalah sebuah restoran keluarga yang memiliki area bermain luas. Di salah satu meja di pojok ruangan yang lebih privat, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun sedang asyik dengan buku gambarnya. Itu Nael, putra Pablo yang memiliki mata persis seperti ayahnya, namun dengan senyum yang jauh lebih lembut.
Begitu melihat Freya, wajah Nael langsung cerah. " Freya!" teriaknya sambil berlari kecil dan memeluk pinggang Freya dengan erat.
Freya berlutut, membalas pelukan hangat itu. "Hai, Sayang. Bagaimana sekolahmu hari ini?"
"Sedikit membosankan!" celoteh Nael yang membuat Pablo tertawa kecil sambil mengacak rambut putranya.
Setelah mereka selesai menikmati makan siang—dengan Nael yang bercerita tanpa henti tentang robot-robot barunya—suasana perlahan berubah menjadi lebih serius. Pablo memberikan kode mata kepada Freya, mengisyaratkan bahwa inilah saatnya.
Pablo memegang tangan Nael, sementara tangan satunya menggenggam tangan Freya di atas meja.
"Nael," panggil Pablo lembut.
Anak itu berhenti mengunyah kentang gorengnya dan menatap ayahnya dengan rasa ingin tahu. "Ya, Daddy?"
"Daddy dan Freya punya sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan denganmu. Kamu tahu kan kalau Daddy sangat menyayangi Freya?"
Nael mengangguk mantap. "Tentu saja. Daddy selalu tersenyum kalau melihat foto dirimu."
Freya tersipu, namun ia memberanikan diri untuk melanjutkan. "Nael, kami ingin selalu bersama. Bukan hanya untuk makan siang seperti ini, tapi untuk selamanya. Di mansion yang sama, bangun di pagi hari yang sama."
Pablo menarik napas panjang. "Nael, Daddy berencana untuk menikah dengan Freya. Artinya, Freya akan menjadi ibumu secara resmi, dan kita akan menjadi satu keluarga. Bagaimana menurutmu?"
Keheningan sesaat menyelimuti meja mereka.
Freya menahan napas, khawatir jika Nael merasa keberatan atau bingung. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
Mata Nael berbinar-binar. "Jadi... Freya tidak akan pulang ke mansion Kakek Alan lagi? Dia akan tinggal di mansion kita?"
"Iya, Sayang," jawab Freya dengan mata berkaca-kaca.
Nael tiba-tiba melompat dari kursinya dan bertepuk tangan kecil. "Yey! Akhirnya! Aku mau punya adik juga!"
Tawa Pablo pecah mendengar kepolosan putranya, sementara wajah Freya memerah sempurna. Pablo menarik Nael ke dalam pangkuannya dan merangkul Freya ke dalam pelukan keluarga yang hangat.
Janji Masa Depan
"Rencananya, bulan depan kita akan mengadakan pesta kecil," jelas Pablo kepada Nael, namun matanya tetap tertuju pada Freya. "Hanya orang-orang terdekat. Daddy ingin memastikan semuanya sempurna untuk Mama."
"Aku mau jadi pembawa cincin!" seru Nael antusias.
"Tentu saja, jagoan. Kamu adalah orang paling penting di pernikahan kami nanti," kata Pablo sambil mengecup kening Nael.
Siang itu, di restoran yang tenang tersebut, sebuah fondasi baru telah diletakkan. Bagi Freya, keluar dari mansion Kakek Alan bukan hanya tentang meninggalkan sebuah bangunan tua yang kaku, melainkan tentang melangkah menuju sebuah mansion yang sebenarnya. mansion yang dibangun di atas kasih sayang Pablo dan keceriaan Nael.
Sambil menatap dua orang paling berharga di depannya, Freya tahu bahwa tantangan dari keluarga besarnya mungkin belum berakhir. Kakek Alan mungkin masih akan menguji mereka. Namun, melihat binar bahagia di mata Nael dan keteguhan di wajah Pablo, ia sadar bahwa ia telah memilih tempat yang tepat untuk pulang.
"Terima kasih, Pablo," bisik Freya di tengah hiruk-pikuk restoran.
"Terima kasih karena telah memilih kami, Freya," jawab Pablo dengan nada tulus yang menggetarkan hati.