NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Kosong Melompong

Suara raungan mesin truk besar yang berhenti tepat di depan gerbang rumah memecah keheningan yang menyesakkan di dalam kediaman mewah keluarga Bagas. Ibu Melati, yang baru saja hendak memasukkan perhiasan ke dalam tasnya, tersentak hingga kotak perhiasannya jatuh ke lantai dan isinya berserakan. Siska berlari ke arah jendela, mengintip melalui celah gorden dengan wajah yang memucat pasi.

"Ibu, mereka sudah datang!" teriak Siska dengan suara bergetar. "Ada banyak orang berseragam hitam-hitam turun dari truk. Mereka membawa papan tanda dan peralatan besar!"

Bagas yang tadinya duduk melamun di ruang tengah segera berdiri tegak. Ia melangkah tergesa-gesa ke arah pintu depan, namun sebelum ia sempat menyentuh gagang pintu, ketukan keras yang menggelegar terdengar dari arah luar. Suara ketukan itu begitu tegas dan berwibawa, membuat seisi rumah seolah bergetar.

"Buka pintu ini atas perintah pengadilan!" suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu.

Bagas menoleh ke arah ibunya dengan tatapan panik yang luar biasa. Ia menyadari bahwa perlawanannya hanya akan sia-sia jika ia mencoba menolak prosedur hukum yang sudah sah. Dengan tangan yang gemetar, ia akhirnya menarik tuas pintu dan membukanya lebar-lebar.

Di ambang pintu, telah berdiri Pak Hendra dengan setelan jas hitamnya yang rapi, didampingi oleh dua petugas kepolisian dan sekelompok pria berbadan tegap yang mengenakan seragam perusahaan logistik. Pak Hendra menatap Bagas dengan tatapan dingin yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi apa pun.

"Selamat siang, Saudara Bagas," ujar Pak Hendra dengan nada formal namun menusuk. "Saya datang untuk menjalankan eksekusi penyitaan aset sesuai dengan putusan pengadilan yang telah dikeluarkan pagi ini."

Ibu Melati mendorong Bagas ke samping, mencoba tampil berani meski lututnya terasa lemas. Ia menatap Pak Hendra dengan mata yang berkilat marah, mencoba menggunakan wibawanya sebagai mantan mertua yang merasa paling dirugikan.

"Anda tidak bisa seenaknya masuk ke rumah orang lain!" seru Ibu Melati dengan suara melengking. "Ini adalah rumah anak saya! Kami punya sertifikat yang menyatakan kepemilikan atas properti ini!"

Pak Hendra tersenyum tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map yang dibawanya dan menyerahkannya kepada petugas polisi di sampingnya.

"Sertifikat yang Anda maksud sudah dinyatakan tidak sah oleh pengadilan karena diperoleh melalui manipulasi data," jawab Pak Hendra dengan tenang. "Kami memiliki salinan resmi dari akta kepemilikan asli yang menyatakan bahwa aset ini sepenuhnya milik Nyonya Larasati sejak awal pembelian."

Siska yang berdiri di belakang ibunya memekik histeris. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh saat melihat pria-pria berseragam itu mulai masuk ke dalam rumah tanpa menunggu izin lebih lanjut. Mereka mulai menandai perabotan-perabotan mewah dengan stiker khusus, pertanda bahwa barang-barang itu akan segera diangkut.

"Kalian tidak boleh mengambil televisi ini!" teriak Siska sambil mencoba menghalangi seorang petugas yang hendak mengangkat televisi besar di ruang tengah. "Ini barang kesayanganku! Kalian tidak punya hak untuk mencuri!"

Petugas tersebut hanya menatap Siska dengan datar dan mengabaikan ocehannya. Ia melanjutkan pekerjaannya, dengan cekatan membongkar kabel-kabel dan menyiapkan alat angkut. Siska merasa dipermalukan karena tindakannya hanya membuat para petugas itu semakin sigap bekerja.

"Siska, berhenti!" bentak Bagas dengan suara yang serak. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan berdebat dengan mereka. Kita sudah kalah, tidakkah kamu mengerti?"

Ibu Melati mencengkeram lengan Bagas dengan kuku-kukunya yang tajam. Wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa takut akan kehancuran nama baiknya di mata tetangga.

"Bagas, katakan pada mereka untuk pergi!" rintih Ibu Melati dengan suara yang kini terdengar memohon. "Bagaimana kita bisa tidur jika semua perabotan ini dibawa? Ke mana kita akan pergi?"

Pak Hendra melangkah maju, memotong percakapan mereka dengan suara yang dingin dan berwibawa. Ia menatap Ibu Melati tepat di matanya, membuat wanita paruh baya itu terpaksa mundur selangkah.

"Waktu kalian untuk tinggal di sini sudah habis sejak satu jam yang lalu," ucap Pak Hendra dengan tegas. "Saya beri waktu tiga puluh menit bagi kalian untuk mengemasi barang-barang pribadi yang memang milik kalian. Setelah itu, rumah ini akan disegel sepenuhnya."

Siska menangis tersedu-sedu sambil berlari menuju kamarnya untuk mengambil pakaian-pakaian mahalnya yang tersisa di lemari. Ia merasa sangat terhina karena harus mengemas barang ke dalam koper murahan di bawah pengawasan orang-orang asing yang tidak ia kenal. Setiap kali ia memasukkan sepotong baju, ia merasa seolah-olah sedang mengubur sisa-sisa hidup mewahnya.

Di ruang tamu, Bagas hanya berdiri diam, menatap Pak Hendra yang masih mengawasi jalannya eksekusi. Ia merasa sangat kecil, menyadari bahwa selama ini ia hanyalah boneka yang lupa siapa dalang sebenarnya.

"Di mana dia?" tanya Bagas dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Di mana Laras sekarang?"

Pak Hendra melipat tangannya di depan dada, menatap Bagas dengan pandangan meremehkan. Ia tahu persis betapa hancurnya pria di depannya ini akibat pilihannya sendiri.

"Nyonya Laras sudah memulai lembaran baru dan tidak tertarik untuk berurusan dengan kalian lagi," jawab Pak Hendra dengan singkat. "Jangan pernah mencoba mencarinya, atau Anda akan berurusan dengan hukum lebih jauh lagi."

Ibu Melati keluar dari kamarnya dengan wajah yang penuh keringat dingin, menyeret koper besar yang berisi perhiasan dan pakaian seadanya. Ia tampak jauh lebih tua dari usianya, dengan riasan yang berantakan karena air mata yang terus mengalir.

"Bagas, ayo kita pergi dari sini," bisik Ibu Melati dengan suara yang getir. "Aku tidak tahan lagi melihat orang-orang ini menjarah rumah kita."

Bagas mengangguk lesu. Ia memungut tas ranselnya yang sudah disiapkan, lalu berjalan keluar rumah tanpa menoleh kembali. Siska menyusul di belakangnya, terus-menerus menoleh ke arah rumah yang pernah ia banggakan di media sosial itu, kini hanya tinggal kerangka bangunan yang akan segera dikosongkan.

Saat mereka melangkah keluar dari gerbang, para tetangga mulai berdatangan, menyaksikan pemandangan yang memalukan tersebut dengan tatapan ingin tahu. Ibu Melati mencoba menutupi wajahnya dengan syal, sementara Siska menunduk dalam-dalam agar tidak dikenali oleh orang-orang yang dulu sering ia pameri kemewahan.

Rumah itu kini tampak sunyi, seolah-olah jiwa dari hunian tersebut telah pergi bersama Laras. Saat truk-truk mulai bergerak membawa perabotan, Bagas, Ibu Melati, dan Siska hanya bisa berdiri di pinggir jalan, terdiam di bawah terik matahari yang menyengat.

Mereka tidak memiliki tujuan, tidak memiliki uang, dan yang paling penting, mereka tidak lagi memiliki Laras yang selama ini menjadi tameng sekaligus sumber kehidupan mereka. Bagas menatap jalanan yang lengang, merasakan penyesalan yang membakar dadanya, namun ia tahu bahwa semua ini sudah terlambat.

Laras telah memenangkan kebebasannya, dan sebagai gantinya, ia telah melemparkan mereka kembali ke realitas yang kejam. Di kejauhan, sebuah mobil melintas dengan kecepatan sedang, membawa Laras menjauh menuju masa depan yang cerah dan sepenuhnya miliknya. Tanpa mereka sadari, hidup yang sebenarnya baru saja dimulai bagi Laras, sementara bagi mereka, penderitaan baru saja mencatatkan bab pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!