NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Introgasi Buntu

16 hari sebelum duel

Tino, si ketua Wilayah Timur yang biasanya selalu tampak santai dengan senyum cengengesannya, kini duduk dengan wajah yang jauh berbeda—dingin dan frustrasi. Di hadapannya, seorang pria kurus dengan pakaian lusuh duduk di kursi , tangannya terikat kuat di belakang punggung. Pria itu adalah seorang begal yang berhasil mereka tangkap malam sebelumnya setelah Tino dengan cerdiknya menjebak menggunakan umpan motor sport mewah yang diparkir di tempat sepi.

Ruangan itu—sebuah gudang kosong di pinggiran wilayah Timur—terasa pengap dan mencekam. Hanya ada satu lampu pijar redup yang menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan gelap yang menari-nari di dinding yang penuh dengan grafiti.

Tino sudah mencoba segala taktik interogasi yang ia kuasai selama dua jam terakhir: mulai dari janji uang dalam jumlah besar—ratusan ribu yang bisa membuat hidup begal kelas bawah seperti ini nyaman selama berbulan-bulan, ancaman fisik ringan berupa tamparan dan dorongan kasar, hingga pendekatan psikologis yang biasanya menjadi senjata andalannya—mencoba masuk ke dalam kepala lawan dan memanipulasi ketakutan mereka.

Ia biasanya sangat jago membaca pikiran lawan, menemukan celah kelemahan mereka, dan mengeksploitasinya dengan sangat efektif. Tapi begal ini—yang seharusnya hanya seorang pion kecil, anak buah paling rendah yang tidak tahu apa-apa—ternyata terbuat dari mental yang keras seperti besi yang sudah ditempa ribuan kali.

"Aku cuma mau tahu satu hal," ujar Tino untuk kesekian kalinya, suaranya kini jauh lebih dingin daripada senyum cengengesan yang biasa ia tampilkan. Ia membungkuk sedikit ke depan, menatap langsung ke mata begal itu dengan pandangan yang sangat intens. "Satu hal saja. Siapa bos di balik semua kekacauan di pinggiran timur ini? Siapa yang memberimu perintah untuk merampok? Ada organisasi yang lebih besar, kah?."

Begal itu hanya menunduk dalam-dalam, hampir seperti patung. Bibirnya pecah-pecah dan berdarah—entah karena dehidrasi atau karena tamparan yang ia terima tadi. Wajahnya penuh luka memar. Tapi yang paling mengganggu adalah keheningannya yang mutlak—ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak ditangkap, bahkan tidak untuk memohon atau memaki.

Keheningannya bukan karena loyalitas yang tinggi terhadap organisasinya—Tino bisa melihat itu dengan jelas dari bahasa tubuhnya. Ini adalah keheningan yang lahir dari ketakutan yang jauh, jauh lebih besar. Ketakutan terhadap sesuatu—atau seseorang—yang membuat ancaman Tino terlihat seperti lelucon anak kecil.

Tino menghela napas panjang yang penuh frustrasi. Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan tiba-tiba, lalu menggebrak meja kayu lapuk di depannya dengan sangat keras.

BRAK!

Suara gedoran itu membuat seluruh gudang bergetar. Beberapa barang rongsokan yang ditumpuk di sudut hampir roboh. Eko dan anak buah lainnya yang berdiri di dekat pintu sedikit tersentak, terkejut dengan ledakan emosi yang sangat jarang ditunjukkan oleh pemimpin mereka yang biasanya sangat terkontrol.

"SIALAN!" teriak Tino, kini benar-benar kehilangan kendali emosinya yang biasanya selalu terjaga dengan sangat baik. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol. "Cuma ini yang aku butuhkan darimu! Satu nama! Satu petunjuk! Kalau kamu bicara sekarang, aku janji akan melepaskanmu! Aku bahkan akan kasih kamu uang! Tapi kalau kamu terus diam seperti patung sialan..."

Tino tidak melanjutkan ancamannya—karena ia tahu ancaman apa pun yang ia lontarkan tidak akan lebih menakutkan dari apa yang membuat begal ini menutup mulut rapat-rapat.

Eko, tangan kanan Tino yang bertubuh tegap dengan bekas luka di dagu, mendekat perlahan dengan ekspresi prihatin. "Dia tidak akan bicara, Tino," ujarnya dengan nada pasrah namun realistis. "Aku sudah melihat tatapan mata seperti itu sebelumnya. Sepertinya dia sudah diancam dengan sesuatu yang jauh lebih parah daripada sekadar siksaan fisik yang kita lakukan. Mungkin keluarganya diancam. Mungkin dia sudah melihat apa yang terjadi pada orang lain yang bicara terlalu banyak."

Tino berjalan mondar-mandir dengan gelisah, tangannya meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Pikirannya berkecamuk. "Ini benar-benar membuang waktu!" geramnya sambil menendang kaleng kosong yang ada di lantai hingga terpental jauh. "Aku mau fokus ke duel melawan Misca 16 hari lagi, tapi kekacauan di jalanan ini makin menjadi-jadi setiap hari! Begal bertambah! Kekerasan bertambah! Warga semakin takut keluar malam! Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bajingan ini tidak mau bicara!"

Ia berhenti berjalan dan menatap begal itu dengan pandangan yang sangat tajam—mencoba untuk terakhir kalinya menemukan celah. "Kamu tidak mengerti, ya? Aku ini sebenarnya mencoba membantumu. Organisasi yang kamu layani itu tidak peduli padamu. Kamu cuma pion. Kalau kamu tertangkap polisi nanti—dan percayalah, cepat atau lambat kamu akan tertangkap—mereka tidak akan datang menyelamatkanmu. Mereka akan meninggalkanmu membusuk di penjara."

Tidak ada respons. Bahkan tidak ada kedipan mata.

Tino akhirnya menyerah. Ia menoleh ke arah Eko dengan wajah yang sangat lelah—bukan lelah fisik, tapi lelah mental. "Dia sudah tidak ada gunanya lagi di sini, Eko. Kita sudah buang waktu dua jam untuk tidak mendapat apa-apa."

Tino berjalan ke arah jendela gudang yang pecah, menatap keluar ke arah wilayah yang mulai sibuk dengan aktivitas pagi hari. Ia merasa sangat kecil saat ini—sesuatu yang sangat jarang ia rasakan. Tino selalu menganggap dirinya yang paling licik, yang paling pandai bermanuver di balik layar, yang bisa memanipulasi siapa saja dengan kata-kata dan janji-janji manis.

Namun, keheningan begal ini—keheningan yang lahir dari ketakutan yang lebih besar—membuat Tino menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa ia beli, tidak bisa ia manipulasi, dan tidak bisa ia kontrol dengan cara-cara kotornya yang biasa. Kekuatan yang jauh lebih kejam, jauh lebih terorganisir, dan jauh lebih berbahaya dari dunia geng sekolahan yang selama ini ia kuasai.

"Misca... Nanda... Raka..." gumam Tino pelan sambil menatap kosong ke luar jendela. "Mereka semua beruntung tidak harus berurusan langsung dengan sampah seperti ini. Mereka bisa fokus pada duel. Sementara aku... aku harus berurusan dengan monster sungguhan di luar sana."

Ia berbalik menghadap Eko dengan ekspresi yang sudah kembali dingin dan kalkulatif—meski ada bayangan kelelahan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Bawa dia keluar dari sini, Eko. Sekarang juga."

"Mau diapakan, Tin?" tanya Eko memastikan.

Tino terdiam sejenak, menimbang-nimbang opsinya dengan cepat. Membunuh begal ini? Terlalu berisiko dan tidak memberikan keuntungan apa-apa. Menyerahkan ke polisi? Itu akan membuat polisi mulai menyelidiki dan mencampuri wilayah mereka—sesuatu yang tidak mereka inginkan. Menahannya lebih lama? Membuang waktu dan sumber daya untuk tidak mendapat informasi apa-apa.

Maka Tino membuat keputusan yang kejam namun sangat praktis—keputusan yang sangat mencerminkan karakternya sebagai orang yang selalu mencari keuntungan dari setiap situasi.

"Lepaskan dia di perbatasan Wilayah Selatan," perintah Tino dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang memerintahkan untuk membuang sampah. "Pastikan tidak ada yang melihat kamu melepaskannya di sana. Jangan sampai dia mati di tangan kita—itu akan jadi masalah. Biarkan Nanda dan anak buahnya yang menemukannya. Anggap saja ini... hadiah kecil dari aku untuk si gorila itu."

Eko mengangguk paham. Ia tahu persis maksud di balik perintah itu—Tino sedang mencoba membuat masalah untuk Wilayah Selatan, mungkin membuat mereka terlihat bersekongkol dengan begal atau setidaknya membuat Nanda sibuk dengan urusan yang tidak perlu. Classic Tino—selalu bermain kotor bahkan dalam situasi yang frustrasj seperti ini.

"Siap, Tin. Aku akan urus sekarang," jawab Eko sambil memberi isyarat pada dua anak buah lainnya untuk membawa begal itu keluar.

Mereka melepaskan ikatan di kursi dan menyeret begal yang hampir tidak sadarkan diri itu keluar dari gudang. Pintu ditutup dengan bunyi berdecit keras, meninggalkan Tino sendirian di dalam gudang yang sunyi.

Tino duduk kembali di kursinya, menatap kursi kosong tempat begal itu tadi duduk. Ia menyalakan rokok—kebiasaan buruk yang mulai ia lakukan belakangan ini karena stress—dan menghisapnya dalam-dalam.

Tino memilih untuk menyerahkan masalah ini kepada wilayah lain demi "menghemat" energi dan fokusnya untuk duel. Tapi strategi pragmatis itu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa di dalam hati, ia merasa sangat tertekan dan bahkan sedikit... takut.

Ancaman di luar sekolah ternyata jauh, jauh lebih nyata dan lebih menakutkan daripada sekadar perebutan kekuasaan antar geng sekolahan yang selama ini mereka mainkan seperti permainan catur. Ini bukan lagi soal siapa yang paling kuat atau paling licik di antara empat ketua. Ini soal bertahan hidup menghadapi predator sungguhan yang bermain dengan aturan yang jauh lebih brutal.

"16 hari lagi," gumam Tino sambil meniup asap rokoknya ke udara. "Kalau aku tidak memenangkan duel itu... kalau aku tidak bisa mengonsolidasi kekuatan dan membersihkan wilayahku dari sampah-sampah ini... aku akan tenggelam dalam kekacauan yang bahkan aku sendiri ikut ciptakan."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tino—si manipulator ulung yang selalu percaya diri—merasakan sesuatu yang sangat asing baginya: keraguan. Keraguan apakah ia benar-benar siap menghadapi apa yang akan datan

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!