NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan

Aris memacu mobil miliknya yang ringsek menuju Kota Marunda. Di kursi belakang, Januar mendekap Nirmala yang badannya mulai demam tinggi akibat syok dan udara dingin hutan.

Mesin mobil tua itu berbunyi kasar sepanjang jalan, namun Aris tidak peduli. Prioritas pertamanya saat ini adalah menyelamatkan nyawa anak perempuan tersebut. Begitu roda mobil mencicit di pelataran parkir Rumah Sakit Umum Marunda, Aris langsung keluar.

Dia menggendong Nirmala ke dalam ruang instalasi gawat darurat (IGD). Para perawat dan dokter jaga bergegas mengambil alih tubuh kecil Nirmala, membawanya ke balik tirai putih untuk penanganan medis darurat.

Aris terduduk di bangku lorong rumah sakit. Jaket kulitnya yang kotor oleh lumpur hutan tampak sangat kontras dengan lantai keramik putih yang bersih. Januar duduk di sebelahnya, napasnya mulai teratur setelah ketegangan maut di Desa Talas.

"Kita berhasil, Aris. Kita membawa anak itu pulang hidup-hidup," bisik Januar, mencoba tersenyum. Aris tidak menjawabnya. Matanya tertuju pada ujung lorong IGD.

Firasat detektifnya berteriak bahwa ketenangan ini tidak akan bertahan lama. Dari balik tikungan lorong, muncul Ajun Komisaris Hendra bersama empat orang personel polisi bersenjata lengkap.

Wajah Hendra tidak lagi menampakkan kegelisahan seperti di rumah Adiwangsa; kali ini, dia tersenyum penuh kemenangan.

"Detektif Aris," sapa Hendra dengan nada suara yang sengaja dikeraskan. "Luar biasa. Kau berhasil menyelamatkan putri Tuan Hadiningrat.

Tapi sayang, tugasmu berakhir di sini."

Aris bangkit berdiri, menatap ke mata komandannya.

"Apa maksudnya ini, Komandan?" Hendra mengeluarkan selembar kertas bermeterai dari kantong seragamnya.

"Atas perintah langsung dari markas besar, Anda resmi dinonaktifkan dan ditahan mulai detik ini. Tuduhannya: pencurian dokumen rahasia negara, penyusupan ilegal ke ruang arsip bawah tanah, dan perusakan fasilitas dinas saat Anda melarikan diri."

Dua polisi di belakang Hendra maju, langsung mendekap lengan Aris dan memaksa tangannya ke belakang untuk dipasangi borgol.

Januar yang mencoba membela langsung ditahan oleh personel lainnya.

"Jangan bodoh, Aris," bisik Hendra tepat di telinga Aris saat rantai borgol terpasang.

"Tuan Adiwangsa sudah mendapatkan surat tanahnya kembali berkat negosiasimu di desa. Sekarang, kau dan berkas tahun 1959 itu sudah tidak berguna lagi bagi mereka. Kau akan membusuk di sel besi sebelum sempat membuka mulutmu ke publik."

Aris tidak melawan secara fisik. Dia membiarkan tangannya diborgol, di balik saku celananya, Aris tahu peluru hitam yang sebenarnya telah dia lepaskan melalui Bramantyo beberapa jam lalu.

Hendra mencengkeram jaket kulit Aris, bersiap menyeretnya keluar dari koridor rumah sakit. Namun, tepat ketika langkah mereka mencapai pintu kaca lobi utama, sebuah sepeda motor bebek dinas meluncur kencang di pelataran parkir.

Seorang loper koran turun, melemparkan satu bundel besar harian Suara Marunda edisi pagi ke meja resepsionis dengan terburu-buru.

"Berita gempar, Pak! Koran pagi ini naik cetak ulang!" seru sang loper, kembali memacu motornya. Hendra menghentikan langkahnya, dia memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya untuk mengambil satu eksemplar koran tersebut.

Koran itu dibuka di hadapan Hendra, di halaman depan harian tersebut, tercetak judul utama

berukuran besar dan tebal:

"DOSA DARAH 1959: DINASTI HADININGRAT MEMBANTAI DESA TALAS, KEPOLISIAN KOTA TERLIBAT SUAP!"

Di bawah tajuk utama tersebut, foto salinan dokumen otopsi asli, peta manipulasi batas tanah, hingga surat perintah pembungkaman kasus yang ditandatangani Bratasena Hadiningrat terpampang dengan sangat jelas. Bramantyo benar-benar menepati janjinya.

Wartawan senior itu tidak hanya mencetaknya di Marunda, tetapi jaringan pers independen ibu kota yang dihubunginya telah membuat berita ini meledak secara nasional sejak pukul lima pagi.

"Ini... ini tidak mungkin! Bagaimana bisa berkas ini bocor?!" teriak Hendra,hingga lembaran koran itu terlepas dan jatuh ke lantai rumah sakit. Belum sempat Hendra menguasai kepanikannya, suara sirine mobil komando terdengar meraung mendekati lobi.

Tiga mobil sedan hitam dengan lambang Divisi Propam Mabes Polri berhenti. Belasan petugas berwewenang tinggi berbaret biru turun dengan langkah tegap, dipimpin oleh seorang Komisaris Besar yang berwajah dingin.

"Ajun Komisaris Hendra!" bentak Kombes tersebut sambil menunjukkan surat perintah resmi khusus dari pusat.

"Atas perintah Kapolri, Anda dan seluruh jajaran yang terlibat dalam perlindungan keluarga Hadiningrat resmi dibebastugaskan malam ini juga untuk pemeriksaan pelanggaran kode etik berat dan pidana suap!"

Dua petugas Propam maju, langsung memotong cengkeraman anak buah Hendra pada lengan Aris. Mereka membuka borgol besi di tangan Aris, lalu berbalik mengunci pergelangan tangan Hendra yang kini lemas tanpa perlawanan.

Kombes tersebut melangkah mendekati Aris, menepuk pundak sang detektif yang masih kotor oleh lumpur kaki Gunung Kelam.

"Kerja bagus, Detektif Aris. Laporan investigasi Anda yang diteruskan lewat pers independen telah sampai ke meja Kapolri. Pusat mengambil alih kasus ini sekarang. Keluarga Hadiningrat sedang dikepung di kediaman mereka."

Aris memijat pergelangan tangannya yang memerah akibat borgol. Dia menoleh ke arah Januar yang tersenyum lebar di belakang tirai IGD, lalu melihat ke dalam ruangan tempat Nirmala sedang dirawat.

Peluru hitam berupa kebenaran cetak koran telah melesat tepat sasaran. Dinasti Hadiningrat runtuh, Desa Talas mendapatkan haknya kembali, dan sandiwara hukum di Kota Marunda di penghujung tahun 1989 ini resmi berakhir dengan kemenangan keadilan sejati.

"Selesai"

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!