Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku akan membawa Dara pulang ke Jakarta besok lusa, Kek."
Ucapan Gavin membuat sendok di tangan Juragan Darmawan berhenti di udara.
Pagi itu mereka sedang menikmati sarapan bersama di teras belakang rumah yang menghadap hamparan perkebunan teh. Kabut tipis masih menggantung di lereng pegunungan, sementara aroma teh hangat bercampur dengan wangi nasi goreng buatan Dara memenuhi udara.
Juragan Darmawan menoleh ke arah cucunya, lalu tersenyum lebar. Beliau mengangguk pelan.
"Sudah waktunya memang. Kakek juga sudah sehat. Tidak enak kalau terus merepotkan kalian."
Dara yang duduk di samping Gavin ikut tersenyum lega. Selama hampir satu bulan terakhir, kehidupannya dipenuhi rutinitas mengantar Juragan Darmawan terapi, menyiapkan makanan, hingga menemaninya berjalan-jalan di sekitar kebun. Kini kondisi pria tua itu benar-benar jauh lebih baik.
Juragan Darmawan menyesap tehnya sebentar sebelum kembali membuka suara. "Tapi ada satu syarat."
Gavin mengangkat sebelah alis. "Apa itu, Kek?"
Pria tua itu terkekeh pelan. "Sering-seringlah datang ke sini."
Beliau kemudian melirik Dara dengan senyum jahil. "Dan jangan terlalu lama memberi Kakek cicit. Kalau bisa tahun depan sudah ada yang manggil Kakek Buyut."
Dara yang sedang meminum teh langsung tersedak kecil. "Uhuk ... uhuk!"
Sherly buru-buru menepuk pelan punggung menantunya. "Pelan-pelan, Dara."
Wajah Dara berubah semerah tomat matang. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala. Jangankan memiliki anak, berpelukan dengan Gavin saja mereka belum pernah melakukannya dengan sengaja. Setiap kali berada dalam satu kamar, mereka masih sering kikuk dan malu sendiri.
Juragan Darmawan justru tertawa melihat tingkah Dara. "Nah, begitu dong! Kalau malu berarti masih normal. Kakek kira kalian sudah seperti teman sekamar."
"Kakek, jangan menggoda mereka terus," tegur Sherly sambil tertawa geli.
Gavin hanya menghela napas pelan. "Kakek."
"Apa?"
"Kami baru sebulan menikah."
"Justru itu." Juragan Darmawan kembali tersenyum penuh arti. "Kalau sudah sepuluh tahun baru belum punya anak, itu baru Kakek khawatir."
Semua orang di meja makan tertawa. Hanya Dara yang masih menundukkan kepala sambil memainkan ujung bajunya karena malu.
Beberapa saat kemudian Gavin kembali berbicara. "Selain itu aku juga akan mengurus persiapan kuliah Dara."
Juragan Darmawan langsung menganggukkan kepala. "Itu lebih penting."
Beliau menatap Dara dengan penuh kebanggaan. "Belajarlah yang rajin. Jangan pernah berhenti menuntut ilmu."
"Terima kasih, Kek. Aku akan berusaha sebaik mungkin." Suara Dara terdengar lirih.
Keesokan paginya, setelah berpamitan kepada seluruh penghuni rumah, Gavin dan Dara berangkat menuju Jakarta.
Sepanjang perjalanan, Dara lebih banyak memandang keluar jendela mobil. Semakin lama, pemandangan hijau perkebunan berganti menjadi jalan raya yang ramai. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat menjulang. Mobil-mobil melintas tanpa henti. Lampu lalu lintas, jalan layang, hingga deretan pusat perbelanjaan membuat Dara berkali-kali menoleh ke kanan dan kiri.
"Jakarta ramai sekali," gumam Dara pelan.
Gavin yang sedang menyetir melirik sekilas. "Ini belum terlalu ramai."
Dara membelalakkan mata. "Ini belum?"
"Nanti sore baru macet."
Dara hanya bisa mengangguk pelan. Dalam hati ia mulai bertanya-tanya bagaimana orang-orang bisa tinggal di kota sebesar ini.
Menjelang siang, mobil hitam milik Gavin akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan elite. Gerbang tinggi terbuka otomatis saat mobil mendekat.
Deretan pohon palem berjajar rapi di sepanjang jalan. Rumah-rumah besar berdiri megah dengan halaman luas yang tertata indah. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern dengan bangunan tiga lantai.
Dara perlahan membuka pintu mobil. Begitu kedua kakinya menginjak halaman, ia langsung terdiam. Matanya membulat sempurna.
"Masya Allah, rumahnya besar sekali," gumamnya pelan.
Rumah itu jauh lebih besar daripada yang pernah Dara bayangkan. Halamannya dipenuhi taman bunga yang terawat. Air mancur kecil berdiri di tengah halaman. Beberapa mobil terparkir rapi di garasi.
Dara menoleh ke arah Gavin. "Aa ...."
"Iya?"
"Ini rumah kita?"
"Iya."
Dara kembali melihat bangunan besar di depannya. Lalu menelan ludah. Ia menggaruk pelan pipinya. Dara tampak benar-benar serius.
"Rumahnya besar sekali. Nanti aku tersesat nggak, ya?"
Gavin belum sempat menjawab.
Terdengar suara tawa dari arah belakang mereka. Sherly yang baru turun dari mobil, menutup mulutnya sambil tertawa geli.
"Aduh, Dara. Mama baru pertama kali mendengar ada orang takut tersesat di rumah sendiri."
Dara langsung salah tingkah. "Saya serius, Ma. Soalnya rumahnya besar sekali."
Sherly semakin tertawa.
"Tenang. Para pekerja yang baru masuk saja tidak pernah tersesat. Masa kamu yang tinggal di sini bisa?"
Dara tersenyum malu. "Iya, juga."
Gavin hanya menggeleng kecil sambil menahan senyum. Entah mengapa, kepolosan istrinya selalu berhasil membuat suasana menjadi hangat.
Setelah beristirahat sejenak, Gavin mengajak Dara masuk ke kamar mereka.
Begitu pintu dibuka, Dara kembali tertegun. Kamar itu hampir sebesar rumah sederhana milik pamannya di kampung.
Tempat tidur berukuran king berdiri di tengah ruangan. Di sisi lain terdapat ruang kerja kecil, sofa panjang, rak buku, lemari pakaian yang menjulang tinggi, serta jendela kaca besar yang menghadap taman belakang.
Namun, yang paling membuat Dara terpana adalah kamar mandinya.
"Aa ...."
Gavin menoleh. "Kenapa?"
Dara menunjuk ke arah sebuah bak besar berwarna putih mengilap. "Itu apa?"
"Jacuzzi."
"Untuk mandi?"
"Iya."
Dara mendekat sambil mengelilinginya.
"Masya Allah. Bak mandinya saja ada mesin."
Jacuzzi, Kolam mandi yang memiliki jet khusus yang menyemburkan air panas dan gelembung udara untuk memberikan pijatan yang menenangkan, meredakan nyeri otot, serta sangat populer digunakan untuk relaksasi.
Gavin akhirnya terkekeh pelan. "Kalau nanti mau mencoba, bilang saja."
Dara langsung menggeleng cepat. "Jangan. Takut rusak."
"Memangnya kamu mau membongkar mesin di dalamnya?" tanya Gavin.
Dara tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Suasana yang semula canggung perlahan berubah santai.
Sore harinya, saat Gavin sedang merapikan beberapa dokumen di ruang kerja kecil yang berada di dalam kamar, Dara berjalan-jalan mengelilingi ruangan.
Perhatian wanita itu tertuju pada sebuah lemari kayu berisi album foto keluarga. Dengan hati-hati ia mengambil salah satunya.
Dara membuka halaman pertama. Foto bayi Gavin.
"Wah, Aa Gavin waktu bayi lucu sekali."
Halaman berikutnya menampilkan Gavin kecil yang sedang belajar berjalan. Ada foto saat ulang tahun. Saat masuk sekolah dasar. Ketika berlibur bersama kedua orang tuanya.
Dara tersenyum sendiri melihat wajah Gavin kecil yang tampak serius di hampir semua foto. "Ternyata dari kecil Aa memang jarang senyum."
Gavin yang sedang memeriksa dokumen hanya menghela napas pelan. Dia memang termasuk anak pendiam, apalagi setelah kecelakaan yang membuat papanya meninggal.
Dara terus membalik halaman demi halaman. Namun, ketika sampai pada sebuah foto lama, gerakan tangannya mendadak berhenti. Ia menatap foto itu lebih lama.
Di dalam foto tampak Gavin remaja mengenakan kaus putih dan kemeja biru bergaris putih, celana pajang kopi susu, dan topi putih.
Entah mengapa penampilan Gavin itu terasa sangat akrab bagi Dara.
Dara mengernyit. "Kok, rasanya aku pernah melihat orang ini, ya?" gumamnya lirih.
Ucapan itu membuat jari Gavin yang sedang memegang dokumen mendadak berhenti bergerak. Perlahan ia mengangkat kepala.
Tatapan Gavin langsung tertuju pada foto yang sedang dipegang Dara. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia sangat mengenal pakaian itu. Itulah pakaian yang dikenakannya pada hari ketika dia pernah mengalami kecelakaan.
Hari yang sama ketika seorang gadis kecil tertabrak mobil hingga kakinya mengalami cedera permanen.
Gavin menatap Dara tanpa berkedip. Sementara Dara masih terus memandangi foto itu, berusaha mengingat sesuatu yang terasa begitu dekat, tetapi belum mampu ia temukan.