Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35:Cahaya di Ujung Badai
Pagi setelah konfrontasi di rumah keluarga Artha, suasana di lokasi proyek Grand Batavia Hotel berubah total. Truk-truk semen yang kemarin "menghilang" kini mengantri panjang di depan gerbang, bahkan sebelum para pekerja memulai shift mereka.
Para pemilik depo material menelepon Senja satu per satu dengan nada memohon maaf, menjanjikan diskon besar asalkan Senja tidak memutus kontrak dengan mereka.
Senja berdiri di balkon lantai tiga yang masih setengah jadi, memegang botol air mineral dan menatap kesibukan di bawahnya. Ia tahu, ini bukan karena mereka tulus menyesal, tapi karena perintah Ibu Artha sudah turun.
"Mbak Senja," panggil Pak Joko dari belakang. "Ada tamu di bawah. Katanya dari International Heritage Society. Mereka tidak mau bicara dengan saya, maunya langsung dengan pimpinan firma."
Senja mengerutkan kening. International Heritage Society adalah organisasi bergengsi yang mengawasi pelestarian bangunan bersejarah di seluruh dunia. Jika mereka datang, hanya ada dua kemungkinan: pujian atau tuntutan hukum.
Senja turun dan menemui seorang wanita asing berambut perak dengan setelan jas yang sangat rapi.
"Nona Senja Amara? Saya Catherine, kurator senior dari IHS," ucap wanita itu dalam bahasa Inggris yang kental. "Kami telah memantau sketsa renovasi Anda yang bocor ke publik beberapa hari lalu. Visi Anda untuk menggabungkan struktur kolonial dengan teknologi ramah lingkungan... itu adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat di Asia Tenggara."
Senja tertegun. "Terima kasih, Catherine. Saya hanya mencoba menghargai sejarah bangunan ini."
"Kami ingin menawarkan kerja sama. Kami ingin menjadikan proyek ini sebagai model percontohan pelestarian cagar budaya di tingkat internasional. Ini berarti, firma Anda akan mendapatkan dukungan dana hibah untuk riset material, dan proyek ini akan dipublikasikan di jurnal arsitektur dunia," lanjut Catherine.
Ini adalah kemenangan besar. Jauh lebih besar dari sekadar memenangkan tender. Senja merasa matanya panas. Semua air mata yang ia tahan selama setahun melayani Rangga saat itu, dan semua hinaan yang ia telan dari Aditya, seolah terbayar tunai hari ini.
Tapi, di sudut lain kota Jakarta, kegelapan sedang menyelimuti Aditya Artha. Ia duduk di ruang kerjanya yang kini terasa seperti penjara.
Ibunya benar-benar membuktikan ucapannya; semua hak akses Aditya ke keuangan perusahaan dibekukan, dan ia dilarang mencampuri urusan proyek Grand Batavia.
Aditya menatap foto Senja di layar ponselnya—foto saat Senja masih tersenyum manis saat mereka baru saja meresmikan hubungan keduanya. Obsesinya sudah melewati batas kewarasan.
"Kamu pikir kamu sudah menang, Senja?" gumam Aditya, suaranya parau karena amarah.
"Ibu mungkin bisa menghentikan perusahaanku, tapi dia tidak bisa menghentikan aku."
Aditya mengambil kunci mobilnya secara diam-diam. Ia tidak lagi peduli pada reputasi atau peringatan ibunya. Ia merasa dikhianati oleh Senja, wanita yang ia anggap "miliknya" karena ia telah menolongnya di saat tersulit menurutnya. Baginya, Senja yang mandiri adalah penghinaan bagi kejantanannya.
...----------------...
Sore itu, Senja sedang merapikan beberapa dokumen di ruko kantornya sendirian. Pak Joko dan para pekerja sudah pulang lebih awal. Suasana ruko yang tenang tiba-tiba terusik oleh suara pintu depan yang dibuka dengan kasar.
Senja berdiri, tangannya refleks meraih penggaris besi panjang di atas meja. "Siapa itu?"
Aditya muncul di ambang pintu. Pakaiannya berantakan, dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Bau alkohol tercium tipis dari tubuhnya.
"Aditya? Keluar dari sini sekarang juga!" bentak Senja, mencoba menutupi rasa takutnya dengan keberanian.
"Kenapa, Senja? Kamu takut?" Aditya melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dan menguncinya. "Kamu sangat hebat ya sekarang. Mendapat dukungan internasional, dipuji ibuku, dan menginjak-injak aku seperti sampah."
"Kamu yang menjadikan dirimu sendiri sampah, Adit! Kamu yang mencoba membakar proyekku!" sahut Senja, ia mulai mundur perlahan menuju laci tempat ia menyimpan alat kejut listrik (stun gun) yang ia beli untuk berjaga-jaga.
"Aku melakukan itu karena aku ingin kamu kembali padaku! Aku ingin kamu butuh aku!" Aditya berteriak, suaranya bergetar. "Kenapa kamu tidak bisa seperti dulu?"
"Karena wanita yang kamu kenal dulu sudah mati dibunuh oleh laki-laki seperti kamu dan Rangga!" Senja berhasil meraih stun gun dari laci, tapi Aditya bergerak lebih cepat. Ia menerjang meja kerja Senja, membuat semua dokumen dan maket bangunan berhamburan ke lantai.
Senja mencoba melawan, tapi tenaga Aditya jauh lebih kuat. Aditya mencengkeram bahu Senja dan menyudutkannya ke dinding.
"Lepaskan aku, Adit! Kamu gila!"
"Iya, aku gila karena kamu, Senja! Kalau aku tidak bisa memiliki kamu, maka tidak ada satu pun orang yang boleh memilikimu. Termasuk kesuksesanmu ini!" Aditya mengangkat tangannya, bersiap melakukan sesuatu yang nekat.
Tapi, di saat kritis itu, suara sirine polisi terdengar mendekat ke arah ruko. Ternyata, Senja tidak pernah benar-benar sendiri. Ia sudah memasang sistem alarm yang terhubung langsung dengan pos polisi terdekat sejak ia tahu ban mobilnya dikempeskan.
"Polisi sudah di sini, Adit. Pilihannya sekarang: lepaskan aku dan lari lewat pintu belakang sebelum kamu tertangkap, atau kamu masuk penjara malam ini juga dengan tuduhan penyerangan dan percobaan pemerkosaan," bisik Senja tepat di depan wajah Aditya yang panik.
Wajah Aditya berubah pucat. Ia menatap pintu depan yang digedor-gedor oleh petugas, lalu menatap Senja dengan penuh kebencian sekaligus kekalahan. Ia melepaskan cengkeramannya, lalu berlari menuju jendela belakang dan menghilang di kegelapan malam.
Senja jatuh terduduk di lantai, napasnya memburu. Ia memeluk lututnya, gemetar hebat. Ia baru saja selamat dari maut untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini, ia tahu satu hal: perang ini belum berakhir. Aditya sudah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭