NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Om Duda

David tidak tahu apa yang salah, namun dari awal sampai akhir, Ayahnya sama sekali tidak menunjukan kemarahan padanya.

Saat guru mengatakan David di skors selama 3 hari, bahkan mendapatkan peringatan berupa sanksi serius sampai kemungkinan terburuknya akan dikeluarkan dari sekolah, jika hal ini kembali terulang, Ayahnya sama sekali tidak beraksi seperti yang ia bayangkan.

Bastian sangat pendiam cenderung manusiawi.

Ayah kandungnya itu tampak berbeda dari terakhir kali saat dia mengusirnya.

Ngomong ngomong, setelah pertengkaran mereka pagi itu. mereka tidak terlibat percakapan apapun lagi. Bahkan bertemu pun hanya sekilas. Jadi wajar jika dia takut pada Ayahnya.

Setelah mereka berlima keluar dari ruang guru, David dan Reno yang diizinkan pulang lebih dulu pun berlalu menuju kelas masing-masing untuk mengambil tas mereka, menyisakan tiga orang yang kini sedang berjalan menuju area bagian depan sekolah.

Keisya dan Sisi berjalan lebih dulu, beriringan sambil sesekali saling menyikut. Ekor mata mereka saling memberikan kode, meminta pada sama lain untuk memulai pembicaraan.

Sisi melotot tidak terima. Bagaimana bisa Keisya memintanya melakukan hal itu? Kenal saja tidak!

Keisya sempat-sempatnya cengengesan, geli melihat tingkah temannya itu.

"Kamu langsung pulang?" suara berat Bastian menghentikan tingkah konyol keduanya.

Langkah keduanya berhenti, mereka sudah tiba di depan sekolah dan berniat menunggu Reno dan David disana.

Keisya maupun Sisi tidak langsung merespon. Mereka bingung, kepada siapa Bastian berbicar?. Sisi sebenarnya yakin kalimat itu untuk temannya, tapi Keisya justru tidak yakin jika dialah yang diajak berbicara.

"Jawab tuh" Sisi berbisik sambil menyenggol lengan Keisya.

Keisya menatap Bastian, "Om bicara sama aku?" dia tersenyum canggung lalu menambahkan. "Aku pulang naik ojek online Om"

"Mobil kamu belum selesai juga?"

Keisya menggeleng. Dia juga kesal perihal mobilnya yang tak kunjung selesai. Dia sudah menanyakan langsung, tapi jawaban selalu sama, katanya banyak yang harus di perbaiki. Padahal kata Papa-nya mobil itu masih sangat bagus, meskipun bukan mobil baru.

Entahlah.

"Nanti saya yang urus. Kasih tahu alamat bengkelnya"

"Ga usah Om, nanti juga selesai. Kalau Papa udah ga sibuk, paling nanti Papa yang tanya langsung kesana"

Bastian mana peduli dengan penolakan tersebut. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Keisya. "Masukkan nomor ponsel kamu, nanti kirimkan lokasinya"

Takdir seolah sedang mempermudah jalannya, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Keisya ragu, namun saat melihat kedatangan Reno disusul David setelahnya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa selain memasukan nomor pribadinya. Lagipula ponsel Bastian sudah ada di tangannya. Akan sangat lama dan tentunya merepotkan jika salah satu dari mereka tidak ada yang mengalah.

Bastian sedikit menarik sudut bibirnya. Dia puas setelah melihat layar ponselnya yang terdapat deretan nomor wanita incarannya tersebut. Setelah memberikan nama—yang mana hanya dirinya yang tahu—, Bastian langsung menyimpannya.

Perihal nama, memang hanya dirinya yang tahu. Namun tidak dengan ekspresinya. Sisi melihatnya.

Ada yang aneh dengan pria matang ini.

Tapi apa?

\=\=\=\=\=

Bastian menepati ucapannya. Dia mendatangi langsung alamat bengkel yang Keisya kirimkan keesokan harinya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" seorang perempuan menghampirinya. Dia yang tengah melihat deretan mobil di dalam ruangan luas tersebut langsung berhenti bergerak.

Tampang Bastian begitu sangar. Gestur wanita itu sangat membuatnya muak. "Panggil pemilik tempat ini, saya ingin bicara"

Perempuan itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, "Maaf Pak, Bos saya sedang tidak ada di tempat. Biar saya yang bantu, itu sudah tugas saya"

Yah, terdengar cukup profesional memang, jika saja tidak melihat gerak geriknya secara langsung. Hanya saja apa yang dia tunjukan dengan mimik wajah dan bahasa tubuhnya, kalimat profesional itu jadi tidak berguna sama sekali.

Alih-alih profesional, wanita ini tampak sedang menjajakan tubuhnya.

"Panggil Bos kamu sekarang sebelum saya berubah pikiran. Katakan, Bastian ingin bertemu"

Wanita itu tampaknya mulai paham akan sesuatu. Dia sudah salah bertindak. Dari cara bicara dan pembawaan pria tampan dan mapan ini, sepertinya menyinggung pria ini sama saja dengan mempertaruhkan pekerjaannya..

"Baik Pak, tunggu sebentar" Perubahan terasa jelas setelahnya. Kali ini dia benar-benar menunjukan profesionalitasnya tanpa ada niat menggoda seperti sebelumnya.

Setelahnya Bastian kembali sendirian. Dia kembali melanjutkan pencarian mobil milik Keisya yang sudah ia ketahui flat nomornya.

Dan akhirnya ia berhasil menemukannya. Berada di barisan paling ujung ruangan tersebut. Seolah tidak pernah tersentuh sama sekali.

"Bas!"

Suara pria terdengar. Suara langkah kaki menggema, datang mendekati posisi Bastian berada.

Pria itu, dengan senyum lebarnya kembali menyapa, "Apa kabar? Ada apa nih? Tumben tumbenan datang kesini?"

Bastian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Mobil ini selesaikan hari ini juga"

Pria itu menatap mobil yang dimaksud. Dia tidak tahu siapa pemilik mobil tersebut, mengingat selalu karyawannya yang mengurus semua kendaraan milik costumer.

"Oke, tunggu sebentar" Pria itu kemudian pergi. kembali menyisakan Bastian sendirian..

Mereka sudah kenal cukup lama, namun tidak sedekat antara Bastian dan Gunawan yang merupakan satu angkatan saat masih menempuh pendidikan dulu. Mereka kenal karena Bastian merupakan pelanggannya sejak lama. Bahkan karena pria itu juga bengkelnya menjadi besar dan di kenal banyak orang seperti sekarang.

Hari masih cukup pagi, dan karyawannya belum semuanya datang. Sebagian sedang prepare sebelum memulai aktivitas. Cukup lama dia memeriksa, sampai akhirnya dia mengetahui pemilik mobil tersebut, yang merupakan milik seorang wanita.

Siapa wanita ini, sampai harus Bastian sendiri yang turun tangan? Apalagi setelah ia tahu jika karyawannya ternyata sama sekali belum memeriksa mobil tersebut, padahal sudah cukup lama sejak mobil itu datang ke bengkel.

Dia cukup panik.

"Segera perbaiki. Panggil tiga orang lagi. Sekarang juga harus selesai" perintahnya tegas pada satu karyawannya.

"Siap bos" ujarnya sambil berlalu dari sana.

Dia mengembuskan napasnya panjang.

"Bos kenal pria itu?" Wanita sebelumnya bertanya.

"Sangat kenal. Kamu jangan coba-coba ngegodain dia" Hapal sekali dia bagaimana tingkah karyawannya yang satu ini. Jika saja kinerjanya buruk, dia tidak akan mempertahankannya bekerja di sini.

Wanita itu meringis kecil. Untung dia tidak bertindak terlalu jauh. Jika tidak, entah akan seperti apa nasibnya.

"Mobil itu punya istrinya, Bos?"

"Stt" pria itu menempelkan jarinya di ujung bibirnya. Kepalanya menoleh ke arah Bastian berada, wajahnya tampak panik, "Jangan singgung hal itu di depan dia"

"Kenapa?" dia bertanya berbisik. Dia penasaran, berharap akan mendapatkan jawaban yang pasti.

Namun,,

"Ada lah pokoknya" jawabnya acuh sambil berlalu meninggalkan wanita itu sendirian, dengan ekspresi bodohnya.

Apa-apaan bos nya itu? Sok asik sekali.

\=\=\=\=\=

Sisi melipat kedua tangannya di depan tubuh, sambil menatap ke arah mobil yang tengah parkir di depannya.

Tidak lama, Keisya keluar dari dalamnya, lalu berjalan mendekat.

"Ngaku lo. Ada hubungan apa sama tuh Om Om?" Sisi mengangkat tangannya, kembali menambahkan dengan cepat "Jangan bilang karena teman bokap lo. Gue ga terima jawaban basi kaya gitu"

Keisya menghembuskan napasnya lelah. Sisi menjadi sangat berisik setelah tahu jika mobilnya sudah kembali hanya dalam waktu satu hari. Apalagi saat tahu jika Bastian sendiri lah yang mengantarkan langsung ke rumahnya, semakin besar lah kecurigaan temannya itu.

"Ya faktanya emang gitu. Emang apa lagi?"

Sisi berdecak kesal, "Gue itu orangnya curigaan. Dan menurut gue yah, tuh Om Om kayanya naksir lo deh"

Keisya melotot, "Ngaco. Dia seumuran Papa kalo lo lupa"

"Dan lo juga jangan lupa, jaman sekarang cinta ga mandang umur, tapi mandang fisik. Selama masih ganteng, gagah, banyak duit pula, sikat aja sih. Lumayan kan?" Alis Sisi naik turun yang di tanggapi gerakan geli oleh Keisya.

"Sakit jiwa lo" Keisya menggeleng heran, "Ogah. Lagian gue ga mau di labrak sama istrinya. Kaya ga ada cowo lain aja sampe laki orang aja di embat"

"Heh, lo ga tahu?" Sisi menatap aneh temannya. Ekspresinya berubah jadi serius.

"Apa?"

"Om Bastian kan udah pisah sama istrinya"

Keisya cukup terkejut, "Seriusan?"

"Serius lo ga tahu?" Keisya mengangguk yakin. "Payah lo"

"Tahu darimana lo?"

"Anak satu kampus juga tahu kali. Tuh Om Om sering banget di gosipin anak cewe di sini, bahkan jadi bahan halu mereka. Katanya mereka rela jadi sugar Baby kalau sugar Daddy-nya kaya dia"

Keisya menyeringai jijik "Ga waras"

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!