Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setelah makan malam yang hangat dan penuh keakraban, yang untuk sesaat mengusir bayang-bayang ancaman yang mengintai, hingga tiba saatnya Cintya menidurkan Alexei terlebih dahulu di kamar bayi yang memang telah lama disiapkan khusus baby Alexie. Kamar itu dihias dengan warna biru muda dan biru langit dan berbagai mainan anak laki-laki tersusun rapi di rak khusus, untuk menyambut kedatangan seorang pangeran kecil yang telah lama menghilang.
Cintya mengamati wajah Alexei yang damai dalam tidur nyenyaknya, ia merasakan kehangatan tubuh mungil itu dalam dekapannya. Aroma lavender memenuhi indranya, menciptakan perasaan nyaman dan tenang. Hatinya terasa berat untuk berpisah dengan Al, tapi ia tahu, tugasnya melindungi Al sudah selesai, dan Al akan lebih aman di sini, bersama keluarganya yang kaya dan berpengaruh.
Dengan perlahan ia bangkit membawakan langkah beratnya, di ambang pintu, Alexander dan Anastasya yang berada di tubuh kucing itu berdiri bersisian menghadang langkah Cintya.
Mereka mengeong lembut seolah tak ingin Cintya pergi, tatapan mereka berkaca-kaca. Ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada wanita baik hati di hadapannya. Namun sayang mereka tidak bisa berbicara.
Cintya tersenyum lembut menangkapi ngeongan makhluk berbulu di hadapannya. ia berjongkok menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Pus! Aku titip baby Al ya, jaga dia baik-baik. Ingat jangan asyik pacaran di pojokan!" jahil Cintya lalu mengelus keduanya bersamaan.
Setelah itu ia gegas menghampiri kedua orang tua Arkana di ruang keluarga yang tampak hangat dan nyaman. Perapian menyala lembut, memancarkan cahaya keemasan yang menari-nari di dinding. Aroma kayu bakar dan teh chamomile memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang menenangkan.
"Mommy laudya, Tuan Antony, terima kasih untuk semuanya," ucap Cintya tulus, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa terhormat bisa menjadi bagian dari keluarga ini, meski hanya untuk sesaat. Setidaknya ia tahu arti sebuah keluarga.
"Buat apa Nak? Kami yang seharusnya berterima kasih. karena sudah menjaga dan merawat cucu kami dengan sangat baik," balas Laudya tulus, matanya berbinar penuh kasih sayang. Wanita anggun itu menggenggam tangan Cintya, menyalurkan kehangatan dan rasa terima kasih yang tulus.
Namun, di balik senyumnya yang lembut, Cintya melihat kekhawatiran yang sama. Keluarga Dimitri memiliki banyak musuh, dan Alexei kini menjadi target empuk bagi mereka.
"Tak perlu berterima kasih, Mommy. Sudah seharusnya kita saling tolong menolong! Dan maaf, saya nggak bisa berlama-lama lagi karena malam semakin larut. May pasti nyariin saya sambil ngomel-ngomel," tolak Cintya halus, menyembunyikan alasan sebenarnya. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam masalah keluarga Dimitri yang rumit dan berbahaya. Ia hanya ingin kembali ke kehidupannya yang sederhana, meski itu berarti berpisah dengan Alexei, malaikat kecil yang telah mencuri hatinya.
Laudya meraih tangan Cintya, menggenggamnya lembut. "Kenapa nggak menginap saja malam ini, Sayang? Besok pagi baru pulang. Mommy jadi tidak enak hati kalau kamu pulang malam-malam begini," pintanya dengan nada memohon. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tulus dan penuh perhatian yang membuat Cintya merasa tidak enak menolak. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan ibunya sendiri.
Cintya tersenyum lembut, merasa tersentuh dengan perhatian Laudya. "Terima kasih banyak tawarannya, Mommy Laudya. Tapi beneran nggak apa-apa kok. Saya sudah biasa pulang malam. Lagian, May pasti sudah nungguin, dikontrakkan." jawabnya, berusaha meyakinkan Laudya bahwa ia baik-baik saja. Padahal, jauh di lubuk hatinya, ia merasa berat harus meninggalkan baby Al.
Laudya akhirnya mengangguk menyerah, tapi tatapannya masih penuh kekhawatiran. "Baiklah, kalau begitu biar diantar sama sopir ya! Jangan menolaknya lagi!" tegasnya, seolah tahu bahwa Cintya akan kembali menolak. Nada bicaranya lembut, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Arkana, yang sedari tadi hanya diam mengamati dari sudut ruangan, mendekat dengan langkah tenang dan pasti. Bayangan api dari perapian menari-nari di wajahnya yang tampan, membuatnya terlihat semakin misterius dan mempesona.
"Aku yang antar," ucapnya singkat, tanpa ekspresi. Matanya yang elangnya menatap lurus ke arah Cintya, seolah mencoba membaca pikirannya.
Cintya menatapnya, sedikit terkejut. "Eh, apa nggak ngerepotin, Kak Arkan?" tanyanya ragu. Ada sesuatu dalam tatapan Arkana yang membuatnya merasa aneh, seolah pria itu menyimpan rahasia besar yang tidak bisa ia ungkapkan.
Arkana hanya mengangkat bahu, lalu berbalik menuju pintu. Rambutnya yang hitam legam bergerak lembut saat ia berjalan, memancarkan aroma maskulin yang memabukkan.
"Hmm! Ganteng sih, tapi dingin banget. Kalau ngomong suka pakai bahasa kalbu! Apa dia ini es batu yang nyamar jadi manusia?" batin Cintya bingung, menahan senyum geli. Ia merasa seperti sedang berhadapan dengan tokoh utama pria dalam novel roman picisan.
"Baiklah," jawabnya akhirnya, mengalah. Ia tidak ingin berdebat dengan pria es itu. "Tapi janji ya, nggak ngebut! Aku trauma sama kecepatan." keluhnya sebagai alasan.
Arkana berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Tatapannya dingin, namun ada sedikit kelembutan yang terpancar dari sana. "Hmm," sahutnya singkat, lalu melanjutkan langkahnya menuju garasi. Nada bicaranya datar, namun ada sesuatu yang membuat Cintya merasa aman dan terlindungi.
Deretan mobil mewah berjajar rapi di garasi yang luas, berkilauan di bawah cahaya lampu yang terang. Mobil-mobil itu tampak seperti monster-monster besi yang siap menerkam siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka. Arkana membukakan pintu sebuah sedan hitam yang elegan, namun tampak kokoh dan kuat. Cintya masuk dengan ragu, sekaligus berdecak kagum. Ia merasa seperti Cinderella yang dijemput oleh pangeran tampan dengan kereta kudanya.
Selama perjalanan, suasana di dalam mobil terasa canggung keduanya sepakat membisu. Arkana fokus pada jalanan, ekspresinya serius dan tegang. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri, seolah sedang memecahkan teka-teki yang rumit. Sementara Cintya menikmati pemandangan gemerlap kota di malam hari. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkilauan seperti bintang-bintang yang jatuh dari langit.
DOR! ...
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus