Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.
Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.
Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.
Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Rambutnya yang terurai sudah basah oleh air mata, tetapi tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya, bahkan sang Ibu sekalipun.
Mungkin ini adalah bentuk pemberontakan Hana yang paling jelas sepanjang hidupnya. Untuk pertama kalinya, dia berani memperdengarkan suara pecahan barang-barang yang dilemparkannya. Namun, bahkan setelah semua itu, Hana tetap tidak berdaya di hadapan Conrad.
Ayahnya benar-benar menjadi ancaman di depan mata. Jika dia tidak mau menikahi Alexander, maka tidak akan ada belas kasihan. Bukan bagi dirinya, melainkan bagi Jethro—pria yang baru saja membuatnya merasa bahagia dan berharga.
Suatu perasaan yang sangat mahal bagi Hana.
“Arrrrghhh!”
Hana menggeram sambil menekan kepalanya kuat-kuat ke bantal.
Dia begitu frustrasi dan tertekan. Lebih dari itu, tentu saja dia tidak ingin berurusan dengan Alexander yang telah memiliki anak dengan wanita lain. Bayangan harus mengasuh anak orang lain saja sudah membuat Hana merasa nyaris gila.
Namun, untuk saat ini, masih ada secercah harapan di dalam dirinya. Dia berharap Alexander akan menjadi pihak yang menolak. Bagaimanapun, dia bisa melihat tekad pria itu yang tampak serius dalam hubungan barunya kali ini.
Jauh lebih serius daripada hubungan mereka yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Miris memang.
“Aku harus menghubungi Jethro.”
Pikiran Hana berpindah begitu cepat.
“Eh, tidak. Jangan menelepon. Nanti bisa terdengar. Aku kirim pesan saja.”
Dengan serius, Hana mengetuk-ngetukkan jarinya di layar ponsel. Namun, setelah cukup lama, dia justru berhenti dan menghapus seluruh kalimat yang telah ditulisnya.
Dia tiba-tiba tertegun.
Kenapa dia menyuruh Jethro bersembunyi dari Ayahnya? Kenapa dia justru memikirkan cara agar pria itu bisa tetap menghubunginya dengan aman?
Bukankah seharusnya dia menyuruh Jethro pergi saja?
Jangan pernah mendekatinya lagi.
Bukankah itu jauh lebih masuk akal?
Semua pikiran itu membuat Hana refleks memegang dadanya.
“Apa-apaan ini? Kenapa aku ingin menahannya, seolah-olah kami memiliki hubungan?”
Gengsinya tiba-tiba muncul. Hana akhirnya memilih mengetik sesuatu yang justru berlawanan dengan keinginannya.
Dengan ketegasan yang dibuat-buat, dia meminta Jethro untuk tidak menemuinya lagi demi keselamatan pria itu.
Namun, begitu tombol ‘kirim’ diketuk, rasa hampa seketika memenuhi dadanya.
Rasa hampa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
•
•
Sementara itu, di kediaman keluarga Kim, Jiah dan Barack duduk bersama di kamar mereka sambil menatap ikan-ikan di dalam akuarium.
Setelah beberapa saat membiarkan pandangan mereka mengikuti gerakan ikan yang berenang ke sana kemari, keduanya akhirnya bisa berbicara dengan kepala dan hati yang lebih dingin.
“Aku tidak akan memungkiri...” Jiah berujar pelan. “Ada sedikit kesenangan di hatiku saat tahu bahwa aku akan menjadi seorang nenek.”
Masih menatap akuarium, Barack memberikan anggukan kecil.
Dia pun tidak ingin munafik.
Usianya telah semakin tua. Sementara kerabat-kerabat mereka sudah memiliki cucu, Barack diam-diam menginginkan hal yang sama.
Dia selalu merindukan menjadi seorang kakek. Ada ketakutan tersendiri bahwa usia tidak pernah bisa diprediksi, dan kesempatan itu mungkin tidak akan datang selamanya.
“Tapi entah bagaimana dengan Hana?” Mata Jiah mulai berkaca-kaca saat membayangkan gadis itu. “Anak itu pasti hancur sekali setelah mendengar kabar ini.”
Dia menundukkan wajah.
“Anak itu tidak bersalah apa pun, tapi Alexander telah mematahkan hatinya. Sungguh malang Hana-ku.”
Barack hanya mengembuskan napas panjang.
Dia benar-benar merasa bersalah kepada Hana yang selama ini telah dianggapnya seperti putri sendiri. Namun, di luar perasaan pribadi, dia juga sedang kebingungan mencari jalan keluar terbaik untuk masalah yang telah melibatkan dua keluarga.
Pertama, keluarga Kim dan keluarga Lii memiliki hubungan kekerabatan yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Hubungan Hana dan Alexander pun sejak awal tidak sepenuhnya lahir hanya karena keinginan mereka untuk bersama.
Kedua, hubungan tersebut juga memiliki unsur transaksi.
Sebagai pengusaha, keluarga Kim merupakan salah satu penyokong penting keluarga Lii dalam kancah politik dan pemerintahan. Mengingat Alexander memiliki keinginan untuk menjadi politikus, hubungan itu dianggap semakin menguntungkan.
Dengan memanfaatkan hubungan dan pengaruh tersebut, Alexander akhirnya bergabung dan mulai membangun koneksi politik yang membuat namanya semakin dikenal.
Namun, popularitas itu kini justru berubah menjadi malapetaka.
Barack tahu bahwa putranya akan membayar harga yang sangat mahal jika kesalahannya sampai terungkap ke publik. Tetapi sebelum memikirkan hal tersebut, mereka masih harus menghadapi Conrad—dan Barack sangat mengenal temperamen pria itu.
“Tapi aku khawatir dengan wanita asing ini,” Jiah kembali bersuara. “Bagaimana kalau dia hanya memanfaatkan Alexander? Bagaimana kalau dia tidak sebaik Hana?”
Kekhawatiran itu bercampur dengan kecemasan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
Barack mengusap punggung istrinya dengan lembut.
“Jangan terburu-buru. Kita akan mencari jalan terbaik untuk semuanya.”
Jiah sedikit tidak puas dengan jawaban tersebut. Namun, ketidakpuasannya berubah menjadi kewaspadaan ketika seorang pelayan tiba-tiba menggedor pintu dengan terburu-buru.
Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu serentak berdiri untuk membuka pintu.
“Ada apa?”
Pelayan itu menundukkan kepala.
“Tuan, Nyonya... di depan ada Ayah dari tunangan Tuan Muda Alexander. Saya tidak tahu, tetapi beliau tampak sedang marah.”
Jiah dan Barack kembali saling berpandangan.
Barack akhirnya mengambil langkah lebih dulu.
Benar seperti yang dilaporkan.
Di ruang tamu mereka yang berdesain klasik modern, Conrad berdiri dengan kedua tangan di pinggang, menatap ke sana kemari dengan wajah penuh kemarahan.
“Conrad...”
Tanpa membalas sapaan itu, pria tersebut justru menyapu bagian belakang jasnya sebelum mendudukkan diri dengan gusar.
“Kamu tidak memberi kabar akan datang,” Barack mencoba berbasa-basi.
Namun, Conrad langsung membalas dengan suara keras.
“Kau juga tidak memberi kabar bahwa putramu telah melakukan kesalahan tercela.”
Jiah yang baru saja tiba hampir kehilangan keseimbangan karena terkejut.
Mengetahui betapa gusarnya pria itu, Barack segera memberi isyarat kepada kepala pelayan agar meninggalkan mereka.
“Conrad, dengar—”
“Di mana Alexander? Di mana putramu itu?! Aku hanya akan mendengar jika dia sendiri yang berbicara.”
Conrad sengaja bersikap keras, membuat pihak mereka seolah-olah menjadi korban yang harus mempertanggungjawabkan semuanya.
“Alexander sedang tidak ada. Bicaralah dengan kami. Mari kita membicarakan semuanya dengan baik,” jawab Jiah sambil duduk di samping suaminya.
Kini mereka saling berhadapan dengan meja sebagai pemisah.
“Untuk apa berbicara dengan kalian kalau kalian sudah nyata-nyata menyembunyikan apa yang terjadi?”
Barack mengusap tangan istrinya yang mulai gemetar karena gugup.
“Conrad, baiklah...”
Dia menarik napas panjang.
Meski pria di hadapannya membuang muka, Barack tetap ingin menyampaikan permintaan maaf sebagai seorang ayah yang mewakili darah dagingnya sendiri.
“Maaf. Maafkan kami. Kami benar-benar meminta maaf atas apa yang terjadi. Sebisa mungkin, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk bertanggung jawab kepada Hana atas kesalahan yang dilakukan Alexander.”
Alis Conrad terangkat tinggi.
Kini tubuhnya condong ke depan.
“Bertanggung jawab? Bertanggung jawab dengan cara apa, Barack?”
Nada suaranya penuh tekanan.
“Hmm... satu-satunya bentuk pertanggungjawaban yang bisa kalian lakukan adalah tetap melaksanakan pernikahan ini. Dengan begitu, putriku tidak akan merasa dipermalukan.”
Jiah hampir terlonjak dari tempat duduknya.
Dia tidak pernah membayangkan hal seperti itu. Bagaimanapun, dia adalah seorang wanita. Dia tidak sanggup membayangkan pernikahan tetap dilangsungkan, entah dari sisi Hana maupun dari sisi wanita yang mengandung cucu mereka.
“Conrad, kamu sedang marah dan kami sangat memahami perasaanmu. Kami juga benar-benar menyesal atas apa yang terjadi. Tapi tetap saja, apa yang kamu katakan barusan sedikit mustahil.”
“Apanya yang mustahil? Kenapa tidak bisa?”
Conrad langsung menyela.
“Alexander bukan satu-satunya pria yang melakukan kesalahan seperti ini! Banyak yang melakukannya dan tetap melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa. Lalu, apa bedanya dengan Alexander?!”
Barack yang mendengar itu segera mengusap tangan istrinya, memberi isyarat agar Jiah diam lebih dulu.
“Conrad, ini bukan tentang Alexander.”
Suaranya lebih tenang.
“Ini tentang Hana. Putra kami tidak lagi layak untuk putrimu. Hana berhak mendapatkan pria yang lebih baik daripada Alexander kami yang brengsek.”
Conrad menarik napas dalam-dalam.
“Lagipula, Alexander harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. Kami akan memastikan dia tidak akan lari dari tanggung jawab.”
Jiah sedikit terkejut mendengar ketegasan suaminya, tetapi dia tetap diam.
Perkataan itu merupakan keputusan yang akhirnya mereka ambil.
Mereka akan berjalan sesuai dengan aturan agama yang mereka yakini, alih-alih mengikuti kebiasaan dunia.
Namun, apakah semuanya akan semudah itu?
Tentu saja tidak.
Conrad sama sekali tidak menerima nilai-nilai agama yang dianggapnya sok suci itu.
“Ha-haa-haa... Barack, Barack... ckck.”
Conrad menggeleng-gelengkan kepala.
“Keluarga Kim patut dipuji atas nilai-nilai keagamaannya yang begitu tinggi. Tapi apa gunanya?”
Dia mencondongkan tubuhnya.
“Bukankah semuanya sudah terlambat? Anak kalian telah melakukan sesuatu yang melanggar dan merugikan banyak pihak, termasuk putriku. Jadi, aku datang untuk meminta pertanggungjawaban!”
Jiah ingin sekali berteriak membalas.
Bukan Hana yang membutuhkan pertanggungjawaban Alexander, melainkan wanita lain yang sedang mengandung anaknya.
Dia bisa merasakan dengan jelas bahwa Conrad benar-benar memaksakan pernikahan itu untuk tetap terjadi.
Dan sayangnya, semua itu tampaknya bukan hanya karena kecintaan seorang ayah kepada putrinya.
Ada kepentingan lain di baliknya.
“Conrad, pikirkan dari sisi Hana. Apakah dia rela menerima Alexander dan statusnya saat ini? Aku yakin dia tidak—”
“Hana menerimanya!”
Conrad memotong ucapan Barack begitu cepat hingga keduanya terdiam.
“Apa?”
Jiah melongo, tidak percaya.
“Bagaimana bisa?”
Conrad kembali memasang wajah tegar bercampur amarah.
“Ya. Putriku yang berharga setuju untuk menerima kesalahan putra kalian. Saking baiknya dia!”
Senyumnya tipis dan getir.
“Meskipun telah disakiti, dia memilih untuk tidak menyerah pada cintanya. Kalian sendiri tahu sudah berapa lama mereka bersama.”
Tatapannya berpindah dari Barack kepada Jiah.
“Jadi, aku harap kalian tahu diri.”
Conrad berbicara tanpa sedikit pun beban, benar-benar memainkan emosi pasangan di hadapannya.
Jiah tidak lagi mampu menahan diri.
Matanya menunjukkan gejolak ketidaksetujuan, sementara kepalanya menggeleng tegas.
“Tidak, Conrad. Bukan berarti kami mengabaikan perasaan Hana. Kami justru berjanji akan memberikan yang terbaik sebagai ganti atas luka emosional yang begitu besar ini.”
Dia menarik napas.
“Tapi pernikahan mereka tidak bisa dilanjutkan.”
Bagaimanapun, Alexander telah memiliki anaknya sendiri.
Dan itu berarti mereka akan menjadi kakek dan nenek.
“Jiah...” Barack mencoba menahan.
Namun, istrinya menggeleng.
Dia ingin memperjelas maksud mereka.
“Maaf, Conrad. Meskipun ini adalah sebuah kesalahan, hal itu tidak mengubah fakta bahwa kami memiliki calon cucu. Kami akan menjadi kakek dan nenek.”
Suara Jiah melemah. “Jadi, bagaimana mungkin kami membiarkan cucu kami tumbuh tanpa status dan keluarga yang jelas di luar sana? Aku harap kamu bisa mengerti...”
Anehnya, Conrad justru mengangguk.
“Aku mengerti. Sangat mengerti.”
Dia bersandar dengan tenang. “Aku juga akan melakukan hal yang sama jika memiliki seorang cucu.”
Namun, sorot matanya kembali mengeras.
“Tapi itu bukan alasan yang cukup.”
“Apa maksudmu?”
“Tentu saja kalian masih bisa membawa cucu kalian pulang.”
Conrad tersenyum tipis.
“Berikan dia keluarga yang lengkap. Hana dan Alexander akan menjadi orang tuanya.”