Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. omongan tetangga
"Sekarang tersenyumlah Alyssa ibu akan selalu bersamamu." Tangan Manda terulur mengusap air mata putrinya dengan penuh kasih sayang.
Hati Alyssa seketika menghangat, lukanya sedikit terobati dengan kehadiran ibunya. Perlahan senyum pun mulai terbit dibibir wanita cantik itu.
"Nah begitu baru anak ibu. Sekarang kemas barang barangmu dan tinggallah bersama ibu."
"Tapi aku tidak ingin merepotkan ibu..." Manda berdecak pelan, ia kesal karena anaknya masih saja memikirkan hal yang tidak perlu.
"Mana ada merepotkan, justru ibu senang kalau kamu mau tinggal lagi bersama ibu. Ibu jadi ada teman dan tidak merasa kesepian."
"Terimakasih Bu..." Ucap Alyssa langsung memeluk ibunya erat.
Manda langsung membalas pelukan putrinya itu dengan tidak kalah eratnya, mereka saling berpelukan menikmati momen momen bersama.
Setelah merasa puas Manda membantu Alyssa membereskan barang barangnya dan pergi meninggalkan penginapan tersebut.
..
...
..
Hari hari berlalu saat ini Alyssa sudah tinggal dirumah ibunya. Selama tinggal disana Alyssa terlihat bahagia dan bisa menjadi dirinya sendiri.
Namun meskipun begitu ia tidak bisa melupakan masalah nya dengan sang suami.
Proses perceraian mereka tetap berjalan, tinggal hitungan hari saja mereka akan sah berpisah secara agama dan negara..
"Loh nak Alyssa masih tinggal disini. Kenapa belum pulang kerumah suami?" Tanya seorang tetangga yang datang menghampiri dirinya. Perasaan Alyssa mulai tidak enak, ia yakin tetangganya bukan datang untuk beramah tamah dengan dirinya.
"Iya Bu, mulai saat ini Alyssa akan tetap tinggal disini menemani ibu."
"Kenapa begitu, bagaimana dengan suamimu kalau kamu tinggal disini. Atau jangan jangan kalian sudah tidak bersama lagi." tebaknya sudah seperti seorang peramal yang membuat Alyssa sedikit tidak nyaman.
tapi Alyssa mencoba untuk tidak mengambil hati omongan tetangganya, mungkin tetangganya penasaran karena ia tidak lagi tinggal bersama suaminya.
"Kalau ada masalah mbok ya dibicarakan baik baik, jangan seperti anak kecil yang sedikit dikit ngambek terus pergi kerumah ibunya." Sindirnya halus. menurut Alyssa tetangganya itu sudah sangat keterlaluan.
Ingin rasanya ia memaki tetangganya, jika tidak memikirkan umur tetangganya yang sebaya dengan ibunya.
Ditengah tengah kebimbangannya, sang ibu tiba tiba saja datang menghampiri mereka. Raut wajahnya sedikit kesal, seperti ibunya telah mendengar apa yang tetangganya katakan.
"Untuk apa kamu ikut campur masalah putriku. Mau di tinggal disini, mau disana itu tidak ada urusannya denganmu lagi pula ini rumah orang tuanya jadi wajar kalau dia tinggal disini. Yang tidak wajar itu kalau ada orang yang suka ikut campur masalah orang lain padahal dia tidak tau apa apa." Ketus Manda tidak bisa menahan emosinya lagi.
Ia sedari tadi sudah cukup sabar mendengar perbincangan mereka dari jauh, kini ia tidak bisa diam lagi melihat tetangganya terus memojokkan putrinya.
Sebagai seorang ibu ia tidak terima dan harus membela putrinya apalagi putrinya sama sekali tidak bersalah.
"Bu Manda ini, saya kan cuma bertanya kenapa ibu marah."
"Bertanya boleh saja Ratih, tapi apa yang kamu tanyakan itu sudah keterlaluan apalagi ini menyangkut tentang privasi orang. Lain kali jaga mulutmu hargai perasaan putriku."
Bukannya sadar Ratih justru berdecih pelan dan menatap Manda dengan pandangan tidak suka.
"Saya hanya menghawatirkan anak anda Bu, jangan sampai dia menjadi janda seperti anda." Darah Manda mendidih tangannya terkepal dengan erat sementara matanya menatap tajam kearah Ratih.
Kini bukan masalah putrinya saja yang membuatnya marah tapi tetangganya juga sudah berani menghina dirinya.
"Memangnya kenapa dengan janda, janda juga terhormat bukan, apa lagi janda yang menjaga martabatnya dan tidak mengemis perhatian dari laki laki." Teriak Manda lantang, teriakan itu mengundang perhatian banyak orang.
Mereka mulai berkerumun dan berbisik bisik tentang Manda, tapi Manda sama sekali tidak takut, ia tidak akan mundur jika menyangkut tentang harga diri putrinya.
"Kalau ibu sih saya percaya tapi kalau anak ibu... Saya tidak yakin dia bisa, dia masih muda Bu. Untuk apa kecantikannya itu kalau bukan untuk menggaet laki laki diluaran sana benar kan ibu ibu, kita harus berhati hati jaga suami kita baik baik jangan sampai tergoda dengan janda Baru ini." Ucap Ratih mulai memanas manasi ibu ibu yang lain.
Mereka pun mulai terpancing dan menatap Alyssa dengan padangan sebelah mata yang tidak Alyssa suka.
Hati Alyssa semakin sakit, matanya mulai memerah. Ia tidak terima orang lain membicarakan nya seperti itu tanpa tau kebenaranya.
"Saya bukan wanita seperti itu, meskipun saya berstatus sebagai janda. Saya tidak akan merebut apalagi merusak rumah tangga orang lain. Karena saya tau bagaimana sakitnya di hianati, saya merasakan sendiri Bu."
Hening semua mata terkejut mendengar apa yang Alyssa katakan.
Rasa bersalah mulai masuk kedalam hati mereka, apalagi ketika melihat air mata Alyssa mulai berjatuhan dan membasahi pipinya terlihat sekali jika wanita itu sangat terluka dan rapuh.
"Siapa sih Bu yang ingin bercerai, kalau saya bisa saja juga ingin mempertahankan rumah tangga saya... Tapi itu sudah tidak mungkin, apalagi ada wanita lain dihati suami saya... Kalau saya bisa memilih saya juga tidak pernah ingin menjadi janda dan menjadi bahan cemoohan bagi kalian." Ucap Alyssa sudah tidak sanggup lagi terus berada disana, ia terlanjur sakit hati.
Tanpa banyak bicara lagi ia langsung berlalu masuk kedalam rumah dan mengurung dirinya dikamar mungkin itu akan membuat perasaanya sedikit lebih tenang.
"Puas kalian, puas sudah membuat anak saya sedih sampai seperti itu. Saya membawanya kesini untuk menenangkan diri Bu, bukan malah menambah beban pikirannya dan hari ini kalian sudah menghancurkan semuanya." Gegas Manda berlalu menyusul sang anak, ia takut terjadi apa apa pada anaknya.
"Ini semua gara gara kamu Ratih. kalau kamu tidak banyak bicara Bu Manda tidak mungkin marah." kesal salah seorang diantara mereka kepada Ratih.
"kenapa kalian malah menyalahkan aku, toh aku mengatakan yang sebenarnya."
"sudahlah tidak usah pedulikan dia, dari pada mendengar omongannya lebih baik kita pergi."
Kemudian mereka membubarkan diri dari sana meninggalkan Ratih yang saat ini tengah menggerutu kesal dalam hatinya.
"lihat saja nanti kalian tidak akan bahagia." ucap Ratih berlalu meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di dalam kamarnya Alyssa tengah merenung, air mata terus berjatuhan membasahi pipinya.
Manda yang melihat anaknya pun ikut merasa sedih ia hampiri anaknya dengan perlahan dan duduk disampingnya. Diraihnya tangan sang anak lembut, hatinya ikut hancur sekarang ia merasa bersalah pada putrinya.
"Maafkan ibu, gara gara ibu kamu harus mendengar omongan yang tidak mengenakkan."
Alyssa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak Bu, ini semua bukan salah ibu. Hanya saja aku mulai ragu Bu, apa keputusanku untuk bercerai dari mas Arya sudah benar. Bagaimana hari hariku kedepannya menanggung status itu sanggupkah aku menerima prasangka buruk dari orang karena status yang aku sandang.?"
Manda menghela nafasnya, memang tidak mudah ia juga sering mendapat banyak kecaman dari orang orang namun ia bisa bertahan sampai sekarang dan ia yakin anaknya juga mampu.
"Alyssa apa kamu lupa ibumu ini juga seorang janda, ibu tau kamu khawatir. Tapi kalau ibu bisa kamu juga pasti bisa. Anak ibu kuat, anak ibu hebat kamu tidak selemah yang kamu kira... Yakinlah nak keputusan yang kamu ambil ini sudah benar. Kalaupun pernikahan kalian diteruskan kamu akan semakin tersiksa... Percaya dengan ibu."
"Terimakasih Bu, ibu selalu mendukung Alyssa kini Alyssa sudah yakin jika keputusan Alyssa sudah tepat. Semoga ini jalan yang terbaik untuk Alyssa tolong doakan Alyssa ya Bu." Pinta Alyssa mengusap air matanya perlahan.
"Pasti Alyssa, tanpa kamu minta pun ibu pasti akan mendoakan." Alyssa tersenyum dan mengangguk dengan perlahan. Ia lega karena memiliki kasih ibu bersama dengannya yang membuatnya semakin kuat menghadapi rintangan didepannya.