Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Target Kematian
Kepalaku terasa seperti baru saja dihantam godam raksasa.
Rasa sakit yang berdenyut hebat di pelipis membuatku mengerang pelan. Aroma wewangian kayu manis yang mahal bercampur dengan bau tajam obat herbal langsung menusuk hidungku. Perlahan, kubuka mataku yang terasa lengket.
Pemandangan pertama yang menyambutku bukanlah langit-langit kamar kosanku yang bocor, melainkan kanopi ranjang sutra berwarna merah marun dengan sulaman benang emas.
"Tuan Muda! Tuan Muda Arthur sudah sadar!"
Sebuah suara melengking dan penuh isak tangis membuatku menoleh. Di samping ranjang, seorang pelayan wanita berseragam hitam putih sedang berlutut sambil menangkupkan kedua tangannya. Wajahnya pucat pasi, seolah melihat hantu.
Aku mencoba duduk, tapi rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar dari dada kiriku. "Akh!" ringisku, memegangi dada yang terbalut perban tebal.
Tunggu dulu. Tuan Muda Arthur?
Sebuah ingatan asing mendadak menghantam kepalaku tanpa ampun. Bagai kaset rusak yang diputar paksa, ratusan adegan yang bukan milikku membanjiri otakku. Pesta pora bangsawan, perundungan terhadap rakyat jelata, tatapan jijik dari seorang ayah, dan... sebuah pertarungan brutal di arena akademi sihir.
Nafasku memburu. Aku menyingkap selimut sutra itu dan memaksa kakiku turun dari ranjang. Mengabaikan teriakan panik sang pelayan, aku tertatih menuju sebuah cermin besar berbingkai perak di sudut ruangan.
Nafasku tercekat melihat pantulan di cermin.
Berdiri di sana adalah seorang pemuda dengan rambut putih secerah salju yang berantakan, serta sepasang mata biru sedingin es. Wajahnya sangat tampan, pucat, sekaligus memancarkan aura arogan yang mendarah daging.
Ini bukan wajahku. Ini adalah wajah Arthur Pendelton.
"Bercanda, kan..." gumamku lirih, suaraku terdengar lebih berat dan serak dari biasanya. "Dari jutaan karakter fiksi yang ada, kenapa aku harus masuk ke tubuh bajingan ini?"
Arthur Pendelton. Tuan Muda dari Duke Pendelton, salah satu keluarga penyihir terkuat di Kekaisaran. Sayangnya, terlahir dengan wajah rupawan dan kekayaan melimpah tidak membuatnya menjadi pahlawan. Dalam novel dark fantasy berjudul 'Crown of Ash' yang baru saja kutamatkan semalam, Arthur adalah definisi nyata dari "sampah".
Dia tidak punya bakat sihir yang memadai, sombong, suka menindas yang lemah, dan yang paling parah... dia adalah batu pijakan pertama bagi sang protagonis utama, Leon.
Kuingat kembali rasa sakit di dadaku ini. Ini adalah hasil dari duel konyol. Arthur yang arogan menantang Leon—murid beasiswa dari kalangan rakyat jelata—hanya karena Leon tidak mau menunduk padanya di lorong akademi. Tentu saja, Leon yang memiliki 'Plot Armor' dan kekuatan tersembunyi menghancurkan Arthur hanya dalam tiga gerakan.
Dan bagian terburuknya? Di dalam novel, setelah kalah duel ini, Arthur yang merasa terhina akan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Leon. Rencana bodoh itu gagal total, dan berujung pada eksekusi mati Arthur di alun-alun kota oleh Putra Mahkota pada bab ke-15.
Jika aku tidak salah hitung, waktu dari kekalahanku hari ini menuju eksekusi mati itu... hanya tersisa satu bulan.
"Tuan Muda, tolong kembali berbaring! Tabib bilang tulang rusuk Anda ada yang retak!" Pelayan wanita itu—kalau tidak salah namanya Elara—berusaha memapahku dengan tangan gemetar. Kulihat jelas ada ketakutan di matanya. Tentu saja, Arthur yang asli biasanya akan menampar pelayan yang berani menyentuhnya.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang menggila. Kepanikan tidak akan mengubah apa pun. Pikiran analitisku, yang terbiasa memecahkan masalah sistematis di kehidupanku sebelumnya, mulai mengambil alih.
Fakta pertama: Aku terjebak di dunia novel mematikan sebagai karakter figuran berstatus sampah.
Fakta kedua: Aku punya waktu satu bulan sebelum 'Kematian Mutlak' menghampiriku.
Fakta ketiga: Aku mengetahui seluruh alur cerita dunia ini, termasuk rahasia tersembunyi, lokasi artefak kuno, dan kelemahan setiap karakter kuat yang ada.
Jika dewa atau entitas mana pun mengirimku ke sini berharap aku akan pasrah dan mati sesuai skenario, mereka salah besar.
"Elara," panggilku dengan nada tenang. Saking tenangnya, suara itu bahkan membuatku sendiri terkejut.
Pelayan itu tersentak dan mundur selangkah, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Y-Ya, Tuan Muda?"
"Suruh semua orang keluar. Jangan ada yang masuk ke kamarku sampai aku sendiri yang memanggil. Dan bawakan aku kertas serta pena dari ruang kerja."
Elara mendongak, matanya membelalak tak percaya. Tidak ada bentakan? Tidak ada barang yang dilempar? Namun, melihat tatapan dinginku, ia tidak berani bertanya. "B-Baik, Tuan Muda! Saya akan segera melaksanakannya!"
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik pelan, meninggalkanku sendirian dalam kesunyian kamar mewah ini.
Aku kembali menatap bayanganku di cermin. Rambut putih dan mata biru ini... aku harus mengakui, desain karakternya terlalu bagus untuk sekadar menjadi karakter numpang lewat yang mati di awal cerita.
Di duniaku yang dulu, aku terbiasa menyusun strategi dan membangun sesuatu dari nol. Jika hidupku sekarang ibarat sebuah program yang memiliki bug mematikan, maka aku hanya perlu meretasnya dan menulis ulang kodenya.
Protagonis punya bakat sihir legendaris? Biarkan saja.
Putra Mahkota punya pasukan ksatria terkuat? Silakan.
Aku tidak perlu menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia. Aku hanya perlu menjadi lebih licik, lebih pintar, dan mengumpulkan semua item tersembunyi sebelum sang protagonis menemukannya.
Aku mengangkat tangan, menyentuh bayangan es di cermin. Sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk seringai tipis.
"Baiklah, Arthur," bisikku pada pantulan diriku sendiri. "Mari kita tunjukkan pada dunia ini, bagaimana caranya seorang 'sampah' membalikkan keadaan."