Bercerita tentang lika-liku kehidupan Barista cantik, Bulan Aisyah Permana. Kehidupannya yang semula bahagia dan baik-baik saja mendadak seperti dihantam badai besar, Ayahnya selingkuh lalu meninggalkan Bulan dan Ibunya hingga kini Bulan harus menghidupi dirinya dengan Ibunya karena ulah Ayahnya, kini Ibunya menderita struk. Bulan yang memang anak tunggal merasa bertanggung jawab atas kehidupan Ibunya.
Tidak hanya tentang kisah keluarganya saja yang begitu memprihatinkan, namun kisah cintanya juga sama pahitnya. Kekasih yang selama ini diharapkan bisa menghibur dan menyemangatinya, malah berhianat juga. Bulan dan Ibunya merasa mendapatkan nasih yang sama.
Bulan menyemangati dirinya sendiri, bahwa pasti akan ada pelangi setelah hujan badai.
Bagaimanakah kisah perjalanan keluarga Bulan beserta kisah percintaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Corona itu ...
Seharian ini Bintang benar-benar menemani Bulan sampai sore hari. Membantu Bulan merapikan kontrakannya. Bintang juga mengajak Bulan ke pasar terdekat, membeli kasur yang layak untuk Bu Widya, walaupun sebelumnya Bulan sudah menolak, tapi Bintang selalu beralasan demi kenyamanan Bu Widya, jika sudah berkaitan dengan Ibunya, Bulan akan cepat luluh.
Ini pertama kalinya Bintang melakukan pekerjaan rumah. Pertama kalinya juga Bintang pergi ke pasar karena Bulan menolak membeli kasur di mall. Kata Bulan di mall pasti harganya mahal, dan Bulan tidak ingin semakin merepotkan Bintang.
Sebenarnya bukannya Bulan mau menolak rizki, tapi Bintang terlalu baik, apalagi sejak Ibu sakit, Bulan merasa semakin dekat dengan Bintang. Bintang juga semakin perhatian dengan Bulan. Mereka sebenarnya sudah saling nyaman.
Sore harinya Bintang mengajak Bulan membeli makanan untuk mereka bertiga. Bulan mengajak Bintang ke warung pecel ayam terdekat. Sementara Ibu masih asyik menonton TV dengan Bibi.
"Sudah pernah makan pecel ayam Mas?"
Bintang mengangguk, "Ayam dengan sambel kan?"
"Iya, ada lalapannya juga."
Bintang dan Bulan berjalan kaki berdua menuju tukang pecel ayam yang ada di depan gang. Hal sederhana ini lah yang membuat Bintang begitu senang, entahlah, apa mungkin karena semua ini dilakukan bersama Bulan.
Sesampainya di warung pecel ayam, Bulan segera memesan 3 ayam goreng.
"Bang, ayam goreng yah 3," ucap Bulan pada Abang-abang penjual pecel Ayam.
"Dada apa paha Mbak?"
"Kalau bahu ada nggak? buat sandaran gitu." Bulan tegelak, sementara Bintang langsung mencolek lengan Bulan.
"Itu kan sudah ada bahu Masnya,"Ledek abang pecel ayam. Bulan tersenyum, malah diledek balik nih sama Abang kang pecel, asyem.
"Pacarnya kan Mbak?"
Bulan menggeleng, Bintang melirik Bulan.
"Calon istri Bang, bukan pacar."
Bintang terkejut ketika mendengar ucapan Bintang pada Abang pecel Ayam. Kini Bulan yang bergantian mencolek Bintang. Bintang meresponnya dengan senyuman manis. Setelah selesai membeli pecel ayam, mereka bergegas kembali ke kontrakan.
"Nggak boleh nakal gitu, nanti kang pecel ayam baper gimana, nih kalau butuh bahu buat bersandar, ini bahu Mas ada kok, kosong, dua-duanya kosong, gratis buat kamu." Bintang meraih kepala Bulan dengan tangannya, kemudian menyenderkannya di bahu Bintang.
"Mas ih, lagi di jalan ih."
"Kalau nggak di jalan mau berarti," Ledek Bintang. Woy, Mas Bin mulai aktif nih Mih.😆
Bulan mesem manis, haduh Bintang jadi serba salah inih. Rasanya pengen culik bulan terus dibawa deh KUA.
...***...
Hari Minggu ini di rumah Mamih Bela sudah ramai sekali, ada kakak-kakak Bintang main ke rumah. Lintang dan Pelangi selalu berkunjung setiap Minggu. Karena Mamih Bela selalu ingin bertemu cucu-cucunya dikala Weekend.
Bintang yang mendengar kericuhan di ruang keluarga segera keluar dari kamarnya. Bintang langsung diserbu oleh keponakan-keponakannya. Bintang duduk di sebelah Kuncoro yang saat itu tengah merapikan kuku-kukunya menggunakan alat khusus kuku.
"Mih, Bintang belum dapet cewek juga?" tanya Pelangi yang langsung dilirik oleh Bintang.
"Haduh, setiap kesini bahasnya itu mulu." Bintang mengambil teh manis hangat yang ada meja, lalu meminumnya perlahan.
"Belum, tapi mungkin sebentar lagi dapat," Mamih melirik ke arah Bintang sambil mengerlingkan matanya.
"Eh tapi itu mantan kamu yang artis itu, kan mau cerai Tang, di infotainment ada." Jiwa gosip emak-emak Lintang mulai muncul.
Kuncoro yang tengah sibuk merapikan kuku langsung berkomentar, "Akika nggak setuju kalau Bintang sama tuh Kucing girang."
"Kenapa? kirain Bintang berkomitmen, ku tunggu jandamu,"ledek Lintang.
"Hih No No No, Bintang sama dese itu ibarat corona, kelihatannya baik-baik aja padahal udah bukan siapa-siapa." Kuncoro tergelak, begitu juga dengan Pelangi dan Lintang. Sementara Bintang malah asyik bermain dengan keponakannya sambil sesekali mendengarkan emak-emak bergosip.
"PSBB, pernah sayang tapi belum berjodoh dan akika harap Bintang sama dese jangan berjodoh, ih akika nggak setuju." Kuncoro melanjutkan banyolannya.
"Mamih juga nggak setuju, lagian juga sekarang Mamih lagi deketin Bintang sama pilihan Mamih."
"Siapa Mih?"
"Bulan," Bisik Mamih.
"Nah itu baru cucok, endulita, perawan kinyis."
"Siapa sih Mih?" tanya Lintang dan Pelangi bersamaan.
"Kuncoro, culik Bulan sama Ibunya sana, bawa kesini,"
Kuncoro langsung mengacungkan jempolnya ke arah Mamih Bela, "Siap Mih, mana alamatnya."
Mamih Bela memberikan alamat kontrakan Bulan pada Kuncoro, Mamih Bela ingin memperkenalkan Bulan pada kedua kakak Bintang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Author ngantuk banget pemirsah, maaf dikit, besok lanjut lagi yah.)
Author tunggu 150 komentarnya.
Salam sayang
Santypuji
ceritanya seru bagus banget 👍👍👍
semangat mba ya dgn karya selanjutnya 💪💪
tengah malam pula di kirain cekikikan neng kun Kun lagi,,