Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 10
"Dia pulang ke rumah. Apa dia masih mencintai suaminya? Apa mungkin dia akan kembali setelah semua yang dialami? Atau dia benar-benar bersedia dimadu?"
Selama mengemudikan mobil, isi kepala Jexen terus saja berisik. Perasaannya berkecamuk, dan dadanya terasa sangat sesak.
Selama ini dia memedam rasa terhadap Rinda, namun dengan sangat baik dia bersikap profesional dan tak pernah menunjukkan perasaannya.
Dia tahu tembok mereka sangat tinggi. Rinda sudah bersuami dimana Rinda terlihat sangat mencintai Gani. Pun sebaliknya.
Jexen memilih berdiri menjauh, dan bersikap profesional sesuai dengan pekerjaannya sebagai asisten pribadi. Dia sepenuh hati mengikuti Rinda dan mengerjakan semua yang Rinda perintahkan.
Kabar tentang Rinda dan Gani yang mengalami kecelakaan membuat Jexen terkejut bukan main. Dia menunggu dengan penuh keyakinan bahwa Wanita yang sangat dicintainya itu akan kembali. Namun beberapa hari pencarian, mereka sudah menyatakan Rinda meninggal karena tidak ditemukan keberadaannya.
Jexen hampir kehilangan kewarasannya. Dia pergi sendiri mencari Rinda.
"Ada apa, Jex?"
Rinda yang sedari tadi memerhatikan Jexen, merasa ada yang aneh dengan pemuda itu. Tak pernah ia melihat Jexen melamun seperti ini, terlebih saat mengemudi.
"Tidak ada apa-apa, Mbak. I'm fine. But, apa kamu yakin untuk pulang ke rumah? I mean ... ."
"Yeah, aku yakin Jex. Itu rumah ku, aku tak mungkin pergi meninggalkan rumah warisan dari ibu ku. Bagaimana pun aku sudah merawat rumah itu sejak lama. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya," jawab Rinda mantab. Matanya dipenuhi dengan tekad.
"Okey, baiklah. Lalu, apa yang akan kamu lakukan kepada mereka, Mbak? Apa mungkin kamu akan kembali pada~"
Lidah Jexen tertahan, dia tak mampu melanjutkan pertanyaannya.
Rinda sendiri hanya diam sambil tersenyum lebar. Mata wanita itu lalu mengarah ke depan, menatap ke arah jalan yang lurus.
"Ibu?"
Jexen tak hanya mengantarkan Rinda sampai depan rumah, tapi dia juga ikut masuk ke rumah.
Semua pekerja rumah tangga yang ada di kediaman Nadisyah membulatkan mata mereka melihat sosok Rinda yang baru saja masuk melewati pintu.
Ada yang terhuyung, ada yang menangis dan ada yang memanggil dengan histeris.
"Bu Rinda? Apa benar ini Ibu?"
Pekerja yang berjumlah 3 orang itu langsung mendekat ke arah Rinda. Mereka mengusap mata masing-masing, meyakinkan bahwa penglihatan mereka tidak lah salah.
"Benar ini Bu Rinda. Ibu, saya yakin Ibu selamat."
"Non, Non Rinda. Akhirnya Tuhan mendengarkan doa saya. Non Rinda kembali."
"Ya, aku pulang."
Tiga orang itu memeluk Rinda bersamaan. Tangis mereka pecah, namun penuh dengan ucapan syukur dan bahagia.
"Kalian semua sehat?" tanya Rinda. Dia mengusap punggung orang-orang yang bekerja padanya tersebut.
"Sehat Non, kami sehat semua."
"Iya Bu, kami sehat. Tapi Bu, anu ... maaf, kamar Ibu."
Salah satu dari mereka tak mampu meneruskan kalimatnya. Membuat Rinda mengerutkan alisnya.
Rinda bergegas menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Karena dikunci, Rinda mencari kunci cadangan dimana hanya dirinya yang tahu dimana tempat persembunyiannya.
Klak
Kunci berhasil dilepas, Rinda membuka pintu secara perlahan. Sebuah seringai terbit pada bibirnya yang tipis.
Hanya dengan aromanya saja, Rinda sudah tahu bahwa kamarnya sudah berubah total.
Ia melangkah masuk, melihat ke sekeliling kamar. Memindai satu per satu barang yang ada di sana.
"Narsih, Buang semuanya yang ada di sini. Tanpa terkecuali," ucap Rinda. Dia memerintahkan salah satu pekerjanya yang usianya paling muda diantara yang lain.
"S-semua Bu, terus punya b-bapak?"
"Semua Narsih, kamu tahu kan kalau aku tidak suka mengulang perintah?"
Meski berbicara dengan senyuman, tapi tubuh Narsih langsung bergetar takut. Aura penekanan dari Rinda begtu kuat, hingga rasanya udara di sana terasa sesak.
"Nanik, bantu Narsih ya," ucap Mbok Rah.
"Ya Mbok."
Nanik ikut serta melakukan perintah dari Rinda. Mereka berdua benar-benar membuang semua barang yang ada di dalam kamar. Kecuali perhiasan yang memang milik Rinda.
"Dia menyingkirkan semua barangku sampai benar-benar tak bersisa. Sudah niat sekali ya bersih-bersihnya," gumam Rinda lirih.
Sebuah senyum sangat tipis terbit di bibir Jexen. Kegelisahannya tentang Rinda dan Gani ternyata terpatahkan dengan apa yang dilihatnya.
Jexen yakin bahwa Rinda tak akan menerima Gani kembali. Meski belum jelas, tapi barang Gani yang dibuang oleh Rinda merupakan sebuah bukti bahwa Rinda tak ingin ada jejak dari suaminya itu.
"Mbok Rah, ceritakan!"
Satu kata perintah itu sudah cukup membuat Mbok Rah paham maksud dan cerita apa yang ingin di dengar oleh Rinda.
Cerita Mbok Rah yang runut dan pelan langsung bisa di mengerti oleh Rinda. Wajah Rinda nampak tenang. Dia tidak terlihat marah. Entah, memang sudah mati rasa atau ada sebab lainnya. Tapi Rinda hanya menghela nafasnya panjang.
"Baiklah Mbok, Terimakasih. Lalu Mbok, apa masih menyimpan baju ku barang sepotong dua potong?"
Mbok Rah mengangguk cepat. Dia berjalan cepat menuju ke lantai bawah dan tak butuh waktu lama kembali ke kamar Rinda.
"Ini Non, cuman hanya ini yang bisa Mbok selamatkan. Yang lain sudah langsung dibuang sama Non Teani."
Wajah Mbok Rah nampak lesu, gurat rasa bersalah menyelubungi hatinya. Tangan yang gemetar itu menyerahkan setumpuk pakaian. Ada setidaknya tiga pasang pakaian.
"Tak apa Mbok, terimakasih. Silakan semuanya istrahat."
Mbok Rah pamit undur diri. Berkali-kali dia melihat ke arah Rinda, seolah Rinda akan pergi dari pandangannya lagi.
"Mau sampai kapan kamu di sini Jex?"
Rinda sekarang melihat Jexen. Pemuda itu sejak tadi ternyata masih ada di rumahnya dan tak kunjung pergi.
"Kalau dibolehkan menginap, aku akan menginap Mbak. Bagaimana, boleh tidak?" jawab Jexen dengan dua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celana.
"Tidak, pulanglah," ucap Rinda tegas.
"Aku khawatir tentang mu, Mbak. Biarkan aku di sini malam ini, oke?"
Jexen sedikit memaksa untuk tinggal. Rinda jelas bisa merasakan itu.
"Tidak, pulang lah. Besok kita bertemu di kantor."
Jexen menghembuskan nafasnya kasar. Tapi tentu dia tak akan menuruti perintah Rinda.
Dulu dia akan selalu patuh, tapi tidak dengan sekarang. Menurut Jexen, orang yang mencelakai Rinda ada di rumah ini, meski dia belum yakin siapa orangnya. Jexen tak akan mengambil resiko meninggalkan Rinda sendirian.
"Tidurlah Mbak. Aku tetap akan di sini. Aku akan tidur di sofa bawah tuh."
"Haaah, terserah kamu saja."
Jexen keluar dari kamar, sambil menutupnya perlahan. Ia lalu memindai semua isi rumah. Tampilan rumah itu sungguh sangat berbeda dari saat terakhir kali dia melihatnya. Yakni, di sana tak ada satu pun foto milik Rinda ataupun ibunya Rinda.
"Mereka sungguh ingin menyingkirkan Rinda?"
TBC