Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : MOBIL ANGKASA
Di depan warung, Jingga pura-pura cuci tangan. Matanya jelalatan. Tengok kiri kanan, depan belakang.
Dan benar.
Di ujung jalan, di balik pohon mangga, mobil Alphard hitam itu. Plat B 1 KSA. Mobil yang pernah ia naiki waktu jemput dia di Bandara dan cari apartemen untuknya, ia duduk di jok depan, tentu Jingga sangat kenal. Huh. Apalagi Bintang sang istri.
Dengan cepat ia mengetik. "Kassa, kok aku liat mobil kamu parkir di Jalan Diponegoro? Di deket warung Bakmi Bumi?" Hanya centang dua. Biru
Hanya di baca, tidak di balas.
Jingga mengetik lagi, lebih panjang.
"Keluar gak lo? Gua samperin lo. sekarang!!"
Jingga masih mengetik.
"Bintang tau mobil lo ada di sini. Dia lagi makan di dalem. Plis Kassa, jangan bikin ribet." Masih centang dua.
Di dalam mobil, Angkasa menundukkan kepala di atas setir. Keringatnya netes. Ia bisa lihat dari kaca spion, warung Bumi yang ramai. Ia bisa bayangkan Bintang tertawa bersama anak-anak magang. Ia mau jawab apa? Kalau ia keluar, Bisa ketahuan Bintang. Tapi kalo gak di jawab Jingga akan nekat mendatanginya.
Akhirnya ia hanya mengetik kata "Iya." Tapi, mobilnya segera ia lajukan untuk segera meninggalkan warung Bakmi Bumi itu.
Jingga membaca itu langsung lemes. Ia balik ke warung dengan wajah seputih kertas.
"Dari mana kok pucet, kek habis liat hantu aja." hanya Bintang yang berani bercanda begitu dengan Jingga, karena dia atasan Jingga. Berbeda dengan anak-anak magang yang sudah terlihat asyik menikmati Bakmi Bumi.
"Hah ... masa iya pucet?" hanya itu yang bisa Jingga jawab. Bingung mau jawab apa.
"Udah siap niih. Yuk makan." Bintang dengan santainya mempersilahkan Jingga duduk dan menyantap makanannya.
Sekejap suasana warung itu tidak riuh otang bicara, hanya denting sendok garpu saling ketemu dengan mangkok di dalam warung itu.
Bintang sudah selesai makan.
"Wah enak banget, Mbak Bumi! Pantesan laris! Besok-besok aku kesini lagi ya sama suami aku!" Kata Bintang keras, sengaja. Bumi yang lagi di depan wajan, tangannya gemetar lagi.
"I... iya Bu... makasih..." Jawab Bumi ayak grogi.
"Berapa semuanya?" tanya Bintang membuka tas lalu mengambil tiga lembar uang seratus ribuan.
"Ini ya..." lanjut Bintang meletakkan uang di meja kasir.
"Kebanyakan bu." Bumi buru-buru ke meja kasir dan melihat tiga lembar uang di sana.
"Gak apa-apa. Mungkin anak-anak ada yang mau take away. Silahkan di sesuaikan. Ibu pulang dulu." Pamit Bintang pada semua yang ia ajak makan tadi.
Bintang pulang duluan. Tidak menunggu anak magang selesai. Dia sudah pesan taksi On LIne sendiri.
Di rumah, jam19.00
Angkasa sudah sejak magrib tiba di rumah dengan perasaan yang tidak baik-baik saja.
Perasannya bilang, Bintang pasti tau, tadi dia ada di warung Bumi.
"Hai Tang, baru pulang?" Sapa Angkasa. Aktingnya rapi.
"Iya."
"Dari mana kok malam baru pulang?" Pura-pura mode on
"Tadi aku habis bawa anak-anak gudang. Makan Bakmi. Eh, tenyata itu Bakmi nya Bumi loh." Cerocosnya dengan ceria seperti sungguh baru tau banget.
"Oh ya ...kamu yang traktir?" tebak Angkasa meladeni sandiwara Bintang.
"Iya lah. Masa Sekretaris perusahaan ngajak anak magang gak berani bayarin." kekeh Bintang sungguh eksaited.
Angkasa ikut tersenyum.
"Sa, kamu tau Bumi buka warung Bakmi?" AS, mari kita liat bagaimana jawaban Angkasa.
Itu jebakan.
Kalau Angkasa bilang tidak tau, berarti ia tidak peduli pada Bumi, padahal Bu Ratna sudah bilang Angkasa hampir tiap hari ke sana. Kalau ia bilang tau, berarti ia bohong soal jadwal padatnya selama tiga minggu.
Angkasa memilih jawaban paling aman.
"Iya tau. Aku... aku tau. Ibu cerita." Ajak terus aja emak lu itu, Angkasa.
"Oh, Ibu cerita? Cerita apa?"
"Cerita kalau Bumi jualan..."
"Jualan apa, Sa?" Bintang memiringkan kepala.
"Kan kamu tau dia jualan... bakmi..." Bintang tersenyum.
Senyum kemenangan kecil.
"Kamu tau dia jualan dari mana?" Angkasa tanya balik dong.
"Ya sama, Ibu udah cerita." Jawab Bintang tenang.
"Ibu cerita, kapan?"
"Kemarin, pas mampir setelah arisan di Blok C. Terus kamu udah pernah mampir ke sana belum?" Angkasa diam.
Ia baru sadar, setiap jawaban yang ia berikan, adalah lubang baru.
"Belum." Fix bohong. Bukannya tadi Damar merengek bilang Ayah hilang.
"Ntar kapan hari kita makan bareng di sana ya, enak loh." Ajak Bintang.
"Hem." Cuma berdehem, pura-pura gak minat padahal udah candu.
"Sa, ku mandi dulu ya. Capek." Pamit Bintang ke kamarnya di balas anggukan dari Angkasa.
Merasa lega karena interogasi selesai.
Bintang masuk tapi tidak sungguh mandi. Ia membuka HP. Lalu mengetik di notes-nya sendiri:
Angkasa bohong soal ke gudang.
Mobilnya ada di Diponegoro jam 16.30 - BUKTI.
Damar manggil "Ayah Angit" - DENGAR SENDIRI.
Bumi nutupin - BOHONG.
Bintang mematikan layar ponselnya. Kemudian masuk kamar mandi. menyalakan tombol air panas. Ia merasa perlu mengguyur kepala hingga kakinya. untuk merelaks pikirannya,
Sementara di luar kamar. Ponsel Angkasa berdering.
Jingga
Itu nama yang muncul, sedang ingin berusaha mendengar penjelasan Angkasa.
Bersambung...
Bagusnya di apain yak Angaksa ini