NovelToon NovelToon
Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Aku Mengulang Kematian Dalam Hitungan Detik

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Fantasi
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.

Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pecahnya kristal intisari purba menjalar ke seluruh kerangka Agares seperti retakan pada bendungan tua yang runtuh seketika.

Dari dalam rongga kepalanya, pancaran energi keemasan yang terperangkap selama ratusan tahun meledak keluar, merobek serat-serat daging dan otot tebal di lehernya. Topeng perunggu kuno yang menutupi wajah sang raksasa pecah berkeping-keping, menghujani lantai arena dengan serpihan logam berkarat bercampur lendir hitam. Delapan lengan di punggungnya bergetar kaku sebelum satu per satu terlepas dari pangkal bahunya, jatuh menghantam lantai batu dengan dentuman berat yang menggetarkan fondasi amfiteater hingga ke lorong-lorong bawah tanah.

Lolongan parau keluar dari tenggorokan Agares, suara tercekik yang perlahan memudar seiring hancurnya hukum keabadian yang selama ini menopang wujudnya. Raungan bencana yang meneror penjelajah menara selama puluhan tahun itu lenyap, tersapu angin sejuk yang mendadak berhembus masuk dari celah dinding kubah yang retak. Daging sang monster raksasa mulai meluruh menjadi tumpukan abu hitam pekat yang berasap, menyusut cepat hingga hanya menyisakan kerangka perunggu yang rapuh dan retak di tengah koloseum.

Elise melangkah maju dari garis pertahanan dengan napas terengah-engah. Wajah sang putri bangsawan tampak pucat pasi, namun kedua tangannya tetap terangkat mantap memegang tongkat perak pusakanya. Manik mata peraknya memancarkan tekad yang tak lagi gentar menghadapi sisa-sisa hawa jahat di arena.

“Murnikan sisa kutukannya!” seru Elise dengan suara bergetar menahan lelah kepada para penyihir pengawalnya.

Cahaya perak memancar lembut dari ujung tongkatnya, menyelimuti reruntuhan tubuh Agares dalam kobaran sihir pemurni yang suci. Kabut darah beracun yang menggenangi amfiteater terbakar habis menjadi partikel abu putih yang melayang tenang di udara. Udara berbau belerang dan asam yang sejak awal mencekik paru-paru para prajurit perlahan menghilang, digantikan hawa segar yang sejuk dan menenangkan dada.

Genangan cairan merah di lantai koloseum terserap surut ke dalam pori-pori batu andesit, mengering tanpa menyisakan racun korosif. Bebatuan yang retak akibat amukan pertempuran mendingin, meninggalkan arena yang kini sunyi di bawah taburan debu kristal keemasan yang berkilauan.

Di seberang amfiteater, rantai-rantai besi hitam yang mengikat Gerbang Ascensi Lantai 16 berderak keras sebelum putus terbelah menjadi abu. Pintu gerbang emas setinggi puluhan meter itu perlahan terbuka ke dalam dengan dengungan magis yang merdu, memancarkan pendar cahaya fajar yang hangat dan menyinari seluruh medan laga yang porak-poranda.

Ren mendarat dengan lutut bertumpu pada lantai batu yang basah.

Telapak tangan kanannya melepuh kehitaman akibat sengatan muatan listrik saat membelokkan petir Julius di udara. Di sela jemarinya, belati taring bayangan telah hancur total menjadi serpihan kitin halus yang tersapu angin. Senjata beracun yang ia pungut dari bangkai monster di lantai bawah itu telah habis terpakai melampaui batas ketahanan fisiknya demi menahan hantaman tombak dan kilatan petir sang komandan bangsawan.

Napas Ren memburu pendek-pendek. Keringat dingin bercampur darah menetes dari dagunya, membasahi kerah seragamnya yang compang-camping dan sobek di berbagai sisi. Seluruh persendian di tubuhnya terasa ngilu menusuk, sementara di dalam kepalanya, dengungan tajam akibat puluhan kali pengulangan waktu berangsur-angsur mereda menjadi rasa letih yang teramat berat dan menekan saraf-saraf matanya.

Untuk pertama kalinya sejak melangkah ke lantai maut ini, hitungan mundur tiga puluh detik di kepalanya tidak lagi berdetak.

Ia tidak mati. Tidak ada lagi garis waktu maut yang memaksanya mengulang detik-detik kehancuran dari awal.

Langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah kiri, disertai gesekan pelat baja pelindung lutut yang berderit menahan beban tubuh.

Paman Vargas menjatuhkan tameng bajanya yang penyok ke lantai dengan bunyi gedebuk keras, lalu berlutut di samping Ren. Tangan sang veteran yang kasar dan berlumuran jelaga langsung mencengkeram bahu Ren lalu meraba leher pemuda itu, memastikan denyut nadinya masih berdetak kuat dan ritmis.

“Bocah gila…” gumam Vargas dengan suara serak, matanya yang memerah menatap wajah Ren dengan napas lega yang berat. “Kupikir kepalamu sudah pecah terhantam puing batu saat terlempar dari dahi monster itu. Kau masih bisa melihat wajahku dengan jelas?”

Ren menarik napas dalam-dalam, merasakan perih di rusuknya saat mencoba mengangguk perlahan. “Masih, Paman. Tubuhku cuma kebas dan sedikit mati rasa.”

“Bagus kalau begitu,” gerutu Vargas seraya mengulurkan kantung air kulit miliknya yang sudah kotor oleh debu mesiu. “Minum sedikit dulu. Basahi tenggorokanmu, tapi jangan banyak bergerak sebelum tabib memeriksa tulang rusuk dan bahumu.”

Shizuka berlari menghampiri mereka sambil memeluk tas perbekalan medisnya yang tinggal menyisakan beberapa botol perban dan cairan antiseptik. Matanya basah oleh air mata saat berlutut di sisi kanan Ren, tangannya yang gemetar langsung mengeluarkan botol salep penenang saraf dan perban bersih dari linen tebal.

“Tangan kananmu terbakar muatan listrik parah, Ren!” bisik Shizuka panik, segera mengoleskan cairan dingin herbal ke telapak tangan pemuda itu yang melepuh kehitaman. “Jangan dipaksakan mengepal. Jaringan kulitmu hampir terbakar sampai ke lapisan tendon. Biarkan ramuannya meresap dulu.”

Sensasi dingin menjalar meredakan denyut panas di telapak tangan Ren, membuat jemarinya yang kaku perlahan bisa digerakkan sedikit demi sedikit.

Di belakang mereka, Riku terduduk lemas di atas pecahan pilar batu dengan busur kayu terkulai di pangkuannya. Tali busur itu putus di ujungnya, dan jemari bocah pemanah itu terbalut kain dekil yang penuh noda darah kering. Ia menatap gerbang Lantai 16 yang terbuka lebar dengan mata bergetar, seolah masih mengira pemandangan itu adalah mimpi di ambang sakratulmaut.

“Kita… kita benar-benar berhasil keluar hidup-hidup dari koloseum ini…” bisik Riku dengan suara tercekat, menatap tangannya yang gemetar hebat.

Tiga puluh prajurit jelata yang tersisa mulai berkumpul di sekitar mereka dengan langkah gontai. Dari seratus lebih anggota pasukan pelopor yang dipaksa masuk ke Lantai 15 sebagai umpan, hanya segelintir manusia ini yang berhasil melewati pembantaian. Ada yang jatuh berlutut sambil menutupi wajahnya dengan tangan yang berlumuran darah, ada yang saling merangkul bahu seraya menahan isak tangis yang pecah tertahan, dan ada pula yang menatap ke arah reruntuhan batu dengan tatapan hampa seorang penyintas yang kehilangan separuh jiwanya.

Elise melangkah mendekati kelompok prajurit jelata itu. Jubah sutra perak yang menjadi simbol kebangsawanan Althea kini kotor oleh noda jelaga hitam, dan ujung kelimannya robek terkoyak serpihan batu tajam. Sang putri bangsawan menatap barisan prajurit yang compang-camping itu dengan pandangan yang sarat beban penyesalan mendalam.

“Maafkan aku,” ucap Elise pelan, suaranya terdengar jernih namun sarat getaran emosi di tengah keheningan amfiteater. “Sebagai perwira keluarga Althea, aku terlambat mengambil sikap tegas untuk menghentikan kegilaan Julius sejak kita berada di lantai bawah. Seharusnya aku mengambil alih komando sebelum begitu banyak nyawa melayang sia-sia di parit ini hanya demi memuaskan ambisi seorang pengecut.”

Para prajurit jelata terdiam mendengar pengakuan jujur seorang putri bangsawan tinggi yang menundukkan kepalanya di hadapan mereka tanpa kepura-puraan. Tidak ada kata-kata manis atau pidato kehormatan khas istana, hanya pengakuan pahit dari seorang perwira yang menyaksikan langsung kawan-kawannya dibantai dari belakang.

Ren menatap Elise, lalu menggelengkan kepalanya pelan seraya menahan rasa perih saat Shizuka mempererat ikatan perban di pergelangan tangannya.

“Penyesalan tidak akan memanggil kembali mereka yang sudah tumpas di Lantai 10 dan 14, Nona Elise,” ucap Ren dengan nada datar dan dingin. “Yang paling penting sekarang adalah memastikan dalang di balik semua pembantaian ini tidak lolos dari pertanggungjawaban hukum.”

Ren mengarahkan pandangan matanya ke sudut barat daya arena, tempat reruntuhan pilar andesit berserakan membentuk dinding batu yang runtuh.

Di sana, di antara kubangan lumpur bercampur abu monster, Julius von Ravensburg masih tergeletak tak berdaya. Pria berambut pirang itu mencoba menyeret tubuhnya menjauh dengan mengandalkan tangan kanannya yang gemetar, sementara bahu kirinya terkulai lunglai bersimbah darah segar akibat hantaman pecahan cangkang Agares. Mahkota perak kecil yang biasa terselip di rambutnya telah terinjak gepeng di bawah batu.

Elise mengangguk tegas. Rasa ragu dan pertimbangan diplomasi antar-keluarga bangsawan yang selama ini membelenggu tindakannya kini terkikis habis oleh kenyataan pahit di depan matanya.

Bersama Vargas dan empat ksatria pengawal Althea yang membawa tombak panjang terhunus, Elise melangkah menghampiri tempat Julius terbaring merayap di lantai batu.

Melihat derap langkah mereka yang mendekat tanpa ampun, wajah Julius semakin memucat bagai mayat. Ketakutan yang telanjang terpancar jelas di kedua bola matanya saat ia menyandarkan punggungnya yang terluka ke bongkahan pilar batu yang pecah.

“Elise… hentikan pengawalmu!” jerit Julius dengan suara serak bercampur batuk darah, mencoba menegakkan wibawanya meski tubuhnya menggigil ketakutan. “Aku adalah komandan resmi yang ditunjuk langsung oleh Dewan Militer Kekaisaran! Semua keputusanku di arena ini adalah bagian dari diskresi taktis darurat untuk menyelamatkan korps sihir elit! Pasukan pelopor memang sejak awal dikontrak untuk memancing perhatian musuh utama, itu doktrin militer kekaisaran yang sah dan tertulis dalam traktat ekspedisi!”

Vargas meludah ke tanah persis di depan ujung sepatu bot Julius yang berlapis perak, sorot matanya menyala penuh kemarahan veteran perang.

“Mengunci pintu gerbang pelarian dari luar dan menembakkan tombak petir ke punggung kawan tempur saat menghadapi monster… kau berani menyebut tindakan biadab itu sebagai doktrin militer, Keparat?” geram Vargas seraya mengencangkan genggaman tangannya pada gagang kapak tempur di pinggangnya.

“Tutup mulut kotormu, Prajurit Budak!” bentak Julius histeris, urat di pelipisnya menonjol saat ia berusaha membela diri dari sudut batu. “Kau tidak memiliki hak bicara atau berdiri di depanku! Elise, dengarkan aku! Kau tahu betul undang-undang kekaisaran! Seorang pewaris sah wangsa adipati hanya bisa diadili oleh Mahkamah Bangsawan di Ibukota Valenthia! Jika kau membiarkan budak-budak rendahan ini menyentuh atau menghakimiku di tempat liar ini, seluruh keluargamu akan dicap sebagai pengkhianat takhta!”

Elise menatap mantan tunangannya itu tanpa secuil pun rasa iba atau keraguan. Sorot matanya setenang permukaan danau beku di musim dingin Valenthia.

“Sumpah ksatria Wangsa Althea tidak pernah tunduk pada perbuatan khianat dan pengecut, Julius,” sahut Elise dengan suara sedingin es. “Kau telah melanggar traktat militer paling suci di medan perang: membantai pasukanmu sendiri dari belakang hanya demi menutupi rasa takut dan ketidakmampuanmu memimpin.”

Elise mengangkat tongkat sucinya, lalu mengarahkan ujung peraknya tepat ke pelat dada zirah Julius. Pendar sihir perak meletup tajam dalam sekejap, menghancurkan lambang kresta burung rajawali Ravensburg yang terukir di logam zirah sang bangsawan hingga remuk menjadi serpihan tak berguna.

“Atas wewenang darurat divisi pengawal Althea dan hukum perang ekspedisi menara, seluruh wewenang komandomu dicabut detik ini juga,” ucap Elise tanpa kompromi. “Kunci tangannya dengan rantai penekan mana tingkat empat.”

Dua ksatria Althea berzirah lengkap melangkah maju dengan gerakan terlatih. Mereka menarik paksa tangan kanan Julius ke belakang punggungnya dan menyatukannya dengan tangan kirinya yang terluka, lalu menguncinya menggunakan borgol besi hitam berukir mantra kuno pelumpuh energi sihir.

Julius menjerit murka bercampur panik saat sirkuit mana di dalam tubuhnya mendadak padam total, terkunci oleh beban dingin borgol penekan tersebut. Sang pewaris adipati yang biasanya memandang rendah semua prajurit dari atas balkon kastil kini meringkuk terikat di atas lantai batu yang becek, di bawah tatapan dingin para prajurit pelopor yang nyaris ia korbankan demi mahkota kehormatannya sendiri.

1
Lusiana Dewi ♥
mengerikan
Lusiana Dewi ♥
sungguh kejam 😡
Lusiana Dewi ♥
mengerikan kuku nya besar lemari /Scare/
Lusiana Dewi ♥
kasihan /Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!